
Pancaran sinar mentari di siang itu begitu menyengat, menciptakan suasana gerah kepada semua yang sedang beraktivitas. Namun Shelina yang sedang bernyanyi menghibur para pengunjung kafe, terlihat begitu kalut dengan ekspresi wajah yang redup bagaikan langit mendung. Beberapa lagu sedih yang di bawakan Shelina, seakan-akan menggambarkan suasana hatinya saat itu. Apalagi dia bernyanyi dengan kesedihan yang sudah menyelimuti hatinya.
Di hari lahir Alfa, Shelina ingin sekali memberikan sesuatu walaupun dia tahu, Alfa tidak menginginkan pemberiannya. Tapi jangankan untuk memberi sesuatu, wujud Alfa saja tidak bisa untuk dia lihat, karena jarak yang terbentang di antara mereka. Di tambah lagi dengan kehadiran wanita lain, yang begitu menghancurkan hati wanita cantik dan menarik, dalam setiap pandangan setiap lelaki.
"Shel,, apa kamu ada masalah?" Tanya salah seorang yang dekat dengan Shelina di kafe tempatnya bekerja, saat mereka sedang makan siang bersama di warung dekat kafe.
"Aku ngga apa-apa ko Lis. Aku hanya sedang merindukan seseorang yang jauh di sana." Jawab Shelina dengan tatapan sendu.
"Apa dia kekasihmu?" Tanya Kalista.
"Dia orang yang aku cintai." Jawab Shelina.
"Aku yakin Shel,, saat ini dia juga pasti sedang merindukanmu, sama seperti kamu merindukannya." Kalista berkata-kata sambil tersenyum.
"Ngga mungkin. Itu adalah sesuatu hal yang sangat mustahil. Dia dan aku bagaikan langit dan bumi yang jauh berbeda. Tidak mungkin dia merasakan hal sama seperti yang aku rasakan." Ujar Shelina sambil mengembangkan senyum penuh kekecewaan.
"Loh,, ko kamu bisa berpikir seperti itu? Dia kan orang yang kamu cintai. Apa dia bukan kekasihmu?" Kalista bertanya dengan tampang kebingungan.
"Dia bukan kekasihku. Dua orang yang bisa di sebut sebagai kekasih, adalah mereka yang saling mencintai. Tapi cintaku hanyalah bertepuk sebelah tangan. Dan itu tidak bisa di sebut dengan kekasih." Jelas Shelina dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya.
"Shel,, kalau memang seperti itu, untuk apa juga kamu harus mengharapkan sesuatu yang tidak ada kepastian. Cinta itu harus di perjuangkan dengan dua hati. Tapi kalau hanya satu hati, pada akhirnya hanya rasa sakit yang akan di terima, oleh satu hati yang memiliki rasa." Kalista yang lebih dewasa dari Shelina, mencoba untuk memberi pengertian dengan kata-kata bijak.
__ADS_1
"Aku juga berpikir seperti itu. Dan aku sedang berusaha untuk menghilangkan rasa yang ada di dalam hatiku. Karena rasa itu hanya membuatku terluka." Jawab Shelina.
"Baguslah kalau kamu memang menyadarinya. Sebagai seorang wanita, aku sangat tidak suka melihat wanita lain terluka karena cinta yang tak terbalas. Apalagi wanita cantik seperti kamu. Laki-laki bukan sesuatu yang sulit, kalau kamu memang mau membuka hati untuk cinta yang lain. Dan mungkin kamu bisa menemukan yang lebih baik, juga lebih menghargai perasaanmu." Ujar Kalista panjang lebar, mencoba untuk menyemangati Shelina.
"Makasih ya Lis. Kamu sudah seperti kakak buat aku. Aku sangat bersyukur bisa bertemu dan dekat dengan orang seperti kamu." Shelina berujar dengan tatapan sendunya.
"Iya Shel,, anggap saja aku sebagai kakakmu. Kita bisa menjadi saudara. Karena aku juga sama sekali tidak punya keluarga selain Ibuku, yang sekarang sedang sakit-sakitan." Sambung Kalista dengan senyum ramah.
"Iya Lis. Kapan-kapan aku bisa kan main ke rumah kamu?" Tanya Shelina yang merasa sudah sangat dekat dengan Kalista.
"Bisa dong Shel. Malah bisa banget. Nginap juga ngga apa-apa." Jawab Kalista bersemangat.
"Net,, ada apa ini?" Tanya Kalista.
"Kita tu lagi merapikan tempat ini, untuk pesta ulang tahun seorang pengusaha muda yang sangat sukses. Tempat ini di boking untuk pesta ulang tahun pengusaha sukses itu." Jawab Anet dengan tingkah yang terkesan judes.
"Siapa pengusaha sukses itu?" Tanya Shelina yang sudah berada tepat di samping Kalista.
"Buat apa kamu tanya seperti itu? Apa kamu mau mendekatinya juga? Jangan mimpi kamu! Kamu sama sekali ngga level sama dia." Jawab Alya dengan tatapan begitu sinis ke arah Shelina.
"Ko jawaban kamu gitu sih Al..? Jangan kamu pikir semua orang sama seperti kamu." Ketus Kalista.
__ADS_1
"Maksud kamu apa bicara seperti itu..? Memangnya aku kenapa..?" Tanya Alya dengan tampang kesalnya.
"Kamu itu yang selalu berusaha dekati setiap laki-laki kaya. Walaupun itu suami orang." Jawab Kalista tidak kalah sinis.
"Lancang banget kamu. Jangan sembarangan ya kalau ngomong..!" Ujar Alya yang sangat marah mendengar perkataan Kalista.
"Sudah Lis! Aku ngga apa-apa kok. Ngga usah ribut lagi! Kalau di lihat Pak Reno gimana?" Sambung Shelina mencoba menenangkan Kalista.
"Tenang saja Shel,, Pak Reno ngga ada di sini. Pak Reno tu lagi keluar sama istrinya. Karena dia tu suami orang yang harus membagi waktu buat pekerjaan juga rumah tangganya. Hanya orang ngga tahu diri saja yang ngga menyadari itu." Jawab Kalista sambil melirik ke arah Aliya, yang sudah kehabisan kata-kata untuk melawan Kalista.
"Ayo kita ke belakang Shel! Lebih baik kita cuci piring dari pada berada di sini." Tambah Kalista sambil menarik tangan Shelina melangkah menuju bagian belakang.
Melihat sikap berani Kalista, Shelina hanya bisa tersenyum karena merasa bangga memiliki sahabat seperti Kalista, yang mau membelanya sampai seperti itu. Dia sangat bersyukur juga bahagia bisa memiliki sahabat yang benar-benar tulus seperti Kalista. Apalagi saat itu hanya Kalista orang yang mau membela juga mengerti keadaannya. Tapi di sisi lain, dia juga khawatir dengan tindakan Kalista yang bisa saja mengancam pekerjaannya. Karena dia sendiri tahu, betapa dekatnya Aliya dengan Pak Reno.
"Lis,, makasih karena sudah membelaku. Aku sangat bangga memiliki sahabat seperti kamu." Ujar Shelina setelah mereka sudah berada di bagian belakang. Lebih tepatnya di bagian dapur kafe tersebut.
"Ngga perlu berterima kasih Shel! Sebagai seorang sahabat, aku harus membela kamu di saat ada yang mau menyerang mu." Jawab Kalista sambil berbalik menatap Shelina.
"Tapi aku ngga mau semua yang kamu lakukan tadi, jadi ancaman untuk pekerjaanmu. Kamu kan tahu kedekatan Alya dengan Pak Reno. Kalau dia lapor sama Pak Reno gimana?" Ujar Shelina penuh rasa bersalah.
"Kamu tenang saja Shel! Selama niatku baik, aku akan mendapatkan hal baik juga. Lagian aku masih bisa bekerja di tempat lain. Jadi kamu ngga usah menghawatirkan aku!" Ujar Kalista tanpa terlihat sedikitpun rasa khawatir.
__ADS_1