
Gemuruh yang bergejolak di dalam hati Shelina, seketika melumpuhkan seluruh syarafnya. Dia terlihat sangat panik mendengar nama yang baru saja di sebutkan oleh Faris. Ingin sekali dia bersembunyi karena tidak sanggup berhadapan langsung, dengan laki-laki yang sudah menghabiskan malam bersamanya, di sebuah kamar hotel tempatnya berada saat itu. Dengan wajah yang terlihat panik bercampur bingung, Shelina mulai berkata-kata di dalam hati mencari jalan keluar untuk menghindar.
"Bagaimana ini? Apakah aku harus bersembunyi? Tapi di mana, dan bagaimana caranya aku bersembunyi dari laki-laki itu? Aku sangat takut, juga malu untuk bertemu dengannya. Dia adalah laki-laki yang telah merenggut kesucian ku, tanpa adanya hubungan di antara kita."
Shelina bertanya-tanya dengan tampang yang terlihat sangat panik. Sebagai seorang wanita yang selalu menjaga harga dirinya, Shelina merasa sangat tidak siap kalau harus bertemu dengan Alfa, dalam situasi yang tiba-tiba seperti itu. Walaupun di antara mereka sudah terjadi sesuatu yang sangat intim, namun mereka berdua hanyalah kedua orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain. Dan hal itulah yang membuat Shelina tidak sanggup untuk bertemu Alfa.
Melihat ekspresi Shelina yang terlihat aneh, sebagai orang tua juga orang yang lebih dewasa, Faris pun seketika mengerti apa yang ada di dalam pikirannya. Dan tanpa menunggu lama, Faris langsung berusaha untuk meyakinkan Shelina, kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Nak,, kamu tidak perlu khawatir. Putraku bukanlah laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Dan apapun yang terjadi, dia harus bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan." Ujar Faris dan Shelina hanya tersenyum tanpa suara, menanggapi apa yang di katakan oleh Faris.
Tidak berapa lama, Alfa pun datang bersama salah seorang anak buah Faris, yang tadi di suruh oleh Faris untuk memanggilnya. Alfa yang sama sekali belum menyadari apa yang terjadi, memasuki kamar sambil memasang beberapa kancing bajunya yang belum sempat terpasang. Tanpa menatap ke arah Faris dan Shelina yang sudah duduk bersebelahan, di sebuah sofa yang ada di dalam kamar itu, Alfa pun langsung bertanya sambil terus merapikan kemejanya.
"Ada apa Pa?" Tanya Alfa sambil terus melangkah mendekat ke arah sofa yang ada di dalam kamar itu.
"Apa seperti itu caramu bertanya kepada orang tua?" Tanya Faris.
"Iya Pa, saya minta maaf." Jawab Alfa sambil mengangkat mukanya menatap ke arah Papanya. Tapi seketika dia pun langsung kaget di saat melihat sesosok wanita, yang sedang duduk bersebelahan dengan Papanya.
__ADS_1
Tatapan Alfa tiba-tiba berubah di saat melihat Shelina, yang sama sekali tidak dia kenali. Berduaan di dalam kamar bersama seorang wanita di pagi hari seperti itu, membuat Alfa jadi berpikir buruk terhadap Papanya. Dan tanpa menunggu lama, dia pun langsung mengeluarkan pernyataan, yang membuat Papanya jadi bingung bercampur kesal.
"Pa,, apa-apaan ini..? Jangan coba-coba mengatakan, kalau Papa mau meminta restu saya atas hubungan Papa bersama wanita ini." Tanya Alfa dengan tatapan yang begitu tajam ke arah Shelina.
"Kamu yang apa-apaan..? Memangnya kamu orang tua Papa? Sampai Papa harus meminta restu mu? Kamu pikir Papa ini laki-laki tukang selingkuh? Papa tidak akan pernah melakukan itu. Karena kalau sampai itu terjadi, Pala akan langsung di bunuh sama Mama kamu." Ujar Faris yang membuat kedua anak buahnya yang sedang berdiri di depan pintu, langsung tertawa tanpa suara.
Terlahir dari keluarga terhormat yang di didik dengan berbagai macam etika, membuat para anggota keluarga Permana selalu menjaga perilaku, juga menjunjung kesetiaan dalam berumah tangga. Tapi kesalahan yang pernah di lakukan oleh Faris beberapa tahun silam, bagaikan kutukan yang sekarang di terima oleh putra semata wayangnya.
"Terus mengapa Papa berduaan sama wanita ini di dalam kamar sepagi ini?" Tanya Alfa yang sudah duduk di samping Papanya.
"Apa kamu tidak kenal siapa wanita ini?" Tanya balik Faris yang membuat Alfa jadi bingung.
"Alfa,, kamu mau kenal dia ataupun tidak. Kamu harus menunjukan tanggung jawab mu sebagai seorang laki-laki." Ujar Faris yang membuat Alfa semakin kebingungan.
"Maksud Papa apa?" Tanya Alfa dengan tatapan penuh ketegangan.
"Dialah wanita yang bersama kamu di kamar malam itu. Kamu sudah sangat dewasa. Jadi Papa tidak perlu untuk berbicara banyak. Tapi Papa ingin ingatkan kamu, kalau Papa tidak pernah mengajarkanmu menjadi laki-laki yang lari dari tanggung jawab." Jelas Faris yang membuat mata Alfa seketika terbuka lebar saking kagetnya.
__ADS_1
"Pa... Apa Papa sadar dengan semua yang Papa katakan..? Belum tentu dia ini wanita yang bersama saya malam itu." Ujar Alfa dengan tatapan yang sangat tajam ke arah Shelina, yang hanya terdiam tanpa ekspresi.
Mendengar kata-kata Alfa barusan, Shelina merasa sangat malu karena tidak di anggap, dan tidak di percaya oleh laki-laki yang telah merenggut mahkotanya yang sangat berharga, sebagai seorang wanita. Melihat ekspresi Shelina yang tiba-tiba murung, Faris pun langsung membentak Alfa, dengan nada suara yang terdengar menggelegar di dalam ruangan kamar itu.
"Alfa... Kamu jangan berkata sembarangan..! Semustinya kamu itu harus minta maaf atas perbuatan yang sudah kamu lakukan.." Suara Faris yang membuat Shelina jadi takut.
"Alfa,, mengapa kamu begitu tega menyakiti hati wanita? Kamu pikir dia tidak tersinggung dengan kata-katamu tadi?" Tanya Faris sambil menatap Alfa dengan tatapan yang terlihat begitu tajam.
"Pa,, saya tidak bermaksud untuk menyakiti hatinya. Tapi saya tidak mau percaya begitu saja dengan pengakuan wanita ini. Kalau ternyata dia berbohong bagaimana..?" Tanya Alfa tanpa menatap Faris juga Shelina yang sudah mulai berkaca-kaca, karena begitu terluka dengan perkataan Alfa yang sangat tajam.
"Alfaaaaa..." Teriak Faris namun Alfa sama sekali tidak bergeming.
"Berhenti berbicara seperti itu..! Kamu jangan buat Papa marah Alfa..! Papa sangat tidak suka melihat perempuan menangis. Kamu tahu itu kan?" Tambah Faris yang sudah berdiri dari tempat duduknya, karena merasa kesal dengan kata-kata Alfa sejak tadi yang begitu menyakiti hati Shelina.
"Kita akan lanjutkan pembicaraan ini setelah tiba di Indonesia. Karena Papa sudah memberitahukan semua masalah ini kepada Mama kamu, juga yang lainnya." Ujar Faris.
"Ayo Nak. Kamu satu mobil sama Om saja ke bandara. Biar kamu lebih aman. Karena Farel tidak akan mungkin membiarkan kamu lolos begitu saja." Faris berkata-kata sambil menatap Shelina yang sudah berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
Kekhawatiran juga keraguan Shelina sebelum bertemu Alfa tadi, ternyata suatu pertanda kalau pertemuan mereka hanya akan menjadi masalah. Dan setelah melihat sikap Alfa yang begitu datar juga dingin terhadapnya, membuat Shelina seketika menjadi ragu untuk mengikuti apa yang di katakan oleh Faris. Kalau Alfa akan bertanggung jawab atas semua yang telah dia lakukan. Namun tidak ada jalan lain untuk Shelina selain mengikuti Faris ke Indonesia. Apalagi dia memang bertujuan ingin ke Indonesia untuk menemui seseorang, yang pernah mengasuhnya di salah satu panti asuhan beberapa tahun silam.