Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Menghilang


__ADS_3

Kupacu mobil menuju markas. Tapi di kepala hanya ada Sherin dan pemuda itu.


"Ahh sial. Ngapain juga Sherin dekat dengan si Raka itu. Apa lagi maunya anak itu?" kataku kesal.


Kuparkirkan mobil dan bergegas menuju kantor karena ada laporan yang harus segera kuberikan pada atasanku.


"Aishhhh..... Arghhh..." teriakku frustasi sedikit membanting keyboard komputer.


"Lapor pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rendy Sohib sekaligus bawahanku dengan nada mengejek.


"Selesaikan laporan ini sekarang juga. Saya butuh udara segar" kataku tegas.


"Tapi pak. Bukankah itu tugas Anda" katanya menolak.


"Jadi kamu menolak perintah atasanmu. Gunakan peralatanmu lari 100x cepat laksanakan!!!" teriakku keras.


"Baik pak. Saya pilih yang pertama saja pak. Segera laksanakan" kata Rendy cengengesan.


Dia pun segera mengambil alih komputer dan mulai mengetik laporan. Bukan Rendy kalau gak kepo masalah orang.


"Hey Bro. Ada masalah???" tanyanya santai.


"Mau tau aja loe" kataku sambil mendorong kursinya.


"Roman-romannya ada yang lagi jatuh cinta nie" godanya.


"Sok tau. Dapet cerita darimana?" kataku ogah menjelaskan.


"Eh buset gue ni Sohib loe. Jadi gue tau. Tu muka ditekuk dari tadi apa coba kalau bukan gara-gara cewek. Mangnya cewek mana yang bisa naklukin hati loe? Hebat bener tu cewek" katanya penasaran.


"Anak SMA. Anaknya temen nyokap gue" jawabku.


"Gila lu Bro. Anak SMA digasak juga". pekiknya tak percaya.


"Loe aja yang belum liat orangnya. Gue yakin sekali ketemu tu cewek loe bakal lebih gila dari gue. Dah ah, kerjain tu laporan. Daripada loe ngerayu cewek lebih baik loe ngerayu atasan biar gue baik sama loe" kataku seraya meninggalkannya.


Di sekolah


Tettttt... tettttt... tettttt...


"Sher, yuk ke kantin gue traktir" ajaak Nia sohibku.


"Sipp dah. Tau aja loe Ni gue lagi bokek" ucapku.


"Hai nona cantik, boleh dong mamas ganteng ikut ke kantin bareng nona cantik?" tanya Raka.


"Apaan sih loe Ka. Ke kantin ndiri aja Sono. Gue sama Sherin ada perlu" kata Nia menarik tanganku menjauhi Raka.


Aku dan Nia duduk di kursi kantin paling pojok sendiri.


"Ni makanan loe. Dah makan gi, gue tau loe kelaperan" kata Nia sok tau.


"Nia, boleh gak kalau gue sementara tidur dicafe loe" kataku lembut.


"Huk.. Huk. Loe gila ya Sher? Bokap loe aja nelpon gue terus nyariin loe. Loe masih mau ngilang?? Gak ahh. Mending loe pulang kerumah" kata Nia menolak.


"Nia please. Gue butuh berpikir jernih dulu sebelum pulang kerumah itu. Nia boleh ya!!!" rengekku.


"Gak ah. Ntar pulang loe gue anter ketempat bokap loe" katanya menolak lagi.

__ADS_1


"Ni yang nyelakain Mama gue itu bunda dan kakak gue. Loe tau kan kecelakaan Mama gue karena remnya gak berfungsi semua udah direkayasa bunda sama kak Dira. Masih ada lagi orang dibelakang mereka" kataku lesu.


"Gila loe Sher. Mangnya loe punya buktinya?" tanyanya tak percaya.


"Kak Dira yang bilang waktu gue ke rumah sakit dan gue punya rekaman suaranya. Gue udah selidiki secara menyeluruh. Ada rekaman cctv waktu itu yang dirusak mereka tapi berhasil gue pulihin. Tapi masalahnya kejadiannya sudah lebih dari 10 tahun. Batas pengajuan ke pengadilan sudah nggak bisa. Jadi gue nggak bisa nuntut mereka semua. Bahkan orang jahatpun masih dilindungi secara hukum. Huuuuhhhh..." jelasku lesu.


"Ahh Sherin... Loe gak papa kan?" tanyanya sambil memelukku dan menangis.


"Gue gak papa Ni. Please boleh ya gue tidur di cafe loe?" rengekku.


"Gue gak ngizinin loe tidur di cafe. Ntar loe tidur dirumah gue aja. Kebetulan bonyok lagi pergi luar kota. Jadi loe temenin gue, okey!!" katanya.


"Udah ah. Masuk kelas yuk!" ajaknya menarik tanganku cepat.


Di tempat lain


Seorang laki-laki berjas hitam masuk ke sebuah ruangan yang mewah dan luas.


"Bos. Ini semua berkas dan data gadis itu" ucapnya dengan suara besarnya.


Dilihatnya berkas tadi perlahan-lahan. Dia mengernyitkan dahinya.


"Lakukan sesuai rencana. Saya tidak mau sampai gadis itu terluka. Lakukan dengan baik. Jangan sampai ada yang curiga. Mengerti!!" Bentaknya.


"Baik Bos".


"Keluarlah" lanjutnya.


"Akhirnya aku menemukanmu gadisku" katanya tersenyum senang.


Tettttt...tettttt...tettttt...


"O oke" jawabku mengiyakan.


Ku turuni satu persatu anak tangga. Dengan senyum membuncah kucari mang Udin di tempat biasa dia menjemput sohibku.


Tak disangka, ada dua mobil Mercedes Benz berhenti tepat di sampingku. Keluarlah 4 orang bertubuh kekar dan mereka semua mengenakan jas hitam. Pemandangan yang membuat semua orang bergidik ngeri.


"Nona Sherin?" kata salah satu laki-laki berjas hitam itu. Aku hanya terdiam tak bergeming. Kakiku juga tidak bisa digerakkan. Kebetulan pada saat itu sudah sepi dan pak satpam entah pergi kemana.


"Ikut kami" paksanya sambil membukakan pintu belakang mobil. Kakiku masih tidak bisa bergerak. Bukan karena takut, tapi lebih kepada memendam emosi yang meledak-ledak. Ingin sekali kuhajar mereka. Tapi jika kulakukan maka identitas rahasiaku akan segera terbongkar.


"Siapa mereka. Apa yang mereka inginkan dariku? Toh aku saja tidak punya apa-apa" pekikku dalam hati.


"Masuklah!!" Bentaknya.


Mereka mengambil Hp ditanganku dan membuangnya di jalan.


"Tuan. Saya tidak punya apa-apa. Kalau tuan menculik saya, Tuan salah. Karena tak kan ada yang mau menebus saya" Jelasku berpura-pura menangis.


"Nona Anda bisa diam tidak!!" bentaknya sekali lagi.


Kututup mulutku rapat-rapat. Tak mau membuat mereka marah. Bisa-bisa sebelum beraksi sudah langsung dibunuhnya.


"Ya Allah cobaan apa lagi yang harus kulalui? Selamatkanlah aku ya Allah. Tolonglah hambaMu ini. Jangan biarkan sesuatu yang buruk menimpaku. Masih ada hal lain yang harus kulakukan demi almarhumah mama dan nenekku. Aamiiinn" doaku dalam hati.


"Aku mau dibawa kemana? Melihat dari cara mereka mengepalkan tangan, bentuk otot lengan dan kaki serta tatapan tajam yang diarahkan sepertinya mereka orang terlatih. Aku tak boleh gegabah" kataku dalam hati.


Sepanjang perjalanan yang kulihat hanya Pohon tinggi dan besar seperti di tengah-tengah perkebunan. Terlihat gerbang besar dan tinggi berwarna keemasan terbuka. Masuklah kami kedalamnya menuju rumah utama.

__ADS_1


"Rumah siapa ini. Tak mungkin dia menculikku. Apa ini termasuk komplotan human trafficking. Atau ada pengusaha tua yang kaya mau menjadikanku istrinya? Hahhhh... ngerinya" pekikku sambil menggelengkan kepalaku seakan tak mau semua itu terjadi.


"Nona kita sudah sampai. Turunlah!" pintanya lembut berbeda tadi yang membentakku. Dengan waspada segera aku turun. Dari belakang kuikuti laki-laki berjas tadi. Disetiap sudut ada dua pengawal yang berjaga. Kalau akumulasikan totalnya ada 20 penjaga yang siaga. Kalau dengan kemampuanku yang hanya seorang diri tanpa alat bantu hanya bisa melawan 10 dari mereka. Mau tak mau harus kuturuti kemauan mereka. Mencari motif dibalik ini semua.


Laki-laki itu terus saja berjalan membawaku ke sebuah ruangan yang mewah hampir semua didominasi dengan furniture berwarna keemasan.


"Silahkan duduk!! Saya akan panggilkan Tuan Besar" katanya kemudian meninggalkanku sendiri diruangan ini.


"Tak ada foto, tak ada informasi yang bisa kudapat selain dia adalah orang yang penting. Apa pekerjaan bos besar mereka dan apa hubungannya denganku???" otakku berpikir keras.


Kreekkk.....


"Sherinnn..." Lelaki tua berusia setengah abad itu memanggilku lembut dan terlihat sekilas dia meneteskan air matanya.


"Siapa dia??? Musuh ataukah lawan???" batinku menyelidik.


Di Sekolah


"Mang Udin. Lohhh.... dimana Sherin?" tanyaku.


"Non Nia. Non Sherin belum kemari" jawabnya


"Gak mungkin. Sherin selalu menepati omongannya. Pasti ada sesuatu yang buruk terjadi padanya" tanyaku menerka.


Segera kuambil ponsel disakuku dan menelpon nomer Sherin. Tak kusangka hanya bisa mendengar bunyi hpnya saja.


"Hp Sherin...." teriakku tak percaya yang kulihat.


Segera kupungut Hp Sherin yang tergeletak dalam keadaan rusak di jalan dekat pos satpam. Segera saja aku berlari ke pos satpam tanpa terasa air mataku jatuh begitu deras.


"Pak... pak satpam liat temenku gak?" tanyaku terengah-engah dalam keadaan menangis.


"Bapak Ndak liat Non. Kebetulan tadi bapak dipanggil pak kepala sekolah. Ini juga bapak baru balik lagi belum liat siapa-siapa" jelasnya.


"Jelaskan pelan pelan dik.... Tarik nafas.... lepaskan.... Sekarang katakan perlahan" kata tentara itu padaku.


Dengan masih menangis, "Om Om tentara bisa melacak temen saya Ndak? Om tolong dia menghilang.... hiks hiks hiks!!" pintaku putus asa.


"Siapa nama temanmu??? Kamu punya fotonya???" tanya Om tentara itu begitu tenang.


"Ini hpnya Om. Namanya Sherin" Jelasku membuat matanya membelalak lebar.


"Tak mungkin dia. Bukan dia kan???" tanya Om tentara itu sepertinya sangat shock.


"Om.... namanya beneran Sherin. Lihat foto di hpnya!!!" teriakku menangis tak percaya malah dia permainkan.


"Sherinnn.... ternyata kamu.... Apa yang harus kulakukan???" gumam Om itu malah gantian menangis.


"Ommm.... kenapa malahan omnya menangis. Cari dia ommmm... Cepetan cari dia" teriakku mengguncang-guncangkan badannya marah tapi tak bergeming sama sekali.


"Om..... ommmmmmm......" teriakku frustasi.


"Saya tidak menangis, ini karena kamu tadi menyolok mata saya dengan tanganmu karena panik tadi... Masih sakit tau" elaknya membuatku sekejap lupa dengan hilangnya Sherin.


"Omnya jangan bercanda deh.... Om seriusan temen saya hilang" kataku marah.


"Oke oke tenang dulu. Biar saya pikirkan dulu apa yang harus saya lakukan. Sekarang pulang dan istirahatlah" katanya begitu tenang.


"Ya Tuhan apalagi ini... Kemana harus ku cari kau Sherin. Ku mohon Bertahanlah. Sherin, aku pasti akan menemukanmu. Tunggulah!!!" gumam Om itu sendiri.

__ADS_1


"Apa Om ini kenal Sherin??? Sugar Dady kah???? Nia kenapa otakmu konslet.... Teman dekatmu dalam bahaya bisa bisanya kau berpikir yang tidak-tidak.... Nia sadarlah!!!" jeritku dalam hati segera ke parkiran sekolah.


__ADS_2