
Di dalam kamar yang begitu nyaman dengan hiasan mewah di setiap sudutnya, Shelina terduduk di tepi ranjang sambil memikirkan kejadian yang baru saja dia alami. Melihat sikap berlebihan wanita tadi, membuat Shelina tidak bisa mengendalikan emosi. Dan sampainya di dalam kamar hotel tempat dia dan Alfa menginap, dia masih belum bisa untuk tenang. Dengan tatapan kesal ke arah yang tidak menentu, Shelina mulai berkata-kata.
"Apa-apaan wanita itu? Mengapa dia begitu ingin tahu tentang hubunganku dengan Mas Alfa?" Shelina yang sedikit merasa bingung bercampur kesal, tidak bisa mengartikan sikap wanita yang baru dia lihat itu.
Tidak lama Shelina terdiam setelah berkata-kata sendirian, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.
"Masuuk..!" Teriak Shelina tanpa berbalik menatap ke arah pintu.
"Ada apa lagi Mba..?" Tanya Shelina dengan nada yang terdengar begitu datar.
"Apa kamu ngga lapar?" Tanya Alfa yang sudah berada di samping Shelina.
Keberadaan Alfa sama sekali tidak di perdulikan Shelina, saking kesalnya dengan kejadian yang baru saja terjadi. Jangankan untuk berbalik menatap ke arah Alfa, Shelina malah sama sekali tidak menjawab pertanyaan Alfa, yang seketika bingung dengan sikapnya.
"Ayo kita makan sama-sama dengan para klien Bisnis saya!" Ajak Alfa tanpa melepaskan pandangannya dari Shelina yang sudah seperti patung di tepi ranjang.
"Aku ngga lapar. Nanti saja aku pesan makanan ke kamar kalau aku ingin makan." Jawab Shelina dan langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Walaupun kamu ngga lapar, setidaknya kamu menemani saya di sana." Ujar Alfa.
"Kan ada wanita itu. Biar dia saja yang menemani kamu. Sekalian kamu menceritakan ketidak harmonisan rumah tangga kita berdua. Biar dia tidak lagi banyak bertanya." Ketus Shelina yang sudah berdiri di depan jendela kamar membelakangi Alfa.
"Maksud kamu apa..? Buat apa dia harus menemani saya..? Dan untuk apa juga saya harus menjelaskan semuanya kepada dia..?" Tanya Alfa yang begitu bingung mendengar jawaban Shelina.
"Kamu memang harus menjelaskan semuanya. Semua pertanyaan yang terlontar dari mulut wanita itu, bukan tanpa sebab. Semua orang pastinya berpikiran sama seperti dia, karena melihat sikapmu yang tidak pernah perduli padaku. Mana ada pasangan suami istri seperti kita berdua? Hubungan kita adalah suatu keanehan yang menimbulkan banyak pertanyaan." Jawab Shelina dengan posisi tetap membelakangi Alfa.
"Ya sudah kalau kamu memang tidak mau menemani saya." Ujar Alfa dan langsung pergi meninggalkan Shelina.
__ADS_1
Sikap Shelina yang terlalu berlebihan menurut Alfa, membuatnya tiba-tiba merasa kesal dan langsung pergi tanpa ada pembicaraan lebih lanjut. Namun apa yang dia lakukan itu, malah melukai hati Shelina yang sudah terlanjur sakit atas penilaian wanita tadi.
"Aku memang tidak pantas untuk mengharapkan sesuatu yang tidak akan mungkin dia lakukan. Mana mungkin dia mau memperlakukan aku sebagai istrinya di depan umum?" Shelina berkata-kata dengan mata yang mulai berkaca-kaca, saking kecewanya dengan sikap acuh suaminya.
Walaupun sikap dingin Alfa adalah hal yang biasa Shelina terima, namun sebagai seorang wanita, harga dirinya begitu terinjak-injak dengan penilaian orang-orang di sekitarnya. Dia hanya bisa meneteskan air mata menerima sikap Alfa, juga penilaian wanita lain tentang hubungan antara mereka berdua. Sedangkan Alfa yang sudah berada di sebuah ruangan bersama para rekan bisnisnya, hanya terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Pak Alfa,, istri Bapak di mana?" Tanya salah seorang rekan bisnis Alfa.
"Dia lagi beristirahat di kamar." Jawab Alfa tanpa ekspresi.
Melihat Alfa yang hanya sendirian menghadiri makan siang, Lia yang baru saja tiba bersama beberapa wanita yang juga pebisnis, langsung mengembangkan senyum sinis nya sambil bergumam di dalam hati.
"Mana ada pasangan suami istri seperti mereka? Aku sangat yakin, pernikahan mereka tidak berjalan sebagaimana mestinya orang yang saling mencintai. Apa jangan-jangan benar kata orang, kalau mereka menikah karena terpaksa."
Lia yang ternyata sudah menyimpan rasa terhadap Alfa, sejak pertama bertemu beberapa tahun yang lalu, semakin bersemangat untuk merebut hati laki-laki dingin itu. Dia semakin tergila-gila terhadap sosok Alfa, yang selalu membuat hatinya tidak bisa untuk tenang setiap kali bertemu, dalam berbagai pertemuan bisnis. Apalagi dia juga berasal dari keluarga berada. Dan hal itulah yang membuat Lia merasa lebih pantas menjadi pendamping hidup Alfa.
"Tidak usah repot-repot! Saya bisa sendiri." Jawab Alfa tanpa menatap Lia.
"Saya tidak merasa di repot kan. Seorang yang terhormat seperti Pak Alfa, tidak pantas mengambil makanan sendiri." Tambah Lia yang terkesan memaksa.
"Iya Pak Alfa. Kita tu bisa ambil makan sendiri kalau di sini tidak ada wanita bersama kita." Sambung Edo salah seorang pengusaha muda yang duduk tepat di samping Alfa.
"Saya juga mau minta bantuan Ibu Lia untuk ambilkan makanan saya. Bisa kan Bu Lia?" Tanya Edo sambil tersenyum kepada Lia.
"Bisa ko Pak Edo. Dengan senang hati aku bersedia." Jawab Lia dengan senyum centilnya.
Alfa yang sejak tadi hanya terdiam, merasa sangat terganggu memikirkan keadaan Shelina. Dia menikmati makan siangnya dengan ekspresi yang terlihat begitu tidak bersemangat. Pikirannya tidak bisa untuk terlepas dari bayangan Shelina walau hanya sesaat. Keadaannya itu sampai membuatnya bingung sendiri. Selesai makan Alfa pun segera membersihkan mulut menggunakan tisu, sambil bergumam di dalam hatinya.
__ADS_1
"Shelina,, Shelina,, sebenarnya apa sih yang kamu mau?"
Alfa yang tidak pernah peka dengan perasaan seorang wanita, sedikit pun tidak memahami apa yang di rasakan Shelina sebagai seorang istri, saat ada wanita lain yang bertanya mengenai rumah tangga mereka. Dia malah berpikir kalau Shelina yang sudah berlebihan, menanggapi pertanyaan orang lain seperti Lia tadi.
"Pak Alfa,, apa makanannya kurang enak?" Tanya Lia yang berusaha mencari perhatian Alfa.
"Enak ko." Jawab Alfa singkat tanpa menatap wanita ular di depannya itu.
Di saat Alfa sedang menghabiskan waktu dengan rekan bisnisnya, Shelina malah memilih untuk pergi meninggalkan hotel berbintang itu setelah mendapat pesan singkat dari Kalista teman kerjanya. Shelina yang merasa tidak di perdulikan oleh Alfa, segera memilih untuk menemui Kalista, yang kebetulan sedang mengunjungi kerabatnya di daerah tempat Shelina berada, tanpa memberitahukan Alfa.
"Shel,, kamu masih ingin kerja kan?" Tanya Kalista saat dia dan Shelina sudah berada di sebuah kafe, yang terletak tidak terlalu jauh dari hotel berbintang tempat Shelina menginap.
"Aku masih ingin kerja Lis. Tapi aku ngga bisa kerja lagi." Jawab Shelina yang membuat Kalista langsung menatapnya bingung sambil bertanya.
"Memangnya kenapa Shel? Kamu kan butuh uang." Tanya Kalista.
"Aku ngga di bolehin sama seseorang." Jawab Shelina dengan tatapan sendunya.
"Siapa yang ngga bolehin kamu Shel?" Tanya Kalista yang tidak dapat di jawab Shelina karena ponselnya tiba-tiba berdering.
("Kamu di mana..? Mengapa kamu pergi tanpa memberitahu saya..?" Suara Alfa yang terdengar begitu keras.)
("Aku lagi di luar sama teman." Jawab Shelina.)
("Cepat kembali sekarang! Kalau tidak saya akan menyusul mu." Ancaman Alfa yang membuat Shelina seketika panik.)
"Lis,, aku minta maaf ya,,! Aku harus pergi sekarang. Nanti baru kita ketemu lagi." Ujar Shelina setelah memutuskan sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Iya Shel. Kamu hati-hati ya,,!" Jawab Kalista sambil menatap Shelina yang sudah melangkah pergi, dengan tampang kebingungan.