
Reynan Gunanto
Diluar dugaan, gadisku mengusir dan mengumpat tak jelas.
"Mong, kakak bisa jelaskan??" kataku memaksa.
"Pergi gak kak Rey!!! Pergi!!!" teriaknya marah melempar bantal yang dipakainya.
"Maaf soal kecupan tadi, kak Rey minta maaf. Tolong jangan seperti ini, kamu masih sakit, aduh itu infusnya??? Jangan Sherin,,, oke oke kakak keluar" kataku mencoba menenangkannya tapi yang ada dia malah tambah emosi.
"Keluar!!!" teriaknya sekali lagi melempar majalah yang ada di atas meja.
Sesekali kulihat Mong Mong sebelum ku keluar dari kamarnya. Hanya tatapan tajam yang diarahkan kepadaku dan itu membuatku lesu.
"Tutup pintunya!!" teriaknya dari dalam.
Sengaja aku tak menutup pintu itu biar bisa mengecek kondisinya.
"Kak Rey kan sudah keluar, ini pintu gak boleh ditutup biar dibuka saja. Kalau gak kakak akan tetap didalam. Pilihlah!!!" pintaku memaksa.
"Hufffttt. Terserahlah!!!" teriaknya kesal.
"Kenapa kamu diluar??? Kamu apakan Sherin???" Kakak killernya mulai mengintrogasiku setelah sekilas melihat kekacauan yang dibuat adiknya.
Gak mungkin aku bilang kalau sudah membuat kesalahan dengan mencium adiknya. Bisa-bisa ditampar lagi ini pipi mulusku.
"Salah paham Yun" kataku sok dekat.
"Sejak kapan kamu boleh manggil namaku??" katanya marah.
"Galak amat sih ni orang" gumamku dalam hati.
"Bukannya kamu pacarnya Aldo ya??? berarti kita seumuran. Oh apa aku salah??? Kalau gitu maaf atas kelancangan saya, Tante" jawabku membuatnya tambah kesal.
"Hisssshhh kamu ini" teriaknya mengepalkan tinjunya tapi tidak jadi. Diapun masuk ke dalam.
"Eittsss... jangan ditutup!!! Aku gak mau liat calon istriku disakiti lagi. Aku gak percaya sama kamu" bisikku sambil mengganjal kakiku disela-sela pintu. Kalau pintu ini masih terbuka, aku bisa dengan jelas mendengar pembicaraan mereka.
"Dasar... Cowok gila!!!" umpatnya tak sopan.
"Sher, apa-apaan ini???" tanya Yuna pura-pura.
"Gak ada apa-apa. Kak Yuna, kok bisa ada disini???" tanya Mong bingung. Tapi Yuna mengalihkan pembicaraan tak mau menjawab pertanyaan Mong Mong.
"Sherin, kamu itu kemana aja sih??? Kakak berusaha cari kamu dua bulan ini, gak taunya malah kamu terkapar disini. Emang ya, kamu suka buat kakak khawatir" jelas Yuna sok perhatian.
"Ahhh kakak. Maaf tapi dua bulan ini Sherin udah gak tinggal dirumah nenek. Sherin udah tinggal sama Mama papa kandung Sherin. Maaf belum memberitahu kakak" jelas si Mong.
__ADS_1
"Gak papa. Kakak sudah denger dari Roy. Dia terus saja mencarimu. Bahkan sampai dipukul sama bodyguard Papamu kwikiki kikikkkk" kata Yuna membuatku terperanjat.
Bagaimana bisa si Roy sampai dirumah Om Angga. Si playboy itu. Pokoknya dia gak boleh tau Sherin disini.
"Maaf mas, itu bunga buat siapa ya???" tanyaku penasaran.
"Oh.. bunga ini atas nama nona Sherin" kata mas pengantar bunga membuatku menelan ludah.
"Saya suami nona Sherin. Bisa saya wakilkan??" tanyaku penasaran siapa yang mengirim bunga ini.
"Tentu mas. Silahkan tandatangan disini" segera kutandatangani. Kulihat selembar kertas ucapan dari si pengirim bunga.
"Sherin, cepat sembuh ya!!! Kakak sangat merindukanmu. Jangan sakit lagi, kakak jadi sedih. Kakak akan mengunjungimu akhir pekan ini. Salam sayang dari kak Roy"
"Apa-apaan ini. Sial pasti si Yuna yang ngasih tau kalau Sherin ada disini" segera kubuang bunga itu ketempat sampah.
Pikiranku terbagi. Sejenak aku tak tau apa yang mereka bicarakan.
"Kakak bisa pinjam hpnya??" tanya Mong Mong lembut.
"Kamu ini, masih aja gak punya Hp. Bukannya bokapmu tajir ya ha ha ha... ini, udah gak usah cemberut gitu" gurau Yuna.
Masih dari luar kamar, aku iri melihat keakraban Yuna dan Mong Mong. Apa Yuna sebaik itu, dilihat sekilas saja tu cewek galaknya minta ampun bisa-bisa Mong Mong ketularan.
"Assalamu'alaikum, Papa sama Mama masih di Semarang kan??? Sherin cuma tanya aja. Kapan balik ke Jakarta?? ohhh ya udah gak papa kok Pa. Sherin Alhamdulillah baik. Maaf buat Papa sama Mama khawatir. Hp Sherin ketinggalan dirumah. Janji. iya iya Sherin bakalan bawa itu hp kalau perlu Sherin kasih tali. Papa puas. Ya udah Pah, ini ada kak Yuna gak enak lama-lama pakai hpnya. Salam kangen buat Mama. Assalamu'alaikum" kata si Mong memutus pembicaraan dengan Papanya.
"Sial ni pacarnya Aldo. Awas kamu!!!" gumamku kesal.
Kutarik tangan si Yuna ke samping kamar.
"Lepasin nggak!!! Mau gue gampar loe??" ancamnya tak sopan.
"Ngomong jujur Yun, loe yang ngasih tau Roy, kalau Sherin dirawat disini??" tanyaku kasar.
"Apaan sih ni orang main tuduh aja. Noh si Dira yang ngasih tau segalanya tentang Sherin ama si Roy!!" jelas Yuna membuatku geram.
Akupun berbalik ke kamar Sherin tapi langkahku terhenti karena bajuku ditarik paksa.
"Yuna!!!" pekikku marah.
"Apa??? Udah nuduh orang sembarangan main ngeloyor aja. Minta maaf!!!" teriaknya membuatku malu sekaligus kesal.
"Oke. Gue minta maaf. Puas!!!" kataku meninggalkannya yang masih berdiri mematung.
"Sher, kakak masuk ya??" tanyaku biar diizinkan masuk.
"Gak boleh" katanya tegas.
__ADS_1
"Mong, boleh ya, diluar dingin" rayuku sekali lagi.
"Didalam lebih dingin ada AC nya" jawabnya ketus.
"Dasar bodoh kau Rey, cari alasan yang logis napa??" gerutuku kesal.
"Mijah, kakak masih sakit nih, boleh masuk ya. Janji cuma duduk aja. Mijah aduh aduh kepala kakak pusing, ini lambung kakak sakit, aduh Mong... mong... tolongin kakak!!!" kataku berakting kesakitan.
"Lambung di sebelah kiri kak, bukan kanan. kakak keliru megangnya. Udah ah, kapan Sherin istirahatnya. Mending kakak balik dah ke kamar kakak. Biar ntar tu yang sakit dipijitin sama anak buah kakak!!!" jawab Mong Mong tak berperasaan.
Kalau gini terus, bisa-bisa kesalahan pahaman ini gak selesai-selesai. Terpaksa aku masuk tanpa menunggu izinnya.
"Kakak. Siapa yang ngizinin kakak masuk. Keluar!!!" teriaknya. Langsung kubungkam mulutnya dengan tanganku.
"Kalau kamu gak bisa diem kakak cium itu bibirmu, mau!!!" kataku memaksa. Mong Mong langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Sudah berhasil menenangkannya baru kulepas tanganku dari mulutnya.
"Hosh hosh hosh.. Kakak gila kakak gila" kudekatkan bibirku seketika dia diam tanpa suara.
"Kenapa kamu marah sama kakak??? Kenapa kamu teriak-teriak membenci kakak?? Jawab jujur!!!" tanyaku tegas.
"Ya Sherin benci kakak. Kakak sengaja ngurung Sherin di bekas kamar mayat itu kan??? Kakak yang gak sayang Sherin. Kakak bercandanya keterlaluan. Sherin tau kalau kakak cemburu Sherin dekat dengan kak Aldo tapi gak usah sampai begitu juga kan hiks hiks Sherin takut laba laba huaaa Huaaaaaaa" jelasnya menangis keras.
Kupeluk dan kuelus punggungnya dengan lembut.
"Sherin, gak mungkin kakak ngelakuin itu sama kamu. Bukan kakak yang ngurung kamu. Kakak sama sekali gak marah apalagi cemburu sama kamu dan Aldo. Udah jangan nangis lagi. Sherin maafin kakak kan?? jangan nangis lagi ntar jadi jelek" kuusap air matanya. Tak ada perlawanan.
"Trus kalau bukan kakak siapa??" tanyanya membuatku bingung harus jawab apa.
"Kakak belum tau. Nanti kakak selidiki dulu. Kalau orangnya tertangkap kakak kurung dan siksa gantian gimana???" jawabku sedikit menutupi. Aku gak mau kalau Sherin tau itu perbuatan kakaknya. Dia pasti lebih tertekan lagi.
"Jangan kak. Gak baik. Sherin udah maafin orangnya kok. Jangan cari masalah lagi. Janji!!!" kata Mong memajukan jari kelingkingnya.
"Gak bisa. Dia harus dihukum. Gak boleh dibiarin ntar ada korban lainnya" elakku gak mau berjanji.
"Kakak... Om Rey... Om Tejo" teriaknya kesal.
"Hmmm... Baiklah tapi mulai sekarang kamu harus manggil kakak *Sayang* dengan suara lembut, kalau gak ya besok, nggak jadi hari ini kakak bakal nyiksa tu orang. Gimana???" ancamku mengambil keuntungan.
"Apa???" teriaknya menolak.
"Baiklah. Kalau gitu kakak ke kamar dulu dan nyuruh temen-teman kakak buat cari tu orang" kataku beranjak meninggalkannya tapi dalam hati penuh harap agar Mong mau memanggilku dengan sebutan sayang.
"SAYANG..." kata yang keluar dari bibirnya membuatku ingin terbang setinggi-tingginya. Akupun tak berbalik supaya Mong memanggilku dengan sebutan itu sekali lagi.
"SAYANG.... Jangan pergi ya!!!" segera ku balikkan badan tersenyum kearahnya.
Hi, readers semua, pokoknya terus dukung authorsss, berikan like dan commentnya. Authorsss tunggu!!! 😉😉😉
__ADS_1