
Kedatangan Alfa dengan pertunjukan luar biasa seketika mencuri perhatian semua orang yang melihat mereka. Dengan tampang cuek Alfa melangkah menuju ruangannya, sambil menggendong Shelina yang terlihat malu karena di tatap beberapa pasang mata.
"Siang Pak." Sapa beberapa karyawan Alfa saat Alfa melewati depan meja kerja mereka.
"Siang." Jawab Alfa singkat tanpa menatap orang-orang yang terlihat bingung menatapnya.
"Istirahat saja di sofa itu!" Ujar Alfa setelah menurunkan Shelina di samping meja kerjanya.
"Aku ingin pulang. Aku mau beristirahat di rumah saja." Shelina berbicara dengan suara yang masih bergetar, menahan gejolak di dalam hatinya.
"Pemikiran mu terlalu dangkal. Saya tidak suka orang yang berpikiran sempit seperti kamu." Dengan begitu cuek Alfa langsung duduk menghadap meja kerjanya.
"Siapa wanita itu?" Tanya Shelina.
"Seperti apa yang kamu dengar tadi. Dia seorang model ternama." Jawab Alfa dingin.
"Aku tahu dia model ternama. Yang aku tanyakan, siapa dia bagi kamu..?" Tanya Shelina dengan mata yang kembali berkaca-kaca sambil membelakangi Alfa.
__ADS_1
"Dia bukan siapa-siapa bagi saya. Di dalam hidup saya, tidak ada wanita spesial selain wanita yang ada dalam keluarga saya." Jawaban Alfa yang membuat Shelina langsung memejamkan mata, sambil bergumam di dalam hatinya.
"Sesakit inikah mencintai seseorang? Tidak ada wanita spesial di dalam hidupnya selain wanita yang ada di dalam keluarganya. Aku pun tidak punya arti apa-apa untuknya."
Shelina adalah wanita yang luar biasa kuat menghadapi siksa hidup selama ini. Tapi dengan mudahnya dia di lemahkan oleh hati yang sudah di kuasai cinta. Cinta membuat Shelina selalu berpikir buruk. Apalagi tentang Alfa laki-laki yang sudah menjadi pendamping hidupnya. Prasangka buruk seketika menguasai pikirannya, saat mendengar ada wanita lain dalam masa lalu Alfa.
Dengan berderai air mata, Shelina membaringkan tubuhnya di atas sofa berukuran panjang, yang berada tidak jauh dari meja kerja Alfa. Hatinya sudah terlanjut di landa api cemburu yang tidak beralasan. Melihat keadaan Shelina yang seketika berubah aneh. Setelah mendengar pertanyaan salah satu wartawan di luar tadi, Alfa hanya bisa bersikap cuek karena dia pun tidak tertarik, untuk membahas sesuatu yang menurutnya sangat tidak penting untuknya.
Suasana di dalam ruang kerja Alfa terasa sangat hampa oleh Shelina. Rasa nyeri di pangkal pahanya sudah tidak terasa. Yang ada hanya rintihan hati karena mengetahui sesuatu yang selama ini tidak dia inginkan. Selama ini Shelina berusaha untuk menerima sikap dingin suaminya. Tapi dia benar-benar tidak rela, bila harus menerima kenyataan sepahit itu.
"Ada apa..? Apa yang terjadi sama kamu..?" Tanya Alfa sambil menatap Shelina yang masih tetap berjongkok di bawah sana.
"Hiks,,, hiks,,, hiks,,,"
Tanpa menjawab pertanyaan Alfa, Shelina pun langsung menangis yang membuat Alfa semakin panik. Dengan buru-buru Alfa segera menghampirinya, dan menunduk hendak meraih kedua lengannya untuk berdiri. Tapi dengan kasar Shelina langsung menepis tangannya, kemudian berdiri sambil terus menangis tanpa berujar satu katapun.
"Ada apa sama kamu? Apa sebenarnya yang kamu mau?" Tanya Alfa yang masih terlihat sabar menghadapi Shelina.
__ADS_1
Rasa nyeri yang di rasakan Shelina saat buang air kecil tadi, membuatnya semakin sakit hati saat pikirannya kembali tertuju, pada cerita masa lalu Alfa bersama model ternama itu. Di dalam pikiran Shelina, dia yakin kalau bukan dia saja wanita yang di buat kesakitan seperti itu karena keganasan Alfa di atas ranjang. Dia berpikir apa yang dia rasakan saat itu, pernah di rasakan juga oleh wanita-wanita yang pernah menjalin hubungan dengan suaminya.
"Shelina,, kamu sudah membuat waktu saya terbuang. Saya harus kerja biar kita bisa cepat pulang. Ini sudah sangat sore. Pekerjaan saya harus saya selesaikan hari ini juga. Karena semuanya akan di kirim besok paginya." Alfa yang mulai hilang kesabaran berujar dengan nada terdengar kesal.
"Siapa juga yang memintamu ke sini..? Dan buat apa kamu harus peduli denganku..? Aku bukan wanita-wanita yang pernah kamu buat seperti ini sebelumnya. Yang akan merengek biar kamu selalu berada di dekat mereka." Ketus Shelina tanpa menatap Alfa.
"Dan mulai hari ini, aku tidak akan membiarkanmu membuatku seperti ini lagi. Pergi saja dengan wanita-wanita di luar sana..! Yang selalu bersedia melayani mu." Kata-kata Shelina yang berhasil membuat Alfa murka.
Dengan tampang datarnya, Alfa langsung keluar dari dalam toilet tanpa bersuara. Dia begitu kesal mendengar kata-kata yang baru saja terlontar dari mulut Shelina. Karena tidak secara langsung Shelina sudah menilai buruk dirinya tanpa bukti.
"Dia pikir saya laki-laki apaan..? Dasar wanita berpikiran dangkal. Kapan dia akan dewasa?" Gerutu Alfa sambil melangkah menuju meja kerjanya.
Melihat sikap Alfa yang sama sekali tidak perduli dengannya, Shelina semakin sakit hati dan merasa tidak berarti. Apalagi bayangan akan malam-malam panas Alfa dengan wanita lain, selalu berputar-putar dalam pikirannya. Cinta yang begitu besar telah menyiksa Shelina karena jalan pikirannya. Di lain sisi, dia juga merasa tidak ada apa-apanya, di banding wanita di masa lalu suaminya. Yang berprofesi sebagai seorang model ternama.
"Aku hanyalah wanita biasa dengan pendidikan yang tidak seberapa. Mana bisa aku mengalahkan seorang model ternama?" Shelina yang semakin berkecil hati, hanya bisa pasrah dan menangisi keadaannya.
Semakin dekat jarak antara dia dan Alfa, semakin besar pula rasa ragu di dalam hati Shelina. Dan yang menjadi penyesalannya, dia sudah seperti wanita pemuas hasrat untuk seseorang yang tidak dia yakini. Shelina selalu ragu saat keyakinan akan cinta Alfa menghampirinya. Tapi dia pun tak mampu menolak keinginan Alfa.
__ADS_1