
Di dalam perjalanan Shelina mulai merasa gelisah, karena rasa perih di bawah sana yang semakin terasa mungkin karena sembab. Tapi untuk menghindari kecurigaan Oma Alira yang sesekali melirik ke arahnya, dia berusaha untuk terlihat baik-baik saja dan selalu tersenyum saat tatapannya, berpapasan dengan tatapan wanita paruh baya berparas cantik yang duduk tepat di sampingnya.
"Shel,, Oma mau tanya sama kamu. Apa kamu bahagia menjadi bagian dari keluarga Permana?" Tanya Oma Alira sambil tersenyum menatap Shelina.
"Aku,, aku bahagia banget Oma. Aku bahagia karena memiliki keluarga yang tulus menyayangiku seperti Oma dan yang lainnya." Jawab Shelina dengan kepala tertunduk, seperti menahan sesuatu di dalam dadanya yang tidak bisa untuk dia ungkapkan.
"Syukurlah kalau kamu merasa bahagia. Awal pertama Oma menikah dengan Opa, Oma benar-benar tersiksa dengan sikap Opa. Opa itu laki-laki yang sangat dingin dan cuek sama seperti Papa Faris juga Alfa. Memang laki-laki di dalam keluarga ini semua seperti itu. Tapi di balik sikap dingin mereka, ada segudang cinta yang sulit di ketahui." Ujar Oma Alira yang tahu akan situasi Shelina dalam menghadapi suami seperti cucunya.
"Apa awal menikah sikap Opa sama seperti Alfa Oma?" Tanya Shelina yang mulai merasa penasaran.
"Iya,, Opa kamu itu sangat cuek. Hampir setiap hari Oma di buat naik darah karena dia. Dan yang lebih mengesalkan lagi, dia tu selalu jadi incaran para wanita. Istri mana yang bisa tenang punya suami seperti itu?" Tutur Oma Alira sambil melirik Shelina sesaat.
"Terus apa yang Oma lakukan sampai Opa bisa jadi seperti itu? Maksudnya bisa bertekuk lutut terhadap Oma?" Tanya Shelina dengan tatapan mencari tahu.
"Sikap Oma yang membuat Opa jadi seperti itu." Jawab Oma Alira sambil tersenyum seperti sedang membayangkan sesuatu yang lucu.
Mendengar jawaban Oma Alira barusan, Shelina yang merasa kebingungan langsung terdiam, sambil bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Apa... Sikap...? Bukannya sikap Oma yang selalu membuat Opa jadi kesal? Oma kan ngga pernah diam? Dan itu selalu membuat Opa jenuh saat melihatnya."
Shelina benar-benar tidak bisa mencerna jawaban Oma Alira, karena tidak sesuai dengan apa yang dia lihat. Dan kebingungannya itu sudah bisa di mengerti oleh wanita dewasa yang ada di sampingnya itu.
"Ada apa Shel,,? Apa kamu tidak percaya dengan apa yang baru saja Oma katakan?" Tanya Oma Alira dengan senyum manisnya.
"Maafkan aku Oma. Bukannya aku ngga percaya. Aku hanya merasa bingung saja." Karena aku sering melihat Opa kesal kalau melihat sikap Oma." Jawab Shelina jujur.
__ADS_1
"Iya,, Opa memang selalu kesal kalau Oma mulai banyak tingkah. Tapi itulah bukti cinta dan perhatiannya. Waktu awal-awal berumah tangga, Opa tidak pernah peduli sama Oma. Dia selalu cuek dengan semua yang berkaitan dengan Oma. Tapi lambat laun dia pun jadi perhatian. Ya,, walaupun perhatiannya itu dia tunjukkan dengan sikap seperti itu." Jelas Oma Alira yang membuat Shelina pun mengerti maksud pembicaraannya.
"Jadi kalau kamu ingin mendapatkan perhatian Alfa, kamu harus bersikap cuek dan banyak tingkah. Jangan terlalu polos menghadapi suami seperti itu. Kalau tidak semuanya akan terasa hampa." Tambah Oma Alira sambil tersenyum menatap Shelina, yang terlihat malu-malu menanggapi perkataannya.
Tidak terasa mobil pun berhenti di depan kantor Alfa. Melihat gedung tinggi nan megah tempat beraktivitas suaminya setiap hari, Shelina pun langsung meraih tasnya dan buru-buru keluar dari dalam mobil.
"Oma,, apa Oma ngga mau mampir sebentar?" Tanya Shelina yang sudah berdiri di samping mobil, sambil menatap Oma Alira dari kaca mobil yang terbuka.
"Tidak usah sayang. Oma buru-buru pulang untuk menemani Mama mertua kamu. Kalau Oma turun dari mobil, Oma pasti akan di serbu orang-orang buat di wawancarai mengenai keluarga kita." Jawab Oma Alira yang membuat Shelina pun tercengang tanpa bersuara.
"Oma pulang dulu ya sayang.." Ujar Oma Alira setelah mobil mulai memutar balik.
Shelina hanya melambaikan tangan kepada Oma Alira yang sudah berlalu pergi dari hadapannya, sambil tersenyum dan berujar sendirian mengagumi pengaruh keluarga suaminya yang sangat luar biasa.
"Mereka benar-benar hebat. Apapun yang terjadi dalam keluarga Permana, selalu menjadi incaran publik. Tapi sekarang mereka lagi di uji dengan hilangnya Fara. Semoga dia cepat di temukan dalam keadaan baik-baik saja."
"Shelina..." Terdengar suara yang tidak asing lagi untuk Shelina.
"Mas Alfa.." Balas Shelina memanggil Alfa setelah berbalik menghadap ke arahnya.
"Ngapain kamu di situ?" Tanya Alfa sambil melangkah mendekati Shelina.
"Aku mau ke kantor kamu. Hari ini aku harus mengetahui apa saja yang akan aku kerjakan mulai besok." Jawab Shelina tanpa berpikir panjang.
"Kamu ko ngga bilang-bilang? Sama siapa kamu ke sini?" Tanya Alfa.
__ADS_1
"Sama Oma. Tapi Oma sudah langsung pulang." Jawab Shelina yang sudah mulai gelisah seperti cacing kepanasan di depan Alfa.
"Kamu sama Oma sudah dari RS?" Tanya Alfa.
"Sudah Mas.. Kamu ko banyak tanya sih..?" Jawab Shelina dengan nada yang terdengar kesal.
"Ada apa sama kamu?" Tanya Alfa yang mulai menyadari sikap Shelina.
"Sakit Mas... Aku benar-benar ngga tahan.." Jawab Shelina sambil menarik lengan Alfa, dan memilih menyembunyikan wajahnya di dada bidang Alfa, karena ada beberapa orang yang sedang lewat di belakang Alfa.
"Apa yang sakit..?" Tanya Alfa yang sama sekali tidak mengerti dengan perkataan Shelina.
"Itu Mas yang sakit.." Jawab Shelina tanpa mengangkat mukanya.
"Itu apa...? Kamu tu kalau ngomong yang jelas! Saya ngga ngerti dengan apa yang kamu bicarakan." Ujar Alfa yang mulai kesal karena belum juga mengerti maksud Shelina.
"Di bagian bawah,, perih banget." Jawab Shelina dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan rasa perih bercampur malu karena di lihat orang.
"Ayo kita masuk ke dalam!" Ujar Alfa yang hendak memutar balik.
"Tunggu dulu Mas,,,! Aku ngga bisa.. Soalnya aku tu mau pipis juga." Tutur Shelina sambil menatap wajah tampan Alfa, yang berada tepat di depan matanya.
"Kamu ko nangis? Memangnya perih banget?" Tanya Alfa karena bingung melihat kristal bening yang sudah mulai memenuhi kelopak mata indah Shelina.
Tanpa bersuara, Shelina pun hanya mengangguk menjawab pertanyaan Alfa. Wajah cantiknya terlihat begitu polos dan langsung meluluhkan hati Alfa, yang sama sekali tidak menyadari keberadaan beberapa karyawannya, yang sudah sangat heboh melihat kedekatan mereka berdua. Karena selama ini Alfa tidak pernah terlihat sedekat itu dengan wanita. Apalagi di depan umum seperti itu.
__ADS_1
#Maaf ya teman-teman. Aku mungkin ngga bisa update seperti yg kalian mau. Demi Allah aku sekarang sedang lagi ada masalah besar, yang aku sendiri tidak tahu bagaimana harus menyelesaikannya. Masalah ekonomi dalam keluarga aku sangat dan sangat menyedihkan. Sampai-sampai semua barang-barang hasil dari novel aku sudah aku jual. laptop juga ponsel yang sering aku pakai buat tulis novel pun aku jual. Sekarang aku hanya memakai ponsel seadanya untuk membuat cerita. Jujur aku sampai tidak bisa berpikir apalagi mengarang. Tapi aku tetap berusaha karena tidak ingin mengecewakan kalian. Apalagi pendapatan novel aku sudah tidak seperti dulu lagi. Aku benar-benar berada di dalam keadaan yang sangat rumit. Hanya Allah yang tahu betapa beratnya situasi ini. Aku harus menjalani semua ini dalam keadaaan lagi mengandung. Aku mohon maaf ya.. Bukannya aku mau curhat, tapi aku hanya ingin kalian tahu keadaanku. Biar kalian tidak berburuk sangka kepadaku.