JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 25. Kepanikan Alfa.


__ADS_3

Dengan penuh kekesalan terhadap sikap Alfa yang sangat tidak menginginkan Shelina, Faris melangkah menuju ruang belakang pesawat di temani salah seorang anak buahnya. Faris begitu khawatir dengan keadaan Shelina. Apalagi di saat mendengar jeritan Shelina dengan sangat jelas, setelah berada di bawah ruangan tempat Shelina beristirahat.


"Panggil Alfa ke sini!" Ujar Faris dengan tampang yang terlihat begitu datar.


"Baik Pak." Jawab laki-laki yang sedang berdiri di belakang Faris.


Tidak lama dari situ laki-laki itu kembali bersama Alfa, dengan raut wajah yang tidak kalah datar dari Papanya. Melihat ekspresi Alfa, Faris sejenak terdiam tanpa melepaskan tatapannya, dari wajah tampan putranya yang sungguh sangat dia sayangi itu. Faris yang terdiam seketika, ternyata sedang berpikir kalau harus bisa lebih tenang menghadapi Alfa yang sedang berada di dalam keadaan serba salah.


"Fa,, apa kamu tidak dengar suara rintihannya?" Tanya Faris dengan suara yang terdengar sangat pelan.


"Dengar Pa." Jawab Alfa singkat.


"Terus,, kalau seperti itu menurut kamu dia kenapa?" Tanya Faris lagi.


"Ya mungkin saja dia sakit." Jawab Alfa tanpa menatap Faris.


"Makanya itu Papa ingin kamu melihat keadaannya. Alfa,, kamu juga memiliki adik perempuan yang sangat kamu sayangi. Bahkan kamu rela memberikan semua yang kamu punya kepada adikmu. Coba kamu berpikir jika yang berada di posisi gadis itu sekarang adalah Fara." Ujar Faris yang membuat Alfa langsung bersuara.


"Pa,, jangan Papa berkata seperti itu..! Dia bukan Fara, dan Fara bukan dia. Adik saya adalah wanita baik-baik. Bukan wanita yang bebas seperti dia." Ujar Alfa dengan nada yang terdengar sedikit keras. Karena dia tidak pernah mau mendengar sesuatu yang buruk tentang adik perempuannya yang tidak lain adalah Fara.

__ADS_1


"Wanita bebas seperti apa yang kamu maksud? Wanita yang berada bersama seorang laki-laki di dalam kamar hotel?" Tanya Faris tapi sama sekali tidak di jawab oleh Alfa.


"Berarti Mama kamu juga wanita bebas. Karena dia juga hidup di negara luar. Dan pertemuannya dengan Papa juga di dalam sebuah kamar hotel seperti apa yang kamu dan Shelina alami." Kata-kata Faris yang membuat Alfa semakin tidak terima.


"Pa.. Saya mohon, jangan pernah menyamakan Mama, juga Fara dengan wanita itu! Mengapa Papa begitu percaya, kalau dia adalah wanita yang bersama saya di dalam kamar hotel malam itu..? Dia hanyalah seorang pembohong yang ingin memanfaatkan keadaan." Alfa berkata-kata tanpa menyadari, kalau Shelina sedang mendengarkan semuanya dari balik pintu ruangan, yang ada tepat di atas kepala mereka.


"Kamu boleh pergi Alfa..!" Ujar Faris yang tidak sengaja melihat bayangan di atas kepalanya.


Tanpa menunggu lama, Alfa yang juga telah menyadari bayangan di saat melihat tatapan mata Papanya mengarah ke pintu ruangan itu, segera melangkah pergi tanpa berkata-kata. Setelah Alfa sudah kembali ke depan, Faris ingin sekali melihat keadaan Shelina yang pasti sangat hancur mendengar semua yang di katakan oleh Alfa tentang dirinya. Namun Faris tidak ingin membuat Shelina semakin tertekan dengan kehadirannya. Akhirnya Faris pun memutuskan untuk kembali ke depan menyusul Alfa.


Setelah sudah kembali duduk di tempat duduknya semula, Faris pun mulai termenung memikirkan keputusan yang telah dia ambil untuk Alfa dan Shelina. Seketika rasa bersalah semakin bertambah di dalam benak Faris sebagai orang tua. Ingin sekali dia menebus segala dosa yang telah di lakukan oleh Alfa dengan cara menikahkan mereka. Tapi melihat sikap Alfa yang seperti itu, membuat Faris jadi ragu dengan keputusannya sendiri.


Faris begitu bingung apa yang harus dia lakukan menghadapi masalah yang sedang terjadi. Dan tiba-tiba, dia pun teringat dengan istrinya. Karena menurutnya, hanya Aleta orang yang lebih bijak dalam memutuskan sesuatu. Dan hal itulah yang membuat Faris selalu menanyakan pendapatannya, apabila berada di dalam situasi seperti itu. Sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi pesawat, Faris pun mulai berkata-kata di dalam hatinya.


Tepat pukul 3:30 dini hari, Alfa yang sejak tadi hanya fokus membaca koran, segera menghentikan aktivitas bacanya di saat mendengar apa yang di katakan oleh Aldo, yang baru saja dari toilet.


"Fa,, suara wanita itu semakin bertambah keras. Aku rasa dia sangat kesakitan." Ujar Aldo sambil bergegas duduk di samping Alfa.


Sedangkan Faris juga yang lainnya semua sedang terlelap. Tinggal mereka berdua saja yang masih terjaga. Mendengar perkataan Aldo, Alfa pun mulai khawatir dengan keadaan Shelina. Walaupun dia sangat tidak suka dengan Shelina yang menurutnya telah membohongi Papanya, tapi dia juga tidak tega di saat mengingat adik perempuannya. Tanpa bersuara, Alfa langsung berdiri dan segera melangkah menuju ruang belakang.

__ADS_1


Dengan buru-buru Alfa pun segera membuka pintu ruangan itu dan masuk tanpa bersuara. Mendengar suara pintu yang terbuka, Shelina yang sedang terbaring di atas tempat tidur, segera menghapus air matanya tanpa menatap ke arah belakang. Dalam pikiran Shelina, orang yang membuka pintu tidak lain adalah Faris. Tapi setelah mendengar suara Alfa, dia seketika jadi kaget dan menegang tanpa bergerak, dari dalam selimut yang menutupi tubuhnya.


"Kamu kenapa..?" Tanya Alfa tanpa ekspresi, menatap Shelina yang sedang membelakanginya.


"Aku tidak apa-apa." Jawab Shelina dengan suara yang bergetar karena sedang menahan sakit di bagian perutnya.


"Kalau kamu memang tidak apa-apa? Mengapa kamu sejak tadi menjerit?" Tanya Alfa dengan ekspresi yang terlihat sangat datar.


"Aku.. Aaaaaw... Aduh..." Shelina yang tiba-tiba kesakitan kembali menjerit tepat di depan Alfa.


"Kamu jangan beralasan kalau kamu memang tidak apa-apa. Saya bukan laki-laki yang mudah untuk di bohongi." Alfa berkata-kata dan hendak berbalik ingin segera pergi. Tapi tiba-tiba dia langsung terkejut di saat melihat noda darah, yang ada di selimut yang menutupi tubuh Shelina.


Dengan buru-buru Alfa segera menarik selimut dari tubuh Shelina, yang sudah merintih semakin keras sambil meremas perutnya. Melihat darah yang sudah memenuhi bagian bawah Shelina, mata Alfa langsung terbuka lebar saking terkejutnya.


"Aaaaaw,,, hiks,,,hiks,,,hiks." Shelina yang sudah tidak mampu menahan sakit di perutnya langsung menangis, yang membuat Alfa seketika panik dan serba salah.


"Mengapa kamu berdarah..?" Tanya Alfa yang tidak tahu harus berbuat apa.


"Perutku sakit.. Perutku sakit banget.." Jawab Shelina sambil meronta dan terus meremas parutnya.

__ADS_1


"Tolong ambilkan aku air hangat! Tolong.." Ujar Shelina sambil menatap Alfa dengan berderai air mata.


Tanpa menunggu lama, Alfa yang sudah sangat panik segera bergegas mengambil air hangat yang ada di atas meja, di samping tempat tidur Shelina. Dan setelah itu dia langsung menarik tangan Shelina dan membantunya untuk meminum segelas air yang ada di tangannya.


__ADS_2