
Berada di dalam kamar seharian tanpa bisa melakukan apa-apa, membuat Shelina yang sudah biasa beraktivitas semakin merasa jenuh. Selesai mandi Shelina pun memilih untuk pergi ke taman yang ada di depan rumah, menatap jingga di langit senja yang terlihat begitu indah namun membawa suasana sepi. Di sebuah kursi yang di kelilingi bunga-bunga, Shelina hanya terdiam dengan raut wajah yang begitu lesu dan tidak bersemangat.
Hubungan yang telah terjalin dalam pernikahan semu di antara mereka berdua, telah menyiksa batin wanita cantik itu. Shelina merasa hanya di jadikan pelampiasan sesaat oleh Alfa yang tidak pernah bersikap manis padanya. Harga dirinya yang sudah di renggut oleh laki-laki kaku itu, telah menjadi satu kegagalan besar yang membuatnya tidak berdaya, dalam mengambil sebuah keputusan.
Dari teras rumah, Bi Tuti yang sedang menemani saudaranya yang baru saja datang siang tadi untuk bekerja di rumah Alfa, tidak sengaja melihat Shelina yang sedang termenung di kursi taman seorang diri.
"Mba,, apa setiap pagi dan sore semua tanaman ini harus di siram?" Tanya Bi Rasti saudara Bi Tuti.
"Tidak Ras,, kalau pagi sudah di siram, sorenya ngga usah." Jawab Bi Tuti tanpa melepaskan pandangannya dari arah Shelina.
"Mba,, ngapain Non Sheli di taman sendirian? Bukannya dia lagi ngga sehat?" Tanya Bi Rasti yang kebetulan sudah berkenalan dengan Shelina.
"Ngga tahu juga. Mungkin Non Sheli merasa jenuh berada seharian di kamar." Jawab Bi Tuti.
"Mba,, jujur saja Mba. Selama ini aku baru pernah melihat wanita secantik itu. Aku jadi penasaran sama suaminya." Ujar Bi Rasti yang belum melihat sosok Alfa.
"Mereka berdua serasi banget. Cucu pertama keluarga Permana sangatlah tampan. Dan dia adalah suami Non Shelina. Tapi dia tu terlalu dingin. Dia tidak suka banyak bicara." Jelas Bi Tuti.
"Aku jadi takut mendengar cerita Mba barusan. Pantas saja istrinya selalu termenung. Mana ada wanita yang akan bahagia hidup dengan laki-laki seperti itu. Apalagi Non Sheli hanyalah wanita biasa. Bukan wanita yang berasal dari keluarga konglomerat seperti suaminya." Ujar Bi Rasti yang sama sekali belum tahu sikap majikannya.
"Hmmmm,, sebenarnya Den Alfa itu orang baik. Dia suka membantu orang lain. Tapi sikapnya itu yang selalu membuat orang berpikir buruk terhadapnya." Jelas Bi Tuti.
Di saat Bi Tuti dan Bi Rasti sedang berbincang-bincang sambil menatap ke arah Shelina, tiba-tiba mereka di kagetkan dengan kedatangan sebuah mobil mewah, yang tidak lain adalah mobil Alfa memasuki pekarangan rumah. Melihat sosok tampan yang keluar dari dalam mobil, Bi Rasti langsung melotot tanpa bisa berkata-kata.
__ADS_1
"Kamu kenapa Ras? Mengapa ekspresi mu seperti itu?" Tanya Bi Tuti sambil tersenyum menatap Bi Rasti.
"Siapa itu Mba?" Tanya Bi Rasti tanpa melepaskan tatapannya dari arah laki-laki, yang ketampanannya tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata. Sedang melangkah mendekat ke arah Shelina.
"Itu dia suaminya Non Sheli. Cucu pertama dalam keluarga besar Permana." Jawab Bi Tuti.
Melihat Shelina yang duduk sendirian di kursi taman dengan wajah yang masih terlihat lesu, Alfa pun segera menghampirinya setelah memarkirkan mobilnya. Tatapan Alfa ke arah Shelina sama sekali tidak bisa di artikan. Raut wajah yang selalu datar semakin membuatnya terlihat menakutkan. Terutama bagi orang baru seperti Bi Rasti.
"Ngapain kamu berada di sini sendirian?" Suara tanya Alfa yang membuat Shelina langsung kaget dan berbalik menatapnya.
"Sedang apa kamu di sini?" Tanya Alfa lagi dengan tampang datarnya.
"Aku bosan berada di kamar tanpa bisa berbuat apa-apa. Aku ingin beraktivitas seperti biasanya." Jawab Shelina dan segera membuang muka dari Alfa.
"Apa... Kerja di kantor kamu..? Mau kerja apa aku di sana? Jurusan aku bukan di kantor." Tanya Shelina dengan tampang kebingungan.
"Terserah kamu mau kerja apa? Tapi kalau kamu memang ingin beraktivitas dan bisa mendapatkan hasil dari hasil kerja kamu sendiri, kamu harus bekerja di kantor saya." Ujar Alfa yang sudah berdiri tepat di depan Shelina.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan aku sebelumnya? Aku kan belum memundurkan diri." Tanya Shelina.
"Semua sudah di bereskan sama asisten saya. Kamu sudah resmi keluar dari kafe itu. Jadi sekarang kamu sudah tidak punya urusan lagi dengan mereka." Jawab Alfa dan langsung melangkah kembali ke mobilnya karena ada sesuatu yang dia lupakan di dalam mobil.
Melihat sikap Alfa yang terlalu cuek dan tidak ada perhatiannya, Bi Rasti sebagai sesama wanita jadi merasa kasihan terhadap Shelina. Dia melangkah memasuki dapur sambil memikirkan Shelina. Sedangkan Bi Tuti yang sudah berdiri menghadap kulkas hendak mengambil bahan makanan, yang akan dia masak untuk nanti malam terlihat biasa-biasa saja. Bi Tuti hanya bisa tersenyum melihat ekspresi Bi Rasti, yang terlihat seperti korban pengkhianatan laki-laki.
__ADS_1
"Kamu kenapa Ras?" Tanya Bi Tuti yang sudah selesai mengambil bahan makanan dari dalam kulkas.
"Aku kasihan banget sama Non Shelina. Cantik-cantik tapi di cuekin sama suami sendiri." Jawab Bi Rasti.
"Sudahlah,,! Itu urusan mereka. Jangan langsung menilai seseorang dari caranya bersikap. Kita kan ngga tahu hubungan mereka saat hanya berdua di dalam kamar." Ujar Bi Tuti yang sudah sangat mengenal sikap Alfa.
Bi Rasti yang tadinya bingung melihat sikap Alfa, seketika jadi penasaran saat mendengar perkataan Bi Tuti yang sudah sangat lama bekerja di kediaman keluarga Permana. Namun di saat dia ingin bertanya lebih jelas tentang kedua majikannya, tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk.
"Siapa Ras?" Tanya Bi Tuti saat Bi Rasti menatap layar ponselnya.
"Nia Mba. Ngapain dia meneleponku? Bukannya dia lagi di Singapura?" Ujar Bi Rasti.
"Coba angkat dulu! Siapa tahu penting." Seru Bi Tuti.
("Halo Nia,, ada apa sayang?" Tanya Bi Rasti setelah telponnya tersambung.)
("Ras,, kamu di Jakarta kan,,? Ibu aku yang bilang kalau kamu sekarang bekerja di Jakarta. Di keluarga Permana." Tanya Nia sahabat Rasti di kampung yang baru saja tiba dari Singapura.)
Selesai mengobrol dengan Nia, Bi Rasti yang kira-kira berusia 30 tahun jadi bingung harus bagaimana. Melihat sikap adik sepupunya yang tiba-tiba aneh, Bi Tuti yang sudah cukup dewasa untuk memahami situasi, memilih untuk segera bertanya.
"Ada apa Ras? Kamu ko tiba-tiba jadi aneh? Apa yang di katakan sama Nia?" Tanya Bi Tuti.
"Gini Mba,, Nia kan baru saja tiba dari Singapura. Dan karena dia tahu dari Ibunya aku ada di Jakarta, dia minta tolong buat nginap satu malam. Bisa ngga Mba?" Tanya Bi Rasti.
__ADS_1
"Ya bisa dong Ras,, kenapa ngga bisa? Jangankan semalam, satu minggu juga pasti bisa. Aku kan sudah bilang sama kamu Ras. Anggota keluarga Permana ini semuanya orang baik. Hanya sikap mereka saja yang terlihat menyeramkan. Tapi sikap seperti itu hanya di miliki para laki-laki saja. Kalau yang perempuan ramah-ramah ko." Jawab Bi Tuti yang membuat Bi Rasti langsung tersenyum bahagia.