JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 78. Mulai Terbuka.


__ADS_3

Shelina yang baru selesai mandi, melangkah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat sembab. Dia menuju lemari tanpa memperdulikan Alfa yang sedang menatapnya dari depan jendela, dengan penampilan yang sudah rapi. Melihat keadaan Shelina saat itu, Alfa jadi bingung dan langsung memilih untuk mendekatinya kemudian bertanya.


"Kamu kenapa?" Tanya Alfa yang sudah berdiri tepat di belakang Shelina.


"Aku ingin beristirahat." Jawab Shelina dengan raut wajah yang terlihat seperti sedang menahan sakit.


"Tapi kita harus ke acara malam ini. Ini acara puncak." Jawab Alfa.


"Tapi aku ngga bisa paksakan diri." Ujar Shelina dengan posisi masih membelakangi Alfa.


"Memangnya kenapa? Apa kamu ngga enak badan?" Tanya Alfa dengan suara yang terdengar berbeda dari biasanya.


"Seluruh tubuhku terasa sakit. Terutama di bagian bawah lecet dan bengkak. Sulit untuk aku melangkah." Jawab Shelina jujur.


Mendengar jawaban Shelina, Alfa seketika jadi merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan. Namun semuanya sudah terjadi. Dan acara itu harus mereka hadiri bersama.


"Saya minta maaf. Tapi kamu harus pergi bersama saya. Kalau tidak, semua orang akan membenarkan kalau kita memang tidak bahagia dalam pernikahan kita." Tutur Alfa sambil menatap beberapa tanda merah, yang terdapat di bagian leher Shelina.


"Mas,, untuk apa rumah tangga yang penuh dengan sandiwara seperti ini..? Pernikahan itu bukan mainan. Aku tidak ingin terlihat bahagia hanya di depan orang. Kalau kamu memang tidak bisa hidup bahagia denganku, ceraikan saja aku dan carilah pendamping hidup sesuai yang kamu mau." Shelina berkata-kata dengan suara yang mulai bergetar.


"Apa maksud kamu berkata seperti itu? Saya hanya menikah sekali seumur hidup. Jangan pernah berpikir saya akan mencari wanita lain untuk di jadikan istri. Saya tidak sanggup punya banyak wanita. Satu wanita saja sudah bikin pusing." Alfa berkata-kata dengan tampang datarnya.


"Tapi aku tidak ingin hanya di jadikan mainan mu. Aku ingin menjadi seorang istri yang sempurna." Ujar Shelina sambil berbalik menatap Alfa.


"Kesempurnaan seperti apa yang kamu mau? Semua yang di lakukan pasangan suami istri, sudah kita lakukan." Tanya Alfa dengan tatapan tajam tepat di depan Shelina.


"Semua itu kamu lakukan hanya karena mengikuti hasrat. Bukan dengan perasaan." Jawab Shelina sambil memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Kamu ini psikolog atau paranormal? Yang bisa mengetahui isi hati orang." Tanya Alfa yang membuat Shelina langsung menatapnya dengan tampang kebingungan.


"Hati dan sifat semua laki-laki tidaklah sama. Dan saya bukan laki-laki yang suka berkata-kata untuk menunjukkan apa yang ada di dalam hati saya." Tutur Alfa dan langsung berbalik, kemudian melangkah menuju meja rias yang ada di dalam kamar hotel itu.


"Jadi maksud kamu, kamu tidak ingin menceritakan aku karena kamu sudah mencintaiku?" Tanya Shelina dengan segera.


"Sudahlah,, tidak usah banyak bertanya! Cepat bersiap-siap! Kita akan ke acara dan kembali malam ini juga ke villa." Jawab Alfa yang membuat Shelina langsung tersenyum tanpa bersuara.


Mendengar jawaban Alfa Shelina seketika berbunga-bunga. Dia yakin Alfa sudah memiliki rasa yang sama dengannya. Walaupun Alfa tidak mengutarakan perasaannya. Karena dari sikapnya sudah bisa menunjukkan semuanya. Shelina yang sudah berada di depan cermin besar merias wajahnya, tidak berhenti tersenyum karena mengingat kecupan Alfa saat bertempur tadi.


"Sampai kapan kamu mau senyum-senyum di depan cermin seperti itu?" Tanya Alfa yang membuat Shelina langsung salah tingkah.


Alfa yang sedang duduk di kursi dekat tempat tidur di kamar itu, seketika terpana melihat penampilan Shelina, yang semakin terlihat sempurna setiap kali dia berhias seperti itu. Namun rasa kagum itu tidak ingin dia ungkapkan dengan kata-kata, saat melihat ekspresi Shelina yang mulai bertingkah aneh. Apalagi dia bukan orang yang gampang memuji kelebihan orang lain.


"Ayo kita pergi!" Ajak Shelina sambil menatap Alfa, dengan penampilan yang sudah sangat sempurna.




"Mas,, Mas Alfa... Apa kamu baik-baik saja..?" Tanya Shelina dengan suara yang terdengar keras.


"Haaaa... Ada apa...?" Tanya Alfa dengan tampang gugupnya.


"Ayo kita pergi..! Mau sampai kapan kamu di situ?" Ajak Shelina dan langsung melangkah menuju pintu.


Dengan buru-buru Alfa segera berdiri dan melangkah mengikuti Shelina, sambil mengusap-usap wajahnya. Dia begitu malu dengan dirinya yang tiba-tiba seperti orang bodoh hanya karena melihat kecantikan Shelina yang benar-benar sempurna.

__ADS_1


Bertemu wanita cantik juga seksi sudah menjadi kebiasaan Alfa. Namun baru kali itu dia bisa terhipnotis dengan kesempurnaan seorang wanita. Sampai-sampai dia lupa akan sikapnya yang memalukan itu.


"Aaaaaaaw..." Shelina yang tiba-tiba menjerit saat sedang melangkah menuju lift bersama Alfa.


"Kamu kenapa..?" Tanya Alfa dengan segera.


"Mas,, kayaknya aku ngga bisa menemanimu. Aku ngga tahan dengan rasa perih ini." Ujar Shelina yang tiba-tiba menghentikan langkah kakinya tepat di depan lift.


""Sebenarnya saya juga tidak ingin memaksamu dalam keadaan seperti ini. Tapi kamu harus menemani saya di acara malam ini." Jawab Alfa.


"Sini saya bantu untuk berjalan." Ujar Alfa yang langsung menggandeng tangan Shelina memasuki lift.


Sampainya di dalam lift, Shelina yang masih merasakan rasa perih di bagian bawahnya, langsung menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil memejamkan mata. Sedangkan Alfa yang melihat keadaannya, langsung berpikir untuk mencari cara agar bisa mengurangi rasa perih, yang di rasakan Shelina dengan cara bertanya melewati pesan singkat, kepada seorang temannya yang berprofesi sebagai Dr.


"Buka ******** mu!" Seru Alfa yang membuat Shelina langsung menatapnya dengan mata terbuka lebar saking kagetnya.


"Apa yang mau kamu lakukan..?" Tanya Shelina sambil menatap Alfa yang sedang fokus pada ponsel di tangannya.


"Saya tidak ingin melakukan apa-apa. Hanya itu satu-satunya cara biar rasa perihnya sedikit berkurang. Soalnya kalau ada gesekan, lecetnya semakin parah." Jawab Alfa dengan tatapan mata tertuju pada Shelina.


"Tapi bagaimana mungkin aku ke acar yang di penuhi banyak orang tanpa memakai ******?" Tanya Shelina dengan begitu polosnya.


"Memangnya mereka lihat? Dress kamu kan panjang, mana ada orang yang bisa tahu kamu pakai ********* atau tidak." Ujar Alfa dengan tatapan lurus ke depan.


"Terus di mana aku harus menaruhnya? Ngga mungkin aku taruh di dalam dompet aku. Apalagi membuangnya di sini." Ujar Shelina yang terlihat tidak setuju dengan apa yang di katakan Alfa.


"Ayo buka sebelum kita keluar dari lift! Apa kamu mau semua orang melihatmu kesakitan seperti ini? Ini anjuran dari teman saya yang berprofesi sebagai Dr." Seru Alfa yang membuat Shelina langsung terdiam.

__ADS_1


Merasa ada benarnya apa yang di katakan oleh Alfa, Shelina pun akhirnya melepaskan apa yang harus dia lepaskan, dengan berdiri di belakang Alfa. Dan di saat sepenggal kain berwarna pink sudah ada di tangannya, pintu lift langsung terbuka. Melihat ada beberapa orang di depan lift, Alfa langsung meraih apa yang ada di tangan Shelina, dan memasukkannya ke dalam saku celana panjangnya tanpa bersuara.


__ADS_2