JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 44. Hancurnya Harapan Shelina.


__ADS_3

Malam telah menurunkan juba yang begitu hitam. Membawa suasana sepi tanpa ada gemerlap bintang juga tanpa cahaya bulan. Shelina terduduk di balik jendela kamar dengan wajah yang terlihat kusam, menahan kesepian yang tak pernah berujung. Penderitaan Shelina bagaikan langit yang tak bertepi. Dia hanya menatap ke arah langit tanpa menyadari butiran kristal, telah berjatuhan membasahi wajahnya. Hanya air mata yang dapat dia teteskan untuk mengurangi sedikit beban dalam dirinya.


"Kemana lagi aku harus mengadu? Apakah aku harus berada di dalam penderitaan ini untuk selamanya? Mengapa aku begitu tersisih oleh kesalahan yang tidak aku lakukan?" Shelina bertanya-tanya pada langit yang luas di atas sana, tanpa mengharapkan jawaban.


Dengan tatapan jauh di atas sana, Shelina tenggelam dalam kesunyian di malam tanpa cahaya. Bebannya semakin terasa berat di saat teringat dengan kata-kata Aleta, wanita yang begitu berarti dalam hidup seorang laki-laki, yang telah menjadi pendamping hidupnya saat itu.


"Shelina,, kamu yang sabar ya sayang..! Jangan pernah ambil hati dengan sikap Alfa! Sebagai seorang wanita, kita harus bisa meraih kebahagiaan kita. Karena kebahagiaan itu bukanlah sebuah hadiah. Tapi sebuah piala yang harus di perjuangkan." Itulah kata-kata Aleta sore tadi, yang saat itu kembali terngiang-ngiang di dalam ingatan Shelina.


Malam itu malam kedua Shelina dan Alfa berada di rumah baru mereka. Selama berada di sana, Alfa tidak pernah terlihat setelah mengantarkan Shelina ke rumah megah itu. Tanpa sepengetahuan Shelina, Alfa memilih untuk menginap di rumah orang tuanya, dan meninggalkan dia sendirian.


Jarum jam terus berputar menandakan waktu sudah berlalu. Namun Shelina masih tetap berada di depan jendela menatap langit hitam di atas sana. Tapi tiba-tiba, petir pun menyambar dengan suara gemuruh yang sangat menyeramkan. Dengan buru-buru, Shelina berdiri dan melangkah menuju tempat tidurnya. Dia bersembunyi di balik selimut karena merasa takut.


Pukul 10:30 malam, Alfa memasuki rumah tanpa menyadari keberadaan kedua orang tuanya di ruang keluarga. Melihat kedatangan Alfa, Faris yang tidak menyadarinya keberadaan putranya semalam di rumah itu, hanya menatapnya dengan tatapan bingung tanpa berujar satu katapun. Melihat tatapan suaminya, Aleta yang mulai khawatir langsung berdiri menghampiri Alfa sambil bertanya.


"Alfa,, ngapain kamu di sini?" Tanya Aleta berpura-pura tidak tahu apa-apa.


"Saya mau nginap di sini Ma." Jawaban Alfa yang membuat Faris menatapnya tajam.

__ADS_1


"Apa..? Kamu mau nginap di sini..? Lalu istrimu di mana..?" Tanya Faris dengan tatapan mengintimidasi.


Mendengar pertanyaan suaminya, Aleta mulai khawatir terjadi apa-apa kalau sampai Alfa jujur dengan apa yang sedang terjadi. Dengan segera, Aleta pun memilih untuk langsung menjawab sebelum Alfa membuka suara.


"Ngga ko Mas,, maksud Alfa, dia akan menginap di sini kalau hujannya tidak berhenti." Jawab Aleta sambil menatap putranya dengan tatapan yang terlihat marah.


"Sederas apapun hujan di luar sana, kamu harus tetap pulang ke rumahmu. Kamu tidak bisa menginap di sini dan meninggalkan Shelina sendirian di sana." Ujar Faris sambil memalingkan wajahnya.


"Ayo Alfa! Mama bantu membereskan pakaian sisa mu yang ada di sini. Biar kamu bisa cepat pulang." Sambung Aleta sambil menarik tangan Alfa menuju lantai atas.


Aleta melangkah menaiki tangga tanpa memperdulikan Alfa, yang sedang mengikutinya dari arah belakang. Aleta yang sangat mengenali sifat suaminya juga putranya, segera mengambil tindakan sebelum terjadi apa-apa.


"Ma,, Saya tu sangat tersiksa berada di dalam situasi ini. Saya tidak bisa tinggal bersama dia dalam satu rumah." Ujar Alfa sambil menatap Mamanya yang juga sedang menatapnya.


"Alfa,, apa kamu pikir dia tidak tersiksa dengan sikapmu ini? Dia adalah orang asing yang datang ke sini karena kamu." Ujar Aleta.


"Tapi saya tidak pernah memintanya untuk datang jauh-jauh dari negaranya. Apalagi datang ke rumah ini karena saya. Mengapa Mama tidak pernah memikirkan perasaan saya?" Jawab Alfa dengan kening yang mulai berkerut.

__ADS_1


"Alfa,, kamu tidak merasakan apa yang dia rasakan saat ini. Mama hanya ingin ingatkan, kalau karma itu ada. Kamu memiliki adik perempuan. Mama hanya ingin kamu pulang, jangan seperti ini Alfa! Karena apa yang kamu lakukan ini, bisa membuat kacau keluarga kita." Ujar Aleta berusaha mengingatkan Alfa.


"Pulanglah ke rumahmu! Sebelum Papamu bertindak." Tambah Aleta.


"Saya akan pulang Ma. Tapi jangan pernah paksakan saya untuk mencintainya, atau bersikap baik padanya." Jawab Alfa dan langsung melangkah pergi.


Dalam perjalanan pulang, Alfa tidak bisa tenang memikirkan masalah yang terjadi di dalam hidupnya. Hatinya telah tertutup dengan prasangka buruk terhadap Shelina. Pengalaman masa lalu bersama seorang wanita pembohong, membuat Alfa sampai tidak bisa melihat sisi baik dari wanita yang telah dia nikahi itu.


Karena tidak bisa membendung kesedihannya, Shelina memilih untuk mencurahkan isi hatinya lewat sebuah buku diary, yang baru saja dia beli siang tadi. Di saat dia merangkai kata-kata dalam kertas putih itu, di saat itu juga gugur air matanya membasahi wajah. Perasaan Shelina kala itu, bagaikan langit di atas sana yang di selimuti awan gelap tanpa ada cahaya.


"*Kemana lagi kaki ini harus melangkah? mencari secercah cahaya yang dapat menerangi kegelapan dalam hidupku. Hatiku begitu lemah menanggung beban hidup ini. Pada siapa lagi aku bersandar, di saat seluruh harapanku telah sirna. Aku bagaikan perahu tanpa tujuan, yang mengarungi samudra dengan terpaan badai tanpa henti.*"


"*Ya Tuhan,, dosa apa yang telah aku lakukan? Sehingga tak pernah ada cinta dan kasih sayang, yang datang menghampiriku. Aku hanyalah wanita lemah tanpa penopang hidup. Tapi aku juga tidak ingin menjadi beban, dan menghancurkan kehidupan orang lain. Aku tidak berharap banyak. Yang aku inginkan hanyalah kehangatan cinta. Karena selama hidupku, aku tidak pernah merasakan apa artinya cinta." Itulah coretan yang di rangkai Shelina mengikuti kata hatinya saat itu.*"


Setelah merasa sedikit lega, Shelina pun langsung menyimpan buku diary itu ke dalam laci meja riasnya, dan segera menghapus air matanya. Kemudian dia mulai menatap ke arah cermin besar yang ada di hadapannya. Wajah yang terlihat begitu kusut, di tatapi Shelina melalui cermin itu sambil bergumam di dalam hatinya.


__ADS_1


"Aku harus bisa menentukan jalan hidupku suatu saat nanti. Aku tidak bisa bertahan selamanya di dalam ikatan pernikahan ini. Semoga waktu cepat berlalu, biar semuanya cepat berakhir setelah satu tahun."


Perlakuan Alfa benar-benar mematahkan harapan Shelina untuk menggapai kebahagiaan di masa depannya, seperti apa yang di katakan oleh Aleta Mamanya Alfa. Dia sudah memutuskan untuk pergi setelah satu tahun berlalu. Karena itulah kesepakatan yang di buat oleh Alfa.


__ADS_2