
Kehamilan Shelina sungguh membuatnya teramat sangat sensitif dengan semua kejadian di sekelilingnya. Terutama yang mengangkut Suaminya. Melihat kedekatan Alfa dengan seorang wanita di dalam ruang kerjanya, tanpa menunggu lama Shelina langsung mendorong pintu dengan sangat keras.
"Shelina... Apa-apaan kamu..??" Tanya Alfa yang terlihat kaget dengan perilakunya.
"Mas,, kamu lagi ngapain? Apa seperti ini pekerjaanmu??" Tanya Shelina dengan nada yang terdengar aneh.
"Maafkan saya Mba,, saya di sini karena di minta Alfa." Sambung wanita yang sudah berdiri di samping Alfa.
"Shelina,, saya sama dia sedang membahas sesuatu yang lebih penting dari pekerjaan saya." Ujar Alfa yang membuat Shelina semakin salah paham.
"Oh,, berarti wanita ini lebih penting dari pekerjaan kamu? Ya sudah,, lanjutkan saja! Mungkin kehadiranku sudah mengganggu." Dengan mata yang mulai berkaca-kaca Shelina berbalik hendak melangkah pergi.
"Tunggu Mba. Di sini kayaknya Mba sudah salah paham." Dengan segera wanita tersebut langsung meraih lengan Shelina.
"Ini bukan seperti yang Mba pikirkan. Justru yang lebih penting bagi Alfa itu Mba Shelina, bukan saya. Suami Mba begitu menyayangi Mba, makanya dia meminta bantuan saya." Ujar wanita tersebut.
Alfa yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa hanya menatap Shelina tanpa bersuara. Dia benar-benar bingung dengan sikap Shelina yang menurutnya begitu berlebihan.
"Sebelumnya saya ingin perkenalkan diri. Nama saya Winda. Saya seorang Dr kandungan sekaligus sahabat Alfa. Mungkin kita baru pertama kali bertemu. Tapi saya termasuk orang yang mengagumi kesempurnaan Mba Shelina. Mba Shelina adalah wanita yang sangat cantik."
"Memangnya apa yang di tanyakan Alfa?" Shelina mulai penasaran mengetahui kalau wanita di depannya itu seorang Dr kandungan.
"Sini saya jelasin. Mba duduk dulu di samping Alfa."
"Begini Mba,, sebenarnya sebagai seorang pria, Alfa berada di dalam posisi yang sangat sulit saat ini."
__ADS_1
"Maksud Dokter apa? Posisi sulit bagaimana?" Tanya Shelina sambil menatap Alfa juga Winda secara bergantian.
"Dokter kan sudah mengatakan, kalau kandungan Mba Shelina tidak terlalu kuat. Jadi tidak bisa melakukan hubungan suami-istri demi kebaikan janin. Hal itu sangat menyiksa batin Alfa menurut saya. Makanya dia memilih untuk berkonsultasi dengan saya."
Mendengar penjelasan Dr Winda, Shelina pun segera berbalik menatap Alfa dengan tatapan penuh rasa bersalah. Pemikirannya yang begitu sempit ternyata sudah menyudutkan Suaminya yang saat itu sedang dalam masalah.
"Itu saja yang ingin saya sampaikan untuk Mba Shelina. Nanti kalian bisa menghubungi saya lagi kalau ada yang perlu di tanyakan. Semuanya sudah saya jelaskan kepada Alfa."
"Maafkan saya Dok. Saya cuman takut Suami saya tergoda seperti yang sedang marak terjadi, pada banyaknya Suami di luar sana." Ujar Shelina dengan tampang penuh bersalah.
"Tidak apa-apa Mba. Wajar wanita hamil. Mereka malah semakin sensitif di usia kandungan yang semakin bertambah. Karena kebanyakan wanita yang tidak percaya diri dengan bentuk tubuh di saat mengandung. Padahal banyak pria juga yang suka dengan bentuk tubuh wanita hamil." Tutur Dr Winda.
"Sekali lagi saya minta maaf Dok." Ujar Shelina.
"Tidak masalah. Kalau begitu saya pamit dulu." Ujar Winda sambil menyalami Shelina juga Alfa yang hanya terdiam sejak tadi.
"Ini apa Mas?" Tanya Shelina bingung.
"Minum ini dan istirahatlah di dalam." Ujar Alfa.
"Tapi saya ingin kamu jelasin apa yang kamu bicarakan dengan Dr Winda?"
"Ya sudah. Minum dulu baru saya jelaskan semuanya."
Selesai meminum dua butir vitamin yang di berikan Alfa, Shelina langsung berbalik menghadap Alfa yang sedang duduk pada sofa di dekat meja kerjanya. Tanpa bersuara, Alfa pun menarik tangan Shelina untuk duduk di pangkuannya.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu akan meragukan saya? Kamu tidak tahu betapa tersiksanya saya menjaga jarak selama beberapa Minggu ini denganmu. Aku ini seorang pria yang sudah beristri. Tidur terpisah dan bisa menatap Istrinya tanpa bisa melakukan apa-apa, adalah sebuah siksaan." Jelas Alfa yang membuat Shelina terdiam seribu bahasa.
"Dan saya tahu kamu juga tidak ingin seperti itu. Tapi kamu tidak pernah memahami alasan saya menjauh. Makanya itu saya meminta bantuan Winda. Dengan vitamin ini, kita tidak perlu lagi untuk menjaga jarak." Alfa membelai rambut panjang Shelina dengan penuh kelembutan.
"Mas,, berarti sebentar malam kita tidak tidur terpisah lagi kan?" Tanya Shelina malu-malu.
"Selain tidak tidur terpisah, saya juga tidak perlu untuk menahan diri." Ujar Alfa dengan tatapan menuntut.
"Mas,, tapi aku ada satu keluhan yang tidak bisa aku katakan saat di tanyakan Oma kemarin." Ujar Shelina.
"Keluhan apa?" Tanya Alfa dengan tatapan serius.
"Kata Oma anak yang baru lahir harus mendapatkan ASI eksklusif. Tapi,, punya aku ngga bisa." Shelina begitu malu mengatakan semua itu.
"Itu bukan hal yang sulit kalau kita mau berusaha. Mulai malam ini saya akan membuatnya keluar dan nantinya bisa di asi oleh bayi kita nanti."
"Tapi bagaimana caranya Mas? Aku nggak mau kalau di jepit apalagi di tarik." Tanya Shelina.
"Memang akan di jepit dan di tarik. Tapi tidak menggunakan alat." Jawaban Alfa yang benar-benar membingungkan Shelina.
"Ayo istirahatlah di dalam! Nanti saya bangunkan untuk pulang kalau pekerjaan saya sudah selesai."
Shelina membaringkan tubuhnya sambil tersenyum, memikirkan perjuangan Suaminya karena merasa tersiksa menjaga jarak darinya.
'Mas Alfa begitu menginginkan diriku. Jadi tidak perlu aku meragukan kesungguhannya. Dia rela menanyakan sesuatu yang membuatnya malu demi bisa dekat denganku.' Batin Shelina sambil tersenyum memeluk guling yang ada di sampingnya.
__ADS_1
Sementara itu, Alfa yang lagi mengerjakan pekerjaannya terlihat begitu bersemangat. Dia ingin segera menyelesaikan semua urusan kantornya dan buru-buru pulang bersama Istri cantiknya. Tuntutan batin Alfa sungguh tidak bisa di tahan setelah mendengar penjelasan Dr Winda tadi. Di balik sikap tenangnya, ada rasa yang bergejolak di dalam benaknya.