
Perkenalkan namaku Sherin Wiryoatmadja. Aku anak bungsu dari 2 bersaudara, kakakku Adira Armanto. Usiaku hampir 17 tahun dan aku bersekolah di salah satu SMA swasta di Jakarta. Sebentar lagi aku mengikuti Ujian Nasional. Aku tinggal di rumah peninggalan nenekku, Sonya Wiryoatmadja. Rumah inilah satu-satunya kenangan yang tersisa bersama nenek dan mamaku.
Dirumah ini aku tinggal bersama ayahku Armanto, bunda deasyna dan kakakku Adira. Ada juga mbok Dharmi. Mbok Dharmi sudah seperti nenekku sendiri. Si mbok sudah membantu kami sejak dulu sebelum Mama dan nenekku tiada.
Kak Dira adalah seorang dokter spesialis bedah. Kak Dira bekerja di Rumah Sakit keluarga lebih tepatnya rumah sakit peninggalan nenek. Aku dan kak Dira, semenjak kecil tidak pernah bisa akur. Bahkan kamipun tak pernah bisa disebut kakak adik. Hubungan kami seperti majikan dan pelayan.
"Sherin,,, buatkan nasi goreng, cepat !!!" teriaknya setiap pagi menggema di rumah ini.
"Ya kak, sebentar Sherin buatkan", jawabku.
begitulah teriakan yang selalu ku dengar setiap pagi sebelum berangkat sekolah.
Kegiatan di pagi hariku seperti biasa. Pukul 03.00 aku sudah bangun untuk sekedar sholat tahajud, melepas lelahku kepada Yang Maha Pencipta. Kemudian aku membersihkan rumah bersama mbok Dharmi. Membuatkan sarapan untuk keluargaku. Akan tetapi, aku sendiri tak pernah diperbolehkan sarapan ataupun makan bersama mereka. Aku hanya membawa sepotong roti untuk mengganjal perut agar tidak kelaparan.
__ADS_1
"Mana nasi gorengku?" tanya kak Dira sambil menarik kursi di meja makan.
"ini kak," jawabku sambil menaruh piring berisi nasi goreng didepannya.
"Pa, ma, kak, Sherin berangkat sekolah dulu", "assalamu'alaikum", pamitku sambil mencium tangan mereka. Tapi mereka diam dan masih sibuk dengan sarapannya.
Begitulah sikap papa, bunda deasyna dan juga kakakku, dingin seperti es. Takkan pernah ada jawaban dari salamku. Mereka seolah tak pernah menganggapku ada.
Baru saja kubuka pintu, tiba-tiba langkah kaki ini terhenti, membuyarkan lamunanku, KREKK...
"sakit kak,, ada apa?? tolong lepaskan, aww.. rambutku ketarik kak,, sakit,," tanyaku sambil menahan sakit.
"kemarikan uang bulananmu dari papa, mana cepat !!" perintah kak Dira memaksa.
__ADS_1
"Tapi kak..." kataku merasa takut.
Tiba-tiba tanpa basa basi, kak Dira mengambil tasku. seperti bulan-bulan lalu, kak Dira mengambil semua uang sakuku selama sebulan penuh dalam amplop coklat itu seraya memukulkannya ke wajah dan melempar tasku.
Aku hanya bisa diam seperti biasanya sambil memunguti barang-barangku dan memasukkannya kembali ke tas.
"sabar Sherin, semua baik-baik saja. Akan ada waktu dimana semua akan berbalik" kataku menenangkan diri kemudian tersenyum penuh arti.
Karena sudah menunjukkan pukul 6 dan aku tak mau terlambat, kulangkahkan kaki keluar rumah. Kuhapus air mata, melihat langit yang begitu cerah. "Semangat!!" ucapku menyemangati diri sendiri.
Seperti biasa, disepanjang perjalanan ke sekolah, aku menyapa nenek penjual bubur, membantu mendorong gerobak seorang Kakek ditanjakan, dan membantu anak-anak SD menyeberang jalan. "terima kasih kak Sherin, da dah.." kata mereka manis sekali.
"Sungguh hal yang menyenangkan bisa melihat mereka bahagia hanya dengan bantuan kecil tanpa harus mengeluarkan uang", pikirku.
__ADS_1
Sampailah di halte bus yang masih sepi, hanya ada aku. Tiba-tiba ada anak kecil bermain dijalan raya dan dari kejauhan tampak samar, aku melihat ada mobil minibus melaju kencang ke arah anak itu. "Adek AWASSS ... !!!" teriakku berlari ke arahnya dan memeluknya erat.
BRAK... BRAKKKKK....