
Langkah kaki Shelina terus beradu menyusui setapak yang mengarah ke rumah milik suaminya. Jingga yang sebentar lagi akan terbenam, semakin meredup seperti raut wajah Shelina yang begitu sendu, memikirkan kepahitan yang datang tiba-tiba dalam kehidupan rumah tangganya. Ingin sekali dia melupakan kesakitan yang begitu menyiksa. Namun rasa yang sudah menimbulkan kepedihan, tidak bisa hilang begitu saja.
"Non,, sudah pulang ke sini..?" Tanya Pak Firman yang bertugas jaga di rumah Alfa pada siang hari. Setelah melihat kedatangan Shelina.
"Iya Pak. Aku sudah kembali." Jawab Shelina sambil tersenyum yang terlihat sangat di paksakan.
"Apa Non baik-baik saja?" Tanya Pak Firman karena merasa aneh dengan ekspresi Shelina.
"Aku baik-baik saja Pak." Jawab Shelina dan langsung melangkah pergi menuju rumah besar milik suaminya.
"Ada apa dengan Non Sheli? Apa dia sakit?" Pak Firman bertanya-tanya karena merasa sedikit khawatir dengan keadaan Shelina.
Sampainya di dalam kamar, Shelina pun langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, sambil memikirkan semua yang sedang mengganggu pikirannya saat itu. Ingin sekali dia menangis untuk mengurangi sedikit beban di dalam dirinya. Namun dia pun berpikir, untuk apa air matanya harus terbuang, hanya karena kehadiran wanita lain di dalam kehidupan rumah tangganya. Karena rumah tangga yang dia jalani hanyalah sebuah sandiwara. Walaupun sandiwara itu sudah mengobrak-abrik hati dan pikirannya.
Karena terlalu lelah memikirkan semua masalah yang sedang dia hadapi, Shelina pun langsung terlelap hanya dalam waktu beberapa menit. Dia tertidur tanpa makan maupun mandi. Dari raut wajah Shelina, terlihat betapa berat beban yang dia rasakan, walaupun sudah berada di alam mimpi.
Tepat pukul 5:30 pagi, Shelina yang merasa kelaparan terbangun dengan wajah di penuhi keringat dingin. Dengan tubuh yang mulai bergetar, Shelina melangkah menuju dapur dengan sangat berhati-hati karena dia merasa sedikit pusing. Sampainya di dapur, Shelina mengambil sebotol minuman juga sepenggal roti, dari dalam kulkas kemudian memakannya.
Setelah perutnya sudah terisi, Shelina pun langsung bergegas untuk bersiap-siap kerja, walaupun dia merasa kurang enak badan. Shelina yang terlihat sedikit pucat, keluar dari dalam rumah menuju setapak tanpa melihat sekelilingnya. Dia sama sekali tidak menyadari keberadaan sebuah mobil yang sedang terparkir di ujung setapak.
__ADS_1
"Sheli.. Apa kamu baik-baik saja..?" Suara tanya seseorang yang membuat Shelina langsung kaget.
"Pak Reno.. Ko Bapak ada di sini..?" Tanya Shelina dengan tampang kagetnya.
"Aku mau menjemputmu. Tapi kamu sepertinya kurang sehat." Jawab Reno manejer kafe tempat Shelina bekerja dengan begitu santainya.
"Aku baik-baik saja Pak. Tapi dari mana Bapak tahu tempat tinggal ku?" Tanya Shelina penasaran.
"Kemarin aku mengikuti mu di saat pulang kerja. Jadi aku memilih untuk menjemputmu hari ini. Soalnya aku melihat keadaanmu kemarin tidak terlalu baik." Jawab Pak Reno.
"Ayo kita pergi!" Tambah Pak Reno yang membuat Shelina tidak bisa untuk berbuat apa-apa.
"Buat apa Pak Reno harus menjemput ku segala? Bisa-bisa dia tahu kalau aku sudah berbohong. Dan kalau sampai di ketahui Mas Alfa bagaimana? Aku harus mencari alasan lain, biar Pak Reno tidak lagi menjemput ku."
Shelina yang semakin khawatir dengan tindakan Pak Reno, hanya terdiam sambil memikirkan alasan agar Pak Reno tidak lagi menjemputnya ke rumah Alfa. Selain itu Shelina juga sangat tidak nyaman dengan apa yang di lakukan oleh Pak Reno. Karena biar bagaimanapun dia adalah istri seorang laki-laki, yang berasal dari keluarga terpandang. Dia tidak ingin mencoreng nama keluarga suaminya karena ulah manejer nya.
"Pak Reno,, mulai besok jangan jemput aku ya..!" Ujar Shelina membuka percakapan setelah beberapa menit mereka hanya terdiam.
"Memangnya kenapa? Aku hanya berniat ingin membantumu. Biar kamu nggak repot-repot naik taksi ke tempat kerja." Ujar Reno.
__ADS_1
"Sebelumnya aku mau ucapin terima kasih atas niat baik Pak Reno. Tapi aku ngga mau berhenti kerja hanya karena Pak Reno sering menjemput aku. Tanteku akan sangat marah kalau melihat aku dekat dengan laki-laki yang tidak dia kenali. Dan mungkin dia akan menyuruhku untuk berhenti kerja." Ujar Shelina panjang lebar.
"Ooo begitu ya? Ya sudah kalau gitu. Kalau aku ngga bisa jemput kamu di ujung setapak. Aku bisa ko tunggu kamu di samping jalan raya." Jawab Reno yang membuat Shelina semakin bingung menghadapinya.
"Aku rasa itu ngga akan di ketahui siapapun. Terutama Tante kamu yang setiap hari hanya di rumah. Iya kan?" Tambah Reno yang membuat Shelina semakin kebingungan.
"Iii,, iya Pak." Jawab Shelina gugup.
Sampainya di tempat kerja, Pak Reno langsung buru-buru turun dan membukakan pintu kepada Shelina. Shelina yang melihat sikap berlebihan manejer nya begitu kaget juga malu, dengan beberapa kariyawan kafe yang juga ada di parkiran. Beberapa wanita yang juga baru saja sampai di parkiran, langsung menatap ke arah Shelina dengan tatapan sinis sambil berbisik.
"Ada hubungan apa wanita itu sama Pak Reno?" Bisik Anet salah satu kariyawan kafe kepada temannya yang bernama Rini.
"Mana aku tahu? Tanya saja sama Alya!" Jawab Rini sambil melirik ke arah Alya, yang bekerja sebagai kasir sekaligus orang yang selalu mengejar-ngejar Pak Reno.
"Al,, lihat tu gebetan kamu sudah di dekati sama wanita itu." Ujar Anet di samping telinga Alya.
"Aku ngga akan biarin itu. Aku akan kasih pelajaran sama wanita ganjen itu. Biar dia tahu diri sebagai kariyawan baru." Ketus Alya dengan tatapan sinis ke arah Shelina, yang sudah melangkah masuk bersama Reno.
Shelina memang sudah menyadari sikap beberapa wanita itu sejak pertama dia masuk kerja. Tapi dia tidak memperdulikan mereka sama sekali. Karena niatnya datang ke tempat itu hanya untuk bekerja. Bukan untuk merebut sesuatu yang bukan miliknya. Apalagi manejer kafe itu sudah memiliki istri juga dua orang anak. Dan semua kariyawan kafe sudah mengetahuinya termasuk Shelina.
__ADS_1