
Kedekatan yang tidak pernah terjadi di depan umum seperti itu, membuat Shelina merasa ada yang berbeda dari suaminya. Laki-laki kaku yang selalu cuek dan menghindar saat berduaan di depan orang, sama sekali tidak merasa canggung walaupun dia tahu, keberadaan mereka saat itu tepat di depan jalan raya, tempat lalu-lalang banyak orang.
"Ngapain kamu menatap saya seperti itu? Ayo kita masuk ke dalam!" Tanya Alfa karena Shelina masih tetap menatapnya, tanpa melepaskan lengannya.
"Mas,, aku tidak bisa berjalan lebih jauh lagi. Dan aku juga malu kalau di perhatikan oleh orang-orang itu." Jawab Shelina yang membuat Alfa memalingkan wajahnya ke arah belakang.
"Ngapain kalian di situ? Apa pekerjaan kalian sudah selesai?" Tanya Alfa kepada beberapa karyawannya yang sedang berbisik satu sama lain sambil menatap mereka.
"Kita,, kita baru selesai makan siang Pak." Jawab salah seorang dari mereka.
"Terus kalau sudah selesai makan siang, pekerjaan kalian hanya memperhatikan orang seperti itu? Tempat kerja kalian di dalam kantor atau di samping jalan?" Tanya Alfa yang membuat beberapa karyawannya itu terdiam dengan begitu salah tingkah.
Baru saja Alfa menegur beberapa orang di hadapannya, tiba-tiba muncul beberapa orang lagi, yang kembali membuat Alfa dan Shelina tidak bisa untuk langsung pergi. Beberapa orang yang datang dengan membawa kamera juga alat perekam itu, segera mengutarakan pertanyaan tentang masalah Fara, yang langsung di ketahui media hanya dalam hitungan jam. Juga pertanyaan tentang hubungan Alfa dengan seseorang yang tidak di ketahui Shelina.
"Pak Alfa.. Apa musibah yang sedang menimpah keluarga Permana saat ini sudah dapat di atasi?" Tanya salah satu dari orang-orang itu.
"Musibah apa yang kalian maksud? Kalau mengenai adik saya, itu bukan musibah, hanya sedikit masalah yang pasti dapat di selesaikan oleh Papa saya." Jawab Alfa dengan tampang datarnya.
"Pak Alfa,, dengar-dengar wanita yang pernah dekat dengan anda sudah tiba di tanah air. Dan saat ini dia sudah menjadi model ternama. Apa anda masih menjalin hubungan dengannya?" Pertanyaan selanjutnya yang membuat raut wajah Shelina berubah seketika.
__ADS_1
"Kalau untuk masalah itu, saya rasa tidak perlu untuk saya jawab. Karena menurut saya, semua itu tidak ada kaitannya dengan saya. Sudah dulu ya.. Kita harus segera masuk ke dalam. Saya masih punya banyak pekerjaan." Jawab Alfa dan langsung melangkah sambil menarik tangan Shelina.
Mendengar pertanyaan para wartawan mengenai wanita yang pernah ada di dalam masa lalu Alfa, serasa bagaikan mimpi buruk bagi Shelina. Shelina yang tadinya mulai berharap akan mendapatkan cinta Alfa, seperti apa yang di dapatkan Oma Alira dari Opa Fahri, seketika redup berganti kesakitan yang teramat dahsyat. Dadanya seketika terasa begitu sesak sampai-sampai dia sulit untuk bernafas.
"Kamu masih mampu untuk berjalan kan?" Tanya Alfa sambil terus menarik pergelangan tangan Shelina, memasuki pintu kantornya.
"Aku mau pulang saja Mas. Aku tidak bisa berada di sini untuk hari ini." Jawab Shelina yang membuat langkah kaki Alfa seketika tertahan di depan pintu.
Nada suara Shelina yang terdengar aneh, berhasil mencuri perhatian Alfa. Dengan tampang kebingungan Alfa menatap wajah jelita di sampingnya itu, tanpa bisa bersuara.
"Aku mau pulang saja. Aku ingin beristirahat di rumah." Tambah Shelina sambil menarik tangannya dari genggaman Alfa, dengan air mata yang mulai meluncur membasahi pipinya.
"Ayo kita pergi lewat sana." Ujar Alfa dan langsung menarik Shelina menuju lift yang ada di pojok kantornya.
"Apa-apaan kamu Shelina? Kalau di dengar orang bagaimana? Apalagi dengan keadaanmu yang menangis seperti ini. Nanti aku di kira melakukan kdrt." Ujar Alfa tanpa melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tangan Shelina.
"Mas,, aku tidak mau menjadi orang kedua, apalagi menjadi tempat pelarian mu." Tutur Shelina dengan suara yang semakin bergetar karena berusaha menahan kesedihannya.
Kekecewaan juga sakit hati yang di rasakan Shelina, membuatnya sampai tidak mampu untuk mengendalikan perasaannya, yang di selimuti kabut kesedihan dalam waktu sekejap. Harapan yang baru dia pupuk setelah mendengar pengalaman hidup Oma Alira, sama sekali sudah tidak berarti.
__ADS_1
Karena tidak ingin di lihat orang ataupun wartawan yang mungkin masih berada di sekeliling kantornya, Alfa dengan buru-buru segera menarik tangan Shelina, memasuki lift khusus yang hanya bisa di gunakan olehnya juga para tamu pentingnya. Shelina yang tidak ingin ikut bersama Alfa masuk ke kantornya, tidak sempat menghindar ataupun menolak memasuki lift, karena Alfa sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk pergi.
"Lepaskan... Aku mau pulang..." Teriak Shelina sambil menarik tangannya kasar setelah berada di dalam lift.
Melihat pintu lift yang sudah tertutup, Shelina pun buru-buru menekan tombol untuk membuka pintu lift itu. Tapi semua usahanya sia-sia. Karena lift yang mereka naikin sudah bergerak dan akan berhenti tepat di lantai atas. Lantai yang terdapat ruang kerja Alfa juga ruang pertemuan dengan para tamu penting.
"Mengapa kamu tiba-tiba seperti orang kesurupan kaya gini? Apa kamu sudah gila?" Tanya Alfa dengan nada suara yang masih terdengar santai.
"Bagaimana keputusan kamu selanjutnya?" Tanya Shelina yang sudah bersandar di dinding lift dengan berderai air mata.
"Keputusan apa? Apa yang harus aku putuskan?" Tanya Alfa berpura-pura tidak mengerti maksud pertanyaan Shelina.
Sebenarnya Alfa sudah menyadari apa yang membuat Shelina tiba-tiba jadi seperti itu. Tapi dia tidak mau membahas apa yang menurutnya tidak penting bagi dia maupun Shelina. Tapi cinta yang sudah menguasai hati Shelina, membuatnya sulit untuk menjadi wanita kuat dan tegar, dalam memperjuangkan cintanya.
"Apa yang kamu pikirkan tentang pertanyaan wartawan tadi? Apa kamu pikir saya punya kekasih di masa lalu, yang sampai saat ini masih menjalin hubungan dengan saya?" Alfa bertanya sambil mendekat ke arah Shelina, yang hanya tersandar di dinding lift sambil memalingkan wajahnya ke arah samping.
"Aku tidak ingin memikirkan apapun tentang semua itu. Itu urusan kamu dengan model ternama itu. Bukan urusanku." Jawab Shelina tanpa menatap wajah Alfa yang sudah berada tepat di depannya.
"Kalau kamu tidak mau memikirkannya, kenapa kamu harus seperti ini? Kamu terlihat begitu bodoh karena prasangka buruk yang telah menguasai pikiranmu." Tutur Alfa sambil mundurkan posisinya sedikit menjauh dari Shelina.
__ADS_1
"Ayo kita ke ruang kerja saya." Ujar Alfa sambil menunduk, dan langsung menggendong Shelina setelah pintu lift terbuka.
Shelina yang sudah membatu sama sekali tidak bersuara. Dia hanya pasrah menerima apa yang di lakukan Alfa, tanpa ada perlawanan ataupun penolakan. Shelina seperti itu karena dia melihat keberadaan beberapa orang karyawan Alfa, yang sedang menatap ke arah mereka.