
Selesai menjelaskan semuanya kepada Alfa, Oma Alira langsung memilih untuk pergi tanpa berpamitan kepada Alfa maupun Shelina, yang masih berada di dalam kamar mandi. Setelah sudah rapi, Alfa pun hendak melangkah pergi dari kamar. Tapi seketika dia mematung dengan tatapan tertuju ke pintu kamar mandi, sambil berkata-kata seorang diri.
"Ngapain dia sampai selama ini di dalam? Apa terjadi sesuatu dengannya?" Ujar Alfa sambil melangkah mendekat ke pintu kamar mandi.
"Shelina... Shelina... Ngapain kamu sampai selama itu di dalam?" Tanya Alfa tepat di depan pintu kamar mandi.
"Ada apa sih Mas..?" Tanya Shelina yang tiba-tiba keluar tanpa melirik ke arah Alfa sama sekali.
"Saya mau duluan ke bawah. Hari ini kamu mau ke RS temani Oma kan?" Tanya Alfa tanpa bergeser dari tempatnya berdiri.
"Iya,, aku mau antar Oma ke Dr. Memangnya kenapa?" Tanya Shelina sinis sambil melangkah menuju meja rias.
"Kamu tidak boleh mau kalau di suruh Oma untuk periksa keadaanmu!" Jawab Alfa dan langsung melangkah keluar dari kamar meninggalkan Shelina, yang sudah berada di depan meja rias.
"Hmmm... Tidak ada sama sekali rasa cemas di dalam benak Mas Alfa terhadapku, setelah kejadian semalam. Apa dia pikir aku ini robot?" Shelina bertanya-tanya sendirian karena merasa bingung dengan sikap suaminya.
Selesai sarapan Alfa langsung bergegas ke kantor bersama Opanya. Begitupun dengan Oma Alira dan Shelina yang di antar oleh supir pribadi Oma Alira, menuju RS keluarga Permana. Itulah aktifitas Oma Alira yang harus mengontrol kesehatan setiap minggu, di Dr pribadi keluarganya. Selain mengontrol kesehatan, dia juga berencana untuk memeriksakan keadaan cucu menantunya. Yang tidak lain adalah Shelina.
"Ayo sayang,,!" Seru Oma Alira setelah Shelina keluar dari dalam mobil.
"Ini RS yang biasa Oma datangin?" Tanya Shelina yang belum pernah datang ke RS besar di hadapannya itu.
__ADS_1
"Iya sayang,, ini RS keluarga Permana. Setiap ada anggota keluarga Permana yang mau berurusan dengan Dr, pasti datang ke RS ini." Jelas Oma Alira sambil menggandeng tangan Shelina, memasuki gedung RS.
"Oma harus mengontrol kesehatan Oma. Kalau Opa sudah di antar sama asistennya kemarin. Oma ngga mau ke RS sama Opa. Soalnya Opa itu banyak pertanyaannya kalau mengenai kesehatan Oma. Sampai-sampai dia lupa menanyakan kesehatannya sendiri." Ujar Oma Alira yang membuat Shelina seketika terdiam, sambil berkata-kata di dalam hatinya.
"Bahagia banget Oma bisa menemukan pendamping hidup seperti Opa. Bagi aku,, Opa adalah laki-laki yang sangat sempurna. Selain kaya akan harta, dia juga kaya cinta dan kasih sayang."
Hanya pujian yang bisa Shelina utarakan di dalam hati, mengagumi laki-laki sesempurna Opa Fahri. Dan di lain sisi dia sedikit merasa sedih, karena tidak bisa merasakan apa yang di rasakan Oma Alira. Mungkin sampai akhir hayatnya, dia tidak dapat mengerti arti sebuah perhatian, juga ketulusan cinta dari orang yang sangat dia cintai.
Sampainya di dalam ruangan seorang Dr khusus, Oma Alira langsung di periksa. Setelah hampir setengah jam, Oma Alira yang sudah selesai di periksa segera mendekati Shelina kemudian berujar.
"Sayang,, sekarang kita ke ruangan sebelah!" Ujar Oma Alira sambil menarik tangan Shelina.
"Ada apa sayang?" Tanya Oma Alira yang sedikit bingung dengan ekspresi Shelina.
"Oma,, ngapain kita ke ruangan ini?" Tanya Shelina sambil menatap Oma Alira dari ujung rambut, sampai ujung kaki dengan tatapan yang sangat aneh.
"Ngapain kamu menatap Oma seperti itu sayang? Kita ke ruangan ini bukan untuk kepentingan Oma, tapi untuk kamu." Ujar Oma Alira yang membuat Shelina langsung kaget dan mulai gugup.
"Oma,, aku,, aku ngga apa-apa. Kita langsung pulang saja ya." Jawab Shelina dengan segera.
"Sayang,, kamu tidak perlu merasa malu sama Oma. Oma tahu betul keadaanmu. Jadi kamu tidak perlu ragu untuk memeriksa keadaanmu." Tutur Oma Alira berusaha meyakinkan Shelina yang semakin salah tingkah.
__ADS_1
"Ayo kita masuk!" Seru Oma Alira.
"Oma,, aku benar-benar tidak bisa. Soalnya aku harus buru-buru ke kantor Mas Alfa." Shelina terpaksa berbohong agar bisa pergi dari RS itu.
"Tapi kesehatanmu itu yang lebih utama sayang. Lagian untuk apa juga kamu mau ke kantornya Alfa?" Tanya Oma Alira yang masih tetap pada pendiriannya.
"Mulai hari ini aku bekerja di kantornya Mas Alfa. Jadi aku harus cepat-cepat ke sana setelah menemani Oma." Jawab Shelina yang membuat Oma Alira langsung heboh.
"Jadi hari ini kamu mulai bekerja di kantornya Alfa? Jadi apa kamu di sana nanti?" Tanya Oma Alira penasaran.
"Jadi asisten cadangan." Jawab Shelina tanpa berpikir panjang.
"Baguslah kalau begitu. Ayo kita langsung pergi saja! Tapi kamu benar tidak apa-apa kan?" Tanya Oma Alira yang masih mencemaskan keadaan Shelina.
"Aku baik-baik saja Oma. Oma ngga perlu khawatir! Di sana kan ada Mas Alfa." Jawab Shelina berusaha menyembunyikan rasa perih yang semakin terasa, demi meyakinkan Oma Alira.
"Ya sudah kalau begitu. Omal antar dulu kamu ke kantor Alfa, baru setelah itu Oma pulang ke rumah." Ujar Oma Alira yang akhirnya mengikuti kemauan Shelina.
Perhatian dan kasih sayang Oma Alira, begitu tulus terhadap Shelina yang hanya berstatus sebagai cucu menantunya. Dia tidak pernah membedakan satu dengan yang lainnya. Oma Alira memang orang yang sangat adil di dalam keluarganya. Dan itulah yang membuat dia sangat di sayangi, juga di banggakan oleh semua anggota keluarga Permana. Terutama Opa Fahri yang tidak lain adalah suaminya.
#Baca dulu bab sebelumnya. Karena di bab sebelumnya ada sedikit tambahan.#
__ADS_1