JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 42. Terjebak Dalam Pernikahan.


__ADS_3

Shelina menangis meratapi takdir, merasa seakan hidupnya tak berarti lagi. Hanya kesedihan juga kekecewaan, yang menemani malamnya di dalam kamar yang terasa begitu hampa. Dia bagaikan karang yang selalu di terpah deburan ombak setiap harinya. Ingin dia bertahan dengan semua penderitaan itu. Namun jeritan hati yang terluka karena perlakuan Alfa, telah membuatnya menjadi ragu atas apa yang sudah dia putuskan.


"Aku bukan wanita seperti itu. Aku tidak serendah dan sehina itu. Aku sudah tidak sanggup bertahan dengan semua penghinaan ini. Lebih baik aku pergi, dari pada bertahan dengan semua hinaan ini." Shelina berkata-kata dengan bercucuran air mata, sambil mengemasi semua barang-barangnya.


Melihat Shelina yang begitu terluka dengan kata-katanya, Alfa malah merasa bahagia. Dengan tampang penuh kemenangan, dia melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai atas. Sampainya di lantai atas tepat di depan pintu kamar yang di tempati Shelina, Alfa semakin merasa puas, di saat melihat Shelina sedang menarik kopernya menuju pintu.


"Baguslah kalau kamu akan pergi meninggalkan rumah ini. Karena itulah jalan yang terbaik untukmu. Kalau kamu memang masih memiliki harga diri sebagai seorang wanita." Ujar Alfa dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celananya.


"Tanpa menjawab apa-apa, Shelina langsung keluar dari kamar dan melangkah menuju tangga, tanpa memperdulikan Alfa yang sedang menatapnya sambil tersenyum sinis.


Keyakinan Shelina sudah bulat untuk meninggalkan rumah itu. Dia sudah tidak sanggup bertahan dengan rasa sakit yang di sebabkan oleh Alfa. Tapi belum sempat kakinya menuruni tangga, terdengar suara kedua orang tua Alfa, dari lantai bawah menanyakan keberadaannya juga Alfa kepada Bi Tuti.


"Bi,, Shelina dan Alfa masih di kantor?" Tanya Aleta yang terdengar begitu jelas sampai di lantai atas.


"Aku kurang tahu Bu. Soalnya sejak tadi aku berada di kamar." Jawab Bi Tuti.


"Mungkin mereka masih di kantor sayang. Alfa kan lagi sakit." Sambung Faris Papanya Alfa.


Mendengar suara kedua orang tuanya, Alfa yang sudah berbalik dan hendak melangkah menuju kamarnya, langsung buru-buru melangkah ke arah Shelina dengan tampang yang terlihat begitu datar. Alfa yang tidak bisa menghadapi kemarahan kedua orang tuanya, dengan segera menghampiri Shelina sambil berkata.

__ADS_1


"Tunggu...!" Suara Alfa yang seketika menghentikan langkah kaki Shelina, tepat di depan tangga.


"Ada apa lagi..? Apa kamu belum puas menghinaku..? Aku akan pergi karena aku bukan wanita seperti apa yang kamu katakan. Aku bukan wanita murahaaan... Hiks...hiks...hiks.." Suara Shelina yang terdengar begitu keras, dan di iringi suara tangisan memenuhi rumah besar itu.


"Apa-apaan kamu..? Mengapa kamu berteriak seperti itu..? Apa kamu mau orang tua saya mendengar suaramu..?" Tanya Alfa yang sudah berada tepat di depan Shelina.


"Iya,, aku ingin mereka mendengar dan mengetahui apa yang sedang terjadi di antara kita. Karena aku tidak akan pergi tanpa sepengetahuan mereka." Jawaban Shelina yang membuat Alfa semakin kesal terhadapnya.


"Ada apa ini Alfa..?" Tanya Faris yang baru saja menaiki tangga bersama Aleta.


"Shelina,, kamu kenapa sayang..? Mengapa kamu menangis? Dan koper ini mau kamu bawa kemana..?" Tanya Aleta kebingungan melihat keadaan Shelina, yang bercucuran air mata dengan koper di tangannya.


"Dia mau pergi Pa. Dan dia juga tidak ingin menikah dengan saya." Jawab Alfa tanpa berani menatap kedua orang tuanya, yang sudah berdiri di samping Shelina.


"Alfa,, Mama tahu sifat kamu. Kamu tidak akan pernah menatap Mama dan Papa, di saat kamu mengatakan sesuatu yang tidak benar." Sambung Aleta yang membuat Alfa terdiam seribu bahasa.


"Sayang,, sini kita ke kamar kamu! Nanti akan kita bicarakan semuanya. Kamu juga ikut ke kamar Shelina!" Ujar Aleta sambil melirik Alfa, dan melangkah dengan menggandeng tangan Shelina yang masih saja bercucuran air mata.


"Apa yang sebenarnya terjadi Alfa..?" Tanya Faris setelah berada di dalam kamar Shelina.

__ADS_1


"Saya tidak mau menikah dengannya Pa. Saya sama sekali tidak mencintainya." Jawab Alfa sambil menatap kedua orang tuanya.


"Sekarang Papa sudah tidak mau memaksamu untuk menikah dengan Shelina. Semua terserah kamu." Ujar Faris yang membuat Alfa langsung menatapnya, dengan tatapan kaget bercampur lega.


"Jadi Papa tidak akan memaksa saya untuk menikah dengannya..?" Tanya Alfa serius.


"Iya,, tapi kamu harus ingat dengan kata-kata Papa. Kalau kamu tidak mau menikahinya, kamu harus tinggalkan rumah ini sekarang juga. Dan ingat, kamu tidak akan mendapatkan apapun dari semua yang di miliki keluarga ini." Jawaban Faris yang membuat Alfa langsung tertunduk, sambil mencakar-cakar rambutnya sendiri.


"Pa,, Ma,, cinta itu tidak bisa untuk di paksakan. Untuk apa juga aku harus menikah dengannya, kalau kita tidak saling cinta..?." Tanya Alfa.


"Papa tidak mau tahu. Besok kalian sudah harus menikah di rumah ini. Karena Papa sudah merubah semuanya. Tapi kalau kamu tetap tidak mau, kamu harus pergi dari rumah ini sekarang juga." Ujar Faris dengan tatapan tajam ke arah Alfa.


"Tapi Pa,," Suara Alfa yang tertahan karena langsung di potong oleh Mamanya.


"Alfa,, ini keputusan Opa dan Papa. Kalian akan menikah besok di rumah ini. Untuk resepsinya akan di langsungkan di Bandung, setelah selesai acara ijab kabul besok.


"Kalau kamu tidak mau menerima semua itu, kamu harus menerima apa yang sudah menjadi keputusan Papa." Tambah Aleta yang membuat Alfa terdiam seribu bahasa.


"Apa kamu lebih memilih pergi meninggalkan keluargamu, dari pada melaksanakan tanggung jawab mu? Apa kamu tidak kasihan sama Mama?" Pertanyaan Aleta yang membuat Alfa tidak dapat untuk berucap satu katapun.

__ADS_1


Mendengar semua pembicaraan antara Alfa dengan kedua orang tuanya, Shelina yang sama sekali tidak bisa berpikir di saat itu, hanya terdiam dengan air mata yang tidak henti-hentinya menetes membasahi wajahnya. Hatinya begitu menolak pernikahan itu. Tapi pemikirannya yang yang tidak pernah lepas dari bayang-bayang Ayah angkatnya, membuatnya begitu takut untuk mengeluarkan apa yang sedang dia rasakan. Apalagi calon Mama mertuanya yang sudah terlanjur menyayanginya, tidak berhenti meyakinkan dirinya untuk tetap bertahan, dan berjuang demi kehormatannya yang sudah hilang karena perbuatan putranya.


__ADS_2