JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 35. Tuduhan Alfa Terhadap Shelina.


__ADS_3

Pernikahan adalah sesuatu yang di haruskan untuk setiap orang. Dan pelaminan adalah tempat berlabuhnya hati sepasang manusia yang saling mencintai. Di saat menjelang hari bahagia itu, semua orang akan merasakan hal yang sama. Rasa bahagia dengan hati yang berbunga-bunga. Namun tidak untuk Shelina apalagi Alfa, yang menganggap pernikahan mereka hanyalah sebuah keputusan yang salah. Keputusan Yang akan membawa derita.


Di tengah malam yang begitu larut, Shelina memilih untuk keluar di saat semua orang sudah terlelap. Dia melangkahkan kakinya di taman rumah besar itu, sambil menatap bulan yang bersinar di atas sana. Rindu akan kedua orang tuanya yang tidak pernah dia kenali raut wajah mereka, seketika mendatangkan kesedihan yang membuat dadanya terasa begitu sesak. Kristal bening yang selalu menghiasi wajah cantiknya, kini kembali meluncur di saat hatinya mulai berkata-kata.


"Apa hanya aku yang bernasib seperti ini? Hidup tanpa ada sandaran, dan tanpa ada tempat menggantungkan sebuah harapan. Tapi apapun yang terjadi, aku harus bisa melalui semua ini. Karena hidupku tidak berhenti sampai di sini."


Shelina yang begitu rapuh dengan penderitaan yang datang silih berganti, berusaha untuk menjalani hidupnya yang tidak pernah terlepas dari masalah. Ingin sekali dia mengadu apa yang sedang dia rasakan. Namun tidak ada tempat untuk dia mencurahkan segala isi hatinya yang begitu memilukan.


Dengan raut wajah penuh beban, Alfa melajukan mobilnya menuju rumah setelah bekerja sampai larut malam. Dia yang begitu bersemangat dalam bekerja, semakin betah berada di kantornya dari pada di rumahnya sendiri. Keberadaan Shelina bagaikan sebuah kutukan baginya. Dia tidak pernah berpikir tentang kesempurnaan Shelina sebagai seorang wanita. Yang ada di dalam dirinya, hanyalah kebencian yang sudah menutupi mata hatinya.


"Non,, apa yang Non lakukan di luar di tengah malam seperti ini?" Tanya salah seorang satpam yang bertugas malam menjaga keamanan rumah Faris.


"Aku hanya mencari angin segar Pak." Jawab Shelina sambil buru-buru menghapus air mata, yang sudah menetes membasahi wajah cantiknya.


"Tapi jangan terlalu larut ya Non,,! Nanti Non bisa sakit berada di luar di tengah malam seperti ini." Ujar satpam yang bernama Pak Maman.


"Pak Maman jaganya sampai pagi?" Tanya Shelina.


"Iya Non. Dalam satu Minggu ini, saya bertugas jaga malam sampai pagi." Jelas Pak Maman sambil tersenyum menatap Shelina.


"Ooo gitu ya Pak?" Suara Shelina yang terdengar sedikit parau karena pengaruh menangis sejak tadi.

__ADS_1


Mendengar suara Shelina juga melihat wajahnya yang terlihat begitu sembab, membuat Pak Maman sedikit kebingungan. Karena Pak Maman yang hanya bertugas di luar rumah setiap harinya, tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi di dalam rumah. Dan walaupun dia tahu, dia tidak berani untuk mencampuri urusan keluarga terpandang itu. Namun karena merasa sedikit khawatir dengan keadaan Shelina, Pak Maman pun akhirnya memilih untuk bertanya.


"Apa Non baik-baik saja?" Tanya Pak Maman penuh perhatian.


"Aku baik-baik saja ko Pak. Aku hanya merasa rindu dengan kedua orang tuaku." Jawab Shelina tanpa menyadari kalau ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya.


"Memangnya orang tua Non ada di mana?" Tanya Pak Maman.


"Sudah meninggal semenjak aku masih bayi Pak." Jawab Shelina dengan senyum ramah.


"Astagfirullah Non,, maaf ya Bapak sudah lancang menanyakan semua itu." Ujar Pak Maman. Dan tiba-tiba ada suara yang langsung mengagetkan mereka berdua.


"Maaf Pak.. Saya hanya menemani Non Shelina sebentar." Jawab Pak Maman dan langsung bergegas pergi.


Tanpa memperdulikan Shelina yang sedang menatapnya, Alfa langsung melangkah menuju rumah. Tapi dengan segera Shelina berdiri dan melangkah mengikutinya sambil bersuara.


"Tunggu..! Aku mau bicara." Ujar Shelina namun Alfa terus melangkah sambil menjawab.


"Saya tidak punya waktu." Jawab Alfa tanpa berbalik menatap Shelina.


"Tapi kita perlu bicara.. Aku tidak mau kamu selalu berpikir buruk terhadapku." Shelina berkata-kata sambil meraih lengan Alfa.

__ADS_1


"Lepaskaaan.... Kamu jangan lancang untuk menyentuh saya..! Kamu bukan siapa-siapanya saya." Teriak Alfa yang membuat Shelina langsung kaget.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Semua akan tetap terjadi seperti yang kamu inginkan." Suara Alfa yang terdengar begitu datar sama seperti sikapnya.


"Sebenarnya apa salah aku..? Mengapa sampai kamu begitu membenciku..?" Tanya Shelina dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Kamu mau tahu apa kesalahanmu..? Kamu salah karena sudah masuk ke dalam keluarga saya, dengan tujuan yang buruk." Jawaban Alfa yang membuat Shelina semakin bingung.


"Apa maksud kamu berkata seperti itu..? Tujuan buruk apa yang kamu ketahui..? Aku tidak ada tujuan apa-apa berada di dalam keluarga ini. Aku hanya ingin mendapatkan hak aku." Shelina berkata-kata dengan suara yang bergetar karena menahan tangisnya.


"Hak kamu? Hak apa yang ingin kamu dapatkan? Harta.. Itu kan hak yang ingin kamu dapatkan..?" Pertanyaan Alfa yang begitu menyakitkan hati Shelina.


"Jangan berlaga lugu di depan saya! Saya bukan orang yang mudah untuk di bodohi. Saya tahu betul siapa wanita yang bersama saya malam itu. Dan wanita itu bukanlah kamu." Kata-kata Alfa yang membuat Shelina seketika terdiam dengan tampang kebingungan.


Shelina yang seketika mematung di tempat, mencoba untuk memikirkan apa yang di katakan oleh Alfa barusan. Dia benar-benar bingung mendengar Alfa mengatakan semua itu. Karena setahu dia, di malam itu tidak ada cahaya sama sekali di dalam kamar itu, untuk mereka bisa saling melihat satu sama lain.


"Apa mungkin dia juga bersama Ratu di malam itu? Dan hanya Ratu yang ada di dalam ingatannya. Tapi tidak mungkin dia bisa melupakan semua yang telah dia lakukan padaku. Atau dia hanya berpura-pura lupa agar dia bisa bebas dari tanggung jawabnya? Aku tidak akan mundur begitu saja. Harga diriku adalah hal yang sangat penting. Yang harus dia pertanggung jawabkan." Shelina berkata-kata sambil menatap ke arah Alfa yang sudah memasuki rumah.


Dengan raut wajah penuh kekesalan, Alfa melangkah menuju lantai atas sambil memikirkan kata-kata Shelina. Dia tetap pada keyakinannya, kalau Shelina hanyalah wanita pembohong yang masuk dalam keluarganya dengan tujuan yang buruk. Sambil menaiki tangga, Alfa pun berkata-kata di dalam hatinya.


"Hmmm,,, hak kamu akan kamu dapatkan setelah kita sudah menikah nanti. Aku akan memberikan hak kamu sebagai istri yang tidak di inginkan. Jangan berpikir untuk mau membodohi ku. Aku ingat betul aroma parfum wanita yang bersamaku malam itu. Dan aroma parfum itu tidak ada pada tubuhmu."

__ADS_1


__ADS_2