JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 55. Rencana Yang Berhasil.


__ADS_3

Prasangka buruk Alfa terhadap Shelina telah meresahkan hatinya, setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Sambil menatap jingga yang sudah mulai menampakan diri di langit senja sore itu, Alfa melamun memikirkan hubungan antara dia dan Shelina. Dalam lamunannya, Alfa sempat berpikir bagaimana sakit yang di terima Shelina atas sikapnya selama ini. Namun dia sendiri tidak tahu bagaimana menghadapi masalah dalam rumah tangga sesat yang sedang dia jalani.


Sedingin apapun, Alfa juga manusia yang memiliki perasaan. Dia akan merasa bersalah di saat menyadari kesalahannya pada orang lain. Dengan hembusan nafas panjang, Alfa mulai berkata-kata di dalam hati sambil mengusap wajahnya, dengan raut wajah penuh beban.


"Apa yang harus gue lakukan? Kesalahan telah gue buat. Dan semua itu pasti sangat menyakitkan hati Shelina. Lebih baik gue akhiri hubungan ini secepatnya. Biar gue dan dia tidak terjebak terlalu lama dalam hubungan tanpa kepastian ini."


Kesadaran yang telah datang, membuat Alfa semakin tertekan dengan pernikahan tanpa cinta yang dia jalani. Dan sesaat dia berpikir, perpisahan adalah jalan yang terbaik bagi dia juga Shelina. Alfa yang sedang di rundung masalah, terlihat sangat betah di balkon kamar sampai gelap menyelimuti langit di atas sana. Tapi tiba-tiba dia di kagetkan dengan panggilan masuk di ponselnya, yang dia letakan di samping tempat duduknya.


("Halo Oma,, ada apa telpon di jam segini?" Tanya Alfa bingung, karena saat itu waktu Indonesia masih menunjukan pukul 7 pagi.)


("Alfa,, buat apa wanita itu masih mencari mu ke rumah..? Apa kalian masih punya hubungan..?" Tanya Oma Alira yang terdengar marah dari balik telpon.)


("Siapa Oma? Wanita mana yang Oma maksudkan?" Tanya Alfa bingung.)


("Wanita gatel yang tidak tahu malu itu. Oma ngga sudi sebut namanya." Jawab Oma Alira semakin kesal.)


("Melisa maksud Oma?" Tanya Alfa.)


("Itu kan kamu tahu..? Ada hubungan apa kamu sama dia Alfa..? Kamu itu sudah beristri. Dan karena kedatangan dia mencari mu ke rumah orang tuamu, Shelina sudah pergi dari rumah pagi tadi." Jelas Oma Alira yang membuat Alfa seketika jadi terdiam.)


("Alfa... Apa kamu ngga dengar Oma..?" Tanya Oma Alira kesal karena tidak di tanggapi oleh Alfa.)

__ADS_1


("Saya dengar Oma. Tapi kenapa Shelina harus pergi dari rumah?" Tanya Alfa yang membuat Oma Alira semakin naik darah.)


("Ya karena dia marah. Wanita mana yang mau terima kalau suaminya punya wanita lain..? Apalagi Shelina itu sudah mencintai kamu. Sampai kapan kamu mau bersikap seperti ini..? Ingat Alfa! Shelina itu wanita yang sangat cantik. Setiap laki-laki pasti meliriknya. Dan tadi pagi Oma lihat ada seorang laki-laki yang datang menjemputnya di jalan depan." Ujar Oma Alira sengaja mengarang cerita palsu untuk mengetahui reaksi cucunya.)


("Biarin saja dia seperti itu. Asalkan saya tidak melakukan kesalahan apapun. Melisa hanyalah masa lalu yang tidak berarti bagi saya. Untuk apa juga dia marah dengan sesuatu yang tidak penting seperti itu.?" Jawab Alfa datar.)


("Ya sudah. Terserah kamu saja. Tapi jangan menyesal kalau istri cantikmu itu di rebut orang lain. Karena penyesalan itu datangnya selalu terlambat." Ketus Oma Alira dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.)


Entah apa yang terjadi dengan laki-laki kaku itu. Tapi dia terlihat begitu kesal mendengar apa yang di sampaikan oleh Omanya barusan. Walaupun dia berusaha untuk tenang menanggapi semua yang di beritahukan Omanya, namun dari raut wajahnya terlihat jelas kekesalan dalam dirinya. Tanpa menunggu lama, Alfa pun langsung memilih untuk menghubungi asistennya.


("Halo Fa.." Sapa Aldo setelah telponnya tersambung.)


("Saya ingin meminta bantuan mu." Ujar Alfa dengan segera.)


("Tolong kamu selidiki keberadaan istri saya sekarang juga! Cari tahu di mana dan dengan siapa dia berada saat ini!" Jawaban Alfa yang membuat Aldo seketika jadi kebingungan.)


("Ini ada apa ya Fa? Ko tiba-tiba kamu jadi seperti ini?" Tanya Aldo yang membuat Alfa tanpa sadar langsung membentaknya.)


("Tidak usah banyak bertanya! Ikuti saja apa yang saya suruh! Kamu di gaji untuk mengerjakan semua yang saya perintahkan. Bukan untuk bertanya banyak." Seru Alfa yang membuat Aldo langsung kaget.)


("Oke.. Aku akan segera melaksanakan apa yang kamu perintahkan." Jawab Aldo dan segera memutuskan sambungan teleponnya.)

__ADS_1


"Di suruh malah banyak nanya. Mau saja dia tahu semua urusan saya." Gerutu Alfa dengan tampang datarnya, tanpa menyadari keberadaan Mamanya.


"Alfa,, kamu kenapa marah-marah seperti itu? Apa ada yang salah dengan urusan kantor mu?" Tanya Aleta sambil menatap Alfa yang terlihat sudah seperti tembok datarnya.


"Ngga ada apa-apa ko Ma. Saya hanya lagi kesal saja sama Aldo. Di suruh malah banyak tanya." Jawab Alfa dengan tampang cemberutnya.


"Fa,, bisa kita ngobrol sebentar?" Tanya Aleta.


"Bisa Ma. Memangnya apa yang mau di obrolkan Ma?" Tanya Alfa tanpa menatap Aleta.


"Alfa,, Mama tahu kamu tidak mencintai Shelina sampai saat ini. Kalau menurut Mama, mending kamu lepaskan dia! Karena itu lebih baik untuk kalian berdua." Ujar Aleta yang membuat Alfa langsung menatapnya tajam.


"Maksud Mama apa..? Ko tiba-tiba Mama ngomong kaya gitu? Bukannya dalam keluarga kita tidak ada yang namanya perceraian?" Tanya Alfa dengan reaksi yang membuat Aleta hampir saja tertawa.


"Perceraian adalah larangan besar dalam keluarga Permana. Tapi untuk apa mempertahankan satu hubungan tanpa ada cinta di dalamnya." Jawab Aleta dengan ekspresi yang dia buat seserius mungkin.


"Siapa bilang ngga ada cinta? Shelina sudah mencintai saya Ma." Jawab Alfa yang membuat Aleta langsung tertawa di dalam hatinya.


"Cinta dari satu pihak, tidak akan mampu menciptakan kebahagiaan dalam rumah tangga. Itu malah akan sangat menyakitkan bagi Shelina yang mengharapkan cinta tak berbalas." Aleta berkata-kata sambil menatap putranya yang hanya menunduk kepala menatap ke arah bawah.


"Nanti saya pikirkan Ma. Untuk sekarang saya belum bisa mengambil keputusan." Jawab Alfa tanpa mau menatap Mamanya.

__ADS_1


"Ya sudah,, mulai sekarang kamu harus memikirkan semuanya. Mama pergi dulu ya,,! Jangan lupa turun untuk makan malam." Ujar Aleta dan langsung melangkah pergi meninggalkan Alfa.


Sampainya di luar kamar yang di tempati Alfa, Aleta dan Melda langsung tersenyum tanpa bersuara. Tanpa Alfa ketahui, ternyata semua obrolan Mamanya tadi adalah rencana Oma Alira juga Tantenya. Aleta langsung bergerak di saat mendapat telpon dari Mama mertuanya barusan. Yang memintanya untuk membicarakan perceraian dengan Alfa. Dan apa yang mereka rencanakan benar-benar berhasil membuat Alfa kesal. Walaupun Alfa sama sekali tidak mengatakannya. Sebagi seorang Ibu, Aleta yakin kalau putranya sudah mulai ada rasa terhadap istrinya.


__ADS_2