JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 24. Keputusan Faris.


__ADS_3

Siapapun wanita yang melihat ketampanan Alfa pasti akan terhipnotis dengan sendirinya. Apalagi dalam posisi yang begitu dekat. Aroma tubuhnya yang selalu wangi, melemahkan setiap wanita yang berada di dekatnya. Tapi tidak untuk Shelina. Dia hanya terdiam tanpa ingin menatap Alfa, yang sedang mengangkatnya untuk naik ke dalam ruangan, yang di jadikan sebagai tempat beristirahat di dalam pesawat pribadi milik Faris.


"Ayo naik..!" Ujar Alfa setelah melihat Shelina sudah meraih pintu ruangan yang ada di atas kepalanya. Namun Shelina tetap terdiam tanpa ada gerakan. Dan hal itu membuat Alfa ingin sekali melepaskannya, karena merasa kesal dengan Shelina yang sudah seperti patung dalam dekapannya.


"Mengapa kamu ngga naik? Apa kamu tidak dengar apa yang saya katakan..?" Tanya Alfa sambil menatap Shelina dengan tatapan yang begitu tajam.


"Aku akan naik. Tapi kamu jangan menatap ke atas." Jawaban Shelina yang membuat Alfa semakin geram.


Tanpa berkata-kata, Alfa langsung memalingkan pandangannya sambil menahan kekesalan, atas sikap Shelina yang menurutnya terlalu berlebihan. Alfa yang sudah biasa berada di luar negeri, sangat mengetahui pergaulan bebas wanita di negara asing. Dia tidak percaya kalau Shelina adalah wanita baik-baik. Walaupun dari sikapnya sangat terlihat jelas, kalau dia bukanlah wanita yang seperti Alfa pikirkan.


Dengan terburu-buru, Shelina pun langsung naik dan masuk ke dalam ruangan itu, tanpa berbalik menatap Alfa yang sudah melangkah pergi dari situ. Setelah menutup pintu ruangan itu, Shelina segera mengambil pakaian yang di berikan Alfa tadi. Tapi di saat melihat sebuah kemeja juga celana pendek laki-laki, Shelina kembali meletakkannya di samping tempat tidur sambil bergumam dalam hatinya.


"Mending aku pakai pakaian ini saja. Daripada harus memakai pakaian laki-laki yang tidak aku kenali. Apalagi kalau pakaian laki-laki itu. Dia terlihat begitu membenciku. Jadi biarlah aku memakai pakaian ini saja."


Shelina bergumam di dalam hatinya, sambil memeluk dadanya karena merasa mulai menggigil. Dengan perlahan-lahan, Shelina mulai beranjak naik dan membaringkan tubuhnya, di atas tempat tidur berukuran kecil yang terdapat di dalam ruangan itu. Sekujur tubuh Shelina mulai gemetar di dalam selimut dengan keringat yang mulai bercucuran, membasahi wajahnya yang terlihat pucat. Sedangkan di luar sana, Alfa yang sudah kembali duduk di tempat duduknya merasa begitu kesal dengan sikap Papanya, yang begitu perduli dengan keadaan Shelina.


"Alfa,, bagaiman keadaan Shelina?" Tanya Faris sambil menatap Alfa yang sedang fokus membaca koran, yang dia minta dari salah seorang anak buah Papanya.

__ADS_1


"Dia sudah masuk ke dalam kamar." Jawab Alfa tanpa menatap Papanya.


"Terus dia sudah mengganti pakaiannya?" Tanya Faris lagi yang membuat Alfa semakin merasa terganggu dengan pertanyaan Papanya tentang Shelina. Wanita yang dia anggap sebagai pembohong, di saat dia tidak mencium aroma parfum yang ada pada tubuh wanita, yang menghabiskan malam dengannya di dalam kamar hotel milik Papanya.


"Mana saya tahu Pa..? Masa saya harus melihatnya berganti pakaian..?" Jawab Alfa yang terdengar begitu datar.


"Papa tidak menyuruhmu untuk melihatnya berganti pakaian. Papa hanya ingin kamu memastikan kalau dia sudah mengganti pakaiannya yang basah kuyup sejak semalam." Jelas Faris sambil menatap putranya dengan tatapan kebingungan.


Sesama seorang laki-laki, Faris begitu bingung dengan sikap Alfa yang sedikitpun tidak punya rasa iba, kepada wanita yang sudah dia nodai. Walaupun semua itu terjadi bukan murni kesalahannya. Faris yang juga pernah mengalami akan hal yang sama, merasa begitu berbeda dengan putranya. Tapi tiba-tiba dia langsung teringat dengan sikap Papanya waktu muda, yang pernah di ceritakan sama Mamanya. Yang tidak lain Mama Alira. Sambil menarik nafas panjang dengan tatapan lurus ke depan, Faris pun mulai bergumam.


"Sifatnya seratus persen seperti Papa. Keras kepala dan tidak pernah mau mengalah. Dia begitu tidak menginginkan wanita malang itu. Tapi apapun yang terjadi, aku tetap harus menikahkan mereka. Sebagai orang tua, aku harus bisa membuat putraku menjadi orang yang bertanggung jawab."


Malam itu udara di atas awan begitu sejuk dan cerah. Bintang-bintang yang bercahaya di langit semakin memperindah pemandangan di malam hari. Namun keindahan itu sama sekali tidak di rasakan oleh Shelina, yang sedang terbaring lemas di atas tempat tidur. Dengan wajah yang semakin pucat dan bercucuran keringat, Shelina hanya bisa merintih menahan kedinginan di sekujur tubuhnya tanpa membuka mata.


"Aaaaa,,, aduuuuh,,, Ibu,,," Suara rintihan Shelina yang tidak sengaja di dengar oleh salah seorang anak buah Faris, yang baru saja keluar dari dalam toilet tepat pukul 2:30 dini hari. Dan tanpa menunggu lama, laki-laki itu langsung buru-buru bergegas memberitahukan Faris.


"Pak,, saya mendengar suara rintihan wanita itu berulang-ulang." Ujar anak buah Faris yang membuat beberapa orang yang ada di situ, seketika jadi panik. Yang terlihat santai hanyalah Alfa.

__ADS_1


"Pak,, apa jangan-jangan dia kesakitan..?" Tanya Aldo sambil menatap serius ke arah Faris.


"Iya. Mungkin saja dia kesakitan." Jawab Faris.


"Apa benar kamu mendengar suaranya..?" Tanya Faris memastikan semua yang di katakan anak buahnya itu.


"Iya Pak. Suaranya sangat terdengar jelas dari bawah kamar." Jawab laki-laki itu tanpa ada keraguan sedikitpun.


Di saat mereka semua sudah mulai panik dengan apa yang terjadi dengan Shelina,


Alfa yang sedang menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi hanya terdiam tanpa ekspresi. Dia seakan-akan tidak perduli dengan pembicaraan orang-orang yang ada di sampingnya. Melihat sikap Alfa yang seperti itu, membuat Faris seketika jadi marah. Karena dia merasa Alfa sama sekali tidak menunjukkan rasa pedulinya, sebagai seorang laki-laki terhdap wanita yang sudah di nodai.


"Alfa... Mengapa kamu begitu tenang mendengar semua ini..? Apa kamu sudah tidak punya hati..?" Tanya Faris yang membuat beberapa orang yang ada di sekelilingnya langsung terdiam tanpa berani menatapnya.


"Pa,, dia itu bukan siapa-siapanya saya. Jadi mana bisa saya harus mengurusnya di dalam sebuah kamar tanpa ada orang lain?" Pertanyaan Alfa yang membuat Faris langsung berdiri dan berkata-kata.


"Mau dan tidak mau, suka dan tidak suka kamu harus menerima kenyataan kalau dia akan menjadi istrimu. Tidak ada satu orangpun yang berani menentang keputusan Papa Alfa. Kamu sendiri tahu itu." Faris berkata-kata dan langsung melangkah pergi menuju kamar yang sedang di tempati Shelina.

__ADS_1


Alfa yang sudah tidak bisa berkata-kata, hanya menundukkan kepalanya sambil memikirkan kata-kata yang baru saja di lontarkan oleh Papanya. Tidak lagi ada harapan di dalam benak Alfa, untuk mencari bukti kalau wanita itu bukan wanita yang dia tiduri di malam itu. Karena Papanya sudah mengambil keputusan yang sama sekali tidak bisa untuk di ganggu gugat oleh siapapun.


__ADS_2