
Sekuat apapun karang di laut sana, tetap akan patah oleh deburan ombak yang menghantam setiap saat. Begitupun dengan hati Shelina yang hanya sebongkah daging. Kata-kata Alfa yang begitu tajam, seketika menimbulkan luka tak berdarah di dalam hatinya. Tanpa bersuara, Shelina menerima kesakitan atas sikap juga perkataan Alfa. Dia hanya bisa tersenyum walaupun hatinya menangis. Melihat senyum yang terukir di wajah Shelina dalam keadaan seperti itu, sebagai seorang Ibu Aleta sangat merasa bersalah, atas apa yang telah di lakukan oleh putranya.
"Sayang,, kita ke kamar kamu yuk..!" Ajak Aleta setelah mendapat kode dari Mama mertuanya.
"Iya Tan." Jawab Shelina berusaha untuk tegar.
Betapa sulit situasi di saat itu untuk Shelina, yang sama sekali tidak memiliki sandaran di saat terluka. Dia hanya bisa mengikuti apa yang di katakan oleh Aleta, Ibu dari laki-laki yang sudah tega menyakitinya tanpa ada rasa iba. Sambil melangkah menuju kamar yang berada di lantai atas, Aleta yang sangat mengerti akan keadaan Shelina, berusaha untuk menguatkan gadis malang yang tidak berdosa itu.
"Sayang,, Tante tahu kamu begitu terluka dengan sikap putra Tante. Tapi Tante juga percaya, kalau kamu bukan wanita seperti apa yang di sangka nya. Kamu jangan pernah berkecil hati ya..! Di sini masih ada orang-orang yang menyayangimu. Jangan pikirkan dia! Dia tidak bisa melawan apa yang sudah menjadi keputusan Papanya." Ujar Aleta sambil mengusap-usap punggung tangan Shelina.
"Aku ngga apa-apa kok Tan. Aku sudah terbiasa dengan situasi seperti ini." Shelina berkata-kata dengan senyum yang selalu dia perlihatkan setiap saat.
Mendengar kata-kata yang baru saja di lontarkan oleh Shelina, Aleta hanya bisa terdiam sambil menatapnya dengan tatapan penuh rasa iba. Karena dia pun pernah mengalami hal yang serupa dengan Shelina. Dia tahu betapa hancurnya hati gadis malang itu, sebagai seorang wanita yang telah ternoda. Tapi dia pun bangga dengan ketegaran Shelina yang masih bisa tersenyum, walau perasaannya sedang tercabik-cabik oleh kata-kata juga sikapnya Alfa.
"Nak,, Tante bangga sama kamu. Kamu masih bisa tersenyum di saat hatimu begitu sakit. Siapapun akan merintih dalam keadaan seperti ini. Tapi sebagai wanita, jangan mudah untuk menyerah. Apalagi untuk mendapatkan keadilan dari seorang laki-laki." Aleta kembali berkata-kata setelah sudah berada di dalam kamar yang di tempati oleh Shelina.
"Iya Tan,, tapi aku tidak ingin memaksa dia untuk bertanggung jawab, kalau dia memang tidak menginginkan itu." Jawab Shelina sambil berusaha menahan kesedihannya.
"Apa Tante percaya, kalau aku adalah wanita yang bersama putra Tante di malam itu?" Tanya Shelina sambil menatap Aleta.
__ADS_1
"Tante percaya. Karena Tante sudah dengar semuanya tentang kamu dari Papanya Alfa. Ayah angkat kamu itu pernah di celakai oleh Om Faris karena perbuatannya sendiri. Jadi karena itu sehingga dia ingin merusak nama baik keluarga ini, dengan memperaalatkan mu." Jelas Aleta yang membuat Shelina langsung meraih tangannya sambil berkata.
"Makasih Tante. Tante sudah percaya sama aku. Sebenarnya aku terpaksa melakukan semua itu. Karena aku di ancam akan di bunuh." Ujar Shelina sambil menggenggam tangan Aleta.
"Tante tahu itu sayang. Om Faris sudah menjelaskan semuanya di bawah, sebelum kamu turun tadi. Alfa juga mendengar semuanya. Tapi Tante sangat bingung, mengapa sampai dia bisa menganggap kamu sebagai pembohong?" Ujar Aleta dengan tampang kebingungan.
"Mungkin saja dia sudah punya pilihan Tan. Aku tidak apa-apa ko Tan. Asalkan aku sudah di selamatkan dan di bawa ke sini. Karena aku memang sudah lama ingin kabur ke Indonesia, untuk mencari Ibu Lili. Dia adalah orang yang merawat aku di salah satu panti asuhan, di saat kedua orang tuaku telah tiada." Ujar Shelina.
"Tidak ada wanita yang akan di nikahi Alfa selain kamu. Mau dan tidak mau dia akan menikah denganmu. Karena itu sudah menjadi keputusan yang baik untuk kalian berdua." Sambung Mama Alira yang baru saja memasuki pintu bersama Almira.
"Terus bagaimana Ma..? Apa Faris sudah bicara sama Alfa..?" Tanya Aleta sambil menatap Mama mertuanya.
"Tapi dia sudah setuju ya Ma..?" Tanya Aleta dengan tatapan yang begitu serius.
"Dia tidak menerima juga tidak menolak. Dia hanya bisa mengikuti apa yang di perintahkan Papanya. Kalau dia berani menolak, aku tidak tahu apa yang akan Mas Faris lakukan?" Sambung Almira Tantenya Alfa.
"Jadi kamu harus kuat untuk menghadapi Alfa ya sayang..! Jangan mudah menyerah menghadapi laki-laki batu seperti itu. Jadi wanita itu seperti Oma. Tidak pernah menyerah untuk mendapatkan hati Opanya Alfa." Ujar Mama Alira dengan gaya khasnya.
"Mama tu terlalu genit, jadi terpaksa Papa luluh." Sambung Almira yang membuat Aleta langsung tersenyum tanpa suara.
__ADS_1
"Enak saja kamu kalau ngomong. Kamu tu harus bersyukur punya Mama seperti ini. Kalau Mama ngga berusaha sekuat tenaga, Papa kamu pasti sudah di ambil orang. Tapi Papa kamu memang tidak bisa berpaling dari wanita secantik Mama." Ujar Mama Alira yang membuat Almira dan Aleta langsung tertawa.
"Hahahahahaha..." Suara tertawa Aleta dan Almira yang membuat Faris jadi kesal.
"Apa-apaan sih kalian..? Orang lagi pusing malah tertawa." Suara Faris yang sedang berdiri di depan pintu kamar.
"Biarin saja kita tertawa. Kita ngga mau seperti tembok sama kaya Mas. Lihat tu putra Mas, jadinya tembok juga kan..?" Ujar Almira yang membuat Faris langsung terdiam.
"Mau apa kamu ke sini Mas..?" Tanya Aleta sambil menatap suaminya yang masih terlihat begitu gagah.
"Aku mau cari Mama. Kamu sama Almira di sini dulu temani Shelina!" Jawab Faris.
"Buat apa sih Ris cari-cari Mama..? Cari tu istri kamu. Kamu tu sebentar lagi akan punya cucu, tapi masiiiih saja cari-cari Mama." Protes Mama Alira.
"Aku cari karena Papa yang suruh. Ayo turun..!" Ujar Faris dengan ekspresi datarnya.
"Hmmmm,, kapan ya para laki-laki di dalam rumah ini bisa manis..? Papa, Faris, Alfa, Riyan, Kenzo, semua sama. Mereka sudah seperti jalan tol datarnya." Ujar Mama Alira sambil melangkah menuju pintu mengikuti putranya.
Setelah Mama Alira dan Faris pergi, Aleta dan Almira pun ikut pergi. Sebab mereka juga ingin mendengar apa yang di bicarakan Papa Fahri tentang pernikahan Alfa dan Shelina. Sedangkan Shelina malah semakin menegang dan ketakutan di dalam kamar, mendengar keputusan yang sudah di ambil oleh Papa Fahri, Opanya Alfa.
__ADS_1