JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 97. Cemburu Karena Cinta.


__ADS_3

Rasa takut akan kehilangan mulai menguasai relung hati Shelina. Hari-hari yang sudah dia lalui bersama Alfa, tidur di bawah satu atap walaupun tidak seranjang, seketika terbayang dalam ingatannya. walaupun jauh dari kata bahagia hidup berumah tangga, tapi cinta tulus yang dia miliki, telah mengikatnya untuk tetap bertahan dalam pernikahan yang sudah terjalin.


Alfa dan Shelina memilih untuk bermalam di kantor karena ada banyak pekerjaan yang harus di selesaikan. Kebetulan di dalam ruang kerja Alfa ada kamar khusus dengan segala perlengkapannya. Untung saja dia punya perlengkapan yang sengaja dia siapkan di kantor. Siang itu, Shelina yang masih memikirkan masalah kemarin hanya duduk termenung di tepi ranjang. Tapi tiba-tiba dia teringat dengan kata-kata Oma Alira.


"Mengapa aku harus selemah ini hanya karena mengetahui ada wanita lain dalam hidupnya? Ini memang akan terjadi. Aku bukan wanita yang dia inginkan. Jadi untuk apa aku harus menangisi semuanya?" Shelina yang mulai tersadar akan kelemahannya, buru-buru menghapus air mata dan melangkah keluar.


Setelah menarik nafas panjang berulang-ulang di depan pintu kamar, Shelina pun kembali ke sofa yang ada di dekat meja kerja Alfa. Dengan jari-jari lentiknya, dia segera mengeluarkan beberapa alat kecantikannya dan mulai berhias. Shelina mempercantik wajahnya tanpa memperdulikan Alfa sama sekali. Dan semua itu bisa dia lakukan karena mengingat apa yang di katakan oleh Oma Alira. Saat dia masih berada di dalam kamar tadi.


Alfa yang sedang fokus pada pekerjaannya, seketika merasa ada yang aneh dengan Shelina. Tapi dia hanya memilih diam karena tidak ingin menimbulkan masalah. Dengan begitu tenang Alfa tetap fokus pada pekerjaannya. Tapi tiba-tiba ada suara ketukan pintu, yang membuat dia harus menghentikan kegiatannya. Begitupun dengan Shelina.


"Masuk...!" Seru Alfa dengan tatapan lurus ke depan menatap pintu yang masih tertutup.


"Pak,, maaf saya sudah mengganggu. Ada tamu yang ingin bertemu Bapak." Ujar sekretaris Alfa sambil melirik ke arah Shelina.


"Iya,, silahkan masuk!" Jawab Alfa.


Setelah pintu terbuka lebar, masuklah seorang pria yang ternyata klien bisnis keluarga Permana. Alfa yang tadinya cuek terhadap Shelina, mulai bersikap aneh saat melihat lirikan tamunya, ke arah sofa sejak memasuki pintu.


"Bagaimana Pak? Apa ada yang perlu kita bicarakan?" Tanya Alfa namun tidak di respon oleh laki-laki yang sudah duduk di hadapannya.


"Pak,, apa keperluan anda datang ke sini..?" Tanya Alfa lagi dengan nada suara yang mulai terdengar aneh.


"Oh iya Pak. Saya ke sini ingin membawa undangan buat Pak Alfa, untuk menghadiri acara besar yang akan di selenggarakan di salah satu hotel berbintang di Bali dua hari lagi. Kehadiran Bapak sebagai perwakilan Pak Fahri juga Pak Faris yang tidak bisa hadir. Karena kehadiran anda yang paling di tunggu." Jawab laki-laki itu dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


Melihat sikap aneh laki-laki di depannya, Alfa hanya bisa menahan rasa kesal di dalam hatinya. Sebagai seorang suami, Alfa sangat tidak suka melihat ada laki-laki lain yang menatap Shelina seperti itu. Walaupun dia tidak pernah mengatakannya langsung di depan Shelina. Dengan begitu tenang, Alfa menyalami tamunya itu, sambil bergumam di dalam hati.


"Dasar mata keranjang. Bisa-bisanya dia menatap istri orang seperti itu di depan suaminya?"


Cemburu di rasakan karena adanya cinta. Dan itulah yang di alami Alfa juga Shelina. Namun sebagai seorang laki-laki, Alfa begitu mudah menyembunyikan rasa di balik sikap dinginnya, walaupun sesekali tanpa sadar dia menunjukannya di depan Shelina. Berbeda dengan Shelina, yang begitu nyata menunjukkan kelemahannya, karena rasa cemburu yang tidak beralasan.


"Apa yang tadi kamu lakukan?" Tanya Alfa tanpa menatap Shelina.


"Shelina,, apa yang tadi kamu lakukan? Apa kamu tidak dengar?" Alfa kembali bertanya karena Shelina sama sekali tidak menjawab, sambil memutar balik menatap ke arah Shelina.


"Astaga... Ternyata dia sudah ketiduran. Apa jangan-jangan, laki-laki tadi berpikir kalau kita baru saja bersenang-senang di sini. Dengan melihat Shelina yang tertidur seperti itu?" Alfa bertanya-tanya setelah menyadari keadaan Shelina yang sudah terlelap di atas sofa.


Tanpa berlama-lama, Alfa segera bangkit dari meja kerjanya dan melangkah menghampiri sofa. Dengan perlahan Alfa mulai melepaskan jas yang dia kenakan, hendak menutupi bagian bawah Shelina. Tapi tiba-tiba dia pun kaget, saat melihat ada noda darah di bawah sana.


Karena merasa penasaran, Alfa langsung berdiri dan buru-buru mengunci pintu. Kemudian dia kembali dan langsung melucuti dalaman Shelina, tanpa membangunkan Shelina. Merasa ada pergerakan di bagian bawahnya, Shelina langsung membuka mata.


"Mas... Apa yang mau kamu lakukan..?" Tanya Shelina namun tidak di pedulikan oleh Alfa.


Dengan wajah yang terlihat sedikit panik, Shelina berusaha menurunkan dress yang sudah naik di atas pinggangnya. Tapi Alfa segera meraih tangannya sambil berujar.


"Ini darah apa..? Mengapa dalaman kamu ada darahnya..?" Tanya Alfa dengan tampang khawatir. Sambil mengangkat dalaman Shelina yang sudah ada di tangannya.


"Aku juga ngga tahu itu darah apa? Mungkin darah luka karena lecet." Jawab Shelina tanpa menatap Alfa karena dia sangat malu dengan situasi saat itu.

__ADS_1


Tatapan Alfa yang tertuju tepat pada sasaran, membuat Shelina begitu malu sampai tidak bisa menatapnya. Apalagi Alfa sama sekali tidak membiarkan dia untuk menurunkan sebagian dress yang sudah naik ke atas, ataupun menutup kedua pahanya.


"Mas,, apa yang mau kamu lakukan?" Tanya Shelina sambil menatap ke arah samping.


"Saya hanya ingin melihatnya. Ini tidak bisa di biarkan seperti ini." Jawab Alfa dan langsung berdiri melangkah menuju meja kerjanya.


"Itu apa Mas..?" Tanya Shelina dengan tatapan mencari tahu.


"Ini salep luka punya asisten saya. Kemarin dia beli untuk mengobati kulitnya yang lecet. Dan ini bisa di gunakan di semua bagian tubuh." Jelas Alfa dan langsung mendorong Shelina perlahan untuk berbaring kembali di sofa.


"Tapi aku takut Mas. Ini ngga bisa di obati sembarangan tanpa resep dokter. Dan pasti akan terasa perih banget." Ujar Shelina.


"Ini tidak ada efek sampingnya. Tapi mungkin akan perih kalau di oles dalam keadaan kering." Alfa berkata-kata tanpa melepaskan pandangannya dari bunga yang bermekaran di bawah sana.


Keadaan saat itu tidak lama memicu naluri Alfa yang sudah di pengaruhi ramuan buatan Bibi di rumah Omanya. Tiba-tiba sekujur tubuhnya mulai terasa panas dengan keinginan yang sudah sangat menguasai dirinya. Tuntutan kembali menggoyahkan iman Alfa saat melihat keindahan di depannya.


Melihat raut wajah juga nafas Alfa yang mulai tidak teratur, membuat jantung Shelina berdetak tak menentu. Kecemasan Shelina akan keadaannya, membuatnya takut melihat kondisi suaminya saat itu. Tanpa berpikir panjang, Shelina hendak bangkit dan berusaha mendorong tubuh Alfa. Namun Alfa dengan cepat meraih tangannya sambil berujar.


"Semua akan baik-baik saja." Alfa berkata-kata dengan suara serak pengaruh hasrat yang semakin memuncak.


"Jangan Mas.. itu sakit banget.." Ujar Shelina sambil menatap wajah tampan suaminya yang sudah semakin memerah.


"Sakitnya tidak akan lama." Ujar Alfa.

__ADS_1


Mendengar jawaban Alfa, Shelina tidak bisa untuk berbuat apa-apa selain pasrah pada keadaan. Apalagi dia pun sadar, kalau kondisi suaminya itu di bawah pengaruh ramuan yang di buat oleh Bibi di rumah Oma Alira. Walaupun akan terasa sakit, namun Shelina tidak tega kalau harus membuat Alfa tersiksa menahan keinginannya yang sudah memuncak.


__ADS_2