JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 76. Laki-laki Tak Punya Hati.


__ADS_3

Alfa yang begitu marah karena merasa tidak di hargai sebagai seorang suami, sedang menunggu kedatangan Shelina di balkon kamar hotel yang dia tempati bersama Shelina. Dia tidak bisa terima dengan kecerobohan Shelina, yang meninggalkan hotel tanpa berpamitan walau hanya melewati telpon. Karena Shelina belum juga datang, Alfa akhirnya memutuskan untuk keluar mencarinya. Tapi baru beberapa langkah dari depan pintu kamar, dia pun berpapasan dengan Pak Edo.


"Pak Alfa.. Ada apa? Apa ada masalah?" Tanya Pak Edo salah seorang pengusaha muda.


"Ngga ada apa-apa ko. Saya hanya ingin keluar melihat istri saya." Jawab Alfa.


"Memangnya istri Bapak di mana? Apa sudah di hubungi?" Tanya Pak Edo.


"Sudah ko sudah. Dia tadi keluar menemui temannya." Jawab Alfa dengan tampang khasnya.


"Mending kita duduk dulu Pak! Biar saya temani menunggu kedatangan istri Bapak." Ujar Edo dan mereka pun langsung mencari tempat duduk.


Di saat Alfa sedang mengobrol dengan Edo, tiba-tiba muncul Shelina dari arah tangga. Melihat kedatangan Shelina, Alfa sudah tidak berkonsentrasi dengan Edo yang juga sedang menatap ke arah Shelina. Shelina yang langsung mendapat tatapan dua orang laki-laki di depannya, berusaha berekspresi santai walau dia begitu gugup.



"Siapa wanita cantik itu?" Tanya Edo yang belum sempat bertemu Shelina.


"Dia istri saya." Jawab Alfa tanpa melepaskan pandangannya dari arah Shelina.



"Pantas saja Pak Alfa terlihat khawatir. Istri secantik ini memang tidak boleh di biarkan keluar sendiri. Bisa-bisa di culik sama orang." Ujar Edo yang membuat Alfa semakin membeku seperti es balok.


"Pak Alfa,, apa saya boleh kenalan dengan istri Bapak? Mungkin kalau aku ketemu bisa saling menyapa." Tanya Edo yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Alfa.

__ADS_1


"Nama saya Edo. Siapa nama Nona?" Tanya Edo sambil menjulurkan tangannya kepada Shelina yang sudah berdiri di samping Alfa.


"Saya Shelina." Jawab Shelina sambil menyalami tangan Edo.


"Nama yang cantik seperti orangnya." Tutur Edo tanpa melepaskan tatapannya dari Shelina yang sudah mulai salah tingkah.


"Ya sudah. Kalau gitu sampai bertemu di acara nanti malam Pak Edo." Ujar Alfa dan langsung melangkah menuju kamar yang mereka tempati di ikuti Shelina dari belakang.


"Saya tidak masalah kemanapun kamu mau pergi. Tapi di sini ada saya. Apa salahnya kamu memberitahukan saya?" Alfa mulai bersuara setelah mereka memasuki kamar.


"Bagaimana aku mau beritahu? Kamu saja lagi sibuk dengan klien bisnis kamu. Aku ngga mau ganggu." Jawab Shelina dengan posisi membelakangi Alfa.


"Apa kamu di ajarkan untuk membelakangi orang kalau sedang berbicara?" Tanya Alfa yang tidak suka melihat sikap Shelina.


"Buat apa juga aku harus menatapmu? Kamu pikir aku ini wanita ganjen yang suka mencari perhatian darimu?" Ketus Shelina sambil berbalik namun tidak menatap Alfa sama sekali.


"Kalau aku cemburu memangnya kenapa? Apa salah seorang wanita merasa cemburu terhadap suaminya sendiri?" Jawab Shelina dengan tampang datarnya menghadapi jendela kamar.


Jawaban Shelina yang dia lepas tanpa ragu, seketika membuat Alfa jadi mematung tanpa ekspresi. Bagi Alfa Shelina adalah wanita yang apa adanya. Dia selalu mengatakan apapun yang dia rasakan. Tapi di sisi lain, dia benar-benar bingung menanggapi sikap Shelina, yang menurutnya terlalu berlebihan dalam berpikir juga menanggapi sesuatu.


"Mengapa kamu harus merasa cemburu? Apa kamu sungguh-sungguh mencintaiku? Apa kamu yakin?" Pertanyaan Alfa yang membuat Shelina semakin kesal terhadapnya.


"Aku juga bingung dengan diriku sendiri. Untuk apa juga aku harus mencintai laki-laki tak punya hati sepertimu? Laki-laki yang suka menyakiti hati wanita." Ketus Shelina dengan suara yang sudah mulai bergetar.


"Jangan sembarangan menilai orang lain. Mana pernah saya menyakiti hati wanita? Kalau kamu merasa tersakiti, itu salahmu sendiri." Jawaban Alfa yang membuat Shelina tidak tahan berada di depannya lebih lama lagi.

__ADS_1


Tanpa berujar satu katapun, Shelina segera melangkah menuju kamar mandi sambil menahan kekesalan terhadap Alfa.


"Laki-laki apa seperti itu? Laki-laki yang tidak punya hati nurani. Aku tidak boleh terlalu lama berlarut-larut dengan perasaan ini. Kalau tidak aku akan semakin tersiksa." Shelina berkata-kata sambil menatap wajahnya di cermin besar yang ada di dalam kamar mandi.


Di saat Shelina sedang membersihkan badannya di dalam kamar mandi, Alfa memilih untuk membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, setelah melepaskan bajunya karena merasa kecapean. Dan baru beberapa menit dia membaringkan tubuhnya, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.


"Siapa..?" Alfa yang buru-buru bangkit langsung melangkah sambil menuju pintu.


"Ibu Lia,, ada apa Bu?" Tanya Alfa yang kebingungan melihat keberadaan Lia di depan pintu kamarnya.


Melihat bentuk tubuh Alfa yang sudah seperti roti sobek, Lia pun langsung terhipnotis dengan tampang yang terlihat begitu aneh. Sampai-sampai dia tidak menyadari pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut Alfa.


"Ibu Lia... Ada perlu apa anda kemari?" Alfa kembali bertanya karena Lia sama sekali tidak menghiraukannya.


"Aku ngga sengaja lewat di depan kamar Pak Alfa. Ternyata kamar Pak Alfa bagus banget ya? Sayang kalau hanya sendirian." Ujar Lia yang tadi sempat melihat Shelina pergi meninggalkan hotel.


"Pak Alfa,, apa anda punya waktu untuk kita mengobrol? Aku ingin belajar beberapa trik dari Pak Alfa biar semakin sukses seperti anda." Tambah Lia yang membuat Alfa semakin bingung.


"Saya ingin beristirahat Bu Lia. Nanti lain kali saja kalau saya punya waktu." Jawab Alfa sambil buru-buru berbalik menatap ke arah belakang karena mendengar sesuatu yang terdengar begitu keras.


"Siapa itu Pak?" Tanya Lia dengan segera karena mendengar suara pintu yang di banting.


"Istri saya. Dia baru saja selesai mandi." Jawab Alfa yang membuat Lia seketika mematung, dengan tatapan mata tertuju ke arah Shelina.


Shelina yang keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk untuk menutupi sebagian tubuhnya, langsung menatap Lia dengan tatapan yang sangat tajam. Shelina sama sekali tidak bersuara. Tapi apa yang dia lakukan barusan, benar-benar membuat kedua orang di depannya benar-benar kaget.

__ADS_1


"Kalau gitu aku pergi dulu ya Pak Alfa. Sampai jumpa di acara nanti malam." Ujar Lia dan langsung buru-buru pergi.


Setelah Lia berlalu dari depan pintu kamar, Alfa segera menutup pintu dan melangkah menuju tempat tidur, sambil menatap Shelina yang juga sedang menatapnya tajam tanpa bersuara. Melihat kedua bola mata Shelina yang begitu memerah juga berair, Alfa malah bersikap cuek dan beranggapan mungkin itu akibat terkena busa sabun di saat mandi. Tanpa dia sadari, ternyata Shelina sedang menahan amarah yang membuat dia jadi seperti itu.


__ADS_2