JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 56. Perubahan Sikap Alfa.


__ADS_3

Mata yang sudah terpejam, di iringi alunan lagu dari ponselnya, tidak membuat pikiran Alfa terlepas dari kata-kata yang di ucapkan Mamanya tadi sore. Dengan wajah terlihat penuh beban, Alfa segera melepaskan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Kemudian beranjak turun dari tempat tidur dan melangkah menuju balkon kamar yang dia tempati saat itu.


Perpisahan yang di usulkan oleh Mamanya, telah menjadi beban pikiran terhadap Alfa. Apalagi sejak menerima telpon dari Omanya sore tadi. Saat itu juga bayangan Shelina seketika hadir dalam ingatannya yang membuat dia semakin gelisah. Dia sendiri jadi bingung dengan semua yang terjadi padanya. Semua yang ada dalam pikirannya, tiba-tiba mempengaruhi emosinya. Apalagi di saat teringat dengan Aldo yang belum juga memberinya kabar sejak tadi.


"Gue harus menghubunginya. Ngapain saja dia sejak tadi sampai saat ini belum juga ada kabar." Alfa berkata-kata sambil mencari nomor kontak Aldo.


("Halo Fa.." Suara Aldo setelah telponnya tersambung.)


("Ngapain saja kamu sejak tadi..? Sampai jam segini kamu belum juga kasih kabar sama saya." Ujar Alfa penuh kekesalan.)


("Aku baru saja menemui tempat keberadaannya. Dan aku juga baru mau kasih tahu kamu." Jawab Aldo.)


("Di mana dia sekarang? Apa dia sudah di rumah?" Tanya Alfa.)


("Dia belum pulang. Sekarang dia ada di sebuah kafe. Kayaknya dia bekerja di kafe ini." Jawab Aldo yang membuat Alfa seketi jadi geram.)


("Apa kamu bilang..? Dia bekerja di mana..?" Suara Alfa yang begitu keras, sehingga membuat Aldo jadi kaget.)


("Iya Fa.. Aku sekarang ada di depan kafe ini. Dan aku baru saja melihat istri kamu bernyanyi di depan para pengunjung kafe. Kalau dia ngga bekerja, buat apa dia bernyanyi di tempat ini?" Jelas Aldo yang membuat emosi Alfa semakin tidak terkendali.)

__ADS_1


("Aldo.. Tolong urus keberangkatan aku ke Indonesia sekarang juga! Aku akan segera kembali ke Indonesia pagi ini juga." Ujar Alfa.)


("Sudah aku urus semuanya sejak dua hari yang lalu. Aku sudah menghubungi teman aku yang ada di situ. Kamu bisa berangkat menggunakan jet pribadi miliknya. Kamu langsung hubungi dia saja! Mau berangkat malam ini juga ngga apa-apa." Ujar Aldo.)


("Ya sudah.. Saya berangkat malam ini saja. Saya mau bersiap-siap." Alfa berujar dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.)


"Ada apa dengan Alfa? Apa yang terjadi di antara dia dan istrinya? Setahu aku dia tidak ada rasa dengan istrinya. Tapi laki-laki mana yang mampu bertahan dengan wanita secantik itu?" Aldo yang merasa bingung dengan sikap Alfa, bertanya-tanya sambil menatap layar ponselnya.


Tanpa menunggu lama, Alfa langsung memakai jaket dan menarik kopernya keluar dari kamar. Setelah selesai menghubungi orang yang tadi di bilang sama Aldo. Dengan setengah berlari, Alfa menuruni tangga tanpa menyadari keberadaan Mamanya, yang sedang melangkah dari arah dapur membawa segelas air.


"Alfa... Kamu mau kemana..?" Tanya Aleta dengan tampang kebingungan, sambil melangkah mendekat ke arah putranya.


"Loh kenapa..? Apa terjadi sesuatu dengan pekerjaanmu..?" Tanya Aleta khawatir.


"Ngga ada apa-apa soal pekerjaan Ma." Jawab Alfa sambil menatap Mamanya.


"Terus kenapa kamu terburu-buru untuk pulang? Kan bisa besok." Aleta kembali bertanya.


"Shelina Ma. Dia ternyata bekerja tanpa sepengetahuan saya." Jawab Alfa dengan tampang datarnya.

__ADS_1


"Ko bisa dia kerja tanpa kamu tahu..?" Tanya Aleta kaget.


"Saya juga bingung Ma. Kalau dia memang membutuhkan uang, mengapa dia ngga minta sama saya..? Kenapa dia harus bekerja seperti itu..? Kalau di ketahui orang gimana..?" Ocehan Alfa dengan tampang kesalnya.


"Kamu tidak bisa menyalahkan dia sayang! Ini semua kesalahan kamu. Kamu tidak bisa memahami istrimu. Ya,,, Mama juga tidak bisa menyalahkan kamu. Karena kamu memang tidak perduli padanya. Makanya Mama mengusulkan untuk kamu melepaskan dia. Biar kalian berdua tidak terlalu lama tersiksa dalam hubungan tanpa ada kepastian." Aleta berujar panjang lebar sambil menatap Alfa, yang sudah seperti patung di hadapannya.


"Nanti saya akan pikirkan semua itu Ma. Saya pamit ya Ma. Tolong bilang sama Papa dan yang lain, kalau saya sudah kembali ke Indonesia!" Ujar Alfa sambil memeluk Mamanya. Kemudian dia langsung buru-buru pergi meninggalkan Mamanya yang hanya tersenyum sambil menatapnya.


"Alfa.. Alfa.. Sampai kapan kamu tetap membeku seperti itu? Kamu akan menyesal kalau tetap seperti itu." Aleta berkata-kata sambil melangkah menuju kamar tidurnya.


Hanya memakan waktu setengah jam, Alfa pun tiba di bandara. Dan dia sudah di jemput sama orang yang tadi dia hubungi. Tanpa menunggu lama, Alfa langsung naik ke pesawat yang sebentar lagi akan terbang menuju Indonesian. Dari raut wajah Alfa, terlihat jelas kalau dia sedang memendam kemarahan mengetahui apa yang di lakukan oleh Shelina.


Dalam perjalanan, Alfa hanya terdiam dengan tatapan tajam ke arah ponselnya, melihat video yang baru saja di kirim oleh Aldo. Video tersebut Aldo ambil di saat Shelina sedang membawakan sebuah lagu melow, untuk menghibur para pengunjung kafe. Dan di dalam vidio itu, terlihat jelas seorang laki-laki yang berada di samping Shelina, sedang menatap Shelina dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Melihat ekspresi laki-laki itu, emosi Alfa semakin tidak terkendali. Dengan penuh amarah, dia langsung mencengkram erat ponselnya dengan tampang penuh kemarahan.


"Benar-benar wanita tidak tahu malu.. Berani-beraninya dia melakukan semua ini di belakang gue." Alfa berkata-kata sendirian sambil terus mencengkram ponsel yang ada di dalam genggamannya.


Tepat pukul 5:30 sore, Shelina melangkahkan kakinya menyusuri jalan di bawah langit senja. Dia terlihat begitu murung tidak seperti hari-hari biasanya. Keceriaan yang setiap hari menghiasi wajah cantiknya saat berangkat dan pulang kerja, tidak terlihat sama sekali hari itu. Ingatan tentang Melisa begitu mempengaruhi pikirannya. Dia begitu kecewa dengan hadirnya sosok wanita, yang ternyata memiliki hubungan dengan laki-laki yang sudah menjadi suaminya.


"Apa yang harus aku lakukan ya Tuhan..? Aku tidak sanggup menerima semua ini. Aku menyadari posisiku di dalam hidupnya Mas Alfa. Tapi hatiku tetap sakit mengetahui kenyataan pahit ini. Lebih baik aku pulang saja ke rumah Mas Alfa. Dari pada aku harus bertemu dengan wanita itu." Shelina berkata-kata dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


Keadaan Shelina saat itu, bagaikan karang di laut lepas. Yang di hantam gelombang tanpa bisa menghindar. Sekuat apapun dia bertahan, namun getaran di dalam hatinya tetap terasa. Rasa cinta yang berusaha dia buang jauh dari dalam hatinya, kini malah jadi sebuah goresan luka tanpa sayatan di dalam hatinya.


__ADS_2