
Tatapan Alfa begitu serius melihat keindahan yang tidak pernah dia lihat walaupun sudah dia rasakan. Dari raut wajahnya, begitu terlihat keinginan batin yang sudah semakin menuntut. Sedangkan Shelina yang sangat malu dengan tatapan Alfa, hanya mematung sambil memeluk dadanya dengan kedua tangan.
"Apa kamu tidak menginginkan saya?" Tanya Alfa yang membuat Shelina langsung menatapnya bingung bercampur kaget.
"Aku,, aku,, aku tidak pantas memiliki keinginan seperti itu." Jawab Shelina gugup.
"Apa ada laki-laki yang kamu cintai?" Tanya Alfa dengan tatapan yang terlihat aneh.
"Iya. Aku memang sangat mencintai seorang laki-laki. Tapi..." Kata-kata Shelina yang langsung terhenti karena Alfa sudah menindihnya dan menyerangnya dengan ciuman yang penuh hasrat.
Shelina yang ingin menghindar dari serangan Alfa, seketika terhanyut oleh permainan bergairah suaminya. Suara yang dia tahan walau batinnya meronta tak kuasa menahan kenikmatan, akhirnya keluar yang semakin membangkitkan gairah Alfa.
Alfa menyusuri setiap sudut kenikmatan dunia itu tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun. Dan sampainya di liang surga yang selalu di dambakan setiap laki-laki, Alfa pun langsung menenggelamkan wajahnya dan mulai melancarkan permainan yang berhasil membuat sekujur tubuh Shelina, bergetar hebat sambil menyebut namanya dengan nada suara yang memenuhi kamar.
"Mas... Mas Alfa..." Teriak Shelina karena dia sudah mencapai puncak yang pertama hanya dalam waktu sekejap.
Malam itu, Alfa dan Shelina akhirnya bersatu dalam sebuah hubungan pernikahan yang seutuhnya. Laki-laki yang selalu bersikap dingin dan kaku, kini terlihat seperti orang kerasukan setan, menikmati malam panas di dalam villa bersama Shelina tanpa di dengar orang.
Setelah satu jam berlalu, permainan masih terus berjalan tanpa terlihat ada tanda-tanda akan berakhir. Alfa yang masih terus menggila mengikuti tuntunan batin yang semakin meningkat, sama sekali tidak memperdulikan Shelina yang sedang mencerahkan kedua lengannya sambil meminta untuk menyudahi permainan yang tak kunjung usai.
"Mas... Mas sudah dong Mas..! Sakit Mas... Sakit banget..." Teriak Shelina sambil memejamkan mata dan mencengkram lengan Alfa.
__ADS_1
"Mas... Sakiiiit..." Teriakan Shelina untuk yang ke sekian kalinya, sambil mencakar dada juga punggung Alfa yang sama sekali tidak perduli padanya.
Shelina yang tidak henti-hentinya merengek kesakitan, membuat Alfa semakin bersemangat melancarkan serangannya tanpa mengenal rasa lelah. Melihat Alfa yang semakin menggila di atasnya, Shelina hanya bisa memejamkan mata sambil melingkarkan kedua tangannya di pundak Alfa menahan rasa sakitnya.
Sebenarnya Alfa sendiri tidak tega melihat keadaan Shelina. Namun tuntutan batinnya sebagai seorang laki-laki, juga pengaruh minuman yang dia konsumsi bersama rekan-rekan bisnisnya, membuatnya tidak bisa untuk mengendalikan diri. Tapi mungkin karena terlalu bergairah, tiba-tiba sekujur tubuh Alfa mulai menegang di iringi suara erangan yang membuat Shelina langsung menatapnya.
Alfa pun tumbang di samping Shelina yang juga sangat tidak berdaya karena rasa sakit di bagian bawahnya. Melihat keadaan Alfa yang sudah terlentang tanpa sehelai benangpun di sampingnya, Shelina yang begitu malu dengan situasi mereka saat itu, segera bangkit dan berusaha untuk melangkah menuju kamar mandi. Sedangkan Alfa sepertinya begitu tidak berdaya karena di bawah pengaruh minuman yang dia konsumsi. Sampai dia sama sekali tidak memperdulikan Shelina.
"Ya Tuhan,, bagaimana ini,,? Mengapa semua ini bisa terjadi? Bagaimana nanti kalau aku hamil? Kita kan akan pisah?" Shelina bertanya-tanya sambil menatap wajahnya pada cermin besar yang ada di hadapannya.
Selesai mandi, Shelina pun segera mengambil pakaian gantinya dan buru-buru memakainya tanpa mau melirik ke arah tempat tidur. Kemudian dia pun segera melangkah keluar dari kamar menuju ruang depan sambil membawa sebuah bantal, juga selimut yang dia ambil dari atas lantai.
Sebenarnya Shelina merasa ketakutan tidur sendirian di ruang tamu. Tapi rasa malu dengan apa yang baru saja terjadi antara dia dan Alfa, lebih besar dari rasa takutnya. Akhirnya dia pun terpaksa tidur di sebuah sofa yang ada di ruangan itu. Mungkin karena kelelahan, Shelina langsung terlelap hanya dalam waktu sekejap.
"Mengapa kamu membuka kain gorden di pagi hari seperti ini..? Saya tu masih ingin tidur." Ujar Alfa tanpa membuka matanya.
"Shelina... Apa kamu tidak dengar..?" Alfa kembali bersuara karena cahaya matahari masih saja mengenai wajahnya.
Karena tidak mendengar suara Shelina, Alfa yang merasa kesal akhirnya berbalik dan menatap ke sana kemari mencari keberadaan Shelina. Tatapan matanya yang begitu tajam saking kesalnya, tiba-tiba berubah kebingungan karena tidak melihat keberadaan Shelina di dalam kamar itu.
"Kemana saja dia pergi di waktu sepagi ini?" Alfa bertanya-tanya sambil menatap layar ponselnya.
__ADS_1
Sambil menggaruk kepalanya dengan wajah yang masih terlihat menahan kantuk, Alfa pun segera melepaskan selimut yang sedang menutupi tubuhnya. Dan tiba-tiba, matanya langsung terbuka lebar saking kagetnya, saat melihat keadaannya yang sama sekali tidak mengenakan pakaian.
"Astaga... Apa yang terjadi dengan saya..? Mengapa sampai bisa seperti ini..?" Alfa yang terlihat kebingungan, bertanya-tanya sendirian sambil buru-buru menutup kembali sebagian tubuhnya dengan selimut.
"Ya ampun... Apa yang sudah saya lakukan..? Mengapa saya bisa lepas kendali seperti itu..?" Alfa kembali bersuara setelah mengingat apa yang sudah dia lakukan semalam terhadap Shelina.
Di saat Alfa sedang kebingungan dengan semua yang sudah terjadi antara dia dan Shelina, tiba-tiba terdengar suara panggilan masuk di ponselnya.
("Halo Sayang,, kapan kalian pulang?" Suara Oma Alira yang terdengar sedikit aneh.)
("Mungkin lusa Oma. Soalnya urusan saya di sini belum juga selesai." Jawab Alfa)
("Kalian di situ dulu! Satu atau dua Minggu juga ngga apa-apa. Bila perlu satu bulan." Seru Oma Alira yang membuat Alfa langsung menarik nafas panjang.)
("Kamu kenapa sih sayang? Alfa,, Oma tu ingin menimang cicit. Jadi kamu harus kabulkan keinginan Oma. Kalau Fara kan lagi kuliah. Jadi Oma ngga mungkin minta itu darinya. Apalagi kamu kan yang lebih tua. Kamu yang harus duluan punya anak." Tutur Oma Alira panjang lebar.)
("Alfa... Kamu dengar ngga sih apa yang Oma bicarakan dari tadi? Mana istri kamu?" Tanya Oma Alira dengan nada suara yang sudah mulai naik.)
("Dia mungkin lagi masak Oma." Jawab Alfa sambil menatap ke arah pintu yang di ketuk dari luar.)
"Masuuk..." Seru Alfa tanpa melepaskan tatapannya dari arah pintu.
__ADS_1
"Mas,, sarapannya sudah siap." Shelina berujar tanpa berani menatap ke arah Alfa.
Melihat wajah Shelina yang terlihat kusut dan pucat, Alfa pun jadi merasa bersalah atas apa yang dia lakukan semalam. Walaupun semua itu terjadi dalam keadaan mabuk, namun itu tidak membuatnya lupa, dengan perbuatannya yang begitu buas memenuhi keinginan batinnya semalam.