JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 105. Situasi Darurat.


__ADS_3

Keadaan Shelina begitu memprihatinkan karena mengalami pendarahan serius. Seluruh anggota keluarga Permana yang berada di depan ruang UGD, hanya bisa terdiam sambil berdoa untuk keselamatan Shelina, juga janin di dalam kandungannya. Terutama Alfa yang terlihat begitu gelisah, menatap Shelina dari balik kaca pintu ruang UGD.


"Alfa,, sini ikut Mama sebentar!" Ekspresi juga sikap Aleta terlihat begitu aneh.


"Ada apa Ma?" Tanya Alfa dengan tatapan serius setelah berada di sudut ruang UGD.


"Apa maksud semua ini? Mama sangat kecewa sama kamu." Dengan tampang penuh kekecewaan, Aleta menjulurkan tangan memberikan sesuatu kepada Alfa.


"Tolong jelaskan buat Mama!" Seru Aleta dengan tatapan tajam ke arah Alfa.


"Saya juga tidak tahu Ma." Alfa begitu kebingungan melihat gambarnya bersama Melisa juga artikel yang ada di dalam majalah.


"Mama benar-benar yakin. Shelina memilih untuk pergi karena melihat semua ini."


"Alfa.. Ayo cepat ke sini..! Keadaan Shelina semakin memburuk." Teriak Oma Alira yang terlihat panik.


Tanpa menunggu lama, Alfa langsung berlari menuju ruang UGD untuk melihat keadaan Shelina. Dari balik kaca Alfa melihat para Dr juga perawat sedang sibuk menangani Shelina dengan segala macam cara. Tiba-tiba air mata membendung memenuhi kelopak mata Alfa. Hati laki-laki dingin itu terasa begitu sakit menyaksikan situasi istrinya di dalam sana.


'Ya Tuhan,, tolong selamatkan dia. Saya rela bila harus kehilangan calon anak saya. Asalkan saya tidak kehilangan istri saya. Mungkin anak-anak itu bukan rezeki saya. Tapi dia adalah takdir hidup saya.' Pinta Alfa di dalam hati dengan bercucuran air mata.


Jarum jam semakin berputar menandakan waktu telah berlalu. Namun di dalam ruang UGD masih terlihat tegang karena situasi semakin memburuk. Alfa yang sudah tak sanggup melihat keadaan Shelina, seketika berbalik menyandarkan tubuhnya di dinding sambil memejamkan mata menahan kesedihan bercampur rasa takutnya.


"Alfa,, kamu harus kuat. Shelina butuh dukungan darimu. Kamu jangan menangis seperti ini." Oma Alira mengusap-usap punggung Alfa mencoba menenangkannya.

__ADS_1


Air mata yang hampir tidak pernah terlihat menetes membasahi wajah tampan cucunya, terlihat jelas oleh Oma Alira. Wanita paruh baya itu benar-benar yakin akan ketulusan cinta cucunya kepada istrinya. Sebab air mata seorang pria seperti Alfa tidak mudah untuk menetes menurut Oma Alira.


"Pak Alfa." Suara Dr Arnol yang langsung mengagetkan Alfa juga Oma Alira.


"Iya Dok. Bagaimana keadaan istri saya? Tolong selamatkan dia Dok! Saya rela bila harus kehilangan calon anak-anak saya. Tapi saya benar-benar tidak sanggup bila sesuatu yang buruk terjadi pada istri saya." Ujar Alfa panjang lebar dengan tatapan penuh harap.


"Pak Alfa tenang dulu. Semua sudah teratasi. Istri juga calon bayi kembar Pak Alfa dapat di selamatkan." Perkataan Dr Arnol yang membuat Alfa langsung bersimpuh di hadapannya.


"Pak Alfa.. Jangan seperti ini! Ayo bangun!" Dengan tergesa-gesa Dr Arnol berusaha membuat Alfa bangkit dari hadapannya.


"Tidak apa-apa Dok. Saya hanya ingin berterima kasih Dok. Saya benar-benar berhutang budi sama Dr. Saya akan mengingat jasa Dr sampai kapanpun." Alfa berkata-kata dengan berderai air mata.


"Sudahlah Pak. Baru sekali saya melakukan sesuatu untuk keluarga Permana. Tidak sebanding dengan apa yang sudah di berikan keluarga Permana terhadap saya." Ucap Dr Arnol sambil membantu Alfa untuk berdiri.


"Alfa,, mending kamu masuk melihat keadaan Shelina. Dia butuh kamu saat ini. Lakukan yang terbaik untuk dia dan anak-anakmu." Sambung Aleta dengan tatapan serius.


Melihat keadaan Shelina terbaring tak berdaya di atas tempat tidur, membuat Alfa tiba-tiba terdiam sambil mengepalkan kedua tangannya. Alfa benar-benar emosi mengingat berita palsu tentang dia dan Melisa.


Dengan tatapan penuh kasih sayang, Alfa mengusap wajah Shelina tanpa bisa berkata-kata. Matanya kembali basah saat menatap wajah cantik tak berdosa yang terbaring lemas di depannya.


"Mas,, Mas kamu jahat." Suara yang tiba-tiba terucap dari bibir Shelina.


"Sayang,, apa kamu sudah sadar?" Tanya Alfa buru-buru sambil mengusap cairan di sudut matanya.

__ADS_1


"Untuk apa kamu memanggilku dengan sebutan itu? Hatimu bukan untukku." Ucap Shelina dengan terbata-bata.


"Shelina,, apa yang kamu lihat di dalam majalah itu hanyalah fitnah. Sejak pagi aku bersama Papa juga Opa menghadiri rapat penting. Semua itu hanyalah rekayasa seseorang." Alfa berusaha menjelaskan semuanya. Namun Shelina malah bersikap cuek.


"Saya berani bersumpah kalau semua itu hanyalah rekayasa. Saya akan berusaha mencari tahu siapa orang yang sudah melakukan semua itu." Tambah Alfa.


"Tidak perlu. Tidak perlu kamu susah payah mencari tahu siapa orangnya. Dia adalah Melisa." Ujar Shelina tanpa menatap Alfa.


"Apa kamu yakin?" Tanya Alfa memastikan perkataan Shelina barusan.


"Apa kamu mencintaiku?" Tanya balik Shelina yang membuat Alfa seketika jadi bingung.


"Jawab Mas!" Pinta Shelina karena Alfa hanya menatapnya tanpa bersuara.


"Saya sangat mencintaimu. Saya juga begitu takut kehilanganmu. Saya tidak sanggup hidup tanpamu." Jawab Alfa.


"Kalau kamu benar-benar tulus mencintaiku, kamu akan percaya dengan perkataan ku." Ujar Shelina sambil menatap Alfa.


"Saya percaya dengan semua perkataan mu."


"Saya tidak tahu pasti siapa yang sudah membuat artikel tentang dirimu dan wanita itu. Tapi saya tahu siap orang yang telah menabrak aku sampai jadi seperti ini. Dia adalah Melisa." Perkataan Shelina yang membuat kedua bola mata Alfa seketika terbuka lebar saking kagetnya.


"Dari mana kamu tahu kalau dia yang sudah menabrak mu?" Tanya Alfa dengan tatapan serius.

__ADS_1


"Aku sendiri yang melihatnya saat dia hendak pergi meninggalkan tempat kejadian itu."


Tanpa menunggu lama, Alfa segera menghubungi pengacaranya untuk melaporkan kejahatan Melisa kepada pihak kepolisian. Dia begitu geram dengan tindakan Melisa yang benar-benar nekat. Apa yang di lakukan Melisa sungguh di luar batas dan tidak bisa di ampuni oleh Alfa. Dari raut wajahnya, terlihat jelas kemarahan yang sudah menguasai dirinya.


__ADS_2