
Semilir angin di malam itu semakin menambah kesepian yang menyelimuti hati Shelina. Di balik jendela kamar, dia terduduk sambil menatap langit yang di tutupi awan hitam di atas sana, dengan raut wajah yang terlihat begitu sendu. Malam pengantin yang seharusnya dia lalui dengan cinta, malah menjadi sebuah beban yang teramat berat. Kata-kata Alfa saat di saat mengucapkan kabul di hadapan banyak orang, masih terus terngiang-ngiang di dalam ingatannya.
"Apa hanya aku yang mengalami hal seperti ini? Di tinggalkan seorang diri di malam pengantin. Tapi mungkin inilah yang terbaik untuk aku juga Mas Alfa. Karena pernikahan ini memang bukan untuk bersama." Shelina berkata-kata mencoba untuk menguatkan hatinya.
Wanita yang menjadi pengantin di malam pertama akan di perlakukan seperti ratu. Tapi tidak untuk Shelina. Dia di tinggalkan di rumah baru milik Alfa, tanpa ada yang menemani. Hanya kesunyian yang dia rasakan di dalam kamar yang begitu asing baginya.
Setelah selesai acara pernikahan mereka, Alfa langsung meminta izin kepada keluarganya, untuk pindah sore itu juga ke rumah yang baru dia beli beberapa bulan yang lalu. Dan tanpa berujar satu katapun, dia langsung pergi meninggalkan Shelina sendirian, di rumah besar yang tidak kalah mewah dari rumah orang tuanya.
Shelina merasa seperti seorang tahanan, yang hanya terkurung di dalam kamar tanpa ada yang menemaninya. Kesunyian semakin dia rasakan di saat rintik hujan mulai turun membasahi tanah. Dan di saat itu juga kabut mulai memenuhi mata indahnya, menahan kesedihan yang menyelimuti perasaannya.
Sedangkan di luar sana, laki-laki yang sudah mengikatkan janji suci kepada Tuhan yang di saksikan banyak pasang mata, sedang termenung di ruang kerjanya dengan tubuh tersandar di sandaran kursi. Dia begitu bingung untuk menjalani hari-hari barunya sebagai seorang suami. Penyesalan akan kabul yang dia ucapkan, menjadi sebuah beban pikirannya saat itu. Namun semuanya telah terjadi. Dia sudah terikat dalam sebuah pernikahan tanpa adanya cinta. Walaupun semua itu hanya akan menjadi musibah baginya.
"Ma,, Pa,, mengapa kalian tega membuat saya terjebak dalam pernikahan ini? Saya tidak bisa menjadi apa yang kalian mau. Karena di dalam hati saya hanya ada kebencian untuknya.
Tepat pukul 12:30 malam, Alfa melajukan mobilnya menuju rumah di mana tempat dia tinggal sekarang. Dalam perjalanan, dia mengemudikan mobilnya sambil memikirkan apa yang sudah dia persiapkan dia dan Shelina. Tanpa sepengetahuan keluarganya juga Shelina, Alfa sudah menyiapkan sesuatu sebelum pernikahan itu terjadi.
Dari raut wajahnya, terlihat Alfa begitu tidak sabar untuk sampai di rumahnya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi melintasi jalanan yang terlihat sudah sangat sepi. Alfa sudah memutuskan untuk menjalani hidup sebagai seorang suami. Tapi semua itu dia lakukan dengan kesepakatan yang telah dia buat tanpa ada yang tahu.
__ADS_1
Sampainya di rumah, Alfa langsung buru-buru menaiki tangga menuju lantai atas dengan tampang yang sudah seperti tembok. Kebencian Alfa terhadap Shelina, telah menutup mata hatinya sebagai laki-laki yang sangat menyayangi wanita. Kasih sayang Alfa untuk wanita yang ada di dalam keluarganya tidak usah di ragukan lagi. Tapi semua itu tidak ingin dia berikan kepada Shelina wanita tak berdosa yang sudah menjadi istrinya.
"Tok... tok...tok..."
"Buka pintunya...!" Teriak Alfa dari depan pintu kamar yang masih terkunci dari dalam.
"Mas,, kamu sudah pulang..?" Tanya Shelina sambil menatap laki-laki tampan yang sudah berada di depannya.
"Tidak usah banyak bertanya. Saya pulang bukan untuk basa basi denganmu. Saya hanya ingin memberikan ini padamu." Ujar Alfa dan langsung masuk ke dalam kamar tanpa menatap Shelina.
"Apa yang mau Mas berikan?" Tanya Shelina setelah dia dan Alfa sudah berada di samping tempat tidur.
"Ini apa Mas? Apa yang tertulis di dalam kertas ini?" Tanya Shelina bingung.
"Tidak usah bertanya banyak! Baca saja kalau kamu ingin tahu apa yang tertulis di dalamnya. Tapi kamu tidak berhak untuk membantah apa yang sudah aku putuskan." Jawab Alfa dengan tampang yang terlihat sangat datar.
Dengan perlahan, Shelina pun langsung meraih selembar kertas yang sudah di letakkan di atas tempat tidur. Dan di saat dia membaca apa yang tertulis di dalamnya, Shelina langsung berbalik menatap Alfa dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di artikan.
__ADS_1
"Mengapa kamu menatap saya seperti itu? Apa kamu tidak setuju dengan semua isi perjanjian itu?" Tanya Alfa tanpa ekspresi.
"Aku tidak berhak untuk menolaknya Mas. Malah aku setuju dengan semua yang telah tertulis di dalam kertas ini. Tapi ada yang ingin aku tambahkan." Jawab Shelina.
"Apa yang ingin kamu tambahkan. Kalau itu tidak merugikan ku, aku tidak masalah." Tanya Alfa.
"Aku ingin hidup bebas. Aku mau melakukan apa saja tanpa di batasi. Soalnya aku ingin kerja untuk membiayai hidupku sendiri. Biar tidak membebani orang lain." Jawab Shelina.
"Itu lebih baik. Karena aku juga tidak berhak untuk membatasi mu. Pernikahan kita hanya sebatas perjanjian yang tertulis di dalam kertas itu. Dan setelah satu tahun, semua ini harus berakhir dengan alasan apapun." Ujar Alfa sambil menatap Shelina dingin.
"Aku setuju Mas. Itu lebih baik. Karena aku juga tidak ingin terlalu lama berada di dalam hubungan pernikahan ini." Jawab Shelina.
"Baguslah kalau seperti itu. Jadi mulai malam ini, kamu tidur di kamar sebelah dan aku yang di sini." Ujar Alfa.
"Iya Mas." Jawab Shelina dan langsung bergegas untuk menandatangani kertas yang ada di tangannya.
Selesai menandatangani surat perjanjian itu, Shelina langsung menarik kopernya dan melangkah keluar dari kamar meninggalkan Alfa yang sama sekali tidak memperdulikannya. Shelina terlihat biasa-biasa saja setelah menerima apa yang di ajukan Alfa. Dia berusaha untuk tegar walaupun di dalam hatinya menangis, meratapi dirinya yang selalu menjadi bahan permainan.
__ADS_1
Sedangkan Alfa yang selalu berpikiran buruk terhadap Shelina, seketika jadi bingung dengan Shelina, yang ingin bekerja untuk membiayai hidupnya sendiri. Tapi tiba-tiba dia kembali berpikir, kalau semua itu hanyalah sandiwara seorang wanita licik seperti Shelina.
Alfa yang mulai goyah dengan isi pikirannya, yang tidak sejalan dengan apa yang dia saksikan selama ini pada Shelina, jadi kebingungan sendirian di dalam kamarnya. Apalagi di saat mengingat kata-kata Mamanya, yang selalu mengatakan kalau Shelina bukanlah wanita seperti apa yang dia pikirkan. Namun Alfa tidak akan mudah percaya tanpa adanya bukti yang dia inginkan.