
Sore itu jingga di langit terlihat sama di setiap kali dia hadir, untuk membawa mata hari menghilang dan di gantikan kegelapan malam. Namun suasana hati Shelina gadis berparas cantik itu, terasa begitu berbeda dari hari-hari sebelumnya yang dia lalui, dengan penuh ketakutan akan kekejaman Ayah angkatnya. Ketegangan setiap kali ada, di saat pikirannya tertuju oleh sosok tampan yang sangat tidak menginginkan kehadirannya, di dalam rumah mewah itu. Namun Shelina tetap bersyukur karena dia sudah terlepas dari belenggu penderitaan yang selama ini dia rasakan.
Keadaan Shelina terasa sudah lebih baik setelah meminum obat yang di berikan Mamanya Alfa. Kebaikan keluarga itu membuat Shelina benar-benar merasa bingung. Dia tidak menyangka ada orang sekaya itu yang memiliki hati mulia seperti keluarga Permana. Sambil menatap ke setiap sudut dengan tampang kebingungan. Shelina pun bergumam di dalam hatinya.
"Tuhan memang maha adil. Dia akan memberikan kebahagiaan kepada setiap orang baik. Aku sangat bersyukur bisa berada di sini saat ini. Tapi ini hanyalah sementara. Karena sebaik apapun mereka, putra mereka sangat tidak menginginkan ku. Aku tidak ingin membawa masalah di dalam keluarga ini dengan keberadaan ku."
Shelina memang sangat berbeda dengan wanita-wanita di luar sana, yang selalu ingin mengejar kekayaan keluarga Permana. Sampai-sampai mereka pun rela, walau hanya menjadi simpanan, ataupun penghibur semata. Tapi dalam keluarga Permana, sangat di larang untuk berkhianat dalam rumah tangga. Jadi tidak pernah terdengar ada kasus perselingkuhan di dalam keluarga terpandang itu.
"Tok...tok...tok.." Suara ketukan pintu yang mengagetkan Shelina tiba-tiba.
"Nona.. Non Sheli..." Ketukan pintu yang di iringi suara seorang pembantu, yang sudah bekerja selama tiga tahun menggantikan pembantu yang lama di rumah besar itu.
Dengan buru-buru Shelina langsung melangkah membuka pintu kamar yang memang sengaja dia kunci. Dari raut wajahnya, terlihat dia begitu gugup di saat mau bertemu dengan anggota keluarga di dalam rumah mewah itu. Apalagi setelah mengetahui kalau mereka bukanlah orang sembarangan. Tapi di saat melihat senyum ramah dari seorang wanita yang sudah berada di depan pintu, Shelina pun jadi merasa sedikit lega.
"Iya Bi,, Jawab Shelina menggunakan bahasa Inggris, yang membuat wanita di depannya itu jadi bingung.
"Nona di suruh ke bawah." Ujar Bi Tuti dengan harapan Shelina bisa mengerti apa yang dia maksud.
"Ke bawah..?" Tanya Shelina.
"Syukurlah.. Bibi pikir Non Sheli ngga ngerti apa yang Bi Tuti katakan.
"Aku tahu ko Bi. Aku kan asli Indonesia. Walaupun di besarkan di negara luar, tapi aku selalu pelajari bahasa Indonesia." Jelas Shelina.
"Tapi kata anak buahnya Tuan, Non Sheli ngga bisa berbahasa Indonesia." Sambung Bi Tuti sambil tersenyum ramah.
__ADS_1
"Aku hanya berpura-pura saja BI. Soalnya aku takut di ajak bicara banyak sama mereka." Jelas Shelina.
"Tidak usah takut Non! Semua yang ada di dalam keluarga ini sangat baik." Ujar Bi Tuti yang membuat Shelina langsung tersenyum, sambil bergumam di dalam hatinya.
"Aku tahu itu Bi. Mereka semua memang baik. Tapi keberadaan ku yang tidak baik untuk putra mereka. Dia sangat membenciku."
Sebagai orang baru di dalam keluarga kaya raya itu, Shelina hanya bisa mengeluarkan apa yang dia rasakan melewati suara hati yang sama sekali tidak dapat di dengar. Dia juga sadar dengan dirinya yang sangat tidak berhak untuk mengeluh. Dia hanya bisa bersyukur dengan semua yang sudah di lakukan keluarga Permana terhadapnya.
"Nanti aku nyusul Bi. Aku mau siap-siap dulu." Ujar Shelina yang langsung di iyakan Bibi.
"Baik Non. Kalau gitu Bibi duluan ya.." Ujar Bi Tuti dan langsung melangkah pergi.
Sedangkan di ruang keluarga, sudah ada semua anggota keluarga Permana termasuk Alfa. Alfa jadi kebingungan dengan apa yang mau di bicarakan orang tuanya saat itu. Kerena semua terlihat begitu serius.
"Opa,, sebenarnya apa sih yang mau kita bahas?" Tanya Alfa kepada Papa Fahri yang menyuruh mereka semua untuk berkumpul.
"Terus kita tunggu apa? Kalau ada yang mau di bahas, yang langsung di bahas saja!" Tambah Alfa sambil mengotak-atik ponselnya.
"Itu,, orang yang kita tunggu sudah datang. Sini sayang! Duduk di samping Tante." Sambung Aleta yang membuat mata Alfa langsung terbuka lebar saking kagetnya melihat Shelina, yang sedang melangkah menuju mereka.
"Alfa,, Opa menyuruh kalian semua berkumpul di sini, karena Opa ingin membahas pernikahan kamu dengan Shelina." Ujar Papa Fahri yang membuat jantung Alfa seketika memburu dengan begitu kencang.
"Apa... Menikah..? Mengapa saya harus menikah sama dia..? Saya ngga mau.." Alfa berkata-kata tanpa ada keraguan menentang keputusan Papa Fahri.
__ADS_1
"Alfa.. Jangan kurang ajar kamu..! Kamu tidak pantas bertanya seperti itu. Apa kamu lupa yang sudah kamu lakukan sama dia..?" Sambung Aleta dengan tatapan tajam ke arah putranya.
"Ma.. Belum tentu dia wanita itu. Ko kalian bisa percaya begitu saja..?" Ujar Alfa.
"Dia adalah wanita itu Alfa.. Hanya kamu saja yang tidak mau menerima kenyataan." Sambung Faris.
"Alfa.. Kamu mau tunggu apa lagi..? Adik kamu saja sudah menikah. Dan mungkin sebentar lagi adik sepupu kamu Kenzo akan menikah juga." Sambung Mama Alira.
"Alfa,, apa kamu tidak ingin menikah? Fara sudah menikah. Dan benar apa yang di katakan Oma. Mungkin sebentar lagi Kenzo akan menikah kalau dia sudah selesai kuliah di London." Sambung Almira.
"Tapi Tante,, apa kita semua harus menikah dengan cara di jodohkan..? Saya Ingin menikah dengan wanita pilihan saya sendiri." Ujar Alfa sambil melirik Shelina yang hanya terdiam.
"Ini adalah tradisi kita. Mau dan tidak mau Kenzo juga akan Tante jodohkan dengan wanita pilihan Tante." Jawab Almira.
"Iya kan Mas..?" Tanya Almira kepada suaminya yang duduk tepat di sampingnya.
"Iya sayang." Jawab suami Almira yang bernama Denis.
Setelah menikah dengan Denis laki-laki berketurunan Turki, Almira tidak memiliki anak setelah beberapa tahun menikah. Tapi dia dan suaminya tidak pernah menyerah. Dengan berbagai macam cara, akhirnya mereka di karuniai seorang putra dari proses bayi tabung 22 tahun yang silam. Putra mereka itu di beri nama Kenzo, yang saat itu sedang berkuliah di London.
"Pokoknya saya ngga mau menikah sama wanita pembohong ini." Kata-kata Alfa yang membuat Faris langsung menamparnya.
"Plaaaaak...
"Dasar anak kurang ajar... Kalau kamu tidak mau menikahi Shelina,, Papa tidak akan segan-segan menghapus nama kamu dari keluarga ini. Dan kamu tidak akan mendapatkan satu sen pun dari warisanku." Ujar Faris dengan penuh emosi.
__ADS_1
Mendengar kata-kata Papanya, Alfa langsung terdiam sambil meraba pipinya yang baru saja di tampar dengan begitu keras. Dia tidak terima kalau harus di keluarkan dari keluarganya sendiri, hanya karena wanita itu. Tapi dia juga tidak ingin menikahi Shelina yang dia anggap sudah membohongi keluarganya. Tanpa berkata-kata, Alfa segera berdiri kemudian melangkah pergi meninggalkan mereka semua, yang hanya menatapnya tanpa bisa bersuara.