JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 67. Sikap Yang Aneh.


__ADS_3

Logika mungkin bisa menentang juga menolak keinginan seorang pria karena keegoisan yang menguasai diri. Namun hati tidak bisa berdusta dengan rasa yang sudah terlanjur melemahkan jiwa. Itulah yang telah menjadikan Alfa merasa tersiksa, karena berusaha menghindar dari perasaan yang mulai bergetar karena adanya rasa. Rasa yang sudah mempermainkan perasannya dalam diam.


Dari tatapan Alfa, tersirat arti sebuah kasih. Namun keegoisan selalu membuatnya berusaha untuk meyakinkan hati, kalau rasa yang ada di dalam hatinya bukanlah cinta.


Shelina yang sama sekali tidak menyadari keberadaan Alfa, terlihat mulai ketakutan saat rintik hujan mulai terdengar. Dengan buru-buru, dia berbalik dan ingin berlari keluar dari dapur. Tapi tiba-tiba, langkah kakinya terhenti saat melihat Alfa yang masih terus menatapnya.


"Ada apa?" Tanya Alfa dengan santainya.


"Aku,, aku hanya ingin segera ke kamar." Jawab Shelina gugup karena merasa malu, dengan sikapnya yang terlihat konyol.


"Buru-buru ke kamar, apa ketakutan?" Tanya Alfa sambil melangkah menuju pintu keluar.


Dengan raut wajah cemberut, Shelina pun melangkah mengikuti Alfa sambil menundukkan kepalanya tanpa bersuara. Bersama mereka melangkah menuju kamar yang ada di lantai bawah. Sampainya di dalam kamar, kegugupan kembali menguasai mereka.


Perasaan yang mulai kacau, selalu membuat Alfa serba salah dalam bersikap di depan Shelina. Apalagi Shelina yang tidak pernah berada dalam satu kamar bersama laki-laki lain selain Alfa. Dan itu hanya terjadi saat kecelakaan di kamar hotel waktu itu.


"Mas,, ini selimutnya." Ujar Shelina sambil memberikan selimut di tangannya kepada Alfa.


"Buat kamu saja. Saya tidak biasa tidur menggunakan selimut." Jawab Alfa tanpa menatap Shelina.


Shelina yang sudah berbaring di atas ranjang menatap ke arah dinding, berusaha untuk memejamkan mata walaupun sulit untuk tertidur. Begitupun dengan Alfa yang sedang terlentang di atas sofa yang ada di dalam kamar itu. Tapi tiba-tiba, mereka berdua di kagetkan dengan suara panggilan masuk di ponsel Shelina.


"Siapa yang menelepon di tengah malam seperti ini? Apa orang itu tidak tidur?" Tanya Alfa tanpa membuka mata.


"Ini Bos aku Mas." Jawab Shelina hendak mengangkat panggilan masuk, yang ternyata dari Reno menejer kafe tempat dia bekerja.


"Mau ngapain kamu..?" Tanya Alfa dengan tatapan tajam ke arah Shelina.


"Aku mau menjawab telponnya." Jawab Shelina.

__ADS_1


"Apa kamu sudah gila..? Menjawab telpon laki-laki di tengah malam seperti ini..?" Tanya Alfa dengan tampang datarnya.


"Dia kan Bos aku Mas. Siapa tahu ada hal penting." Jawab Shelina polos.


"Hal penting apa yang mau di bahas di jam seperti ini.? Apa ngga bisa besok..? Tidak usah menjawabnya!" Seru Alfa dan langsung berbalik membelakangi Shelina.


Shelina benar-benar bingung melihat ekspresi Alfa yang terlihat begitu marah. Tapi dia berpikir mungkin Alfa memang tidak ingin di ganggu. Karena Shelina tidak pernah berhayal untuk mendapatkan perhatian, apalagi cinta dari laki-laki yang sangat tidak menyukainya sejak awal mereka bertemu. Makanya itu dia tidak ingin berpikir terlalu jauh.


Hati Alfa seketika terasa panas di saat mengetahui ada laki-laki lain, yang berani menghubungi Shelina di larut malam seperti itu. Dia semakin curiga kalau Reno memang ada perasaan terhadap Shelina. Tapi dia sendiri tidak tahu kalau Reno itu ternyata suami orang.


Siulan burung di pagi hari juga suara ayam di sekeliling villa itu, seketika membangunkan Shelina dari tidurnya. Sambil mengucek mata Shelina mencari ikat rambutnya yang dia lepas sebelum tidur. Dan di saat dia berbalik ingin mencarinya di bagian belakang. Dia langsung berteriak saat melihat ada seseorang, yang tertutup selimut di bagian belakangnya.


"Aaaaaaaa..." Teriak Shelina sambil memukul-mukul orang yang berada di dalam selimut menggunakan guling.


"Heee.. Apa-apaan kamu ini..? Apa ini cara kamu membangunkan suami..?" Gerutu Alfa sambil menarik guling dari tangan Shelina.


"Mas.... Apa yang kamu lakukan..?" Tanya Shelina yang begitu kaget saat melihat Alfa bertelanjang dada di depannya.


"Semustinya saya yang bertanya seperti itu. Apa kamu sudah gila..?" Tanya Alfa balik dengan tampang datarnya.


"Mengapa kamu tidak memakai baju..? Apa yang kamu lakukan terhadapku..?" Shelina bertanya tanpa mau melepaskan kedua tangan yang menutupi wajahnya.


"Memangnya salah kalau saya seperti ini..? Terserah saya mau pakai baju atau ngga." Jawab Alfa dan kembali berbaring di atas tempat tidur.


"Ngapain Mas tidur di sini..? Semalam kan Mas tidur di sana." Tanya Shelina sambil menunjuk ke arah sofa.


"Apa kamu lupa siapa yang meminta saya untuk tidur di sini?" Tanya Alfa yang membuat Shelina jadi kebingungan.


"Maksud Mas apa..?" Tanya Shelina bingung.

__ADS_1


"Semalam tu kamu yang meminta saya tidur di sini. Sebab kamu takut dengan suara petir." Jelas Alfa yang membuat Shelina semakin kebingungan.


"Apa benar seperti itu..? Ko aku ngga ingat..?" Tanya Shelina dengan tatapan mencari tahu.


"Terserah kamu. Yang penting saya sudah mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Makanya,, kalau tidur itu jangan lupa berdoa!" Ujar Alfa dengan posisi membelakangi Shelina yang masih kebingungan.


"Sudah sana siapkan sarapan! Kamu mau cepat pulang dari sini atau bagaimana?" Seru Alfa yang membuat Shelina langsung buru-buru turun dari tempat tidur.


"Untung saja dia tidak terlalu cerdas. Kalau tidak dia pasti tahu kalau dia sudah di bohongi. Enak saja dia mau menyiksa gue tidur di sofa sekecil itu." Alfa berkata-kata sendirian di saat Shelina sudah keluar dari dalam kamar.


Shelina yang langsung percaya cerita Alfa barusan, begitu malu dengan tindakan yang dia lakukan tanpa sadar. Sampainya di dalam kamar mandi yang ada di bagian dapur, Shelina segera berdiri menghadap cermin dan menatap bayangannya sambil berujar.


"Apa yang sudah kamu lakukan Shel..? Malu tahu ngga..? Masa sih kamu bisa melakukan semua itu tanpa sadar..? Apa yang sudah dia pikirkan tentang kamu..?" Shelina bertanya-tanya pada bayangannya di dalam cermin, yang ada tepat di depannya.


Karena persediaan makanan begitu lengkap di dalam kulkas, Shelina pun memutuskan untuk membuat menu luar yang biasa di temukan di restoran-restoran mahal. Selain cantik, Shelina juga sangat pandai memasak berbagai macam jenis masakan beberapa negara. Kecerdasan Shelina mungkin tidak terlalu bisa di andalkan. Tapi kemampuannya dalam mengerjakan tugas seorang wanita, tidak bisa untuk di ragukan.


"Apa sarapannya sudah siap?" Suara Alfa yang terdengar dari depan pintu dapur.


"Sudah Mas. Itu sudah aku siapkan." Jawab Shelina tanpa menatap Alfa.


"Ya sudah,, kalau gitu kita langsung sarapan. Karena sebentar lagi saya harus menyambut kedatangan rekan bisnis saya." Perkataan Alfa yang membuat Shelina langsung berbalik menatapnya bingung.


"Jadi kita ngga jadi pulang?" Tanya Shelina.


"Ngga jadi. Karena ada pekerjaan penting yang di tugaskan Papa untuk saya tangani di sini. Dan sebelum semua itu selesai, kita akan tetap di sini. Mungkin satu minggu." Jawaban Alfa yang membuat Shelina langsung kaget.


"Tapi Mas,, aku kan harus kerja."


"Mulai hari ini kamu harus berhenti kerja! Saya akan bayar kamu lebih dari gaji yang kamu terima dari laki-laki itu." Alfa berseru tanpa menatap Shelina yang sudah tidak bisa berkata-kata.

__ADS_1


__ADS_2