JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 98. Satu-satunya Pria.


__ADS_3

Keinginan Alfa yang semakin memuncak, seketika redup saat mendengar jeritan Shelina kala jarinya menyentuh bagian yang terluka. Dengan tampang kecewa bercampur kasihan, Alfa segera bangkit dari hadapan Shelina dan duduk tepat di sampingnya.


"Istirahatlah! Pulang dari sini kita langsung ke Dr." Ujar Alfa sambil mengusap kepala Shelina.


Perlakuan hangat yang tidak biasa di lakukan Alfa. Membuat Shelina terpaku dengan tatapan tidak percaya. Semua kata-kata yang baru saja terlontar dari mulut Alfa, membuat Shelina benar-benar kaget. Sebab seorang Alfa Permana tidak pernah selembut itu.


"Mengapa kamu menatap saya seperti itu? Apa kamu marah karena saya menghentikan semuanya?" Tanya Alfa yang membuat wajah Shelina seketika memerah saking malunya.


"Apa-apaan sih Mas? Aku tu malah bersyukur. Yang merasakan sakit kan cuman aku." Jawab Shelina tanpa berani menatap wajah Alfa.


"Selain sakit apa yang kamu rasakan?" Tanya Alfa yang membuat Shelina semakin bingung.


"Kamu kenapa sih Mas? Kamu ko aneh?"


"Saya cuman bercanda,, ayo bersiap-siap biar kita langsung ke Dr." Ucap Alfa.


Tanpa menunggu lama, Alfa dan Shelina langsung meninggalkan kantor menuju tempat praktek seorang Dr. Dalam perjalanan Shelina terlihat mulai gelisah. Namun dia sama sekali tidak bersuara. Begitupun dengan Alfa yang sejak tadi hanya fokus mengemudi.


Shelina memang memiliki jenis kulit yang sangat sensitif. Hal itulah yang membuat dia sering terluka. Apalagi selama hidupnya, hanya Alfa seorang laki-laki yang pernah menyentuhnya. Dan Sebagai laki-laki Alfa bisa di katakan laki-laki ideal dengan kesempurnaan fisik luar dan dalam.


"Mas,, ini rumah siapa?" Tanya Shelina setelah mobil mereka parkir di depan sebuah rumah.


"Ini rumah seorang Dr kulit. Dia kakak sahabat saya yang saat ini sudah bekerja di Singapura." Jawab Alfa.


Sampainya di depan pintu rumah yang mereka tuju. Alfa segera menekan tombol yang ada di samping pintu. Setelah beberapa kali bel rumah itu berbunyi, keluar seorang wanita berusia kira-kira 39 tahun menyambut mereka dengan begitu ramah. Saat melihat keberadaan Alfa.


"Eeee Alfa... Apa kabar kamu?" Tanya wanita yang sudah berada di depan mereka sambil menyalami tangan Alfa.


"Kabar saya baik Dok. Kabar Dr bagaimana?" Tanya Alfa membalas salam Dr itu.


"Saya baik-baik saja. Beberapa hari yang lalu Angga menelpon saya, dan menanyakan kabar kamu." Jawab Dr itu.


"Ayo masuk dulu!" Ajak wanita itu dengan sangat ramah.


Shelina yang belum sempat berkenalan dengan wanita di hadapannya hanya terdiam sambil mengikuti Alfa masuk ke dalam rumah. Sampingnya di sebuah ruangan, Alfa dengan spontan langsung memeluk Shelina saat kakinya kesandung karpet lantai.

__ADS_1


"Hati-hati kamu kalau jalan." Ujar Alfa tanpa melepaskan tangannya dari pundak Shelina.


"Ngomong-ngomong tujuan kamu ke sini untuk apa? Terus wanita cantik ini siapa?" Tanya wanita yang duduk tepat di hadapan Shelina.


"Shelina,, ini Dr Dinda kakak dari sahabat aku." Ujar Alfa memperkenalkan Dr Dinda kepada Shelina.


"Saya Shelina Dok." Ucap Shelina sambil menjulurkan tangan ke arah Dr Dinda.


"Saya Dinda. Kakak dari sahabat Alfa."


"Dia saudara kamu ya Fa?" Tanya Dr Dinda.


"Dia ini istri saya Dok." Jawab Alfa yang membuat raut wajah Dr Dinda langsung berubah seketika.


Melihat ekspresi wajah Dr Dinda, Shelina merasa ada sesuatu yang aneh. Tapi dia sama sekali tidak berpikir macam-macam. Sebab usia Dr Dinda yang lebih di atas Alfa. Juga dia sudah punya seorang suami dan dua orang anak. Jadi tidak mungkin Dr Dinda punya rasa terhadap Alfa.


"Saya ke sini untuk menemani istri saya." Ujar Alfa memulai pembicaraan maksud kedatangan mereka.


"Mau periksa apa Fa? Kalau kandungan aku ngga bisa. Aku kan Dr kulit." Tanya Dr Dinda.


"Ya sudah kalau gitu. Mana yang mau di periksa?" Tanya Dr Dinda.


"Kayaknya ngga bisa di sini Dok." Jawab Shelina malu-malu.


"Ya sudah. Kalau begitu kita langsung ke dalam saja. Biar Alfa di sini dulu."


Sampainya di dalam sebuah ruangan yang di lengkapi perlengkapan Dr Dinda. Shelina kembali merasa malu menanggapi pertanyaan Dr Dinda.


"Mana yang mau di periksa Mba? Sini biar saya lihat."


"Aaa,, itu Dok. Pangkal paha saya." Jawab Shelina sambil menatap Dr Dinda.


"Ooo,, kalau gitu Mba harus berbaring di sini." Ucap Dr Dinda sambil mendekati sebuah tempat tidur berukuran satu badan.


Setelah Shelina berbaring, Dr Dinda segera melaksanakan tugasnya. Awalnya Dr Dinda berpikir mungkin itu hanya keluhan biasa seperti wanita pada umumnya. Yang sering merasakan perih karena gesekan celana juga lembab di bagian samping kiri dan kanan. Tapi di saat melihat apa yang terjadi, Dr Dinda langsung menggelengkan kepala sambil tersenyum namun tidak bersuara sedikitpun.

__ADS_1


"Ini obat yang harus di minum. juga salep untuk mengobati lukanya." Ujar Dr Dinda setelah selesai periksa.


Setelah menerima obat yang di berikan Dr Dinda, Shelina langsung melangkah menuju ruang depan menghampiri Alfa.


"Apa yang di katakan Dr Dinda?" Tanya Alfa di saat Shelina belum sempat duduk.


"Dia ngga bilang apa-apa. Hanya ini yang dia berikan." Jawab Shelina sambil menunjuk obat juga salep pemberian Dr Dinda.


"Berapa Dok?" Tanya Alfa saat Dr Dinda sudah bergabung bersama dia dan Shelina di ruang depan.


"Ngga usah di bayar. Tapi ada yang ingin saya sampaikan Fa. Apa boleh saya sampaikan hal ini?" Ucap Dr Dinda.


"Silahkan Dok!" Jawab Alfa dengan tatapan serius.


"Begini Fa. Kalau bisa saya saranin. Sebaiknya kamu jangan dulu berhubungan dengan istrimu ini. Soalnya itu akan sangat menyakitkan untuk dia. Sebab kulitnya tidak seperti kebanyakan wanita. Jenis kulit istri kamu sangat sensitif." Jelas Dr Dinda yang membuat Alfa benar-benar malu atas perbuatannya.


"Iya Dok. Kalau begitu kita pulang dulu." Ucap Alfa dan langsung menyalami tangan Dr Dinda, di susul Shelina. Dan setelah itu mereka segera pergi meninggalkan rumah Dr Dinda.


Dalam perjalanan pulang, Shelina tidak henti-hentinya melirik ke arah Alfa sambil tersenyum. Sebab raut wajah Alfa benar-benar berbeda setelah mendengar apa yang di sampaikan oleh Dr Dinda tadi.


"Kamu kenapa senyum-senyum seperti itu?" Tanya Alfa dengan wajah yang masih memerah.


"Semestinya aku yang tanya kamu kenapa?" Tanya balik Shelina.


"Saya tidak apa-apa. Saya cuman sedikit kesal saja sama Dr Dinda. Kenapa juga dia harus bahas masalah itu dengan saya? Dia kan bisa mengatakan semua sama kamu." Jawab Alfa dengan tatapan lurus ke depan.


"Memang apa salahnya? Kan di sana hanya ada aku dan Dr Dinda." Tanya Shelina sambil melirik suaminya.


"Hmmmm... Sudahlah,, lagian semuanya sudah terlanjur. Kita tidak usah ke sana lagi. Dan jujur saya tu benar-benar bingung dengan punya kamu. Kenapa bisa jadi seperti itu?"


"Mana aku tahu.. Aku saja bingung. Tapi setiap kali melakukan pasti seperti ini." Jawab Shelina.


"Memangnya kamu pernah melakukan sama siapa?" Tanya Alfa dengan tatapan tajam ke arah Shelina.


"Sama siapa lagi kalau bukan kamu? Sejak pertama sampai saat ini. Hanya kamu satu-satunya laki-laki yang mengobrak-abrik aset pribadiku." Jawab Shelina.

__ADS_1


Mendengar jawaban Shelina. Alfa seketika terdiam sambil mengembangkan senyum di wajah tampannya. Sebagai seorang suami, dia sangat bersyukur memiliki istri seperti Shelina. Walaupun pertemuan mereka berdua berawal dari sebuah jebakan. Karena Shelina bukan seperti kebanyakan wanita, yang sudah menjadi bekas laki-laki lain saat menikah.


__ADS_2