
Setelah berlalunya senja, beberapa bintang pun mulai menampakan cahaya. Di balik jendela kamar yang terlihat remang, Shelina duduk dengan raut wajah sendu menatap kosong tanpa arah. Dari balik pintu kamar Alfa yang baru saja pulang, melihat keadaan Shelina hanya terdiam dengan berbagai macam tanda tanya di dalam benaknya.
'Mengapa akhir-akhir ini dia selalu murung? Sebenarnya apa yang sedang dia pikirkan?' Batin Alfa.
"Shelina,, kamu lagi ngapain?" Tanya Alfa sambil melangkah masuk ke dalam kamar.
"Mas,, kamu sudah pulang? Aku sejak tadi nungguin kamu." Shelina melangkah menghampiri Suaminya yang terlihat begitu kelelahan.
"Kamu mau mandi air hangat? Biar aku siapin." Tanya Shelina hendak meraih kancing baju Alfa untuk melepaskannya.
" Tidak perlu. Biar aku mandi air dingin saja." Jawab Alfa dan bergegas melangkah menuju kamar mandi.
'Mengapa Mas Alfa sepertinya selalu menghindar? Dia hanya memperhatikan aku dari jauh. Tapi saat berada dekat, dia selalu mencari alasan untuk menjauh.' Batin Shelina.
Sikap Alfa memang semakin hari semakin terlihat aneh di depan Shelina. Dari kejauhan dia menjaga Shelina melewati cctv, juga penjagaan beberapa orang suruhannya. Namun saat berada dekat, dia selalu menghindar saat mau di dekati Shelina. Hal itulah yang membuat Shelina jadi kepikiran dan sering terlihat murung.
"Mas,, tadi banyak kerjaan ya?" Tanya Shelina setelah Alfa selesai mandi.
"Lumayan banyak. Soalnya Minggu depan saya ada perjalanan bisnis ke luar negeri." Jawab Alfa yang membuat Shelina terdiam seketika.
"Nanti kalau saya pergi, kamu sementara tinggal di rumah Mama."
__ADS_1
"Mas perginya sama siapa?" Tanya Shelina dengan tatapan mencari tahu.
"Sama sekretaris baru saya." Jawab Alfa yang membuat Shelina kaget.
'Apa... Sekretaris baru? Sejak kapan Mas Alfa mengganti sekretaris?' Batin Shelina bertanya-tanya.
"Memangnya sejak kapan Mas mengganti sekretaris?" Tanya Shelina.
"Sudah beberapa hari. Saya juga tidak tahu kalau sekretaris akan di ganti."
"Dia cantik nggak Mas? Bisa aku lihat fotonya?" Tanya Shelina yang membuat Alfa langsung berbalik menatapnya.
"Kamu kenapa? Apa kamu curiga lagi sama saya? Sampai kapan kamu akan seperti ini?" Tanya Alfa dengan tampang dinginnya.
"Foto apa yang ingin kamu lihat? Saya ini seorang atasan. Bukan fotografer yang selalu mengambil gambar orang." Alfa terlihat begitu kesal atas sikap Shelina.
"Ya sudah. Kalau begitu aku mau tidur." Ujar Shelina tanpa menatap Alfa.
"Hmmmm..." ******* Alfa yang habis akan kata-kata.
Sudah tiga malam berlalu Alfa memilih untuk tidur di sofa yang ada di pojok kamar. Entah apa yang terjadi dengannya. Namun sikapnya itu akan membuat siapapun berpikir salah. Apalagi Shelina yang begitu sensitif karena pengaruh kehamilannya.
__ADS_1
'Suami Istri seperti apa yang tidur terpisah? Aku sangat rindu aroma tubuhnya.' Batin Shelina yang begitu kesepian.
Tepat pukul 6:30 Alfa sudah berangkat tanpa menunggu Shelina bangun. Tidak biasanya dia berangkat sepagi itu. Sampai-sampai dia tidak sempat untuk sarapan. Dengan buru-buru Shelina yang sudah kesiangan melangkah menuruni tangga sambil menatap ke sana ke mari mencari-cari keberadaan Alfa.
"Non,, Den Alfa sudah berangkat pagi-pagi. Dia berpesan agar Non tidak keluar rumah hari ini." Ujar salah seorang pembantu di rumah Alfa.
'Ko aneh? Untuk apa Mas Alfa ke kantor pagi-pagi?' Batin Shelina yang semakin berpikir buruk dengan sikap Suaminya.
Tanpa menunggu lama Shelina langsung buru-buru kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Dia ingin segera menyusul Alfa ke kantornya untuk melihat apa sebenarnya yang di lakukan Alfa di kantor hari itu.
"Pak,, tolong antar aku ke kantornya Mas Alfa." Ujar Shelina kepada supir pribadinya.
"Baik Non."
Shelina begitu tidak sabar ingin segera sampai di kantor Alfa. Dia sangat yakin Alfa sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Rasa curiga yang begitu besar, membuat Shelina sama sekali tidak perduli dengan pesan Alfa, yang tadi di sampaikan oleh pembantunya.
'Aku harus membuktikannya sendiri. Sebenarnya apa yang di sembunyikan Mas Alfa?' Batin Shelina.
Sampainya di kantor Alfa, Shelina langsung beranjak naik ke ruangan Direktur melewati lift. Kantor mewah yang memiliki beberapa lantai itu sudah menjadi milik Alfa seutuhnya. Namun semua yang dia dapat bukan karena warisan sebagai penerus keluarga Permana. Tapi semua itu dari hasil kerja kerasnya.
Sampainya di depan pintu ruangan Alfa, Shelina serentak terdiam saat mendengar ada suara seorang wanita dari dalam ruangan. Karena merasa penasaran, dia akhirnya mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka. Dan apa yang dia lihat benar-benar membuatnya kaget.
__ADS_1
Detak jantung Shelina seketika berpacu dengan kencangnya, melihat apa yang terjadi di dalam ruang kerja suaminya. Dia tidak percaya Alfa bisa melakukan semua itu di belakangnya. Di saat dia sedang mengandung.
Mata yang selalu terlihat indah, serentak di penuhi kabut air mata kesedihan. Shelina yang masih mematung sempat berharap semua itu hanyalah mimpi. Mimpi buruk yang akan segera berlalu dari dalam tidurnya.