
Dengan tampang terlihat penuh kemarahan, Alfa menyandarkan Shelina pada sandaran kursi mobil dan menciumnya secara paksa. Kekesalan Alfa benar-benar memuncak di saat melihat Shelina, ingin melakukan apa yang tadi dia katakan. Kalau dia akan memberitahukan semuanya kepada keluarga Permana, agar pernikahan mereka segera di akhiri.
Di bawah kegelapan langit malam, Alfa melampiaskan kemarahannya dengan tindakan yang membuat jantung Shelina hampir saja berhenti berdetak saking kagetnya. Ingin sekali dia segera menghindar, dengan berusaha mendorong dada bidang Alfa. Namun Alfa sedikitpun tidak memberinya kesempatan untuk terlepas dari dalam dekapannya.
Kemarahan yang tadinya jadi alasan Alfa melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang, malah telah membangkitkan gairah Alfa sebagai seorang laki-laki dewasa. Untung saja dia tersadar karena mendengar suara tangisan Shelina. Di saat dia hendak menarik gaun Shelina di bagian dadanya.
"Hiks...Hiks...Hiks..." Shelina menangis dalam keadaan pasra dengan mata terpejam. Tanpa bisa berbuat apa-apa.
Mendengar tangisan Shelina, Alfa langsung melepaskannya dan menatap lurus ke depan dengan tampang serba salah. Kesadaran Alfa yang datang tiba-tiba di saat hasratnya mulai menguasai dirinya, membuat wajahnya seketika memerah dengan keringat yang mulai membasahi wajah. Dia juga merasa bingung dengan apa yang baru saja dia lakukan. Juga apa yang dia rasakan di saat mencium Shelina.
Detak jantung yang berdetak kencang saat mencium Shelina, membuat Alfa jadi kebingungan. Di tambah lagi kemarahannya di saat mendengar perkataan Shelina, yang ingin mengakhiri hubungan pernikahan mereka. Alfa yang begitu egois, tidak ingin mengakui perasaannya terhadap dirinya sendiri. Walaupun dia tahu kalau getaran di dalam hatinya bukan getaran biasa tanpa rasa.
"Aku ingin kita bercerai secepatnya. Aku sudah tidak sanggup menjalani semua ini. Hiks,,,hiks,,,hiks." Shelina berkata-kata dengan suara bergetar karena pengaruh menangis.
"Mengapa kamu begitu ingin bercerai..? Apa kamu sudah punya laki-laki lain..? Apa laki-laki itu pemilik kafe tempat kamu bekerja itu..?" Tanya Alfa dengan suara terdengar keras, sambil menatap Shelina dengan tatapan yang sangat tajam.
"Itu bukan urusanmu.. Kamu saja bisa punya wanita lain. Apa aku salah punya laki-laki lain..?" Jawaban Shelina yang membuat Alfa langsung terdiam.
Diamnya Alfa bukan karena mengalah terhadap Shelina. Namun dia mencoba untuk mengendalikan amarah yang semakin memuncak seketika, karena mendengar jawaban Shelina barusan. Tanpa berkata-kata, Alfa langsung melajukan mobilnya melintasi jalanan yang begitu asing bagi Shelina. Melihat arah jalan yang mereka tempuh, Shelina yang masih bercucuran air mata seketika menatap ke sana kemari, dengan tampang terlihat panik.
__ADS_1
"Mas... Kamu mau membawaku kemana..? Ini bukan jalan menuju rumahmu ataupun rumah orang tuamu. Mas Alfa... Kita mau kemana sebenarnya..?" Shelina bertanya-tanya dengan nada suara tinggi saking khawatir.
Alfa yang sudah seperti jalan tol datarnya sama sekali tidak menjawab pertanyaan Shelina. Dia malah semakin melajukan mobilnya tanpa memperdulikan Shelina, yang semakin panik di sampingnya. Melihat tampang Alfa yang menakutkan, Shelina semakin khawatir dan tidak berhenti untuk menanyakan tujuan Alfa.
"Mas... Kamu mau membawaku kemana...? Kalau kamu tidak menjawab, aku akan berteriak." Ancam Shelina tanpa menyadari keberadaan mereka saat itu.
"Silahkan berteriak! Tidak ada satu orangpun yang akan mendengar suaramu." Jawab Alfa yang membuat Shelina langsung menatap ke arah luar dengan tampang paniknya.
Melihat ke arah luar yang hanya terdapat pepohonan juga rerumputan di samping jalan yang begitu sepi, Shelina pun merasa semakin ketakutan. Apalagi di saat itu langit begitu gelap tanpa ada cahaya bulan maupun bintang yang bersinar. Dan di saat dia hendak kembali bersuara, tiba-tiba terdengar suara petir dan cahaya kilat yang menyambar. Dengan suara teriakan keras, Shelina langsung memeluk lengan Alfa dengan begitu kencang, sambil memejamkan mata saking takutnya.
"Aaaaaaa..." Teriakan Shelina yang membuat Alfa langsung menghentikan jalan mobilnya tiba-tiba.
"Jangan takut! Ada saya di sini." Ujar Alfa dengan penuh perhatian.
"Mas,, ayo kita pulang Mas! Aku takut dengan suara petir. Tolong bawa aku pulang!" Pinta Shelina tanpa mau membuka matanya.
"Kita sudah berada di puncak. Tidak mungkin kita kembali dengan cuaca seperti ini. Kita akan pulang besok. Malam ini kita menginap saja di villa." Ujar Alfa dan kembali menjalankan mobilnya, dengan Shelina yang masih memeluk sebelah lengannya.
Tidak lama dari situ, Alfa dan Shelina pun tiba di salah satu villa milik Alfa. Setelah mobilnya terparkir, Alfa langsung bergegas turun dari dalam mobil bersama Shelina. Melihat suasana villa yang begitu sepi dan jauh dari villa yang lain, Shelina langsung buru-buru melangkah menghampiri Alfa sambil bertanya.
__ADS_1
"Mas.. Apa kita akan menginap di sini?" Tanya Shelina sambil menatap ke sekeliling mereka.
"Iya,, memangnya kenapa?" Tanya Alfa dengan tatapan mata yang semakin sayu pengaruh minuman yang tadi dia konsumsi, juga rasa lelah karena belum sempat beristirahat.
"Aku ngga mau menginap di tempat sepi seperti ini. Pokoknya aku mau pulang.." Ketus Shelina dengan tampang judesnya.
"Ya sudah,, pulang sendiri saja kalau bisa! Saya tidak mau ambil resiko kembali dengan keadaan seperti ini." Jawab Alfa dan langsung melangkah meninggalkan Shelina yang masih sangat kebingungan.
Shelina yang semakin kesal dengan Alfa hanya menatap Alfa tajam tanpa bersuara. Dia sangat tidak menyukai sifat Alfa yang begitu egois. Walaupun dia merasa ketakutan melihat keadaan di sekelilingnya, dia sama sekali tidak ingin melangkah mengikuti Alfa yang sudah berlalu hampir memasuki villa. Tapi tiba-tiba suara petir kembali menggelar memecahkan keheningan malam, yang membuat Shelina langsung buru-buru berlari menghampiri Alfa, dengan wajah terlihat pucat saking takutnya.
"Ada apa? Apa kamu ngga jadi pulang?" Tanya Alfa santai, sambil membuka pintu masuk villa.
"Kamu nanti tidur di kamar itu!" Ujar Alfa sambil menunjuk ke arah sebuah kamar yang terdapat di lantai bawah.
"Kalau Mas tidurnya di mana..?" Tanya Shelina tanpa mau menatap Alfa.
"Saya bisa tidur di mana saja. Mau di sini atau di lantai atas juga bisa." Jawab Alfa.
Mendengar jawaban Alfa, Shelina seketika jadi terdiam dengan pemikiran yang sudah mulai sembarangan. Kekhawatiran semakin menguasai dirinya, saat memikirkan hal-hal yang menakutkan. Shelina tidak bisa membayangkan berada di dalam kamar sendirian, di tengah malam dalam suasana menyeramkan seperti saat itu. Dia ingin sekali di temani tidur oleh seseorang. Namun tidak mungkin dia mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya terhadap Alfa.
__ADS_1