
Cahaya bulan yang baru saja datang setelah senja berlalu, begitu cerah seperti wajah cantik Shelina di saat itu. Seharian bekerja menghibur para tamu yang hadir, menjadi sebuah semangat baru dalam diri Shelina yang selalu terpuruk di dalam penderitaan. Dia melangkah menyusuri pinggiran jalan, dengan wajah yang terlihat begitu ceria. Semangat Shelina untuk bisa merubah nasibnya, mengalahkan rasa lelah setelah seharian bekerja.
Sampainya di depan rumah mewah yang dia tempati bersama Alfa, Shelina pun langsung buru-buru melangkah setelah melihat ada cahaya lampu di dalam rumah, tanpa membangunkan satpam yang sedang tertidur pulas di pos jaga. Karena dia sangat yakin, kalau Alfa pasti menginap di rumah Mamanya. Dan yang ada di dalam rumah kemungkinan perampok.
"Dari mana saja kamu..?" Suara Alfa yang seketika mengagetkan Shelina yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Aku,,, aku jalan-jalan saja." Jawab Shelina berbohong dengan tampang yang terlihat gugup. Sambil memalingkan muka dari Alfa.
"Apa...? Jalan-jalan...? Dari pagi kamu pergi sampai jam segini baru pulang. Dan kamu bilang jalan-jalan..? Apa kamu lupa kalau kamu itu punya suami yang sedang terluka di rumah..?" Tanya Alfa sambil menatap Shelina yang sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Kamu kenapa sih Mas? Biasanya kamu ngga perduli sama aku. Lagian aku tu pikir kamu nginap di rumah Mama." Jawab Shelina sambil menatap Alfa dingin.
Perasaan yang di rasakan Alfa saat itu benar-benar membuatnya kacau. Dia yang tadinya selalu bersikap dingin dan tidak memperdulikan Shelina sama sekali, kini terlihat aneh di depan Shelina. Caranya bertanya sangat menunjukan kalau dia sedang marah melihat Shelina yang baru saja pulang. Dan sikapnya itu seketika membuat Shelina jadi kebingungan. Tapi Alfa yang belum menyadari sikapnya yang terkesan berlebihan, masih terus bertanya tanpa menyadari ekspresi wajah istri cantiknya itu.
"Kamu tu sudah menikah. Jadi kalau mau keluar itu, izin dulu sama suami! Memangnya kamu anggap apa saya ini..?" Tanya Alfa tanpa melepaskan tatapannya dari Shelina.
"Aku sadar aku ini seorang istri Mas. Tapi istri di atas kertas. Hubungan kita nantinya akan berakhir. Dan kita berdua akan menjadi kedua orang asing. Jadi tidak perlu kita saling mengetahui urusan masing-masing." Ujar Shelina dengan tampang datarnya.
__ADS_1
"Siapa juga yang ingin tahu urusanmu..? Saya hanya tidak ingin ada yang melihatmu berada di luar sana di jam seperti ini. Apa tanggapan mereka kalau sampai melihat kamu berkeliaran di luar sana..? Lagian kamu itu tidak ada artinya buat saya. Jadi jangan berpikir macam-macam!" Ujar Alfa sambil memalingkan wajahnya.
"Ya sudah kalau gitu. Aku akan berhati-hati kalau keluar nanti. Dan aku juga tidak akan mengakui siapa aku dalam keluargamu. Karena aku memang tidak punya arti apa-apa." Ujar Shelina dan langsung melangkah pergi meninggalkan Alfa, yang seketika mematung melihat sikap Shelina yang begitu dingin padanya.
"Dasar wanita ngga bisa di atur. Dia pikir siapa dia..? Terserah apa yang mau kamu lakukan. Gue juga ngga ada waktu untuk mencari tahu kegiatanmu di luar sana." Alfa berkata-kata sendirian sambil melangkah menuju tangga.
Sedangkan Shelina yang sudah berada di kamarnya, hanya terdiam di depan cermin besar sambil menatap bayangannya dengan tatapan begitu sendu. Shelina yang tadinya ceria, kembali di selimuti perasaan sedih yang datang tiba-tiba. Kata-kata Alfa yang selalu melukai hatinya, membuatnya kembali murung dengan pemikiran bercampur aduk.
Shelina yang sudah mulai mencintai laki-laki dingin itu, semakin menderita mendengar ketajaman kata-kata Alfa. Namun karena hal itu juga, sehingga membuat dia berusaha untuk membuang jauh rasa yang sudah mulai menguasainya hati dan pikirannya. Tanpa melepaskan pandangan dari arah cermin. Shelina pun mulai bergumam di dalam hatinya.
"Sadarlah Shelina! Kamu hanyalah wanita yang di jadikan istri dengan sebuah kesepakatan tertulis. Jadi untuk apa kamu harus terlena dengan perasaan yang hanya akan menyiksamu? Jangan mengharapkan lebih dari laki-laki itu! Dia bukan pendamping hidup yang Tuhan berikan padamu."
"Aku wanita yang kuat. Aku yakin bisa melalui semua ini. Aku di besarkan dengan kekerasan. Jadi untuk apa aku harus lemah hanya karena di perlakukan dingin oleh laki-laki yang akan aku tinggalkan?" Shelina berkata-kata sendirian sambil melangkah menuju kamar mandi.
Di saat Shelina sedang menguatkan hatinya, dan berusaha membuang jauh rasa yang mulai tumbuh di dalam hatinya. Alfa malah sedang gelisah dengan perasaan yang sudah mulai tidak bisa dia kendalikan. Tapi Alfa bukan laki-laki yang bisa dengan muda menerima apa yang ada di dalam hatinya. Dia tetap pada pendiriannya, kalau Shelina bukan wanita yang pantas untuk dia cintai.
"Buat apa juga gue harus pusing memikirkannya. Gue tidak mungkin jatuh cinta dengan wanita seperti dia." Alfa berkata-kata sambil bersandar di kepala ranjang.
Malam itu udara terasa begitu dingin menembus tulang. Sehingga membuat Alfa yang sedang terluka tiba-tiba menggigil dengan wajah yang terlihat memerah. Dengan seluruh tubuh bergetar, Alfa bersembunyi di balik selimut tanpa bisa berbuat apa-apa. Dan karena tidak bisa untuk bertahan dalam keadaan seperti itu, dia pun akhirnya memutuskan untuk menghubungi Shelina.
("Halooo,, ada apa..?" Suara Shelina yang terdengar begitu berat karena menahan kantuk.)
__ADS_1
("Ke kamar saya dulu!" Jawab Alfa dengan suara yang sangat bergetar.)
("Cepat! Saya ngga kuat menahan dingin." Tambah Alfa sebelum Shelina bersuara.)
("Iya-iya,, aku akan segera ke sana." Jawab Shelina dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.)
Mendengar suara Alfa yang terdengar aneh, Dan permintaan Alfa yang tidak biasanya, membuat Shelina langsung khawatir karena dia tahu kalau Alfa tidak dalam keadaan baik-baik saja. Tanpa menunggu lama, Shelina langsung melangkah menuju kamar Alfa tanpa menyadari baju tidur seksi yang dia kenakan saat itu.
"Mas,, kamu kenapa..? Apa kamu demam..?" Shelina bertanya dengan tampang yang terlihat panik. Sambil meraba wajah Alfa yang hanya memejamkan matanya.
"Iya,, saya demam. Saya dingin banget. Saya tidak kuat menahan dingin seperti ini." Ujar Alfa dengan terbata-bata menahan kedinginan.
"Kalau gitu aku telpon Dr ya Mas. Kalau ngga aku telpon saja ke rumah Mama." Ujar Shelina yang sudah semakin khawatir dengan keadaan Alfa.
"Ngga usah. Saya tidak mau ada yang tahu dengan keadaan saya saat ini. Apalagi Mama dan keluarga saya yang lainnya. Saya tidak mau membuat mereka khawatir." Jawab Alfa tanpa membuka matanya.
"Tapi aku bingung mau lakuin apa Mas..? Aku ngga berpengalaman mengurus orang sakit." Ujar Shelina bingung.
"Kamu sekarang harus belajar untuk bisa melakukan apa yang tidak bisa. Di dalam rumah ini hanya ada kita berdua. Kalau bukan kamu yang melakukannya, siapa lagi yang akan melakukanya?" Alfa berkata-kata sambil meremas ujung selimut yang menutupi tubuhnya.
Dengan tampang yang semakin panik, Shelina mulai berpikir apa yang harus dia lakukan untuk mengurus Alfa yang sedang sakit. Dan tiba-tiba dia segera berlari keluar dari kamar Alfa tanpa bersuara. Mendengar langkah kaki Shelina yang terdengar begitu jelas, Alfa pun langsung membuka matanya, dan menatap ke arah Shelina yang sudah mendekati pintu keluar. Dalam keadaan sakit seperti itu, Alfa sebagai seorang laki-laki, seketika jadi terpana melihat penampilan Shelina yang begitu seksi.
__ADS_1