JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 34. Rasa Yang Tiba-tiba Hadir.


__ADS_3

Selama melakukan foto prewedding, Shelina begitu gugup dengan rasa yang tiba-tiba hadir di dalam hatinya. Dia sendiri bingung dengan apa yang dia rasakan saat itu. Rasa malu, bahagia, juga nyaman di saat berada dekat dengan Alfa. Aroma tubuh yang pernah dia hirup di malam itu, kini terasa begitu tajam. Yang membuatnya kembali mengingat malam, di mana dia harus kehilangan mahkotanya, sebagai seorang wanita. Namun Shelina pun segera menepis apa yang ada di dalam ingatannya. Setelah menyadari kalau semua yang Alfa lakukan hanya atas dasar paksaan.


"Say pergi dulu.." Ujar Alfa setelah keluar dari ruang ganti, dan langsung mencium punggung tangan ketiga wanita yang sangat dia hormati itu.


"Sayang,, ko kamu buru-buru banget sih? Ini kan jam makan siang. Apa kamu tidak ingin makan siang dulu sama Oma..?" Tanya Mama Alira mencoba menahan Alfa.


"Saya makan di kantor saja Oma. Ada banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan." Jawab Alfa dan langsung bergegas pergi.


Di dalam kamar ganti, Shelina yang masih membayangi kemesraan sesaat di saat melakukan prewedding tadi, hanya senyum-senyum sendiri sambil menatap wajahnya di cermin besar yang ada tepat di hadapannya. Melihat ekspresi Shelina, dua orang wanita yang sedang membantu melepaskan bajunya langsung bersuara.


"Mba pasti sangat bahagia. Apalagi memiliki pendamping hidup seperti Mas Alfa. Mas Alfa itu laki-laki yang sangat sempurna Mba. Sudah tampan, cerdas, sukses pokoknya sempurna deh.." Ujar salah seorang wanita yang membantu Shelina di dalam ruang ganti.


"Iya,, apalagi Mas Alfa itu tidak seperti kebanyakan laki-laki sukses di luar sana. Yang suka berganti-ganti pasangan. Kalau ngga salah, dia tu memang pernah memiliki kekasih, tapi itu dulu. Di saat dia masih kuliah kalau ngga salah." Sambung wanita yang satunya.


Mendengar apa yang di katakan oleh kedua wanita itu membuat Shelina semakin melebarkan senyumnya. Namun seketika senyum itupun hilang di saat mengingat kata-kata Alfa, yang mengatainya sebagai seorang wanita pembohong. Sambil menatap bayangannya pada cermin besar di depannya, Shelina pun mulai bertanya-tanya di dalam hatinya.


"Mengapa sampai dia bisa mengatakan kalau aku ini hanyalah seorang wanita pembohong? Apa alasannya? Apa perlu aku menanyakannya?"

__ADS_1


Shelina yang juga sangat kebingungan dengan anggapan Alfa terhadapnya, berpikir untuk menanyakan alasan apa sehingga Alfa bisa berkata seperti itu. Tapi dia ingin menanyakan semua itu di saat yang tepat. Karena dia tidak ingin ada yang mendengar apa yang ingin dia tanyakan kepada Alfa.


"Sudah selesai Mba.." Ujar salah seorang wanita yang ada bersama Shelina di dalam ruang ganti itu.


"Makasih ya Mba.." Jawab Shelina dan langsung melangkah keluar dari dalam ruang ganti khusus, di butik besar milik Aleta.


"Sudah selesai ya sayang?" Tanya Mama Alira setelah melihat Shelina keluar dari dalam ruang ganti.


"Iya Oma,, maaf ya Oma, Tante, kalian nunggu lama." Jawab Shelina yang sedikit merasa bersalah, karena sudah membuat ketiga wanita terhormat itu menunggunya.


"Ya sudah,, sekarang kita pulang yuk..!" Sambung Aleta.


"Kita makan dulu di restoran. Setelah itu baru kita pulang. Biar para Bibi ngga terlalu repot untuk masak makan malam." Ujar Mama Alira yang membuat Shelina semakin kagum, dengan wanita yang sudah tidak lagi muda di hadapannya itu.


Mama Alira adalah orang yang sangat baik dan murah hati tanpa mengenal kasta. Begitupun dengan suaminya Papa Fahri, pemilik kekayaan Permana. Jadi tidak heran kalau anak juga menantu mereka semua memiliki sifat yang baik. Tapi yang membingungkan Shelina hanyalah sifat calon suaminya, yang begitu membencinya tanpa alasan yang jelas.


Sampainya di sebuah restoran besar yang terletak tidak jauh dari butik milik Aleta, mereka di sambut dengan begitu berbeda dari pengunjung yang lainnya. Hal itu membuat Shelina seketika jadi bingung. Namun dia juga tidak berani untuk bersuara. Tapi di saat mendengar perkataan salah seorang laki-laki yang ada di dalam restoran itu, mata Shelina langsung terbelalak saking kagetnya.

__ADS_1


"Bu bos,, Pak Alfa nya ada di kantor atau di rumah? Soalnya aku hubungi ngga masuk-masuk. Tanya laki-laki berpakaian rapi kepada Aleta.


"Dia lagi sibuk mengurus persiapan pernikahannya. Tapi tadi dia sudah kembali ke kantornya. Memangnya ada apa?" Tanya Aleta dengan nada suara yang begitu lembut.


"Saya mau menyerahkan daftar kemasukan bulan ini. Kebetulan tadi baru saya selesaikan Bu." Jawab laki-laki itu yang membuat Shelina langsung menatapnya kaget.


"Nanti kamu bawa ke kantornya saja!" Sambung Mama Alira.


"Baik Nyonya besar." Jawab laki-laki itu dengan begitu hormat dan langsung melangkah pergi.


Mengetahui semua yang di miliki oleh Alfa, semakin membuat Shelina tidak percaya diri untuk mendampingi hidupnya. Karena dia hanyalah wanita biasa yang sama sekali tidak punya apa-apa. Jangankan harta, keluarga saja dia tidak punya. Tidak seperti Alfa yang memiliki segalanya.


Di saat Shelina sedang menikmati makan siang bersama ketiga wanita yang sangat baik padanya, Alfa malah sedang sibuk membuat surat perjanjian pernikahan untuk dia dan Shelina. Alfa ingin membuat kesepakatan terlebih dahulu sebelum menjalani kehidupan rumah tangga bersama Shelina. Dia ingin pernikahan antara dia dan Shelina berjalan sesuai isi perjanjian, yang dia tulis di dalam kertas putih itu.


"Jangan bermimpi untuk kamu bisa mendapatkan hak kamu sebagai seorang istri. Aku akan memenuhi kebutuhan hidupmu biar kamu tidak mati kelaparan. Tapi aku tidak akan pernah memberi ataupun meminta nafkah batin, seperti yang di lakukan suami istri pada umumnya.


Alfa yang tidak percaya kalau Shelina adalah wanita yang dia tiduri di malam itu, tidak ingin melakukan apa yang harus di lakukan oleh pasangan suami istri setelah menikah nanti. Bahkan dia tidak ingin berada satu kamar dengan Shelina. Dia juga tidak mau pernikahan itu berjalan lebih dari satu tahun. Dan semua itu sudah tertulis di dalam kertas putih yang ada di tangannya saat itu.

__ADS_1


__ADS_2