JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 60. Cinta Tak Terbalas.


__ADS_3

Kehadiran Alfa di kafe itu seketika di rasakan oleh Shelina, yang sedang berada di dalam sebuah ruangan seorang diri. Tiba-tiba detak jantungnya memburu kencang, yang membuatnya langsung menghentikan latihan vokalnya, dengan tampang yang terlihat khawatir. Sambil mengusap-usap dadanya, Shelina pun mulai bertanya-tanya di dalam hatinya penuh kecemasan.


"Apa yang terjadi denganku? Mengapa detak jantungku tiba-tiba memburu seperti ini?"


Tanpa Shelina sadari, ternyata batinnya mulai bereaksi merasakan kehadiran laki-laki yang sudah terlanjur dia cintai. Perasaan cemas mulai menghampirinya, yang membuat gadis manis itu merasa lemas seketika.


Sedangkan di luar sana, Alfa yang sedang melangkah menuju sebuah Meja, terlihat seperti sedang mencari keberadaan seseorang. Tatapan yang tidak searah juga tampang yang terlihat aneh, menandakan kalau dia memang sedang mencari sesuatu. Dan yang dia cari itu tidak lain adalah istrinya sendiri. Karena tidak melihat keberadaan Shelina, Alfa segera memilih untuk mengirim pesan singkat kepada Aldo asistennya, yang duduk di meja terpisah bersama beberapa temannya yang lain.


#Do,, di mana dia berada? Kamu jangan coba-coba membohongiku. Aku terpaksa merayakan ulang tahun di tempat ini, hanya karena ingin mengetahui keberadaan wanita itu dengan mata kepalaku sendiri.# Isi pesan Alfa.


#Nanti akan aku tanyakan.# Balas Aldo*.


"Pak,, apa ada hiburan yang bisa di tampilkan? Soalnya kita ingin menikmati sedikit hiburanan kalau memang ada." Tanya Aldo kepada Reno yang berdiri tidak jauh dari tempat duduknya, sengaja memancing agar Shelina keluar.


"Ada ko Pak. Nanti akan saya persembahkan sebuah hiburan." Jawab Reno sambil tersenyum ramah.


Setelah beberapa menit berada di dalam kafe menikmati jamuan khusus dari para pelayan, Aldo kembali mendekati Reno untuk meminta hiburan yang sudah di persiapkan pihak kafe. Dan tanpa menunggu lama, Reno pun segera menyuruh salah seorang kariyawannya, untuk memberitahukan Shelina kalau dia sudah harus keluar. Dan menyuguhkan lagu yang sudah di pilih khusus untuk para tamu yang ada.


Dengan penampilan yang begitu sempurna, Shelina melangkah menuju tempat yang sudah di sediakan untuknya, dengan kepala tertunduk memperhatikan langkah kakinya. Tanpa dia sadari, ada sepasang mata yang sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Tatapan Alfa saat itu sungguh tidak bisa di tebak. Dia menatap dengan tampang datarnya tanpa bersuara.



Kesempurnaan Shelina malam itu benar-benar mencuri perhatian semua orang yang berada di tempat itu. Termasuk Alfa yang sudah seperti patung tanpa mengedipkan mata sedikitpun. Alfa sungguh tidak menyangka, Shelina terlihat begitu menarik dengan gaun yang sangat cocok pada tubuh indahnya. Kegugupan Shelina mulai terlihat setelah dia menyadari tatapan semua yang ada di dalam ruangan kafe itu. Namun tiba-tiba langkahnya langsung tertahan, di saat melihat keberadaan laki-laki yang sudah beberapa hari dia rindukan, sedang duduk di sebuah meja dengan tatapan tertuju padanya.



"Shel,, kamu kenapa?" Tanya Reno tepat di samping telinga Shelina. Dan situasi itu terlihat jelas oleh Alfa yang masih tetap menatap ke arah Shelina.


"Aku ngga apa-apa Pak." Jawab Shelina.


"Apa aku harus bernyanyi sekarang?" Tanya Shelina sambil menatap Reno, yang masih tetap berada di sampingnya.


"Iya,, kamu langsung mulai sekarang. Tapi bukan lagu yang akan kamu bawakan. Melainkan puisi. Karena itu yang di minta sama tamu yang sedang menunggu penampilanmu." Ujar Reno yang membuat Shelina seketika bingung.


"Tapi Pak,, puisi apa yang harus aku bawakan? Yang sudah aku persiapkan itu lagu. Buka puisi." Tanya Shelina dengan segera.


"Terserah kamu saja. Kamu bisa membawakan puisi yang ada di geogle. Buka saja dan cari puisi yang bagus. Karena aku juga ngga ada persiapan seperti permintaan mereka." Ujar Pak Reno yang masih tetap berdekatan dengan Shelina.

__ADS_1


Ekspresi wajah Alfa semakin datar melihat kedekatan Shelina dan pemilik kafe itu. Namun dia tetap terdiam tanpa melepaskan pandangan dari arah Shelina. Sebelum beranjak ke tempat yang sudah di persiapkan untuknya, Shelina sempat melirik ke arah Alfa sesaat. Melihat tatapan Alfa Shelina semakin gugup, juga khawatir dengan apa yang harus dia lakukan.


Detak jantung yang semakin memburu benar-benar membuat Shelina gugup, dengan ekspresi wajah mulai memerah. Tapi dia tetap berusaha untuk tenang agar bisa menjalankan tugasnya. Setelah menarik nafas dalam-dalam, Shelina yang sudah duduk di tempat biasa dia bernyanyi, segera membuka suara membawakan puisi yang ada di ponselnya.


#Cinta Tak Berbalas#


#Mengapa aku harus mencintaimu??


Seseorang yang memiliki cinta namun bukan untukku.


Tapi,, entah mengapa aku masih saja mengharapkanmu?


Walau ku tahu, memilikimu hanya sebatas harapan semu.


#Mungkin selamanya, segenggam rasa ini takan pernah sampai ke hatinya.


Mungkin juga aku hanya dapat memeluk udara kosong yang tak nyata.


Dirinya yang hanya ku miliki dalam angan.


#Aku mencoba mencintaimu dengan keikhlasan.


Menahan rasa yang terpendam.


Berusaha tegar menerima kenyataan.


Walau cinta hanya bertepuk sebelah tangan.


#Aku berdiri di atas sayup-sayup senja.


Mengejar aksara yang hampir sirna.


Memandang warnanya yang kian pudar.


Menghayati pesonanya yang kian samar.


#Aku berdiri di atas sayup-sayup senja.

__ADS_1


Menikmati belaian angin penenang jiwa.


Menahan sakit dalam keheningan.


Saat cinta hanya bertepuk sebelah tangan.


#Aku berdiri di atas sayup-sayup senja.


Sembunyikan rasaku dalam diam.


Ku simpan cinta yang terpendam.


Semoga kan hilang bersama gelapnya malam.


#Cintaku yang tulus, tak mampuh meluluhkan dinginnya hatimu.


Karena hatimu bukanlah untukku.


Biarlah ku pergi membawa rasa ini.


Rasa yang menyiksaku.


Di saat aku tahu, ada cinta masa lalu yang masih tersimpan rapi di dalam hatimu.


Kata-kata di dalam puisi yang baru saja di bawakan Shelina, benar-benar menggambarkan suasana hatinya. Cinta yang tak terbalas, membawa Shelina dalam kesedihan. Saat bibirnya mengucapkan kata demi kata dalam puisi itu. Dan tanpa sadar, kabut air mata mulai memenuhi kelopak mata indahnya. Namun keadaannya tidak begitu di perhatikan oleh orang-orang yang langsung bertepuk tangan, karena mersa puas dengan puisi yang baru saja dia bawakan.


Di saat semuanya sedang bertepuk tangan mengagumi Shelina, Alya dan kedua sahabatnya malah saling berbisik satu sama lain sambil melirik ke arah Shelina. Sedangkan Alfa yang tidak bereaksi apa-apa, hanya terdiam sambil menatap Shelina yang sedang sibuk membersihkan cairan bening, yang hampir saja meluncur membasahi wajah cantiknya.


"Bagaimana Bapak-bapak? Apa anda ingin menikmati hiburan selanjutnya?" Tanya Pak Reno menggunakan mic yang ada di tangannya.


"Saya ingin berdansa." Jawab Alfa yang membuat beberapa wanita yang mendengarnya, seketika saling menatap sambil tersenyum bahagia.


"Pasti kamu yang akan di pilih oleh laki-laki tampan itu untuk berdansa." Ujar Aneth di samping telinga Alya.


"Ya iyalah,, mau siapa lagi kalau bukan aku? Aku kan lebih anggun dan lebih glamor dari kalian semua." Jawab Alya begitu percaya diri.


Bukan hanya Alya dan kedua sahabatnya yang ingin berdansa dengan Alfa, tapi beberapa wanita yang datang bersama Alfa untuk merayakan ulang tahunnya, ikut bersemangat berharap akan di pilih oleh Alfa atasan mereka Itu. Beberapa wanita yang ikut bersama Alfa itu, tidak lain adalah pegawai di kantor miliknya. Dan mereka juga sangat tergila-gila dengan kesempurnaan laki-laki kaya raya itu.

__ADS_1


__ADS_2