JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 29. Setuju Dengan Niat Tertentu.


__ADS_3

Suasana di dalam ruang keluarga terlihat begitu tenang menunggu apa yang mau di sampaikan oleh Papa Fahri. Tapi apa yang mereka tunggu belum juga terdengar dari bibir laki-laki senior di dalam rumah besar itu. Karena sudah tidak sabar ingin membahas apa yang mau mereka bahas, Mama Alira akhirnya bersuara membuka percakapan.


"Pa,, kapan ngomongnya..? Ko Papa diam saja..?" Tanya Mama Alira sambil menatap suaminya.


"Mana Shelina..?" Tanya Papa Fahri.


"Dia di kamar Pa." Jawab Mama Alira.


"Kenapa ngga suruh turun? Yang mau kita bahas kan mengenai dia dan Alfa, mengapa dia ngga di panggil." Ujar Papa Fahri sambil menatap Faris yang tadi di suruh untuk ke lantai atas.


"Aku pikir Mama yang mau di panggil." Jawab Faris.


"Memangnya Mama kamu yang mau menikah..?" Pertanyaan Papa Fahri yang membuat Mama Alira langsung beraksi.


"Astaga Pa... Mama tahu Mama tu masih sangat cantik.. Tapi Papa tenang saja! Mama ngga akan menikah lagi. Karena cinta pertama dan terakhir Papa hanya buat Papa seorang." Sambung Mama Alira dengan gaya khasnya.


"Apa-apaan sih Oma..? Udah tua masih saja genit." Sambung Alfa dengan tampang datarnya.


"Hmmmm,, ngga Opa, ngga cucu, sama semuanya. Ngga bisa di ajak bercanda. Bi,, tolong panggil Shelina di kamarnya!" Ujar Mama Alira sambil memalingkan muka ke arah Bi Tuti, yang sedang berdiri di samping Mama Alira.


"Baik Nyonya." Jawab Bi Tuti yang tidak pernah bisa diam dan sangat pecicilan.


Tidak berapa lama mereka menunggu, akhirnya Shelina pun turun dengan ekspresi penuh ketegangan. Apalagi di saat melihat lirikan Alfa yang begitu tajam ke arahnya. Tapi dengan segera, Aleta yang sudah sangat mengerti situasinya segera bersuara, berusaha menghilangkan ketegangan Shelina atas sikap putranya yang menurutnya terlalu berlebihan.

__ADS_1


"Sayang,, sini duduk di pinggir Tante. Ngga usah gugup! Sini sini.." Ujar Aleta sambil melirik putranya yang sudah seperti patung di hadapannya.


Tanpa melirik Alfa, Shelina pun segera duduk tepat di antara Aleta dan Mama Alira yang begitu perhatian padanya, sejak dia berada di rumah besar itu. Kehangatan yang di berikan beberapa wanita yang ada di dalam keluarga itu, membuat Shelina merasa sedikit tenang. Walaupun Alfa selalu menunjukkan sikap tidak suka pada dirinya.


"Alfa,, kamu sudah tahu kan apa yang ingin Opa sampaikan..?" Tanya Papa Fahri sambil menatap Alfa yang hanya menunduk dengan sikap dinginnya.


"Saya tahu Opa." Jawab Alfa singkat.


"Terus bagaimana..? Semua keputusan ada di tanganmu. Kalau kamu tidak ingin meninggalkan keluargamu, kamu harus mau untuk menikahi Shelina. Tapi kalau tidak mau, berarti mau dan tidak mau, Opa akan mengirim kamu ke perkebunan teh yang ada di daerah pegunungan." Tanya Papa Fahri.


"Dan ingat apa kata Papa kamu. Opa tidak bisa menentang apa yang sudah di putuskan Papa kamu. Karena itu hak dia untuk mengatur semua warisannya." Tambah Papa Fahri.


"Alfa,, kamu tahu kan Papa tidak pernah main-main sama ucapan Papa..?" Sambung Faris dengan tatapan tidak kalah datar.


"Saya siap untuk menikah. Lebih cepat lebih baik. Tapi saya punya satu syarat." Jawab Alfa.


"Saya mau, setelah menikah kita pindah di rumah saya. Saya tidak mau gabung tinggal di rumah ini." Jawab Alfa dengan tampang yang sangat datar.


"Oke,,, malah itu yang lebih bagus. Biar kalian belajar untuk mandiri dan lebih dewasa dalam menempuh hidup baru kalian." Sambung Mama Alira dengan segera.


"Iya,, Mama juga setuju. Biar kalian berdua bisa saling mempelajari sifat masing-masing." Sambung Aleta.


"Itu sangat benar. Karena kalian kan akan pacaran setelah menikah. Sama seperti Oma dan Oma dulu. Tapi bedanya, kita tu tidak tinggal sendiri. Jadinya kita selalu di perhatikan sama Oma Rita. Iya kan Pa..?" Ujar Mama Alira yang membuat Papa Fahri jadi terdiam seketika.

__ADS_1


"Mama apa-apaan sih..? Kenapa juga harus bahas hal itu..?" Sambung Almira setelah menyadari sikap Papanya yang tiba-tiba murung.


"Kalau itu yang kamu mau, Opa akan turuti. Tapi jangan berani-berani kamu menyakiti Shelina..!" Ujar Opa Fahri mengingatkan Alfa.


"Iya Alfa. Kamu jangan mencari alasan untuk tinggal terpisah, karena mau menyakiti Shelina." Kalau sampai itu terjadi, Papa akan sangat marah." Sambung Faris.


"Ris,, Pa,, kalian tu jangan berpikir negatif dulu..! Buat apa juga cucu Oma yang tampan ini mau menyakiti Shelina. Apalagi kalau Shelina sudah menjadi istrinya." Sambung Mama Alira.


"Dia pasti menjadi pelindung wanita sama kaya kamu dan Papa. Iya kan sayang..?" Tanya Mama Alira sambil tersenyum menatap Alfa. Dan Alfa hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Mama Alira.


Di dalam hati Alfa saat itu, hanya ada niat ingin menyakiti Shelina tanpa belas kasihan. Dia benar-benar merasa menjadi korban atas kebohongan Shelina. Dengan lirikan mata penuh kebencian ke arah Shelina, Alfa pun mulai bergumam di dalam hati.


"Awas saja kamu.. Karena kebohongan mu, saya terpaksa harus menyetujui keputusan keluarga saya. Tapi jangan pernah bermimpi untuk hidup bahagia bersama saya. Karena kehidupanmu setelah menikah nanti, akan saya jadikan sebagai neraka dunia. Biar nanti kamu yang akan memohon untuk berpisah.


Alafa berkata-kata di dalam hatinya sambil melirik Shelina yang sudah semakin gugup karena menyadari lirikannya. Dia ingin sekali menolak apa yang sudah di putuskan oleh keluarga Alfa. Namun bibirnya sama sekali tidak sanggup untuk berkata-kata, mengeluarkan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya saat itu.


"Sayang,, kamu bersedia kan untuk menikah dengan Alfa..?" Tanya Mama Alira sambil mengusap-usap kepala Shelina dengan penuh perhatian.


"Sebenarnya aku belum memikirkan itu Oma. Aku juga tidak ingin memaksa Mas Alfa untuk menikahi ku. Karena pernikahan itu bukan hanya untuk sementara." Jawab Shelina tanpa bisa mengangkat mukanya.


"Siapa bilang Alfa terpaksa. Dia menyetujui semuanya bukan karena di paksa. Lagian kita semua setuju kalau Alfa menikah denganmu. Karena kamu adalah wanita yang sangat pantas untuk mendampingi Alfa." Tambah Mama Alira berusaha meyakinkan Shelina, yang terlihat sedikit ragu dengan keputusan mereka.


"Apa kamu tidak suka dengan keluarga kita..? Walaupun kita baru bertemu, tapi Oma sudah menganggap kamu seperti cucu Oma sendiri. Karena kamu gadis yang baik." Ujar Mama Alira yang membuat Alfa langsung menarik nafas panjang sambil berkata-kata di dalam hatinya.

__ADS_1


"Sikap baiknya itu hanyalah sandiwara untuk membodohi kalian semua. Dan penolakannya itu hanyalah sandiwara. Tapi tidak untuk ku. Aku akan membuatnya menyesal karena sudah mau masuk ke dalam keluarga ini."


Alfa yang sudah sangat salah dalam menilai gadis malang itu, tidak bisa untuk melihat sisi baik dari dirinya. Yang ada hanyalah prasangka buruk dan kebencian, karena menganggap Shelina telah berbohong untuk bisa mendapatkan, apa yang dia inginkan dari keluarga Permana.


__ADS_2