
Alfa yang sudah rapi dengan balutan jas berwarna hitam, sedang berdiri di balkon tepatnya di lantai atas. Menerima panggilan masuk dari salah seorang rekan bisnisnya. Dia di kabarkan untuk menghadiri sebuah pertemuan dengan beberapa tamu penting, dari luar negeri di sebuah hotel yang ada di dekat situ. Selesai berbicara, Alfa pun segera berbalik hendak melangkah. Namun tiba-tiba langkahnya tertahan saat melihat Shelina yang sedang melangkah menghampirinya.
"Mas,, aku mau bicara." Ujar Shelina dengan penampilan yang begitu cantik.
Melihat penampilan Shelina yang begitu sempurna dengan pakaian sedikit terbuka yang dia kenakan, pemikiran Alfa seketika jadi tak menentu. Sampai-sampai dia tidak fokus dengan apa yang di katakan oleh Shelina.
"Kamu mau kemana?" Tanya Alfa tanpa melepaskan tatapannya yang terlihat begitu aneh.
"Aku mau bicara sama kamu. Tadi kan sudah aku bilang." Jawab Shelina dengan tampang kebingungan.
"Saya lagi memikirkan seseorang. Jadi tidak terlalu berkonsentrasi." Jawab Alfa sembarangan karena malu atas sikapnya.
Mendengar jawaban Alfa, Shelina pun langsung mematung dengan pemikiran yang mulai kemana-mana. Shelina yang baru saja menghabiskan malam panas dengan laki-laki kaku di hadapannya, seketika merasa kecewa mengetahui ada seseorang yang sedang mengganggu pikiran Alfa. Hal itu sampai membuatnya tidak bersemangat untuk berbicara dengan Alfa.
"Kalau gitu nanti saja baru kita bicara. Aku tidak mau mengganggu pikiranmu." Ujar Shelina dan langsung melangkah pergi.
Alfa yang sudah siap mendengar apa yang mau di bicarakan Shelina, jadi bingung dengan sikap Shelina yang menurutnya begitu aneh. Apalagi dia bukan tipe laki-laki yang peka dengan perasaan wanita. Jadi dia sama sekali tidak tahu apa yang membuat Shelina jadi pergi tiba-tiba tanpa membicarakan apapun.
Di meja makan Shelina yang duduk tepat di depan Alfa, menyantap sarapannya tanpa melirik Alfa sama sekali. Sedangkan Alfa yang memang selalu cuek dengan keadaan, juga tidak memperdulikannya. Sikap Alfa yang begitu tidak perduli, semakin membuat Shelina berburuk sangka tentang seseorang yang sedang di pikiran Alfa.
"Malam ini kita menginap di hotel. Soalnya ada urusan kerjaan yang harus aku hadiri di sana." Ujar Alfa setelah selesai sarapan.
__ADS_1
"Aku di sini saja sama Bu Lilis juga suaminya." Jawab Shelina tanpa mau menatap Alfa.
"Bu Lilis sama suaminya sudah pergi ke Jakarta. Mereka ada urusan keluarga selama dua hari di sana." Tutur Alfa yang membuat Shelina langsung menatapnya.
"Kapan mereka perginya?" Tanya Shelina dengan kening berkerut.
"Tadi pagi. Kamu lihat kan mereka ngga datang hari ini?" Jawab Alfa sambil mengotak-atik ponselnya membalas pesan masuk dari seseorang.
Memikirkan suasana malam di villa saat malam hari, membuat Shelina terpaksa memilih ikut bersama Alfa. Tapi dia juga merasa khawatir mengingat kejadian semalam. Tanpa menunggu lama, Shelina pun segera bersuara.
"Mas,, kalau bisa kamu jangan minum lagi di acara nanti malam!" Ujar Shelina yang membuat Alfa langsung menatapnya.
"Memangnya kenapa?" Tanya Alfa.
"Kalau kamu mabuk lagi, aku tidak mau kita tidur sekamar." Jawab Shelina dengan kepala tertunduk.
"Kalau gitu kamu jangan minum lagi! Aku tidak ingin kejadian semalam terulang lagi." Ujar Shelina dan langsung berdiri dari meja makan.
"Saya ngga masalah. Lagian semalam itu hanya sebuah kecelakaan. Saya melakukan semua itu karena saya sedang mabuk berat." Ujar Alfa yang membuat Shelina semakin kecewa. Namun dia sama sekali tidak bersuara.
Sampainya di hotel berbintang yang sudah di penuhi para rekan bisnis Alfa, Shelina langsung melangkah menuju sebuah kamar di antar salah seorang pegawai hotel. Sedangkan Alfa sudah sibuk mengobrol dengan para rekan bisnisnya. Tanpa memperdulikan Shelina.
"Pak Alfa,, apa benar itu istri Bapak?" Tanya Lia salah seorang anak pengusaha yang datang menggantikan Ayahnya.
Langkah Shelina tiba-tiba terhenti saat mendengar pertanyaan wanita, yang sedang bersama Alfa dan beberapa rekan bisnis mereka. Dan di saat dia ingin kembali melangkah, wanita itu kembali melancarkan pertanyaan yang membuat Shelina begitu tersinggung. Apalagi Alfa si beruang kutub hanya terdiam mendengar pertanyaannya.
__ADS_1
"Pak Alfa,, saya pikir dia hanya sekretaris Bapak. Karena kalian tidak terlihat seperti sepasang suami istri.
"Maksud anda apa bertanya seperti itu? Memangnya suami istri itu harus bersikap seperti apa menurut anda?" Tanya Shelina yang sudah berada tepat di belakang Alfa.
"Suami istri itu semustinya terlihat mesra. Bukan di cuekin suami seperti sikap Pak Alfa terhadap anda." Jawab Lia dengan tampang sinis nya.
"Kita sebagai seorang istri semustinya harus di perhatikan. Selingkuhan saja selalu di utamakan." Tambah Lia yang membuat Shelina tidak dapat untuk menahan kekesalannya.
"Aku tidak pernah menjadi seorang wanita yang di jadikan selingkuhan seorang laki-laki. Jadi aku tidak terlalu paham apa yang anda bicarakan. Mungkin anda memang berada di posisi itu. Aku ini seorang istri. Akan di perhatikan di saat tertentu juga di waktu yang tepat. Karena harga diriku tidak serendah wanita simpanan." Tutur Shelina panjang lebar, yang membuat Lia langsung naik darah.
"Apa maksud kamu..? Aku ini seorang wanita yang terlahir dari keluarga terhormat. Kamu harus tahu itu..!" Ketus Lia penuh emosi.
"Dari cara bersikap orang sudah bisa menilai kepribadian seseorang. Apa ini sikap seorang wanita terhormat..? Mencampuri urusan rumah tangga orang. Apa jangan-jangan anda tertarik dengan suami saya?" Ketus Shelina dengan begitu santainya, tapi dengan kata-kata yang begitu tajam.
"Siapa bilang saya tertarik dengan Pak Alfa..? Saya... Saya bukan wanita seperti itu.." Tutur Lia dengan begitu salah tingkah.
"Hmmmm,, jadi untuk apa anda harus repot-repot bertanya banyak? Atau biar saya saja yang menjawabnya biar anda puas." Ujar Shelina dengan senyum santainya.
"Sudah sayang! Pergilah ke kamar!" Sambung Alfa sambil menatap Shelina dengan tatapan penuh perhatian.
"Lain kali saja saya menjelaskan bagaimana kedekatan antara saya, dengan suami saya kepada anda. Biar anda tidak penasaran." Tambah Shelina dan langsung melangkah pergi meninggalkan semua yang sedang menatapnya bingung.
Sikap Shelina yang terlihat begitu tenang dan polos, menjadi satu kebingungan terhadap Alfa juga orang-orang yang ada di sekeliling mereka. Alfa begitu tidak menyangka Shelina bisa bersikap setegas itu dalam keadaan yang begitu tenang. Selain itu, timbul rasa senang di dalam hati laki-laki dingin itu saat melihat Shelina, yang sangat terpancing saat ada yang mengusik hubungan mereka berdua.
__ADS_1
Di balik sikap dingin Alfa, sudah tertanam cinta yang membuat dia mulai bersikap sedikit perhatian. Walaupun dia tidak pernah mengatakan apa yang sedang dia rasakan.