
Malam itu suasana di dalam kamar begitu panas, dengan gairah yang sudah menguasai Alfa maupun Shelina. ******* semakin kencang memenuhi seisi ruangan. Dalam sekejap Alfa berhasil membuat Shelina melemah di bawah tubuh kekarnya.
Bentuk tubuh Shelina yang mulai berisi membuat Alfa semakin bersemangat berpacu tanpa henti. Dengan tubuh bermandi keringat, Alfa bangkit kemudian berlutut dengan mata tertuju di daerah inti, yang terpampang nyata di hadapannya.
Melihat mekarnya bunga berwarna kemerahan itu, tanpa sadar Alfa menelan ludahnya dan perlahan menunduk tanpa suara.
******* kembali terdengar lebih keras dari mulut Shelina, saat bunga mekar itu di belai dan di sentuh dengan sentuhan yang sungguh luar biasa. Alfa benar-benar tidak bisa menahan diri menghirup aroma dari bunga tersebut. Aroma khas itulah yang membuat Alfa serasa hampir gila beberapa Minggu ini.
Setelah malam itu berlalu, Alfa malah semakin tidak bisa menahan diri melihat bentuk tubuh Istrinya yang semakin padat berisi. Dia tidak pernah ingin ke manapun tanpa ada Shelina di sampingnya. Setiap hari dia hanya bekerja dan menghabiskan waktu di rumah bersama Shelina. Hal itulah yang membuat Shelina terlihat lebih ceria menjalani hari-harinya.
Hari berlalu dengan begitu cepat. Siang itu, Shelina yang baru saja pulang dari Dr kandungan bersama Oma Alira memutuskan untuk menyusul Alfa di kantornya. Dia ingin menyampaikan kabar baik tentang janin di dalam kandungannya.
"Alfa,, kamu sudah makan siang kan?" Tanya Oma Alira di saat baru memasuki ruang kerja Alfa.
"Sudah Oma." Jawab Alfa sambil beranjak dari meja kerjanya menuju sofa bergabung dengan Shelina juga Omanya.
__ADS_1
"Kamu harus jaga kesehatan. Jangan lupa makan saat sedang bekerja. Tinggal beberapa bulan lagi kamu sudah menjadi seorang Ayah dari Putra Putrimu." Perkataan Oma Alira yang membuat Alfa langsung menatap Shelina.
"Iya Mas. Ternyata anak kita cewek cowok." Senyum seketika terukir di wajah tampan Alfa, mengetahui jenis kelamin anaknya.
"Syukurlah kalau seperti itu. Terus bagaimana perkembangan mereka?" Tanya Alfa.
"Sehat Mas. Dari hasil pemeriksaan, tiga bulan lagi saya sudah melahirkan." Ujar Shelina.
"Mulai hari ini kamu tidak boleh banyak bergerak. Kamu tidak boleh ke mana-mana." Ujar Alfa dengan tampang serius.
"Memangnya kenapa Mas? Aku tu sudah bosan setiap hari berada di rumah. Malah aku mau kita pindah untuk sementara di rumah Mama atau Oma. Biar aku punya teman cerita." Tutur Shelina panjang lebar.
'Astaga Shelina.. Mengapa kamu harus mengatakan semua itu di depan Oma? Dia pasti akan memaksa.' Batin Alfa.
"Mau ya Mas. Aku tu butuh teman cerita." Pinta Shelina.
__ADS_1
"Tapi kita kan juga punya rumah. Tidak mungkin kita biarkan rumah kita kosong." Alfa berusaha mencari-cari alasan.
"Alfa,, itu masalah gampang. Di rumah kalian kan ada pekerja. Biar saja mereka yang tinggal di untuk rawat rumah kalian." Sambung Oma Alira semakin bersemangat.
"Alfa,, kamu itu harus menuruti semua keinginan Istri kamu. Kalau tidak anak-anak kami nantinya ngiler. Mau kamu.??" Oma Alira berusaha membuat Alfa agar mau pindah ke rumahnya.
"Itu kan Mas. Aku nggak mau anak-anak aku nanti ngiler. Nanti apa kata orang?" Sambung Shelina yang membuat Alfa akhirnya mengabulkan keinginannya.
"Ya sudah kalau begitu. Minggu depan kita pindah ke rumah Mama dan Papa." Alfa akhirnya mengalah.
"Kita di rumah Mama saja. Di rumah Oma kan sudah ada Tante Almira. Setiap hari kamu juga bisa main-main di rumah Oma." Tambah Alfa.
Oma Alira yang selalu mengkhawatirkan keadaan Shelina, seketika tersenyum ceria. Dia terlihat begitu bahagia dengan keputusan Alfa, yang akhirnya setuju untuk pindah ke rumah orang tuanya. Sejak hari itu Oma Alira dan Aleta Mamanya Alfa, selalu datang mengunjungi Shelina untuk menyiapkan semua barang yang akan mereka bawah.
Hidup di kelilingi orang-orang baik seperti keluarga Alfa, membuat Shelina bisa merasakan kebahagiaan walaupun hidup tanpa sanak saudara. Alfa bagaikan anugrah yang di berikan Tuhan untuknya. Di begitu bersyukur bisa mendapatkan pendamping hidup seperti Alfa. Pria yang memiliki segudang kasih sayang di balik sikap dinginnya.
__ADS_1
Setelah mengetahui jenis kelamin kedua anaknya yang akan lahir tiga bulan lagi, Alfa semakin perhatian terhadap Shelina. Dia tidak ingin terjadi hal-hal buruk yang bisa mencelakai istri dan kedua calon bayinya. Seperti kejadian beberapa waktu lalu.
Bukan Shelina saja yang bersyukur dengan perubahan sikap Shelina. Seluruh anggota keluarga Permana pun ikut bahagia dengan perubahan Alfa. Alfa yang tidak pernah menginginkan keberadaan Shelina, kini memprioritaskan wanita cantik itu di dalam hidupnya. Wanita yang akan memberikan keturunan selanjutnya untuk keluarga Permana.