JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 85. Kehangatan Alfa.


__ADS_3

Cinta bagaikan misteri yang tidak pernah bisa di duga ataupun di tebak. Di balik diamnya Alfa mendengar masukan Omanya untuk Shelina, terlihat jelas kekesalan yang terpancar dari kedua bola matanya di saat melirik istri cantiknya itu. Namun ego juga gengsi membuatnya berusaha untuk tetap tenang, tanpa ada satu katapun yang terucap dari bibirnya.


"Alfa,, tadi Oma sempat berpikir untuk ke rumah kamu. Tapi belum sempat Oma pergi, kalian berdua sudah ada di sini." Ujar Oma Alira sambil melangkah menuju tempat sarapan bersama Alfa dan Shelina.


"Untuk apa Oma mau ke rumah saya?" Tanya Alfa dengan tatapan mencari tahu.


"Oma ingin mengajak Shelina ikut bersama Oma di acara teman Oma, yang di adakan di sebuah hotel berbintang milik Papa kamu." Jawab Oma Alira.


"Aku mau Oma. Aku mau temani Oma." Jawab Shelina dengan segera.


"Ya sudah,, setelah ini kita langsung bersiap-siap. Karena Oma ingin menunjukkan kepada semua teman Oma, betapa cantiknya cucu menantu Oma ini." Tutur Oma Alira sambil mengusap pipi Shelina yang begitu putih dan mulus.


"Tapi kamu ngga keberatan kan Alfa?" Tanya Oma Alira sambil melirik ke arah Alfa yang sudah seperti jalan tol datarnya.


"Terserah Oma saja." Jawab Alfa yang membuat Oma Alira, seketika bergumam di dalam hatinya sambil tersenyum.


"Dia sama seperti Opanya waktu muda. Tidak ada bedanya."


"Ya sudah,, saya mau ke kantor." Ujar Alfa tanpa memperdulikan Shelina yang sedang menatapnya.


Melihat keromantisan Papa Faris juga Opa Fahri terhadap pasangan mereka sebelum berangkat kerja, membuat Shelina sedikit merasa iri. Sebagai seorang istri, Shelina sering berkhayal akan diperlakukan seperti wanita pada umumnya, yang akan di kecup keningnya setelah menyalami tangan suami mereka sebelum para suami berangkat kerja. Tapi semua itu hanya menjadi harapan di dalam khayalan Shelina selama ini. Karena Alfa tidak mungkin melakukan hal yang sama seperti Opa juga Papanya.


"Ma,, Oma,, aku pergi dulu." Ujar Alfa setelah mencium tangan Oma dan Mamanya.

__ADS_1


"Kamu ko ngga salam sama istri kamu?" Tanya Aleta yang sedikit bingung dengan sikap Alfa sebagai seorang suami.


Tanpa berkata-kata, Alfa pun langsung menjulurkan tangannya ke arah Shelina, yang sedang menatapnya tanpa ekspresi.


"Ikut saya sebentar!" Ujar Alfa setelah Shelina mencium punggung tangannya, untuk yang pertama selama mereka hidup bersama.


Melihat ekspresi Shelina, Alfa pun tersadar atas sikapnya yang terlalu dingin sebagai seorang suami. Tapi apapun yang ada di dalam pikirannya, tidak dapat merubah sikapnya yang malu untuk bersikap romantis di depan orang lain. Walaupun di saat itu hanya ada Oma juga Mamanya. Sedangkan Papa Faris sudah pergi duluan bersama Opa Fahri, dengan menggunakan satu mobil.


"Ada apa Mas?" Tanya Shelina setelah berada dekat pintu depan.


"Jaga sikap kamu kalau sampai di acara nanti. Karena saya juga akan berada di sana." Ujar Alfa yang membuat Shelina seketika merasa bingung.


"Jaga sikap bagaimana Mas? Selama ini sikapku biasa saja." Tanya Shelina dengan kening berkerut.


Ciuman yang tidak terduga itu membuat Shelina seketika mematung, dengan tampang kebingungan tanpa bisa berkata-kata. Hal yang tidak pernah di sangka oleh Shelina, kini di lakukan oleh suami kakunya itu. Dia hanya menatap Alfa yang sudah melangkah pergi, sambil meraba keningnya sendiri sambil tersenyum bahagia.


"Apa ini mimpi?" Shelina bertanya-tanya sambil melangkah kembali ke dapur, menemui Oma Alira dan Aleta Mama mertuanya.


Melihat ekspresi Shelina juga sikapnya yang aneh, Aleta dan Oma Alira hanya bisa saling menatap satu sama lain dengan tampang kebingungan. Sedangkan Shelina yang sedang terbang melayang dengan perlakuan hangat dari Alfa, sama sekali tidak menyadari kalau dia sudah berada di dapur.


"Sayang,, kamu kenapa,,?" Tanya Oma Alira yang membuat Shelina seketika terkejut.


"Aku,, aku,, aku ngga apa-apa ko Oma. Aku hanya lagi senang saja." Jawab Shelina gugup.

__ADS_1


Mendengar jawaban Shelina juga melihat dia yang begitu salah tingkah, Oma Alira dan Aleta yang sudah lebih dewasa dan berpengalaman, seketika tersenyum sambil melirik satu sama lain, yang membuat Shelina merasa seperti maling tertangkap basah.


"Ya sudah,, mending sekarang kamu siap-siap! Oma juga mau kembali ke rumah Oma untuk bersiap-siap." Seru Oma Alira dan segera melangkah pergi.


Setelah kepergian Oma Alira, Shelina pun langsung bersiap-siap. Dia mengenakan pakaian juga perhiasan yang di berikan Mama mertuanya. Penampilan Shelina benar-benar terlihat sempurna dengan semua yang di berikan Aleta kepadanya. Aleta saja sampai takjub melihat betapa sempurnanya Shelina, dengan dandanan yang tidak terlalu berlebihan menurutnya.


"Sayang,, kamu cantik banget hari ini. Alfa akan sangat bangga melihat penampilan kamu nanti." Ujar Aleta yang juga sudah selesai bersiap-siap.


"Mama juga cantik. Malah lebih cantik dari aku." Jawab Shelina balik memuji Mama mertuanya.


Melihat sikap Shelina yang begitu rendah hati juga rendah diri, membuat Aleta semakin kagum terhadapnya. Aleta memang sejak dulu menginginkan wanita seperti Shelina, untuk menjadi pendamping hidup putranya. Apalagi Shelina memiliki jalan hidup yang cukup sulit seperti dirinya, sebelum hidup bersama Faris.


"Shel,, kamu jangan pernah berpikir untuk pergi meninggalkan Alfa! Jangan pernah bersedih dengan sikapnya yang dingin dan sedikit terlihat arogan. Alfa itu anak yang baik dan penuh kasih sayang. Mama doakan semoga kalian bahagia." Aleta berkata-kata sambil mengusap-usap lembut lengan Shelina.


"Iya Ma. Makasih karena Mama sudah sangat baik sama aku. Sejak kecil aku ngga pernah di perlakukan seperti ini dari seorang Ibu." Kata-kata Shelina yang membuat Aleta seketika jadi terharu.


"Mama tidak pernah menganggap kamu sebagai orang lain. Kamu itu putri Mama. Jadi kamu ngga usah takut ataupun ragu kalau ingin mengatakan sesuatu. Apapun masalahmu kamu bisa berbagi dengan Mama." Jawab Aleta dengan senyum ramah.


"Iya Ma. Aku bahagia banget bisa memiliki sosok orang tua seperti Mama." Tutur Shelina dan langsung memeluk Aleta.


Aleta dan Shelina yang sedang berpelukan di dalam kamar, sama sekali tidak menyadari keberadaan Oma Alira, yang sudah berdiri di depan pintu kamar. Melihat kedua wanita yang sudah menjadi pendamping hidup Putra juga cucu pertama keluarga Permana, Oma Alira hanya bisa tersenyum penuh kebahagiaan.


Kehadiran kedua wanita sederhana itu di dalam keluarga Permana, bagaikan anugrah buat Oma Alira. Karena mereka sudah berhasil merubah dunia Putra juga cucunya, yang begitu tidak berwarna. Apalagi Oma Alira tidak pernah menginginkan wanita yang berasal dari keluarga kaya, masuk dalam keluarga Permana. Karena dia tahu, banyak saingan bisnis suaminya yang ingin memiliki harta kekayaan keluarganya, dengan cara menikahi salah satu dari anggota keluarga Permana.

__ADS_1


__ADS_2