
Tepat pukul 11:30 malam, Alfa dan rombongannya memutuskan untuk meninggalkan kafe setelah pesta ulang tahunnya selesai. Alfa melangkah keluar dari dalam kafe itu dengan raut wajah yang terlihat begitu datar. Sedikitpun dia tidak melirik ke arah Shelina, yang sedang menatapnya dengan raut wajah sendu dari arah belakang. Malam itu Shelina semakin merasa seperti orang asing bagi laki-laki yang sudah menikahinya itu. Alfa yang begitu cuek dan tidak perduli padanya, semakin membuat Shelina yakin kalau dia memang tidak ada artinya sama sekali.
"Alfa,, apa perlu aku antar kamu pulang?" Tanya Aldo setelah mereka sudah berada di parkiran kafe.
"Tidak perlu. Saya bisa pulang sendiri." Jawab Alfa dan langsung masuk ke dalam mobil mewahnya.
"Apa kamu yakin bisa pulang sendiri..?" Tanya Aldo lagi karena merasa khawatir dengan keadaan Alfa.
Tanpa menjawab pertanyaan Aldo, Alfa langsung menjalankan mobilnya keluar dari parkiran kafe. Alfa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi melintasi jalan raya. Sampai-sampai mobilnya tidak terlihat oleh Aldo juga rekan-rekannya, yang tadi mengikutinya dari belakang hanya dalam waktu sekejap. Tapi tiba-tiba mobilnya pun berhenti tepat di samping jalan, di saat dia mau memasuki setapak menuju rumahnya.
Tidak berapa lama menepi di samping jalan, Alfa kembali menjalankan mobilnya namun bukan menuju jalan pulang. Tapi dia malah putar balik dan melajukan mobilnya dengan tampang yang begitu menakutkan.
"Shel,, biar aku antar pulang ya?" Ujar Pak Reno yang selalu ingin dekat dengan Shelina.
"Ngga usah Pak. Ngga usah repot-repot!" Jawab Shelina sambil melangkah menuju pintu keluar bersama Kalista.
"Ngga baik wanita pulang sendirian di jam seperti ini. Jadi biar aku antar saja." Tambah Pak Reno terkesan sedikit memaksa.
"Bukannya aku ngga mau Pak. Tapi aku ada jemput malam ini." Jawab Shelina berbohong tanpa menghentikan langkahnya.
"Ooo,, ya sudah kalau gitu." Jawab Pak Reno dengan raut wajah penuh kekecewaan.
__ADS_1
"Shel,, memangnya malam ini ada yang mau jemput kamu?" Tanya Kalista sambil mengikuti Shelina yang sedang menarik tangannya.
"Ngga ada yang jemput aku. Aku sengaja bilang seperti itu, biar Pak Reno ngga maksa." Jawab Shelina jujur.
"Aku tu ngga mau jadi penghancur rumah tangga orang. Jadi lebih baik aku menghindar." Tambah Shelina sambil berbalik menatap Kalista, yang juga sedang menatapnya dengan senyuman manis di wajahnya.
"Kamu kenapa senyum seperti itu? Apa ada yang salah dengan perkataan ku?" Tanya Shelina bingung.
"Tidak ada yang salah. Justru aku sangat bangga dengan kamu. Karena zaman sekarang ini, malah banyak wanita yang suka sama laki-laki mapan walaupun itu suami orang. Tapi kamu beda. Kamu malah ngga mau menghancurkan rumah tangga orang." Jawab Kalista dengan tatapan penuh kekaguman ke arah Shelina.
"Aku juga bangga sama kamu. Kamu itu wanita tangguh. Wanita yang tidak mudah untuk menyerah dalam menjalani hidup." Ujar Shelina memuji Kalista.
Kalista memang sosok wanita kuat dalam menjalani hidup. Seorang diri dia merawat Ibunya tanpa ada yang membantu. Apalagi dia adalah anak satu-satunya dari kedua orang tuanya. Tapi sayang, Ayahnya sudah meninggal di saat dia masih remaja. Dan sekarang dia berjuang sendirian untuk Ibunya yang sedang sakit-sakitan. Dan hal itulah yang membuat Shelina sangat bangga terhadapnya.
"Nanti lain kali saja Lis. Ada yang harus aku selesaikan di rumah. Jadi aku harus pulang." Jawab Shelina.
"Ya sudah,, kalau gitu kamu hati-hati ya,,! Aku duluan ya Shel,, itu taksi pesanan aku sudah ada." Ujar Kalista sambil mengusap-usap punggung Shelina.
"Iya Lis. Kamu juga hati-hati ya,,! Sampaikan salam aku buat Ibu kamu." Ujar Shelina.
"Iya Shel. Aku duluan ya,,,!" Ujar Kalista sambil melangkah memasuki taksi.
__ADS_1
Setelah taksi yang di naikin Kalista menghilang dari pandangannya, Shelina pun langsung berbalik menunggu kedatangan taksi pesanannya. Dan tidak berapa lama, dia melihat ada sebuah mobil dari arah depan melaju dengan begitu kencang. Dengan tampang mulai panik, Shelina mulai berbalik sambil berkata-kata sendirian.
"Tidak mungkin itu taksi yang mau menjemput ku. Karena taksi yang nantinya akan menjemput aku itu, datangnya dari arah sana, bukan dari arah belakang. Apa mungkin itu orang jahat?" Shelina yang sudah sangat ketakutan, tidak berani untuk berbalik melihat mobil yang sudah mulai mendekat ke arahnya.
"Hee.. Mau kemana kamu..? Apa pekerjaanmu belum selesai juga..?" Suara tanya seseorang yang tidak asing lagi di telinga Shelina.
"Mas Alfa... Ko Mas bisa ada di sini..?" Tanya Shelina kaget, sambil berbalik menatap Alfa yang tidak keluar dari dalam mobilnya.
"Apa Mas memang ingin menjemput ku..?" Tanya Shelina yang sudah berada di samping pintu mobil bagian kemudi.
Shelina yang sudah mulai berbunga-bunga karena berharap Alfa datang untuk menjemputnya, seketika tersenyum tanpa bersuara. Namun Alfa yang menyadari ekspresi wajah Shelina, dengan segera mencari alasan yang membuat senyum di wajah Shelina langsung meredup.
"Ngga usah berpikir macam-macam! Saya tidak ada niat sedikitpun untuk menjemputmu. Saya hanya kebetulan lewat sini dan melihatmu di samping jalan sendirian. Sebenarnya ngga ada urusannya sama saya, tapi saya takut di salahkan sama keluarga saya kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu." Jawab Alfa tanpa menatap wajah Shelina yang seketika meredup. Bagaikan mentari di tutupi awan hitam.
"Ayo masuk! Saya tidak mau berlama-lama di sini. Saya tidak mau ada yang melihat saya sedang menjemputmu." Seru Alfa dengan begitu angkuhnya.
"Kalau seperti itu, untuk apa kamu mau berhenti di sini Mas? Aku bisa pulang sendiri." Jawab Shelina tanpa bergerak dari tempatnya berdiri.
"Tadi kan sudah saya bilang. Saya tu baru saja antar pulang sekretaris saya. Dan kebetulan melihat kamu di sini, akhirnya saya berhenti. Dari pada saya di salahin lagi." Jawab Alfa.
"Ayo masuk..! Saya bukan supir pribadi kamu. Yang harus menunggu lama" Ujar Alfa sambil membuka pintu mobil bagian depan tepat di sebelahnya.
__ADS_1
Tanpa bersuara, Shelina pun langsung masuk ke dalam mobil Alfa. Tapi bukan pada pintu yang di buka oleh Alfa. Malah dia membuka sendiri pintu bagian belakang, tanpa memperdulikan Alfa yang hanya terdiam dengan tampang datarnya. Alfa yang selalu menahan ego, begitu kesal di saat melihat Shelina lebih memilih duduk di bangku bagian belakang, dari pada di sebelahnya. Alfa merasa benar-benar kesal dengan tindakan Shelina.