JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 66. Perasaan Yang Mulai Tumbuh.


__ADS_3

Sebagai seorang laki-laki yang sempurna, Alfa benar-benar terpancing dengan keadaannya saat itu. Suasana malam yang begitu sepi, semakin membangkitkan hasratnya berada dalam posisi yang begitu menantang. Sedangkan Shelina yang tidak bisa menahan rasa malunya, hanya memejamkan mata tanpa bersuara. Detak jantung Alfa yang semakin berdetak tak menentu, menandakan ada gejolak batin yang mulai bergetar hebat.


"Mas,, tolong pejamkan matamu!" Pinta Shelina tanpa mau membuka matanya.


"Untuk apa?" Tanya Alfa dengan raut wajah yang mulai terlihat tegang.


"Aku tidak mau kamu melihat keadaanku." Jawab Shelina dengan bibir yang mulai bergetar.


"Siapa juga yang mau melihat tubuhmu?" Rasa gengsi yang begitu besar, benar-benar mengalahkan gejolak yang mulai meronta-ronta di dalam batin laki-laki kaku itu.


Dengan buru-buru Alfa pun segera bangkit dan melangkah keluar dari dalam kamar mandi, tanpa melirik Shelina sedikitpun. Dia memilih untuk menahan gejolak walau batinnya begitu tersiksa. Situasi yang menegangkan itu, sudah membangkitkan hasrat di dalam batin Alfa sebagai seorang laki-laki. Dari raut wajah yang terlihat aneh juga nafas yang tidak teratur, memperlihatkan betapa besar keinginan yang sudah menguasai dirinya saat itu.


"Apa-apaan ini?" Alfa bertanya-tanya dengan tampang kebingungan, setelah berada di ruang depan.


Suasana hati Alfa yang semakin kacau dengan perasaan yang tidak mau dia akui, seketika menyiksa batinnya kala kejadian tadi. Tuntutan batin yang bergejolak masih sangat terasa, saat membayangi indahnya tubuh wanita cantik yang sudah dia nikahi itu. Tanpa sadar, Alfa mulai mengeluh dengan ikatan yang semakin terasa berat antara dia dan Shelina.


"Apa gunanya penikahan ini? Sepasang suami istri itu harus bersama, bukan malah saling menghindar. Lama-lama aku bisa gila kalau terus seperti ini." Gerutu Alfa tanpa menyadari apa yang telah dia ucapkan.


"Astaga... Apa yang sudah gue pikirkan? Apa gue begitu menginginkan dia? Tidak-tidak. Gue seperti ini, hanya karena terlalu emosional menghadapi keadaan." Menyadari apa yang sudah dia ucapkan tadi, Alfa kembali berusaha menyangkal akan perasannya sendiri.


Keheningan benar-benar terasa setelah suara petir dan kilat yang menyambar telah berlalu. Hanya rintik hujan yang masih membasahi tanah, menambah kedinginan di malam itu. Hangatnya selimut yang menutupi tubuh Shelina, sama sekali tidak membawa kenyamanan di tengah larut malam. Pikirannya tidak terlepas sedetikpun dari kejadian yang dia alami tadi.


Rasa malu yang menyelimuti hati, tak dapat dia sembunyikan walau harus menyembunyikan diri di balik selimut. Suasana yang dia rasakan itu benar-benar membuatnya ingin menghilang walau hanya sesaat. Dengan pikiran yang terkuras, Shelina mulai bangkit dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar, di saat perutnya mulai bernyanyi ingin di jatah.


"Apa Mas Alfa sudah tidur? Bagaimana kalau aku berpapasan dengan dia? Mau taruh di mana muka aku ini?" Sambil melangkah keluar, Shelina bertanya-tanya sendirian dengan tampang yang masih terlihat gugup.

__ADS_1


Dengan wajah yang tertunduk, Shelina melangkah menuju arah belakang. Dia sama sekali tidak ingin melihat ke sekelilingnya, walau ketakutan akan suasana sepi di villa itu semakin terasa. Tapi tanpa di sengaja, tiba-tiba dia menabrak Alfa yang baru saja keluar dari dapur. Dengan suara begitu kencang, Shelina langsung berteriak sambil menutup matanya saking kagetnya.


"Aaaaaaaa...." Teriak Shelina yang membuat Alfa segera menutup kupingnya dengan kedua tangan.


"Hee... Apa kamu sudah gila..?" Suara Alfa yang terdengar tidak kalah keras tepat di hadapan Shelina.


"Ya ampun Mas... Aku pikir hantu tahu ngga..?" Gerutu Shelina sambil mengusap dadanya.


"Makannya.. Jalan tu pakai mata." Ketus Alfa tanpa bergeser dari hadapan Shelina.


"Mau apa kamu?" Tanya Alfa.


"Aku mau makan." Jawab Shelina sambil memegang perutnya.


"Apa yang mau di makan? Di dapur ngga ada makanan yang bisa di makan." Perkataan Alfa yang membuat Shelina langsung memasang wajah lesunya.


"Masak saja kalau kamu mau. Di kulkas banyak persediaan makanan mentah." Seru Alfa dan langsung melangkah pergi.


Dengan buru-buru Shelina segera melangkah menuju lemari es, dan mengambil beberapa makanan yang mau dia masak. Tanpa menunggu lama, Shelina segera mempersiapkan semuanya dan mulai memasak. Hanya memakan waktu beberapa menit, aroma masakan sudah tercium sampai di ruang depan. Dan hal itu semakin membuat Alfa tidak bisa untuk menahan rasa laparnya.


"Apa sebenarnya yang dia masak? Aromanya ko harum banget?" Alfa bertanya-tanya sambil melangkah menuju dapur.


Dari balik pintu, Alfa mengintip Shelina yang sedang asyik memasak seperti maling yang sedang mengintai sasaran. Sebenarnya dia sudah tidak tahan ingin mencicipi masakan yang di buat Shelina. Tapi dia benar-benar malu untuk mengatakan itu. Tanpa Alfa sadari, Shelina sudah mulai ketakutan karena melihat bayangan pada dinding yang ada di sampingnya. Tanpa melepaskan tatapannya dari arah bayangan, Shelina pun meraih pisau yang ada di depannya. Dan setelah itu dia langsung berbalik, sambil berteriak minta tolong dengan suara yang sangat kencang.


"Tolong..." Teriak Shelina dengan mata terbuka lebar, sambil menodongkan pisau yang ada di tangannya ke arah Alfa.

__ADS_1


"Apa-apaan sih kamu...? Apa hobi kamu itu hanya untuk teriak-teriak..?" Seru Alfa yang begitu kesal dengan teriakan Shelina.


"Kamu yang apa-apaan Mas..? Ngapain kamu di situ? Kaya maling tahu ngga?" Gerutu Shelina yang tidak kalah kesal, setelah menyadari kalau itu ternyata bayangan Alfa.


"Saya lapar banget." Jawab Alfa dengan segera.


"Kalau mau makan, duduk di sini! Bukan ngintip seperti itu." Shelina berujar sambil bergegas menyajikan masakannya di atas meja.


"Mana piringnya? Kamu ko lambat banget sih?" Tanya Alfa yang sudah sangat kelaparan.


"Sabar dong Mas! Aku tu lagi ambil piringnya." Jawab Shelina.


Setelah mencicipi masakan Shelina, Alfa seketika terdiam dengan ekspresi yang terlihat aneh. Menyadari hal itu, Shelina langsung menghentikan makannya kemudian bertanya dengan tampang penuh kekhawatiran.


"Ada apa Mas? Apa makanannya ngga enak?" Tanya Shelina.


"Lumayan. Sudah makan saja sana! Mengapa kamu menatap saya seperti itu?" Jawab Alfa tanpa menatap Shelina yang masih memperhatikannya.


"Aku pikir makanannya ngga enak sampai kamu berekspresi seperti itu." Ujar Shelina.


Selesai makan, Shelina pun segera membersihkan cucian piring yang sudah ada di hadapannya. Sedangkan Alfa yang sudah merasa kenyang, hendak melangkah keluar dari dapur. Tapi dia kembali terdiam di tempat duduknya, di saat tatapannya tertuju pada Shelina.


"Apa ngga bisa besok kamu mengerjakannya?" Protes Alfa.


"Nanggung Mas. Kalau bisa sekarang, kenapa harus di tunda? Kita kan harus pulang besok pagi." Jawab Shelina dengan posisi membelakangi Alfa.

__ADS_1


Sifat Shelina yang begitu mandiri sebagai seorang wanita, sudah semakin menarik simpati Alfa. Laki-laki yang tadinya sama sekali tidak ingin meliriknya, apalagi mengenali kepribadiannya, terlihat makin penasaran walaupun dia tidak pernah mengatakannya. Namun hal itu malah membuat Alfa terlihat seperti orang bodoh. Karena dia selalu berusaha untuk menghindar dari perasaan yang sudah mulai tumbuh di dalam hatinya.


__ADS_2