
Shelina yang begitu ketakutan tidak beranjak dari samping Alfa, yang sedang duduk bersandar di sebuah sofa panjang dalam ruang tengah. Namun dia juga tidak ingin mengeluhkan keadaannya terhadap laki-laki beku di sampingnya itu. Melihat ekspresi juga tingkah Shelina yang terlihat aneh. Alfa yang sudah tahu apa yang sedang terjadi dengan wanita cantik itu, langsung menatapnya dan bertanya dengan tampang serius.
"Kamu kenapa seperti itu?" Tanya Alfa.
"Aku ngga apa-apa. Memangnya ada apa?" Tanya Shelina berpura-pura santai.
"Kalau gitu mengapa kamu masih di sini? Apa kamu ngga ingin mandi?" Tanya Alfa dengan tatapan mengintimidasi.
"Terserah aku. Mau mandi mau ngga, apa urusannya sama kamu?" Ketus Shera tanpa melirik ke arah Alfa.
"Hmmm... Terserahlah kamu mau berada di sini sampai kapanpun. Saya mau ke lantai atas untuk beristirahat." Ujar Alfa sambil meraih ponselnya yang ada di sampingnya.
Melihat Alfa yang akan meninggalkannya sendirian, Shelina seketika jadi panik memikirkan apa yang harus dia lakukan. Dan di saat Alfa sudah berdiri hendak melangkah, tanpa berpikir panjang Shelina segera meraih lengannya sambil berujar.
"Mas... Jangan tinggalin aku..! Aku takut sendirian di bawah sini." Pinta Shelina sambil menatap ke sana kemari dengan tampang ketakutan.
__ADS_1
"Lalu mau kamu gimana? Apa kita harus tidur satu kamar?" Tanya Alfa berpura-pura tidak tahu maksud Shelina.
"Iya Mas. Aku ngga bisa tidur sendirian dalam situasi seperti ini." Jawab Shelina sambil menundukkan kepalanya.
"Sebenarnya apa yang kamu takutkan? Di sini tidak ada hal-hal yang menakutkan." Tanya Alfa.
"Aku selalu takut bila mendengar suara petir di tengah malam. Karena waktu kecil, aku pernah di kurung di dalam gudang yang sangat gelap. Dan saat itu hanya suara petir, juga cahaya kilat yang aku dengar dan aku lihat." Jelas Shelina dengan tampang penuh kesedihan mengingat kenangan pahit masa kecilnya.
"Mengapa sampai bisa seperti itu? Kesalahan apa yang kamu lakukan sampai di kurung di dalam gudang?" Tanya Alfa yang mulai merasa penasaran dengan ketakutan Shelina terhadap suara petir juga cahaya kilat.
"Aku terlambat pulang. Semustinya aku sampai rumah sore hari. Tapi hari itu aku pulang sudah sangat malam." Jawab Shelina yang sudah melepas lengan Alfa.
"Hari itu aku ngga punya uang sama sekali, dan aku juga ngga makan sejak pagi. Jadi aku memilih untuk pergi ke sebuah warung dekat sekolah untuk mencuci piring." Jelas Shelina dengan nata yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Buat apa kamu mencuci piring di warung? Dan waktu itu kamu sudah usia berapa tahun?" Tanya Alfa tanpa menatap Shelina.
__ADS_1
"Biar aku mendapatkan uang juga makanan. Karena semua kebutuhanku, aku yang tanggung sendiri. Dan saat itu aku baru berusia 10 tahun." Jawab Shelina yang membuat Alfa langsung menatapnya dengan segera tanpa bersuara.
Melihat ekspresi Shelina yang begitu menyedihkan, Alfa langsung terdiam dengan tatapan penuh haru. Di balik sikap dinginnya, sebenarnya Alfa memiliki segudang kasih sayang terhadap wanita. Semua itu sudah terbukti dari cara dia memperlakukan para wanita di dalam keluarganya.
"Ayo ke kamar!" Ajak Alfa dan langsung melangkah menuju kamar yang tadinya akan di tempati Shelina sendirian.
Tanpa bersuara, Shelina pun melangkah mengikuti Alfa sambil mengusap air mata, yang sudah terbendung di kelopak mata indahnya sejak tadi. Bayangan masa lalu yang penuh dengan penderitaan, membuat Shelina terhanyut dalam kesedihan karena tidak sanggup membayangkannya. Dan Alfa yang menyadari kesedihan Shelina, begitu bingung memikirkan apa yang harus dia lakukan.
"Kamu mau mandi duluan atau aku?" Tanya Alfa mencoba untuk memecahkan kesedihan Shelina saat itu.
"Mas mandi duluan saja! Aku nanti saja." Jawab Shelina yang sudah terduduk di tepi ranjang.
"Kamu saja yang mandi duluan! Saya biar nanti." Ujar Alfa yang sudah duduk di atas sofa yang terdapat di samping jendela kamar.
"Iya Mas." Jawab Shelina dan melangkah menuju kamar mandi tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Apa yang dia rasakan saat itu? Apa dia begitu ketakutan seperti saat ini?" Alfa bertanya-tanya, sambil membayangi apa yang di rasakan Shelina di masa kecilnya.
Di saat Alfa sedang melamun memikirkan apa yang di ceritakan Shelina tadi, tiba-tiba dia langsung di kagetkan dengan suara petir, dan suara teriakan Shelina yang hampir bersamaan. Dengan buru-buru Alfa pun berdiri dari tempat duduknya, dan berlari menuju kamar mandi. Tapi di saat dia hendak mendorong pintu kamar mandi, pintu tiba-tiba terbuka yang membuatnya langsung tersungkur menimpa Shelina, yang belum sempat menutupi tubuhnya dengan sehelai benangpun.