Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Siapa Kamu???


__ADS_3

Di kediaman Gunanto


"Dasar Mijah. Minta dibuatin mie goreng malah molor. Mijah, kamu cantik. Semakin cantik kalau sedang tidur dan yang pasti gak bawel lagi" senyumku mengembang melihatnya tertidur lelap.


Kupindahkan Mijah ke kamar. Lucunya Tumben dia gak bangun mendadak pikirku.


"Kalau dia bangun apa iya boleh gendong dia kayak gini. Ada juga bisa ditendang ituku, malah mau dibuat cacat sama dia. Ada-ada aja ni anak he he he. Dasar bocah nakal!!" kataku pelan sambil membaringkannya di tempat tidur.


Ting tong... Ting tong...


Aku segera berlari ke pintu depan supaya bel berisik itu tak membangunkan Mijah.


Ceklekk..


"Ada perlu a....." kataku tertahan melihat seseorang yang mirip sepertiku. Kulihat dari atas sampai ujung kaki. Dia benar-benar seperti kembaranku. Aku tak pernah tau kalau punya saudara kembar. Ayah Ibu selalu bilang aku anak semata wayangnya.


"Siapa kamu??" tanyaku tegas.


"Sudah jelas kan?? Aku kakakmu. Rian Gunanto".


Aku masih terdiam tak percaya. "Minggir aku mau masuk!!" katanya memaksa.


Aku tahan dia dengan tanganku.


"Maaf Anda tidak bisa seenaknya masuk kerumah orang. Silahkan anda pergi dari sini!! Lagipula saya tidak punya kakak" kataku tegas.


"Siapa bilang ini bukan rumah saya. Sudah kubilang berapa kali aku ini kakakmu. Apa kamu tuli heh" teriaknya tidak sopan padaku sembari melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah bajuku.


"Ingin sekali kutonjok nii orang songong" batinku kalau tak ingat Ibu bisa shock kalau aku nonjok orang sembarangan.


Dia menuju ke kamarku. Seolah dia kenal seluk beluk rumah ini.


"Astaga ... Mijah...." segera aku berlari menyusulnya.


"Siapa yang suruh kamu masuk ke kamarku sembarangan!!!" teriakku emosi sambil menutup pintu kamar kembali dan menariknya menjauh.


"Minggir!!!" teriaknya. Baru aja mau melangkah dengan sigap kutarik tangannya kebelakang. Kukunci setiap titik vitalnya seperti seorang buronan yang habis tertangkap. Perkelahian antara kami pun tak bisa dihindari lagi. Satu pukulan tepat mengenai pipiku. Dan aku membalasnya dengan dua pukulan sekaligus.


ceklekk...


"Apaan sih Om Tejo berisik banget. Bisa diem gak??" teriak Mijah marah yang masih belum sadar sepenuhnya dengan apa yang terjadi.


"Astaga. Om Tejonya ada dua. Huaaaaaaaa" teriaknya membuat kami menghentikan perkelahian ini.


"Gadis itu??? Akhirnya kita bertemu lagi" katanya samar ditelingaku. Kulihat dia tersenyum kepada Mijah sontak membuatku kesal.


"Jangan macam-macam kau dengannya. Aku akan membunuhmu jika kau sampai menyentuhnya!!!" ancamku sembari bangkit mendekati Mijah.

__ADS_1


"Cihhh. Dia bukan milikmu. Dia adalah milikku" katanya tak tau diri yang membuat aku semakin waspada.


"Apaan sih!!! Dia milikmu dia milikku... dasar Om Om udah besar aja masih pada rebutan. Malu kali sama umur!!!" kata Mijah santai yang gak tau apa yang kami perebutkan.


"Mana barangnya!!! Sini!! biar Sherin bagi rata. Gitu aja rebutan. Gak malu apa tu muka pada bonyok semua" katanya menengahi tapi malah membuat kami bingung harus ngasih barang apa.


"Oh... oh Ini. Nggak perlu khawatir gadis manis. Ini pertengkaran laki-laki. Sudah biasa kalau bukan masalah rebutan cewek lalu apalagi yang mau kami perebutkan. Tunggulah disana dan lihat siapa yang menang. Kau bisa jadi juri kalau kau mau" kata si Rian brengsek ngomong nggak diatur.


"Oh.. jadi rebutan cewek. Kalau itu mah gak bisa dibagi rata. Ya udah deh terusin aja berkelahinya!! Dan sorry bukan levelku jadi juri pertandingan gila seperti ini. Mending panggil ceweknya aja suruh kesini biar dia yang milih daripada hancur tuh muka" santai amat si Mijah bilang begitu.


"Masalahnya...." kataku terhenti Mijah keburu pergi.


"Sherin kamu mau kemana?? Boleh aku temani??" si Rian brengsek malah ngejar Mijah ke dapur.


"Sherin jangan deket-deket sama dia!!" kataku sambil menarik lengan bajunya.


"Apaan sih loe??" kata Rian gantian menarik baju Sherin.


"Loe yang apaan??" kataku sambil menarik lengan Sherin sekali lagi.


"Stoppppp..." teriak Sherin membuat kami berhenti bertengkar lagi.


"Gila ya kalian berdua. Bisa gak lepasin tu tangan dari bajuku!!" kata si Mijah membuat kami berdua melepaskan ujung bajunya sambil pelotot pelototan.


Drrrtttt drrrtttt...


"Om Rey yang mana?? ya udah deh pokoknya aku mau keluar sebentar jemput Mama" kata Mijah melihat kami berdua dengan bingung.


"Aku anterin!!" kata si Rian mencoba pdkt.


"Gak. Aku aja yang nganterin. Kamu itu orang asing. Yang disuruh jagain Sherin gue bukan loe" jawabku ketus.


"Udah deh. Berantem lagi!! Kucing ama anjing aja kalau bertengkar gak gini gini amat. Aku keluar sendiri!!!" jelasnya. "Jangan ikutin, awas!!!" ancamnya membuatku semakin kesal.


Sepeninggal Sherin.


"Lebih baik loe balik dah ke asal loe!! Jangan dateng kesini lagi!! Dasar Pecekor (perebut cewek orang)" ku tinggalkan dia di sofa ruang keluarga.


"Loe aja kali sana yang pergi!!! Mending dah loe mati di tembak musuh biar Sherin cuma buat gue" teriaknya gak ku gubris.


Baru juga mau nyusul Mijah. Eh udah nongol aja ni anak.


"Jah, udah ketemu ama Mamamu?" tanyaku penasaran kok cepet banget eh gak taunya Mama ama tu Om Angga yang pernah aku tonjok ternyata Ayahnya Mijah udah ada didepanku.


"Assalamu'alaikum Tante, Om Angga" salamku agak malas sih kalau sama Om Angga.


"Silahkan masuk!!" kataku mempersilahkan mereka masuk.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam Rey. Mamamu ada?" tanya Tante Nay pelan.


"Ibu lagi arisan Tant, masuk Tante, Om, silahkan duduk!" kataku sopan. Kulihat raut wajah Om Angga seperti masih dendam sama aku.


"Ada Mama sama Papanya Sherin. Apa kabar Om Tante?" kata Pecekor sok sksd.


"Loh Rey kalian kembar? Tante Nay gak tau kalau kamu punya saudara kembar. La tu napa muka kalian berdua pada babak belur?" tanya Tante Nay gak tau mau jawab apa.


"Tante ini gara-gara..." belum sempat tu Pecekor ngomong boong lagi, aku sambung dah tu omongannya, "Oh gara-gara dia mau rebut Sherin dariku Tante. Padahal kan Tante tau kalau aku sudah jatuh cinta sama anak Tante sejak pandangan pertama. Mana ada sih lelaki yang rela gadisnya direbut orang lain. Tante Om... Tolong restuin aku sama Sherin, please?? Oh ya lupa si Rian ini bukan saudara kembarku Tante" elakku gak mau lah disebut kembar sama orang kayak gitu.


"Ama Sherin??? Om ama Sherin?? Kapan jadiannya?? Om Aku aja gak mau pacaran apalagi menikah. Om gak salah makan kan? Lagian juga ya, Jodoh Sherin tuh udah ada tinggal nunggu, sebentar lagi juga dateng" jelasnya membuatku tersenyum kecut. Apalagi didepan Ni si Pecekor yang ketawa senang.


"Sherin.. gak baik ah.. kalau Mama lebih suka nak Rey daripada laki-laki yang gak jelas yang kamu aja gak pernah ketemu lagi ama dia" kata Mamanya membelaku.


"Apaan sih Ma?" kata Mijah jutek.


"Kalau Papa terserah kamu aja tapi yang jelas gak boleh pacaran!!! Kalau ada yang suka sama kamu harus lewat ta'aruf langsung nikah. Kamu ngerti nak?" Kata Om Angga.


"Iya iya. Dari tadi ngomongin Sherin terus. Lagian siapa juga yang mau pacaran apalagi menikah. Sherin masih mau kuliah dulu. Dan kamu Om Tejo jangan bicara sembarangan lagi" sanggahnya dengan muka ditekuk.


"Gini Rey, Tante mau bawa Sherin pulang. Kan gak baik tinggal lama-lama disini. Jadi kamu ntar bilangin Ibumu, terima kasih dah jagain Sherin!! Tadi Tante juga sudah telpon tapi hp Ibumu gak aktif" kata Tante Nay yang buat aku sedih banget.


"Gini aja Tante? Gimana kalau Tante dan Om nginep disini dulu aja barang semalam? Ntar Ibu abis Maghrib pulang kok" kataku mencoba menahan Tante agar tidak segera membawa Sherin pulang.


"Ide bagus tuh. Om setuju Lagian jarang sekali Om bisa ketemu Ayahmu. Hon hon boleh ya Nginep disini?" kata Om Angga manja pada istrinya.


"Ishhh jangan gitu boo. Malu tau. Mereka masih anak-anak. Iya boleh!!" kata Tante Nay setuju.


"Tante, Rian boleh kan main ke rumah Sherin?" kata Pecekor kurang ajar.


"Tentu boleh. Kalian berdua boleh kok main. Dengan senang hati. Kalian sudah Tante anggap calon menantu Tante. Tinggal siapa yang bisa memenangkan hati Putri Tante. Jadi bertarung secara sportif oke" kata Tante Nay membuatku senang apalagi tuh si Pecekor.


"Apaain sih Mama. Sherin pergi aja. Gak asyik" kata Mijah kesal meninggalkan kami. Masuk ke kamarku.


Kususul Mijah secepat kilat begitu juga si Pecekor gak mau kalah.


"Apaan sih loe ikut-ikutan aja" teriakku kesal.


"Loe tu ngambil cewek gue?" tanyanya membuatku semakin tak mengerti. Sejak kapan Sherin jadi ceweknya. Gila tu Pecekor.


Ceklekk...


"Sherin...." teriakku tak percaya melihat kotak yang sudah lama kusembunyikan ada ditangannya.


"Sherinnn...!!!" teriakku memanggilnya yang berlari sambil menangis.


"Sherinnn.... Maaf..." kataku lesu.

__ADS_1


"Syukurin loe!!! Sherin jadi milik gue" ejek Rian.


__ADS_2