
Tepat pukul 7:30, Faris dan Aleta sudah berada di meja makan. Faris terlihat gagah dengan kemeja putih yang sangat cocok di tubuhnya. Walaupun di umurnya yang sudah tidak muda lagi, namun ketampanannya masih sangat sempurna. Begitupun dengan Aleta yang selalu memperhatikan penampilannya, sebagai seorang istri salah satu pengusaha ternama di tanah air.
"Alfa di mana sayang?" Tanya Faris.
"Dia belum turun dari atas Mas." Jawab Aleta sambil menyajikan sarapan suaminya.
"Tadi dia sakit perut. Jadi aku suruh Shelina untuk kerokin dia." Jelas Aleta.
"Shel,, keadaan Alfa bagaimana sayang?" Tanya Aleta sambil menatap Shelina yang baru memasuki dapur.
"Ngga tahu juga Tan,, soalnya aku belum sempat lihat Mas Alfa setelah pergi dari kamarnya tadi." Jawab Shelina.
"Tapi kamu sudah kerokin dia kan?" Tanya Aleta lagi.
"Mas Alfa ngga mau Tan. Dia bilang ngga usah." Jawab Shelina yang membuat Aleta dan Faris langsung menatap satu sama lain tanpa bisa berkata-kata.
"Ya sudah biarin saja. Nanti dia akan turun sendiri kalau sudah lapar." Ujar Faris dengan tampang datarnya.
Faris dan Aleta sangat bingung dengan sikap putra mereka yang begitu dingin terhadap Shelina. Padahal Shelina adalah wanita yang sangat sempurna. Dari wajahnya, bentuk tubuhnya, bahkan cara prilakunya tidak ada yang kurang. Dia juga bisa melakukan semua tugas seorang wanita dengan baik. Tapi mereka sudah memutuskan untuk tidak memaksa Alfa. Karena mereka percaya bahwa Shelina bisa merubah sikap batunya itu seiring berjalannya waktu.
Mereka bertiga menikmati sarapan tanpa ada yang bersuara. Tapi tiba-tiba Alfa muncul dengan wajah yang terlihat lemas. Melihat keadaan putranya, Aleta langsung menghentikan sarapannya dan buru-buru menghampiri Alfa sambil bertanya.
"Apa perut kamu masih sakit?" Tanya Aleta dengan tampang penuh kekhawatiran.
"Udah ngga sakit lagi Ma." Jawab Alfa dan langsung duduk di samping Shelina.
Shelina hanya terdiam sambil menyantap sarapannya tanpa memperdulikan Alfa yang sudah berada tepat di sampingnya. Mencium aroma wangi dari tubuh Alfa, membuat Shelina semakin gugup mengingat situasi panas di malam itu. Tapi dia tetap berusaha untuk tetap tenang walau dia sudah tidak sanggup berada lama-lama di samping Alfa.
"Shel,, tolong ambilkan sarapan buat Alfa!" Ujar Aleta sambil tersenyum menatap Shelina.
__ADS_1
"Ngga usah Ma.. Mama saja yang ambil!" Ujar Alfa dengan segera sambil berpindah tempat di bangku yang berada di sebelah Mamanya.
"Mengapa kamu pindah? Kamu duduk di situ saja! Nanti Mama ambil sarapan kamu." Ujar Aleta dengan tampang datarnya.
"Saya ngga suka sama aroma parfumnya. Aroma parfumnya membuat saya mau muntah." Jawab Alfa yang membuat Shelina langsung menatapnya.
"Menurut Mama parfum Shelina tu wangi banget. Iya kan Pa?" Ujar Aleta.
"Iya,, parfumnya wangi ko." Jawab Faris yang sedang menikmati sarapan.
"Tapi menyengat banget." Ujar Alfa sambil menarik piring yang sudah terisi roti.
"Ya sudah. Mungkin kamu lagi kurang sehat. Jadi merasa mual dengan wangi parfum Shelina." Ujar Aleta berusaha untuk tidak membuat Shelina tersinggung.
Kata-kata Alfa seketika membuat Shelina tidak merasakan kenikmatan makanan di pagi itu. Dia benar-benar tersinggung dengan sikap dan perkataan Alfa. Apalagi Alfa melontarkan kata-kata itu tepat di depan kedua orang tuanya. Ingin sekali dia berdiri meninggalkan meja makan saat itu juga. Tapi dia berusaha untuk menjaga sikapnya sebagai tamu di depan kedua orang tua Alfa, yang sudah sangat baik padanya.
"Kamu ngga makan?" Tanya Aleta sambil menatap putranya yang selalu bersikap seperti tembok.
"Ngga Ma. Saya ngga berselera." Jawab Alfa dan langsung menyalami kedua orang tuanya.
"Aku juga ke belakang dulu ya Tan, Om." Sambung Shelina dan langsung melangkah pergi menuju dapur.
"Sampai kapan dia mau seperti itu Mas? Aku tu kasihan sama Shelina. Shelina pasti sangat tersinggung dengan sikap Alfa." Ujar Aleta sambil menatap suaminya yang baru selesai sarapan.
"Ada waktunya sayang. Dulu Mama sama Papa juga seperti itu. Rumah tangga mereka di bangun tanpa adanya cinta. Begitupun dengan kita berdua. Tapi sekarang semuanya berakhir indah. Jadi biarlah waktu yang akan menjawabnya." Faris berkata-kata dengan begitu tenangnya.
Air mata Shelina meluncur tanpa dia sadari membasahi wajahnya yang cantik. Hari-hari yang dia lalui selama berada di dalam keluarga itu semakin berat karena sikap Alfa. Tapi dia berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya, dengan mencuci tumpukan piring kotor yang ada di tempat cucian piring.
"Non,, biarkan saja! Nanti Bibi yang kerjakan." Ujar Bi Tuti yang sedang melangkah mendekati Shelina.
__ADS_1
"Ngga apa-apa Bi. Biar saja aku yang melakukannya." Jawab Shelina dengan suara yang sangat bergetar karena menahan tangisnya.
"Non,, ada apa? Mengapa Non menangis?" Tanya Bi Tuti setelah melihat kristal bening yang bercucuran di pipi Shelina.
"Bi,, aku ragu untuk menikah dengan Mas Alfa." Jawab Shelina sambil berbalik dan memeluk Bi Tuti.
"Memangnya ada apa Non? Apa Mas Alfa menyakiti Non Sheli?" Tanya Bi Tuti penuh perhatian.
"Dia selalu menyakitiku Bi. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkannya. Dia seperti itu karena dia memang tidak mencintaiku, juga tidak menginginkan pernikahan kita." Jawab Shelina sambil terus memeluk Bi Tuti.
"Hmmmm,, Non,, nanti kita bicarakan ini sebentar lagi. Soalnya di luar masih ada Ibu dan Bapak. Nanti mereka mendengar kita." Ujar Bi Tuti sambil melepaskan pelukan Shelina.
"Iya Bi." Jawab Shelina sambil buru-buru menghapus air matanya.
"Bi,, Shelina mana..?" Tanya Aleta dari arah luar.
"Ada sama saya Bu. Non Shelina mau bantu saya katanya." Jawab Bi Tuti.
"Ya sudah. Tapi jangan sampai dia capek ya..! Ibu mau keluar sebentar sama Bapak. Kalian di rumah baik-baik ya..!" Ujar Aleta dan langsung pergi bersama Faris.
Melihat Shelina yang begitu tak berdaya menghadapi sikap Alfa, membuat Bi Tuti juga Bi Ira ikut bersedih. Karena mereka begitu mengerti keadaan Shelina yang hanya gadis biasa, masuk ke dalam keluarga kaya raya itu. Tapi Bi Tuti dan Bi Ira, tetap memberikan dukungan positif kepada Shelina untuk tetap bertahan. Karena menurut mereka tidak ada tempat Shelina berlindung selain di dalam keluar Permana.
"Non,, menurut Bibi, Non harus bersabar menghadapi sikap Mas Alfa. Semua laki-laki di dalam keluarga ini, memang memiliki sifat seperti itu. Tapi kenyataannya mereka itu sangat menyayangi wanita. Termasuk Mas Alfa." Ujar Bi Tuti yang memang sudah sangat mengenali sifat anggota keluarga Permana.
"Tapi sampai kapan aku bisa bertahan dengan sikapnya Bi? Dia begitu membenciku. Dia terlalu dingin padaku Bi." Ujar Shelina dengan bercucuran air mata.
"Non,, rumah tangga yang di awali dengan cinta, belum tentu akan berakhir bahagia. Dan begitupun sebaliknya. Cinta itu datang karena adanya kebersamaan. Bibi doakan, suatu hari nanti Non akan bahagia." Sambung Bi Ira sambil mengusap-usap punggung Shelina.
Perhatian kedua pembantu di rumah besar itu, membuat kesedihan Shelina sedikit bisa terobati. Dia merasa seperti ada keluarga karena kepedulian kedua pembantu itu padanya. Karena bagi dia, hanyalah kedua wanita itu yang setara dengannya di dalam keluarga Permana.
__ADS_1