
Kediaman Gunanto
Reynan Gunanto
Di meja makan
"Sher, besok kamu udah mulai masuk sekolah lagi kan?" tanya Ibu.
"Iya Tante. Sherin udah bolos lama soalnya. Lagian seminggu lagi udah ujian" jelas Sherin.
"Belajar yang bener. Biar Rey aja yang nganter jemput kamu" pinta Ibu gak dipikir dulu asal aja.
"Bu, Rey kan sudah dinas lagi masak iya suruh jemput juga, izin gitu? Memangnya tu batalyon punya Ayah apa, bisa seenaknya main izin aja" kataku merajuk.
"Tante, Kak Rey bener tu. Sherin bisa naik bus kok. Lagian kalau mendekati ujian mungkin ada les tambahan juga jadi pulangnya tidak tentu. Kasian kan kak Reynya. Lagian Sherin gak enak sudah banyak merepotkan keluarga Tante" sahutnya membenarkan ucapanku.
"Ya udah. Tapi kamu harus hati-hati, jangan lupa telpon Mamamu juga Tante kalau ada apa-apa" sahut Ibuku disertai anggukannya tanda mengerti.
Ku yakin semua itu akal-akalannya supaya dia bisa lari dari hukumanku. Gara-gara dia, banyak sekali nomor yang tidak dikenal ngechat bahkan mereka tak tahu malu buat ngajakin ngedate, dinner, lunch bahkan ngajakin one night stand.
Flashback
Kami sudah bersiap untuk pulang. Sesuai permintaan Mamanya untuk sementara Sherin tinggal di rumahku alias rumah Ibuku.
"Jah, bentar. Aku mau keruangan Aldo dulu" kataku seraya meninggalkannya duduk di koridor rumah sakit.
"Iya" jawabnya singkat.
Setelah sekitar 15 menitan kulihat banyak sekali wanita muda, mulai dari perawat, gadis abg, dan juga tante-tante yang mengerumuninya. Kukira ada sesuatu yang yang buruk terjadi sama Mijah. Segera aku berlari mendekati mereka namun langkahku terhenti. Kuamati dan kudengarkan dengan seksama percakapan mereka. Oh Astaga...
"Adek, itu yang tadi kakakmu ya?" kata seorang wanita muda berseragam perawat.
"Iya. Itu kakak saya" katanya bohong.
"Boleh gak minta no teleponnya?" kata wanita lainnya yang juga penasaran.
"Dengan senang hati kak. Kasihan kakakku kak, dia udah tua tapi ndak laku-laku. Aku adiknya aja sampai prihatin pake banget. Gimana gak, masak kakakku yang ganteng, alim, tajir, pokoknya mapan dah masak gak ada yang mau sama dia hiks hiks... sebenarnya apa sih kurangnya dia? ucapnya berbohong seakan menenggelamkanku sampai ke dasar paling dalam.
"Masak sih?? kamu bohong ya?? Aku aja jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia laki-laki perfect. Matanya, hidungnya, badannya yang atletis, kulitnya putih, ganteng seperti oppa So Hyun dan Lagi keliatan tajir. Mana ada yang nolak kalau sama dia. Pokoknya love love very much dah" kata perawat tadi.
Sebenarnya saat itu ingin langsung kuhampiri si Mijah dan membuatnya menyesal akan perbuatannya padaku. Tapi kuurungkan, masih ada banyak hari buat pembalasan yang lebih kejam karena dia akan tinggal dirumahku dalam waktu lama.
"Cepetan mana nomornya. Aku juga mau. Aku juga dikasih ya dek nomornya" kata wanita itu bergantian.
"0821-5000-9911. Semoga kalian berhasil ya. Semangat!!! leganya... sebentar lagi aku akan punya kakak ipar" teriaknya bahagia setelah membagikan no telponku.
__ADS_1
"Awas kamu mijah!!" pekikku kesal padanya.
Kuikuti dia yang berjalan ke arah toilet. Hampir lima menit. Setelah keluar kutarik tangannya ke ujung koridor yang sepi. Kukunci semua pergerakannya dengan tanganku. Wajah kami semakin dekat hingga saling beradu pandang dan dia semakin terpojok. Kupegang kedua bahunya. Bisa kurasakan degup jantungnya.
"Kak Rey. Apa yang kak Rey lakukan? lepaskan!!" teriaknya seperti tak bersalah.
"Mau tau salahmu apa?" jawabku kesal. Kuangkat dagunya dan kutatap wajahnya yang ketakutan.
"Awww... sakit... Kau sangat kasar" teriaknya kesakitan. Hanya sepersekian detik kepribadianku berubah begitu kasar padanya.
"Kau.... Jika seperti ini saja kau tak bisa menahan sakitnya maka jangan pernah berbuat sesuatu yang membuatku marah. Mengerti tidak" teriakku lepas kendali.
"Kenapa??? Apa kau pikir aku wanita lemah dan harus takut juga tunduk padamu. Meskipun kau tentara tapi aku tak pernah takut padamu. Minggir" ancamnya tanpa rasa gentar sedikitpun melihatku lepas kendali. Sebenarnya apa yang ada di otaknya. Siapa yang salah dan benar. Kenapa jika bersamanya aku selalu kalah seperti anak kucing yang penurut pada majikannya.
"Kubilang Minggir!!!" teriaknya sekali lagi menyadarkanku.
Dugggggg... Lututnya begitu kuat menendang perutku.
"Awww ahhhh.... Sherin... Kau....." teriakku kesakitan. Bagaimana tenaganya bisa sekuat itu.
"Kubilang jangan macam-macam denganku. Biarpun aku anak kecil kalau Om Tejo berbuat seperti itu lagi bukan cuma perut yang kutendang bahkan itumu juga bisa kubuat cacat. Minggir!!" katanya tak bersalah meninggalkanku yang meringis kesakitan.
"Astaga tu macan betina kalau udah marah habislah diriku. Bukankah aku yang seharusnya marah? Aishhhh sial... Sangat menarik... Gadis ini bukan gadis biasa. Hanya orang terlatih yang bisa mengatur tenaga dalam seperti itu. Siapa sebenarnya kamu Sherin????" kataku jengkel dan terus saja berpikir.
Flashback off
"Ya udah kalau gitu. Baik-baik kalian dirumah berdua, jangan bertengkar terus!!" kata Ibuku yang keliatannya mau pergi.
"Lhohh... Tante mau pergi? Sherin boleh ikut gak?" tanyanya seakan mau melarikan diri.
"Wahh maaf Sherin bukan gak boleh tapi Tante kumpul-kumpul bareng Ibu-ibu arisan, masak Tante bawa anak-anak, dah abg lagi. Nanti kamu abis diledekin mak-mak, riweuh pokoknya" kata Ibuku menolak.
"Yes. akhirnya pembalasan dendamku dimulai he he he" tawa kemenanganku dalam hati.
"Yah Tante..." keluhnya.
"Lain kali aja ya Sher, ni Tante udah ditunggu. Rey kamu bisa jagain Sherin kan?" pinta ibu.
"No problem Mom... of course. Don't worry. Mom, happy-happy aja sama Sohib Mom. Urusan Sherin serahkan pada Rey" kataku senang.
"Ibu pergi dulu ya!! Assalamu'alaikum" pamit Ibu pada kami.
"Wa'alaikumsalam" jawab kami bersama.
Sherin Wiryoatmadja
__ADS_1
Secepat kilat aku segera berlari masuk ke kamar Om Tejo. Kukunci kamar itu rapat-rapat. Tak peduli meja makan yang belum kubersihkan. Yang penting aku selamat dulu.
Tok tok tok... Tok tok tok...
"Mijah... Mainan yuk!!" suara itu membuatku bergidik ngeri. Kututup telingaku dengan bantal tapi tetap saja masih terdengar.
"Mijah... jangan lari dong!! Mijah sayang... jangan ngumpet dikamar... kamar Kak Rey adalah daerah kekuasaanku lho. Setiap inchi kamar itu, Kak Rey tau dan kenal betul lebih dari siapapun. Jangan coba-coba bersembunyi karena percuma saja. Mijah... kak Rey punya kunci cadangannnya juga. So........." katanya membuatku merinding.
Segera ku cari kursi untuk mengganjal pintu kamar agar dia tidak bisa masuk.
"Oh ya Allah... selamatkan aku dari penindas ini!!!" doaku panik.
"Mijah oh Mijah... percuma kamu kasih itu kursi, memangnya kamu pikir aku tak punya seribu cara buat memaksamu keluar dari sarangmu ha ha ha" katanya mengancam.
"Apaan sih kak Rey. Kata Tante kan tadi disuruh jagain, kok malah gangguin aku terus sih. Kak Rey main ndiri aja sana!!! aku lagi males" kataku menolak.
"Gak asyik main ndiri. Asyik itu kalau main berdua sama kamu. Sayang ayo buka pintunya dong!!! Mijah sayang... kalau dalam 5 menit belum dibuka ni pintunya, jangan menyesal kalau kak Rey tambah hukumanmu" ancamnya padaku.
"Aishhhh sial. Apa mungkin dia mau manjat lewat jendela? Inikan lantai dua,, tapi kalau dia tentara pasti bisa masuk lewat jendela. Aargghhh... Apa aku ngumpet di lemari aja ya!!" kataku dengan suara pelan.
Seketika itu aku sudah didalam lemari yang ukurannya lumayan besar bisa untuk bersembunyi.
Kudengar suara pintu dibuka tapi bukan pintu kamar. Dari celah lemari kuintip setiap pergerakannya. Tak boleh membuatnya curiga sekali lagi. Jadilah gadis lemah dan bodoh sherin.
"Oh tidak.... ternyata ada pintu rahasia dibalik dinding yang kukira cuma ada di film Doraemon" kataku menahan diri menyaksikan pintu kemana saja dari celah lemari bahkan untuk bernafaspun takutnya bukan main.
"Mijah oh Mijah... jangan ngumpet dong!!! Ayo keluar!! masak udah besar main petak umpet... Sherinnn... Mijah... kalau ketangkep takkan ku biarkan kamu lari lagi. Hukumanmu bertambah berat" katanya dengan bernada mengejek sambil mencariku dikamar mandi, di bawah kasur.
"Ya Allah selamatkan aku!!" mulutku komat kamit berdoa, jantungku berdetak kencang sekali.
Kreekkk...
Dia mulai membuka pintu lemari. Ahh nafasku seakan terhenti. Biarpun aku sudah memiliki sabuk hitam dan memenangkan juara karate dalam berbagai event dalam dan luar tapi jika dihadapkan dengan seorang kapten seperti dia apalah dayaku jika dia tidak lengah. Jangan sampai dia lepas kendali lagi bisa remuk tulangku.
"Sherin... selain kau pandai menginjak dan menendang perut orang, ternyata kau pandai bersembunyi juga. Kenapa kau tidak masuk militer saja. Aku bisa merekomendasikanmu di garda depan supaya musuh lari ketakutan saat melihat macan betina sepertimu. ha ha ha... Sudah puas belum kau bersembunyi... kalau tertangkap kau takkan ku maafkan!!!" katanya benar-benar membuatku hidup segan mati pun tak mau.
"Aku yakin kau ada dibalik pintu lemari ini. Kau mau keluar sendiri atau dipaksa keluar untuk menerima hukumanmu" ancamnya lagi.
"Ya Allah apa salah dan dosaku hingga kau pertemukan aku dengan lelaki ini!!!" keluhku.
Aku tak bergeming sama sekali. Dengan kepribadianku haruskah menyerah begitu saja. Tidak akan dan tidak pernah. Aku masih kekeh ditempat persembunyianku.
"Mijah kuhitung mundur dari 10 kalau kau tidak keluar maka rasakan akibat perbuatanmu!! 10...9...8...7...6...5...4...3...2...1..." katanya mencoba menggertakku.
Kreekkk...
__ADS_1
"Ahhhhhh sial ngumpet dimana tu anak??" katanya kesal.
"Rasakan tu sok kepedean sih. Sherin dilawan. Kalau soal ngumpet mah, aku juaranya. Cari sana sampai ketemu. Aku akan keluar jika Tante dah pulang he he he" batinku mengejeknya.