JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 81. Perhatian Alfa.


__ADS_3

Alfa yang sudah selesai mandi, memilih untuk duduk di sofa sambil menikmati sebatang rokok. Dan tidak lama, Shelina pun masuk dan langsung menghampiri lemari untuk mengambil pakaian gantinya. Shelina yang lebih banyak diam sejak dari luar kota, sama sekali tidak memperdulikan keberadaan Alfa. Setelah mengambil pakaian ganti, dia pun segera melangkah menuju kamar mandi. Tapi tiba-tiba langkahnya pun tertahan, karena pertanyaan Alfa yang menurutnya aneh.


"Kamu mau ngapain?" Tanya Alfa.


"Aku mau mandi." Jawab Shelina tanpa berbalik menatap Alfa.


"Jangan mandi dulu! Kamu belum sembuh." Ujar Alfa yang membuat Shelina jadi bingung.


Perkataan Alfa barusan benar-benar membuat Shelina jadi kebingungan. Selain bingung, dia juga jadi serba salah menerima perhatian dari laki-laki kaku di belakangnya itu. Tapi seketika dia berpikir, Alfa seperti itu mungkin karena tidak ingin di repot kan kalau kondisinya semakin memburuk. Akhirnya dia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi, karena berpikir Alfa sudah tidak memperhatikannya. Namun apa yang dia lakukan, malah membuat suara Alfa kembali terdengar lebih kencang dari sebelumnya.


"Apa kamu tuli..? Kamu ngga dengar apa yang aku katakan barusan..?" Tanya Alfa yang membuat Shelina langsung berbalik menatapnya.


"Aku ngga akan bisa tidur kalau ngga mandi. Lagian aku mandinya pakai air hangat." Ujar Shelina tanpa berbalik menatap Alfa.


"Ya sudah terserah kamu saja!" Ujar Alfa dan langsung berdiri melangkah keluar dari kamar.


Alfa yang merasa kesal dengan sikap Shelina, memilih untuk segera keluar dari dalam kamar tanpa mau melirik Shelina, yang sudah berlalu memasuki kamar mandi. Selesai membersihkan tubuhnya dengan air hangat, Shelina pun segera mengenakan pakaian yang tadi dia bawa ke dalam kamar mandi. Kemudian dia keluar menuju meja rias dan duduk di depan cermin besar, menatap wajahnya yang masih terlihat pucat.

__ADS_1


"Bi,, apa kerabat Bibi yang mau nginap di sini malam ini sudah datang?" Tanya Alfa yang berpapasan dengan Bi Tuti di depan tangga.


"Sudah Den. Dia lagi di dapur bersama Bi Rasti." Jawab Bi Tuti.


"Ya sudah. Kalau gitu tolong siapkan minuman hangat buat Shelina!" Seru Alfa yang membuat Bi Tuti langsung tersenyum tanpa bersuara.


Wanita dewasa yang sudah lama mengenal sosok putra majikannya itu, seketika merasa lucu dengan sikapnya yang tidak biasa. Laki-laki kaku dan selalu bersikap cuek, kini begitu perhatian terhadap seorang wanita yang tidak pernah dia perdulikan, walaupun tinggal di dalam satu rumah selama ini. Sambil melangkah menuju dapur, Bi Tuti pun mulai bergumam di dalam hatinya.


"Mau sampai kapan bisa bersikap cuek terhadap wanita secantik itu? Aku yakin Den Alfa sudah punya perasaan lebih buat istrinya."


"Belum aku katakan Den Alfa yang sudah tanya duluan. Aku kan sudah bilang, mereka tu beda dari orang kaya pada umumnya. Mereka punya hati yang mulia." Jawab Bi Tuti yang membuat Nia seketika jadi bertingkah aneh.


"Aku ke kamar dulu ya Mba,, Ras." Ujar Nia dengan segera, dengan ekspresi yang membingungkan kedua wanita di depannya.


"Mau ngapain kamu? Apa kamu mau beristirahat?" Tanya Bi Rasti.


"Aku mau ambil oleh-oleh buat kalian semua." Jawab Nia sambil mengembangkan senyum yang terlihat aneh.

__ADS_1


"Ooo iya. Aku sampai lupa tanyakan oleh-oleh dari Singapura." Tutur Rasti.


Nia yang mulai gede rasa mendengar jawaban Bi Tuti tadi, kalau Alfa yang duluan menanyakan keberadaannya, seketika mulai mengkhayal sesuatu yang sangat mustahil. Keinginannya yang ingin menikah dengan laki-laki kaya selama ini, tiba-tiba membuatnya ingin mencari perhatian Alfa tanpa mau tahu kalau laki-laki itu sudah memiliki istri. Dan dia sendiri belum tahu bagaimana rupa wanita yang sudah di nikahi orang yang sedang dia pikirkan saat itu.


"Ras,, ini oleh-oleh yang mau aku kasih sama pemilik rumah ini. Aku tu merasa ngga enak hati kalau ngga kasih apa-apa. Ya,, walaupun mereka ngga minta." Ujar Nia sambil menunjukkan sebotol parfum yang ada di tangannya.


"Ini parfum dari Singapura ya? Terus buat kita mana? Ko cuman satu? Pemilik rumah ini kan bukan cuman satu." Tanya Rasti.


"Yang ada cuman ini Ras. Kalau kamu mau, nanti aku belikan buat kamu. Tapi belinya di sini saja." Jawab Nia.


"Ya sudah,, kalau memang ngga ada, ngga usah di paksakan. Berikan saja yang ingin kamu berikan itu kepada Den Alfa!" Sambung Bi Tuti yang sedang sibuk membuat minuman jahe hangat buat Shelina.


"Sini biar nanti Mba yang kasih. Kebetulan Mba mau mengantarkan minuman ini." Ujar Bi Tuti sambil menuangkan minuman yang dia buat, ke dalam sebuah cangkir yang ada di atas meja.


"Iya Mba. Aku taruh di sini ya Mba." Jawab Nia sambil meletakkan sebotol parfum yang ada di tangannya, di samping cangkir berisi minuman jahe buatan Bi Tuti.


Nia yang sudah mulai berharap banyak dengan situasi yang ada, sama sekali tidak menyadari keadaannya sebagai seorang gadis kampung, yang hanya menumpang semalam di rumah mewah itu . Rumah keluarga yang sangat di pandang juga di takuti semua kalangan. Apalagi dia juga belum sempat melihat sosok wanita yang menjadi istri pemilik rumah itu. Yang dia tahu hanyalah sebatas cerita tentang Shelina dari Bi Rasti, sahabatnya yang baru saja bekerja di kediaman Alfa Permana.

__ADS_1


__ADS_2