JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 40. Shelina Akhirnya Tertangkap.


__ADS_3

Hari kemarin esok atau nanti, tetap terasa sama oleh Shelina yang dahaga akan kasih sayang. Cinta yang tak pernah dia rasakan, telah membuatnya menjadi seorang wanita yang kokoh dalam terpaan penderitaan. Dengan keraguan yang menyelimuti hati, Shelina melangkah menuju ruangan Alfa. Dia begitu enggan untuk menemui sosok beku di waktu malam dalam keadaan yang begitu sepi. Namun dia tidak di berikan pilihan untuk keraguannya saat itu.


"Tok...tok...tok.."


Shelina memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan Alfa. Dari raut wajahnya, terlihat betapa dia begitu gugup, karena akan berhadapan dengan seseorang yang sangat tidak menyukainya. Namun keadaan yang mendesak selalu mendorongnya untuk melakukan apa yang tidak mau dia lakukan.


"Masuk..!" Suara Alfa yang terdengar sedikit bergetar namun tetap datar.


"Apa yang kamu bawa?" Tanya Alfa yang sedang terbaring lemas, setelah melihat ada sesuatu di tangan Shelina.


"Ini bubur Mas. Tadi aku beli di samping jalan." Jawab Shelina.


"Kamu pikir Saya seperti kamu..? Yang biasa makan makanan tidak sehat seperti itu." Perkataan Alfa yang sangat menyinggung perasaan Shelina.


"Mas,, ini juga makannya sehat ko. Ini kan bubur ayam." Ujar Shelina sambil melangkah maju mendekati tempat tidur Alfa.


Ruang kerja Alfa begitu sangat luas. Dan di saat dia menginap di kantor, dia selalu merubah ruang kerjanya itu seperti kamar. Sofa besar yang ada di ruangan tersebut, di jadikan kasur tempat tidurnya.


"Saya tidak mau makan makanan yang kamu bawa. Saya tidak mau mati keracunan dengan makanan jorok seperti itu." Ujar Alfa sambil memalingkan wajahnya.


"Tapi Mas kan lagi sakit. Mas tu harus makan." Ujar Shelina yang sudah berdiri tepat di samping tempat tidur Alfa.


"Saya tidak suka makan bubur. Cari saja makanan yang lain yang lebih sehat dan bersih." Jawab Alfa tanpa menatap Shelina.

__ADS_1


"Ya sudah Mas. Kalau gitu aku keluar sebentar untuk mencari makanan yang lain." Ujar Shelina dan Alfa sama sekali tidak menjawabnya.


Dengan tampang kebingungan, Shelina kembali pergi meninggalkan kantor Alfa untuk mencari makanan. Selain bingung, dia juga sangat takut menyusuri jalan di malam hari seorang diri. Apalagi dia tidak tahu arah jalanan yang sedang dia lalui. Namun apapun yang terjadi, dia tidak bisa untuk kembali sebelum mendapatkan apa yang dia cari.


"Ya Tuhan,, tolong lindungi aku." Shelina berkata-kata sambil terus melangkah dengan raut wajah penuh ketakutan.


Hampir setengah jam Shelina berada di luar sana seorang diri. Namun itu sama sekali tidak membuat Alfa khawatir akan keselamatan wanita yang akan dia nikahi itu. Dia malah terlihat begitu nyaman berada di dalam selimut yang sedang menutupi sekujur tubuhnya. Tapi tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk.


("Halo Ma.." Alfa bersuara setelah telponnya tersambung.)


("Shelina sudah ada di situ kan?" Tanya Aleta dari balik telpon.)


("Dia lagi keluar cari makanan buat saya Ma." Jawab Alfa yang membuat Aleta langsung kaget.)


("Dia sendirian. Lagian di sini ngga ada orang yang bisa menemaninya." Jawab Alfa santai.)


("Astaga Alfa... Ko kamu biarin dia pergi sendiri sih..? Ini sudah malam Alfa. Dan dia juga pasti ngga tahu jalan." Ujar Aleta dengan nada suara yang terdengar sedikit keras.)


("Sebentar lagi dia sudah pasti kembali Ma." Jawab Alfa.)


("Kalau dia ngga kembali bagaimana? Dan kalau sampai dia kenapa-kenapa di luar bagaimana..?" Pertanyaan Aleta yang membuat Alfa pusing sendiri.)


("Ma,, ngga usah terlalu berlebihan seperti itu..! Dia tu bukan anak kecil lagi. Dia pasti kembali." Jawab Alfa yang membuat Aleta semakin menaikan suaranya.)

__ADS_1


("Alfa... Apa kamu sudah gila berbicara seperti itu..? Dia itu seorang wanita. Laki-laki mana yang tidak tertarik melihat wanita secantik dia? Di malam hari seperti ini, pasti ada banyak preman yang berkeliaran di luar sana. Pokoknya Mama ngga mau tahu. Kamu harus mencarinya sekarang juga!" Kata-kata Aleta yang sama sekali tidak bisa di bantah oleh Alfa.)


Tanpa membalas perkataan Mamanya, Alfa langsung memutuskan sambungan teleponnya dan bangkit dari atas tempat tidur, dengan raut wajah terlihat begitu datar. Alfa seketika jadi merasa kesal dengan Shelina yang membuatnya harus keluar dengan keadaan seperti itu. Kalau bukan karena perintah Mamanya, Alfa ingin sekali membiarkan Shelina celaka di luar sana. Biar dia tidak lagi menjadi pengganggu dalam hidupnya.


"Bikin repot saja. Kalau bukan karena perintah Mama, gue sudah biarkan dia celaka di luar sana. Biar dia tidak kembali untuk mengganggu kehidupan gue." Alfa berkata-kata sendirian sambil melangkah keluar dari dalam ruang kerjanya.


Keadaan Alfa yang kurang sehat, membuat dia sangat kedinginan keluar di malam hari seperti itu. Apalagi cuaca di malam itu terlihat sangat buruk. Awan hitam yang sudah menutupi langit di atas sana, menandakan kalau sebentar lagi akan turun hujan. Dan baru beberapa meter Alfa meninggalkan kantornya, tetesan hujan pun mulai turun membasahi jalanan.


"Di mana gue harus mencari wanita sialan itu? Bikin pusing saja wanita itu. Mengapa juga dia harus ada di dalam kehidupan gue?" Gerutu Alfa sambil terus melanjutkan mobilnya.


Shelina yang sudah berkeliling dengan tampang yang terlihat sangat ketakutan, belum juga menemukan apa yang dia cari sejak tadi. Dan di saat dia ingin kembali ke kantor Alfa, dia langsung di hadang oleh dua orang laki-laki berpakaian serba hitam.


"Akhirnya kita bisa juga menemukanmu." Ujar salah seorang laki-laki yang menghadangnya, sambil menatap Shelina dari ujung rambut sampai ujung kaki, dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Mau apa kalian..? Jangan ganggu aku, kalau tidak aku akan teriak.." Shelina berkata-kata sambil melangkah mundur dengan tampang yang terlihat sangat panik.


"Tidak perlu kamu tahu siapa kita. Yang pastinya kita di tugaskan untuk menangkapmu." Jawab Salah satu laki-laki yang ada di depan Shelina.


Mendengar jawaban laki-laki itu, Shelina semakin panik di saat pikirannya tiba-tiba tertuju pada Ayah angkatnya, yang tidak lain adalah Farel. Sambil menatap ke sekelilingnya, Shelina terus melangkah mundur dan buru-buru ingin melarikan diri. Tapi dengan cepat kedua laki-laki itu segera mengejarnya. Baru beberapa langkah Shelina melarikan diri, kedua laki-laki itu dengan gerakan cepat langsung menghadangnya.


"Kamu tidak akan bisa kabur dari kita. Tidak akan ada yang bisa membantumu untuk lolos. Jadi lebih baik kamu menyerahkan diri sebelum kita bertindak kasar." Ujar salah seorang laki-laki di hadapannya.


Keadaan saat itu sangat membuat Shelina panik. Wajah yang tiba-tiba berubah pucat, menandakan betapa Shelina begitu takut akan keselamatannya. Namun dia tidak dapat melakukan apapun untuk melindungi dirinya sendiri, dari kedua laki-laki yang sudah siap untuk menangkapnya.

__ADS_1


__ADS_2