
Selesai sarapan Alfa langsung kembali ke kamar, meninggalkan Shelina yang sedang sibuk membersihkan cucian piring. Keadaan villa yang begitu sepi di kelilingi pepohonan rindang juga bunga-bunga, menciptakan suasana sejuk dan damai. Namun semua itu tidak membuat Shelina betah walaupun dia senang berada di tempat sepi seperti itu.
Berdua di tempat sepi seperti itu, menimbulkan suasana tegang bagi Shelina yang selalu mendapatkan sikap dingin suaminya. Apalagi hubungan mereka bukan seperti sepasang suami istri pada umumnya. Shelina selalu merasa bagaikan orang asing di depan Alfa. Sedangkan Alfa yang sudah mulai terganggu dengan perasaannya, semakin bersikap aneh yang membuat dia menjadi bingung sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan berada di sini selama satu Minggu? Tempat ini memang begitu tenang, namun untuk saat ini, bukan ketenangan yang aku inginkan. Aku hanya ingin bekerja biar bisa menabung dengan hasil kerjaku sendiri. Kalaupun aku mau di bayar, setidaknya ada yang bisa aku kerjakan." Shelina berkata-kata sendirian sambil terus mengerjakan pekerjaannya.
Sedangkan Alfa yang sudah berada di kamar, langsung memilih untuk mandi. Alfa adalah laki-laki yang begitu mandiri dalam pekerjaannya. Tapi untuk masalah pakaian juga makanan, dia tidak bisa untuk menentukannya. Karena tidak bisa memilih pakaian gantinya, Alfa akhirnya memutuskan untuk menemui Shelina, setelah selesai mandi. Dia melangkah menuju dapur dengan hanya memakai handuk untuk menutupi sebagian tubuhnya.
"Tolong ambilkan pakaian untuk saya!" Suara Alfa tepat di depan pintu dapur.
"Mas,, aku tu lagi sibuk. Kenapa sih kamu ngga bisa cari sendiri saja?" Jawab Shelina tanpa berbalik menatap Alfa.
"Saya ngga tahu mau pilih yang mana? Lagian itu kan tugas kamu selama ini." Alfa menjawab sambil melangkah mendekat ke arah Shelina.
"Tunggu aku selesaikan ini dulu." Shelina menjawab tanpa berbalik menatap Alfa.
Dengan terpaksa Alfa pun akhirnya menunggu Shelina dengan posisi bersandar di dinding, tanpa melepaskan pandangan dari arah Shelina. Tanpa sadar, dia mulai memperhatikan tubuh wanita cantik di depannya itu, dari ujung rambut sampai ujung kaki dari arah belakang.
Kesempurnaan yang di miliki Shelina seketika menghipnotis Alfa. Dari tatapan Alfa, terlihat jelas kekagumannya sebagai seorang laki-laki dewasa terhadap seorang wanita. Namun di saat Shelina hendak berbalik, Alfa dengan segera membuang pandangannya ke arah samping sambil berkata.
"Kamu ko lama banget sih..? Apa kamu mau membuat saya masuk angin dengan keadaan seperti ini..?" Tanya Alfa berpura-pura tidak melihat ke arah Shelina.
__ADS_1
"Ya maaf Mas,, lagian Mas kan tahu aku lagi kerja. Aku tu ngga mau di bayar tanpa bekerja. Aku ngga masalah mau kerja di mana, asalkan semua yang aku kerjakan itu halal." Jawab Shelina yang membuat Alfa seketika bingung.
"Maksud kamu apa berbicara seperti itu?" Tanya Alfa.
"Mas kan bilang mau bayar aku. Jadi aku ingin kerja di sini kalau memang akan di bayar." Jawab Shelina tanpa berani menatap ke arah Alfa.
"Urusin semua keperluan saya juga itu pekerjaan kamu. Seorang istri kan tugasnya untuk mengurus suami." Sambung Alfa dengan tatapan dinginnya.
Ucapan Alfa seketika membuat Shelina terpaku dengan perasaan yang tidak menentu. Sebenarnya Shelina merasa senang mendengar Alfa menyebutnya dengan sebutan istri. Namun di sisi lain, dia tidak ingin berkhayal jauh dengan kata-kata manis yang keluar dari mulut laki-laki dingin itu.
"Ayo kita ke kamar! Mau sampai kapan kita berada di dapur?" Tanya Alfa sambil melangkah keluar dari dapur.
"Dia terlalu sempurna untuk wanita biasa seperti aku. Jadi tidak pantas aku berharap sesuatu yang tidak mungkin akan terjadi. Aku hanyalah seorang wanita yang di nikahi karena keterpaksaan. Bukan karena cinta."
Hidup sebatang kara tanpa ada sanak saudara, membuat Shelina selalu sabar dan ikhlas menerima kenyataan dalam hidupnya. Dia tidak pernah berkhayal tinggi, walaupun dia sudah berada di dalam posisi yang sangat di dambakan para kaum wanita. Karena selama hidup bersama, Alfa juga tidak pernah memperkenalkan dia sebagai istrinya.
"Ini bagus ngga Mas?" Tanya Shelina sambil menunjukan satu pasang baju untuk Alfa.
"Saya ngga tahu. Kalau saya tahu bagus atau ngga, tidak mungkin saya repot-repot memanggilmu ke sini." Jawab Alfa yang sedang menyemprotkan parfum di beberapa bagian tubuhnya.
Karena di belakangi oleh Alfa, Shelina memberanikan diri untuk menatap tubuh suspek Alfa dari arah belakang. Wanita mana yang tidak mengagumi laki-laki sesempurna Alfa? Shelina yang begitu serius memperhatikan suaminya, sama sekali tidak menyadari, kalau Alfa juga sedang memperhatikannya dari cermin yang ada di depannya. Melihat bentuk tubuh Alfa yang sudah seperti roti sobek, Shelina seketika jadi merinding teringat kejadian di malam itu.
__ADS_1
Kesakitan yang di rasakan Shelina saat kesuciannya di renggut oleh Alfa, tiba-tiba terbayang di dalam ingatannya. Dia seperti masih merasakan semua sensasi di malam itu. Malam yang akhirnya membawa dia menjadi menantu dalam keluarga Permana.
"Mengapa kamu menatap saya seperti itu? Apa aku terlihat menyeramkan?" Tanya Alfa sambil menatap bayangan Shelina dari cermin yang ada di hadapannya.
"Aku.. Aku.. Siapa bilang aku menatap kamu..? Aku hanya ingin menunjukkan pakaian ini saja." Jawab Shelina gugup sambil membalikan badannya membelakangi Alfa.
"Mana bajunya?" Tanya Alfa tanpa ekspresi.
"Ini bajunya. Mas pakai yang ini saja! Soalnya yang lain harus di setrika dulu." Shelina memberikan pakaian yang ada di tangannya, dan langsung melangkah pergi meninggalkan Alfa yang masih menatapnya bingung.
Ekspresi Shelina tadi benar-benar membuat Alfa bingung. Selama hidupnya, tidak pernah ada wanita yang menatapnya seperti itu. Sambil mengenakan pakaian yang di berikan Shelina, Alfa pun mulai bertanya-tanya di dalam hatinya sambil menatap bayangannya pada cermin besar yang ada di depannya.
"Mengapa dia menatap gue seperti tadi? Dia seperti melihat sesuatu yang menyeramkan."
Alfa yang tidak bisa mengartikan tatapan Shelina saat menatapnya tadi, seketika jadi penasaran. Karena ekspresi Shelina benar-benar aneh menurutnya.
Shelina yang begitu salah tingkah dengan apa yang baru saja terjadi, langsung memilih kembali ke dapur. Sampainya di dapur, Shelina segera menuangkan segelas air dan meminumnya tanpa menunggu lama.
"Ya Tuhan,,, malu banget aku. Apa yang dia pikirkan nanti? Apa jangan-jangan di dalam pikirannya, aku memang wanita yang tidak benar." Shelina bertanya-tanya sendirian setelah meletakan gelas kosong di atas meja.
Shelina yang belum menyadari kalau Alfa sudah mengetahui kebenaran akan malam itu, dari aroma parfum yang di belikan Fara, selalu merasa rendah di depan Alfa. Karena itulah anggapan Alfa selama ini terhadapnya.
__ADS_1