
Sikap dinginnya Alfa sudah biasa di terima oleh Shelina. Dia tidak pernah meminta Alfa untuk berubah. Walaupun dia juga ingin di perlakukan dengan cara romantis oleh suaminya. Shelina hanya mendambakan cinta tulus dari Alfa sebagai seorang suami. Apalagi di dalam hidupnya hanyalah Alfa tempat dia bersandar.
"Mas,, apa kamu tidak bisa di sini saja? Kamu kan suamiku." Ucap Shelina sambil menatap Alfa yang mulai beranjak dari tempat duduknya.
"Tadi saya belum sempat berbicara dengan Dr Arnol karena kedatangan Melisa. Jadi saya harus menemuinya sekarang juga. Saya ingin mengetahui keadaanmu." Jawab Alfa.
Shelina yang sudah tidak bisa berkata-kata, hanya mengangguk tanda setuju dengan raut wajah yang terlihat tidak bersemangat. Melihat ekspresi Shelina, Alfa yang sudah mulai memahami situasinya kembali berujar.
"Saya akan segera kembali setelah selesai membicarakan semuanya. Tujuan saya hanya menemui Dr Arnol. Tidak ada tujuan lain." Alfa berusaha meyakinkan Shelina, dan segera melangkah pergi.
"Sus,, tolong bantu istri saya untuk berganti pakaian. Jangan biarkan dia melakukannya sendiri." Ucap Alfa setelah berada di depan ruang rawat Shelina. Tepatnya di depan ketiga Suster yang sedang menunggu di luar.
Tanpa bersuara ketiga Suster itu hanya menatap Alfa seperti orang yang sedang kebingungan. Mereka benar-benar terhipnotis oleh ketampanan Alfa. Sampai-sampai mereka tidak menyadari apa yang di katakan oleh Alfa.
"Sus,, tolong bantu istri saya!" Seru Alfa lagi sambil melambaikan tangan di depan ketiga Suster itu.
"Iya Pak.. Baik Pak.." Jawab ketiga wanita itu secara bersamaan dengan begitu salah tingkah.
Alfa melanjutkan langkahnya menuju ruangan Dr Arnol setelah ketiga Suster itu masuk ke dalam ruang rawat Shelina. Dia tidak sabar ingin mengetahui apa yang mau di bicarakan oleh Dr Arnol. Sedikit kecemasan di rasakan Alfa, mengingat Shelina yang selalu kesakitan di saat datang bulan. Namun Alfa adalah orang yang sangat tenang dalam menghadapi segala sesuatu. Hal itulah yang selalu membuat dia terlihat santai dalam keadaan apapun.
"Sore Dok. Maaf saya sudah membuat anda lama menunggu." Sapa Alfa setelah memasuki pintu ruang Dr Arnol.
"Sore Pak Alfa. Tidak masalah. Lagian saya juga tidak ada kesibukan apapun di sore ini." Jawab Dr Arnol.
"Ayo Pak silahkan duduk!" Ucap Dr Arnol mempersilahkan Alfa untuk duduk di hadapannya.
"Apa kita bisa memulai pembicaraan Pak?" Tanya Dr Arnol dengan senyum ramah.
__ADS_1
"Silahkan Pak! Justru saya sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan istri saya." Jawab Alfa tenang.
************
Setelah melepaskan semua pakaiannya di bantu ketiga Suster yang sedang bersamanya, Shelina pun segera beranjak menuju kamar mandi di gandeng dua orang Suster.
"Aku bisa sendiri." Ujar Shelina setelah berada di depan pintu kamar mandi.
"Apa Ibu yakin bisa sendiri? Ibu kan masih sangat lemah." Tanya salah seorang Suster.
"Tidak apa-apa ko Sus. Lagian aku ngga nyaman kalau di lihat orang saat mandi." Jawab Shelina dan perlahan melangkah memasuki kamar mandi.
Keadaan Shelina masih terlihat sangat lemas. Namun dia tetap memilih untuk membersihkan badannya tanpa di bantu ketiga Suster, yang berada di depan pintu kamar mandi. Saat dia ingin menutup pintu kamar mandi, salah seorang Suster kembali bertanya karena takut terjadi apa-apa dengan Shelina.
"Bu,, apa Ibu yakin bisa sendiri? Kami takut terjadi apa-apa sama Ibu."
"Siapa bilang kamu bisa sendiri?" Tiba-tiba terdengar suara Alfa dari depan pintu.
"Mas,, kamu ko sudah kembali?" Tanya Shelina.
"Iya,, saya buru-buru kesini untuk memastikan kalau kamu tidak menolak bantuan para Suster." Jawab Alfa dengan raut wajah datar seperti biasanya.
"Mas,, aku bisa sendiri. Lagian aku ngga bisa mandi di lihat orang." Ucap Shelina tetap pada pendiriannya.
"Kamu tidak bisa sendirian. Kalau kamu tidak mau di bantu sama mereka, biar saya saja yang membantu kamu untuk mandi." Ujar Alfa sambil melangkah mendekat ke arah Shelina.
"Mas,, tidak perlu kamu melakukan itu. Aku masih bisa untuk mandi sendiri." Tolak Shelina.
__ADS_1
"Bisa ataupun tidak, saya tetap akan membantumu. Saya tidak ingin terjadi sesuatu yang bisa mencelakai mu juga calon anak-anak saya." Ucapan Alfa yang membuat Shelina langsung mematung menatapnya kaget.
"Ayo masuk! Tidak ada kata tidak." Tabah Alfa dan langsung merangkul pinggang Shelina melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Sampainya di dalam kamar mandi, Shelina yang sedang berdiri menghadap Alfa hanya terdiam tanpa melepaskan tangannya dari lingkaran handuk di bagian dadanya. Selain bingung dengan perkataan Alfa barusan, Shelina juga serba salah harus di bantu Alfa untuk mandi. Keadaan itu membuat dia benar-benar jadi serba salah.
"Ayo lepaskan handuk kamu!" Ujar Alfa sambil melipat lengan bajunya.
"Mas,, aku bisa sendiri. Apa kamu ngga malu melakukan semua ini? Apalagi di luar ada orang. Apa yang mereka pikirkan nanti?"
"Saya tidak perduli apa yang ada di pikiran orang. Sekarang yang saya pikirkan hanyalah keadaan kamu juga calon anak-anak kita."
"Maksud Mas apa? Calon anak siapa?" Tanya Shelina dengan tampang serius.
"Kalau anak itu ada di dalam kandunganmu, berarti itu siapa?" Tanya balik Alfa yang membuat Shelina semakin kebingungan.
"Ya anak kamu lah. Mau anak siapa lagi? Memangnya aku punya laki-laki lain selain kamu?" Ketus Shelina dengan tampang cemberut.
"Itu kan kamu tahu? Sekarang,, di dalam sini ada dua calon anak kita. Tapi kondisi mereka sangat lemah. Jadi kamu harus berhati-hati dalam beraktifitas. Bila perlu kamu tidak usah melakukan apapun."
Mendengar penjelasan Alfa, tanpa menunggu lama air mata haru langsung memenuhi kelopak mata Shelina. Dia merasa bagaikan mimpi di siang bolong dengan semua kenyataan itu. Dengan perlahan, Shelina mencoba meraba wajah kaku suaminya untuk memastikan kalau semua itu bukanlah mimpi.
"Mas,, aku pikir ini hanyalah mimpi karena aku terlalu menghayal tentang anak. Ternyata semua ini kenyataan." Shelina berkata-kata dengan berlinang air mata.
"Makanya kamu jangan keras kepala. Kalau kamu memang mendambakan anak. Kamu harus turuti semua perkataan saya. Semua itu demi kebaikanmu juga calon anak kembar kita." Dengan isak tangis yang tidak tertahankan, Shelina memeluk tubuh kekar Alfa.
Kebahagiaan Shelina tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata di lihat dari ekspresinya. Saking bahagianya, sampai-sampai dia tidak perduli dengan balutan tubuhnya yang sudah terlepas jatuh di atas lantai kamar mandi. Sedangkan Alfa yang juga merasakan hal serupa, langsung memeluk tubuh indah istrinya sambil mengecup kepalanya berulang-ulang.
__ADS_1
Tanpa ada kata yang terucap, pelukan hangat dapat membuktikan kasih sayang Alfa terhadap Shelina. Usapan tangan Alfa di pundak Shelina juga kecupan mesra di kepalanya, menunjukan bentuk kasih sayang yang tidak terhingga. Semua itu dia lakukan dengan keikhlasan cinta yang tidak pernah di tunjukkan sebelumnya.