Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Army Battle


__ADS_3

Setelah bom menghancurkan semua markas besar Richard, aku bergegas mengirim sinyal ke pusat, meminta bala bantuan memadamkan api yang ditimbulkan dari ulah mereka. Hanya karena ketamakan dan kekuasaan, mereka dengan mudahnya menghancurkan alam yang diciptakan Tuhan.


"Setelah semua aman, aku akan pergi ke markas militer rahasia milik Chen Ocilll. Kak Richie kau pergi bersamaku" kataku masih melalui alat komunikasi. Jarak antara tempat dan markas pusat di kota ini hampir memakan waktu tiga jam.


"Apa kau benar-benar sudah bosan hidup Mong. Dengarkan aku, kita akan kesana besok pagi. Jangan pernah berpikir meninggalkanku dalam setiap aksimu. Kau mengerti!!" teriak kak Rey kesal.


"Hey Reynan, apa hakmu memerintah kami. Kami bukan bawahanmu. Jalur kita berbeda meskipun kasus yang kita tangani sama. Kami tak ada sangkut pautnya dengan duniamu. Jadi ingat posisimu" teriak kak Richie marah.


"Aku tak ada kaitan denganmu tapi kalau dengan Mong Mong kami ini pasangan. Jadi kau juga jangan ikut campur" teriak kak Rey tak terima.


"Kau.... Turunlah aku akan menghabisimu!!!" teriak kak Richie semakin marah.


"Bagus... bagus... teruslah bertengkar. Bagaimana kalau aku menjadi pemandu sorak untuk kalian hip hip hore..... yeyyyyyy... Ha ha ha...." kataku mengejek.


"Diam kau!!!" teriak mereka bersama.


Pertengkaran yang sering terjadi diantara mereka. Yang satu kakak angkatku, yang satu calon suamiku. Tak ada untungnya membela salah satu dari mereka.


Citttttttttttt......


"Hyaaa.... Kalian ingin membunuhku. Kenapa ngerem mendadak??" teriakku kaget setengah mati.


"Kita punya masalah. Lihatlah pahlawan kesiangan mencoba merampas jerih payah kita" jelas kak Kitty yang berada di Jeep paling depan sendiri.


"Huhhhh.... tentara aliansi itu, benar-benar tak tau malu. Aku akan segera kesana" kataku segera keluar dari kabin kemudi.


"Leave everything to us (serahkan semua pada kami)" teriak salah satu tentara aliansi.


"Am I not mistaken?? (Apa aku tidak salah dengar)" jawabku mencoba beradu dengan mereka.


"Tentu saja tidak nona manis. Ketua tim aliansi operasi kali ini. Jika kalian menyerahkan semua secara baik baik maka kami akan melepaskan kalian dengan mudah tapi jika tidak..." ancamnya menunjukkan ID segera kucengkeram kerah bajunya.


"Kalau tidak???? Begini saja kau sudah gemetar beraninya kau mengancam kami. Cuihhhh...." kataku melepas cengkeraman dengan kasar.


"Berani benar kalian melawan tentara aliansi. Sudah bosan hidup ya???" teriaknya marah.


"Tuan Walvis, Anda terlalu berlebihan. Bagaimana tak tau malunya Anda merampas semua yang kami perjuangkan hari ini. Bukankah kalian baru akan melakukan operasinya besok ya?? kalian bisa mencari apa yang kalian inginkan besok. Tapi kukira disana hanya tertinggal puing-puing saja" kata kak Rey tidak berpihak padanya.


"Ohhhh... ternyata kau. Kapten tim Black shadow. Tak kusangka, kau mengkhianati kesatuanmu dan berbalik membantu mereka. Lihatlah hukuman apa yang pantas untuk orang sepertimu???" ejeknya sama sekali tak sadar posisi.


BUGGGG.... Satu pukulan tepat diwajahnya.


"Sialan kau..." teriaknya mengusap darah di ujung bibir segera bangkit untuk membalas perlakuan kak Rey kepadanya.


"Diam atau kutembak kau!!!" kataku memperingatkan dengan mengacungkan pistolku kepadanya.


"Tuan Walvis, dengarkan!!! Jika kau membuat masalah di negaraku, aku tak segan-segan mengirimmu kembali dalam keadaan cacat. Menurut undang-undang, alat bukti, tersangka yang merupakan alat kejahatan adalah sepenuhnya hak milik negara kami. Kalian orang dari luar hanya bisa mendengarkan dan melihat progressnya saja. Jika kau memaksa maka tak ada cara lain selain kita battle sesuai dengan cara militer. Bagaimana apa kau setuju???" kataku tegas dan yakin.


"Ha ha ha ternyata wanita ini bernyali juga. Tapi buat apa kami bertarung denganmu. Dengan kuasaku saja sebagai ketua tim aliansi seluruh dunia bisa dengan mudahnya langsung merebut ini semua. Kalian semua ambil ini secara paksa!!!" perintahnya tak tau diri.


"Siapa saja yang mendekat, aku tak segan-segan membunuh kalian ditempat!!!" teriak kak Kitty yang sudah emosi. Begitupun kak Richie mengacungkan kedua pistol ditangannya kepada mereka.


"Wooooowwwwww inikah namanya kekuasaan ditangan orang salah dan bodoh ha ha ha... Kau hanya ketua tim saja sudah sombongnya minta ampun. Baiklah aku akan menunjukkan kepada kalian sesuatu. Lihat dengan mata lebar-lebar, aku ditunjuk secara kuasa penuh menjadi ketua BIN dalam misi kali ini. Dan bukan hanya itu saja Lihatlah kartu IDku baik-baik" jelasku menunjukkan kartu ASku kepada mereka.


"Ini tidak mungkin??? Kau???" pekiknya tak percaya.


"Hey,, adik bungsu kau tak mencuri ID milik ketua kan???" tanya kak Richie berbisik pelan.


"Tenang saja kak, aku cuma meminjamnya. Kalau sudah selesai akan kukembalikan, sutttt... Tenang saja!!!" balasku berbisik.


"Bagaimana, mau diselesaikan secara militer atau dengan kekuasaan???" tantangku sekali lagi.


"Semua mundur!!! Baiklah. Kita lakukan dengan cara militer. Jika kau kalah maka semua ini menjadi milik kami. Kirim anak buah terbaikmu untuk melawan kami dalam 5 pertandingan" katanya masih saja meremehkan.


"Tak perlu. Aku yang akan langsung melawan kalian dalam 5 cabang kompetisi. Dan jika kau kalah berlututlah minta maaf kepada kami semua dan segera angkat kaki kembali ke negaramu" jawabku gantian meremehkannya.


"Dasar wanita keras kepala. Besar juga nyalimu. Baiklah, aku akan menunggumu di markas. Kita kembali sekarang!!!" teriaknya berbalik arah dan pergi.


"Fuhhhh..... Bagaimana ini, huaaa... laki laki itu benar-benar memprovokasiku" teriakku tak percaya dengan apa yang kukatakan.


Takkkkkk.... Kak Richie seperti biasa memukulku.


"Awwww.... sakit kak...." teriakku kesal.


"Sudah tau begitu malah kau ladeni, sekarang terserah padamu" kata kak Richie pasrah.


"Mong Mong kau tak apa?? Richie kau menyakiti istriku" teriak marah kak Rey mengelus lembut kepalaku dan meniupnya sesekali.


"Rasakan itu. Salahmu sendiri menantang mereka. Hyaa adik bungsu, nyalimu sungguh besar, bagaimana kau mencuri ID milik ketua. Apa kau sudah gila??? Kau mau kita mati bersama???" teriak kak Kitty sangat marah.


"Nona, apa kita akan dikubur hidup-hidup oleh ketua atau dibuat daging cincang??? aku perlu menyiapkan mentalku dulu" kata Vanya seperti anak kecil.


Takkkkkkkkk..... Kak Kitty memukul kepala Vanya.


"Diamlah atau kucincang kau sekarang. Kebetulan aku sudah lapar" ancam kak Kitty dengan muka serius.


"Kak, bagaimana kalau kita bagi tugas. Aku, kak Rey, Rendy dan Vanya langsung ke markas gabungan itu membawa container ini. Kau dan kak Kitty langsung ke markas rahasia Chen ocilll bersama anak buah Richard yang sudah jinak??" kataku mencoba menyingkat waktu.


"Tak masalah. Aku setuju idemu. Semakin cepat semakin baik. Jangan mengulur waktu lagi" jawab kak Kitty langsung mengiyakan.


"Oke. Aku juga sudah bosan di hutan ini. Lili aku butuh pil luka itu lagi punyaku hampir habis" pinta kak Richie.


"Tunggu, bukankah aku memberikan 20 kaplet per botolnya??? Apa kakak memberikannya kepada orang lain??" tanyaku sedikit cemas.


"Tidak, setiap terluka aku memakannya satu. Makanya cepet habis" jawab kak Richie tanpa dosa.


"Bagaimana ini, bagaimana??? Apa yang harus kukatakan. Dengan temperamennya yang buruk aku bisa mati ditempat. hiks hiks hiks.... Walah walah walah matilah aku...." batinku bingung.


"Lili...." teriak kak Richie keras sekali.


"Apa?? aku belum tuli kak" jawabku kesal.


"Mana pilnya, cepat!!!" teriaknya sekali lagi.


"Kak, maafkan aku... Kau tak bisa makan pil itu lagi. Kau sudah seperti wonder women, cat women bahkan power rangers. tak kan ada yang menyakitimu, tenang saja ha ha ha" jelasku tak mau panjang urusannya.


"Bolehkah kami pergi sekarang??" tanyaku berusaha melarikan diri.


"Apa yang kau sembunyikan, Liliana???" tanya kak Richie dengan tatapan membunuh.


"Tak ada. Kalau gitu kami pergi dulu Kak. Semoga berhasil. Semangat!!!" pamitku bersama Vanya, Rendy dan kak Rey.


Kami bergegas naik ke container yang berisi sitaan dari markas Richard tadi. Vanya bersama Rendy mengemudikan container berisi orang-orang yang sudah tak berdaya. Aku membawa container berisi obat dan kak Rey membawa container berisi senjata.


"Mong katakanlah yang jujur. Kenapa kau menolak memberi pil itu pada Richie" tanya kak Rey sambil mengemudi merasakan ada yang janggal.


"Kalau tidak salah nona pernah berkata jika kita minum 1 pil itu akan menyembuhkan dan mencegah luka yang bisa bertahan selama dua hari. Disini kak Richie setiap terluka pasti meminumnya satu. Apa memang tak ada efek sampingnya nona???" tanya Vanya membuatku tersenyum kecut tak sadar kami masih terhubung dengan alat komunikasi satu arah.


"Ya jelas ada. Makanya aku segera melarikan diri kalau tidak kak Richie bisa menjadikanku bebek panggang ha ha ha" jawabku tak menyadari jika kak Richie juga bisa mendengarnya.


"Nona, apa efek sampingnya??" tanya Vanya penasaran.

__ADS_1


"Setiap butir pil itu mengandung membran kalsium alginat-kitosan tapi juga mengandung zat lain yang menyebabkan penuaan dini lebih cepat karena efek berlebih pada dosis yang melebihi takaran. Dengan kata lain Kak Richie bisa jadi nenek nenek dengan kulit keriput dalam kurun waktu 15 hari he he he. Makanya aku tak berani menjelaskannya tadi" kataku tak sadar diujung sana ada orang yang sedang marah menggebu-gebu siap melemparkan bom nuklir kearahku.


"Liliana..........." teriak kak Richie menggema menakuti setiap hewan yang hidup disana.


"Astaga kak Richie...." teriakku tak percaya segera mematikan alat komunikasi.


"Mereka semua tak sadar mengadu banteng dengan kak Richie. Dia pasti takkan memaafkanku" gumamku sendiri merasa bersalah.


"Tunggu, aku kan tidak bersalah. Kak Richie sendiri yang ceroboh" gerutuku segera menghidupkan alat komunikasi lagi.


"Liliana,,, tunggulah pembalasanku. Akan kubuat kau lebih tua dariku. Lihat saja, aku takkan melepaskanmu. Dasar kau brengsek memberikanku pil yang aneh. Liliana...." teriak kak Richie tak berhenti-henti.


"Olala lalallalaaaaa... Kak Richie.... sepertinya itu bukan kesalahanku lohhh??? aku sudah bilang kalau kau hanya boleh memakannya 1 butir untuk dua hari. Ha ha ha.... Mau bagaimana lagi bubur sudah dimakan nenek.... Tunggu, tapi kalau kau baik dan patuh padaku, aku pasti membuat penawarnya. Bagaimana???" ucapku memberi penawaran.


"Liliana, kau masih berani mengejekku??? Dasar kau bocah sialan...." teriak kak Richie menggema di sepanjang jalan menuju markas. Dengan menggodanya perjalanan yang sepi ini jadi tak membosankan. Kak Rey dan lainnya hanya tertawa mendengar celotehan kami.


"Nenek kau masih mengudara bukan??? nenek.... nenek...." godaku dengan sengaja.


"Diam kau...." teriaknya masih kesal.


"Mong kau tak boleh membuat penawarnya. Biarkan saja Richie menjadi nenek nenek keriput ha ha..." tambah kak Rey semakin membuatnya kesal.


"Diam kalian berdua. Kalian memang pasangan gila...." teriak kak Richie menggebu-gebu.


"Ha ha ha ha..." tawa kami bersama.


"Apa ketawa ketawa.... Sudah bosan hidup kalian.... Kitty kau mau ku goreng sekarang??" teriak marah kak Richie.


"Ampun kak,, jangan ganggu aku lagi nyetir. Kau seharusnya membunuh pasangan gila itu" sahut kak Kitty asal.


"Nenek... baik baiklah.... Jaga dirimu... Jangan lupa minum vitamin..." godaku sekali lagi.


"Liliana...." teriak kak Richie dengan nada marah.


"hahahhaa... Sudah sudah kak... Aku tak sanggup lagi tertawa Kwikkiikiiii wekkkwekkkwekkk...." tawa renyah kami bersama berhasil menggoda kak Richie.


Dua jam kemudian, di markas aliansi.


Kami turun bersama-sama menuju lapangan tembak yang berada ditengah-tengah gedung.


" Mong, kau yakin tak perlu bantuanku???" tanya kak Rey sedikit cemas.


"Tenang saja kak. Aku sudah memprediksi ini sebelumnya. Tolong awasilah container-container itu selama aku bertanding dengan mereka. Mereka akan melakukan tipu muslihat selama pertandingan ini berlangsung. Semua mempunyai peran dan tanggung jawab yang penting. kupercayakan container-container itu pada kalian. Aku mengandalkanmu" kataku segera menuju tengah lapangan dengan percaya diri dan penuh keyakinan.


"Je vergist je niet (Kau tak salah, bahasa Belanda)"


"Folle Elle est la femme patronne (Gila, dia wanita bos, bahasa Perancis)"


"You meili de nuhai (Gadis yang menarik, bahasa cina)"


"Du kannst es bekamphen (Apa kau bisa melawannya, bahasa Jerman), Liliana...."


"Uliga ssawoya halkka, igeon michin jis-iya (Haruskah kita melawannya, ini gila, bahasa Korea)" celoteh para tentara teman ketua tim aliansi sombong tadi.


"Tak kusangka, kau berani datang juga" ejeknya masih tak tau malu.


"Tak usah basa basi. Katakan apa saja pertandingannya???" kataku langsung ke intinya.


"Nona... Kau sungguh tidak sabaran. Kita masih harus menunggu komandan tertinggi untuk melihat pertunjukan yang bagus ini. Lihatlah dan kau akan kupermalukan didepannya" gertaknya tak sadar akan kemampuannya.


"Baiklah akan kuberi tahu pertandingannya. pertama bongkar pasang senjata api model revolver 38 dengan 5 alur twist (round capacity) kemudian menembak langsung disasaran, kedua memanah, ketiga berkuda, keempat bela diri, kelima menjinakkan bom" katanya jelas.


"Waited a Long time??? (sudah lama menunggu)" katanya lembut dan menatap kearahku lama.


"Belum komandan" jawabnya begitu angkuh melirik ke arahku.


"Inikah gadis yang kau sebutkan tadi???" tanyanya seperti ada maksud tersembunyi.


"Benar komandan".


"Ini pasti sangat menarik. Liliana aku menantikan performa terbaikmu" ucap si komandan tertinggi yang ternyata kak Justin seniorku saat di Jerman.


"Tentu saja, mana berani aku mengecewakanmu" jawabku segera berjalan ke posisiku.


Kak Rey, Vanya dan Rendy hanya bisa melihat dari jarak jauh. Walvis adalah kapten tim Darkmonster. Dia sangat terkenal dengan kelicikannya.


"Bersiaplah di posisi masing-masing" teriak laki-laki yang bertugas memandu.


Kamipun bersiap. Mataku menatap serius dengan apa yang ada dihadapanku.


"Jika kau takut kau boleh mengaku kalah" ejeknya tak sopan.


"Tak ada yang kutakutkan. Oopppsss... Jangan menangis jika kau kalah, aku tak punya balon dan permen" bisikku tersenyum mengejek.


Senjata api model revolver 38 memiliki 5 alur twist panjang Laras sekitar 3 sentimeter (1 7/8 inci) jarak sasaran sekitar 10 m dengan kecepatan peluru 1,5 detik, konsentrasi dan tentukan arah angin.


"Bersiap.... mulai" aba-aba pemandu itu.


Ceklekk... trak jak.... Jak... Dorrrr...dorrrr... dorrr... dorrr


"Puffffff..... Kau kalah" ejekku meletakkan kembali pistol tersebut.


"Sial... gadis ini sombong sekali. Aku akan mengalahkannya di lomba kedua" gerutu Walvis marah.


Plokkk plokkk plokkk....


"Tak kusangka kemampuanmu semakin meningkat gadis manis.... Luar biasa sangat cepat dan akurat. Hanya 1,4 menit. Pencapaian yang luar biasa" ucap kak Justin entah memuji atau mengejek.


"Ini benar-benar gila. Siapa gadis itu??? Bahkan komandan tertinggi sampai memujinya" celoteh orang-orang disana.


"Bukankah itu tunangannya kapten ya???" tanya Joko tak sadar sikon. Akupun menatapnya tajam.


"Ssuutttt... Jaga ucapanmu" cegah Arka.


"Baiklah kita ke pertandingan kedua. Mari kita selesaikan dengan cepat!!!" kataku tak mau bertele-tele.


Compound elite Echelon 37 RH 28", menggunakan material aluminium, axle to axle 37", bracing height 6.75", bobot 4.4 lbs, let-off 90-75%, panjang tarikan 26.5"-31", kecepatan 333 fps. Alat panahan yang biasa digunakan atlet olimpiade dengan jarak tembak 90 m.


"Baiklah silahkan di posisi masing-masing. Bersiap... mulai" teriak pemandu memberi aba-aba.


Sringgggg.... wushhhhhhh... Sleebbbbb.... slebbbb... slebbbb...


"Gila ni cewek makanannya apaan sih???"


"Astaga... bos kita masuk ke jebakannya sendiri"


"10 cincin emas untuk nona Liliana . Sungguh nilai sempurna. Maaf kapten Walvis Anda hanya mendapat 8 cincin" kata pemandu lomba itu membuat Walvis semakin marah.


"Kau sudah melihatnya sendiri. Aku akan berbaik hati padamu. Apa kau masih ingin melanjutkan???" tanyaku memprovokasi.


"Tentu saja. Aku tak yakin jika kau bisa mengalahkanku di lomba selanjutnya" jawabnya masih angkuh.

__ADS_1


"Baiklah. Kita mulai sekarang!!" kataku segera berjalan ke arena pacuan kuda.


"Silahkan pilih kudamu, jangan sungkan" ejeknya masih saja merendahkan.


"Aku takkan sungkan. Kuda ini sangat gagah. Black Andalusia. Bukankah begitu Mr. Walvis???" kataku mengelus kuda tersebut supaya lebih akrab.


"Hiaarggggghhh...."


"Anak pintar. Mari kita berjuang!!!" kataku segera memasang pelana dan menaikinya.


"Woaahhhhhh.... Gadis itu??? Apa ada yang tidak bisa dia lakukan???"


"Entahlah.... Aku ingin tahu siapa yang beruntung bisa memilikinya??"


"Gadis cantik, pintar dan bertalenta bukankah sangat berbahaya???"


"Mana mungkin, dia terlihat manis dan imut"


"Baiklah semua siap di posisi... Dorrrr" aba-aba dari pemandu.


"Hiyaaaa..... ayo blacky.... cepat.... jumping.... anak pintar.... quick blackyyy... hiyaaaaaaa..... Jump.... good.... oke one more jump..... jump..... Hiyaaaaaa....... quick.... quickk" teriakku memberi semangat dan menjadi joki yang baik untuk blackyy.


"Finishhhh... Nona Anda pemenangnya"


"Amazing..... sungguh tak bisa dipercaya. Gadis ini makhluk alienkah???"


"Komandan,,, bukankah dia yang selama ini Anda cari??"


"This is My girl. Tak kusangka perkembangannya begitu cepat. Ku dengar dia bertunangan dengan tentara biasa. Apakah laki-laki itu pantas mendapatkan berlian sepertinya???" kata Justin sungguh tak seperti dia yang dulu. Aku hanya diam malas untuk berdebat dengan orang sepertinya.


"Tinggal dua kompetisi lagi tapi bukankah aku sudah menang tiga kompetisi??? Jadi kita tak perlu meneruskannya. Kalau begitu aku pamit!!!" kataku meninggalkan mereka dan kemudian berbalik lagi.


"Ohhh yaaa... sesuai janji maka kalian semua tentara aliansi silahkan kembali ke negara kalian masing-masing. Kalau gitu selamat tinggal" kataku segera menuju ke container.


"Tunggu Liliana!!! Bukankah kau sangat terburu-buru. Bagaimana kalau kita merayakan kemenanganmu" kata Justin membuatku malas.


"Tuan Justin yang terhormat. Ohhh bukan. Senior... Dengan terpaksa aku menolak. Kalaupun aku ingin merayakannya tentu saja dengan tunangan dan teman-temanku. Jangan lupa, dalam 1x24 jam kalian semua harus angkat kaki dari negaraku. Bye" ucapku segera pergi dari hadapan mereka tanpa berbalik.


"Kakak... Rasanya aku mau mati....." kataku segera berlari memeluk kak Rey yang dari tadi terus menatapku.


"Gadis nakal. Sudah tau capek masih suka bermain-main. Kita pulang sekarang???" tanyanya mengelus pucuk kepalaku.


"Aku belum keramas ha ha ha" kataku segera melepaskan pelukanku.


"Dasar gadis bodoh. Pulang dan keramaslah!!! menjijikkan???" ejek kak Rey mulai berkilah.


"Kau lebih menjijikkan. Dari kemarin belum mandi" ejekku gantian.


"Belum mandi juga kau peluk he he he" jawabnya tak mau kalah.


"Wuihhhhh... Pedenya..." sahutku lagi.


"Vanya, drama cinta mereka pasti berlanjut sampai nanti, lebih baik kau tutup mata dan telinga" kata Rendy langsung kulirik tajam.


"Tuan Rendy, maukah kamu menjadi belahan jiwaku??? Aku sudah memikirkannya dengan matang. Setiap waktu yang kita lalui beberapa hari ini membuatku tersentuh dan tak bisa berpaling darimu" kata Vanya mencengkram erat Rendy langsung menciumnya.


"Mmmmpppp...... Vaaaanyaaa lepaskan, itu ciuman pertamaku wuaaaaaahaaaa.... Kau merebutnya secara paksa.... Hancurlah hancurlah diriku...." teriak Rendy beneran menangis di pojok container.


"Kau tak mau menciumku paksa lagi Mong?? Seperti di Jogja dulu... Sayank..." kata kak Rey mengingatkan hal memalukan itu lagi.


"Jangan harap..."


"Mong Mong.... ayolah. Ternyata kalian berdua sama sama agresif ya kan??? sayank...." katanya berjalan mundur mengikutiku dengan senyum mengejeknya.


"Diamlah...." pintaku menutup mulutnya dengan tanganku.


"Sayank... Mong Mong...."


"Arka, Soni, Joko, hajar kapten kalian kalau tak bisa diam...." kataku segera naik container di cabin penumpang.


"Ya elah... Udah main naik aja nih bocah. Oh ya... kalian bertiga bawa container itu ke pelabuhan. Disana sudah ada petugas yang berjaga. Untuk urusan disini sudah ada tim Combo yang bergantian bertugas" kata kak Rey memberi perintah.


"Kak, kau niat pulang tidak??? brak brak brak..." teriakku memukul pintu container.


"Ya sayank, aku datang" teriaknya berlari masuk ke dalam cabin pengemudi.


"Rendy, Vanya cepatlah!!! Urusan kalian selesaikan didalam sambil perjalanan pulang" kataku tak tega melihat Rendy berjongkok menangis disamping ban container seperti anak kecil.


"Baik nona. Tunggu kami!!!" teriak Vanya menyeret paksa Rendy masuk container lucu sekali.


"Nggak mau, Vanya lepaskan.... lepaskan!!!" teriak Rendy meronta-ronta.


"Ayolah sayang, jangan malu-malu kita teruskan didalam truk ha ha ha" teriak vanya senang mendapat mangsa baru.


"Jangan Vanya, aku masih perjaka.... Kapten Tolong!!! kapten tolong!!!" teriak Rendy terdengar dari alat komunikasi kami.


"Seolah seperti gambaranku dengan kak Rey he he he" kataku tersenyum.


"Kenapa kau tersenyum??? Apa kau juga mau kupaksa???" ucap kak Rey mulai jail.


"Lupakan, kau masih berhutang puasa satu tahun ha ha ha ... Sebaiknya kau tenangkan dirimu kak" jawabku senang.


"Hyaaaaaaa..... Lilianaaaa.... Wajahku berkeriput..... Aku akan membunuhmu....." teriak kak Richie masih saja marah marah.


"Ba ha ha... Kakak pil itu akan cepat bereaksi jika kau marah marah terus.... Kendalikan dirimu... Cepat pulanglah aku akan memberi penawarnya" jawabku tak menyangka akan ada kejadian seperti ini.


"Sialan kau bungsu... Aku tak mau lagi menjadi kelinci percobaanmu haaaahhhhhhh" teriaknya frustasi.


"Rendy kau nakal... permainanmu kasar.... Ahhhh aku suka.... Sayangggg... cepatlah... Kita pulang.... Kau harus menikahiku" kata Vanya manja. Cepat sekali perkembangan hubungan mereka.


"Vanya... Kau genit... tutup mulutmu.... Kau ingin menyiarkan kepada semuanya" kata Rendy kesal.


"Arghhhhhhhhh...... Kalian....... Lihatlah akan kusunat Rendy dan Rey jika wajahku tak bisa kembali seperti semula" teriak kak Richie masih frustasi.


"Sabar Ichie,,,, Kau pasti bisa!!!! Semangat!!! Aku pasti membantumu menyunati mereka berdua" kata kak Kitty membuat terkejut.


"Kak Kittyyyyyy...." teriakku dan Vanya bersama-sama.


Candaan, saling ejek yang tak ada habisnya menemani kami menuju ke pelabuhan. Jarak tempuh hampir 115 km dengan estimasi waktu 2,5 -3 jam.


"Hiks hiks.... Kitty... lihatlah aku seperti nenek nenek..."


"Sabar Ichie... Mungkin sudah suratan takdir kau menjadi nenek nenek... Aku turut prihatin"


"Arghhhhh... Hyaaaa... umurku masih 27 tahun... Kembalikan wajahku sherinnnnnnnnnnnn...." teriakan frustasi kak Richie.


"Kak jangan marah kalau tidak kerutannya semakin lebar.... Wajahmu akan mencair kak.... Aku sungguh tak bisa mengembalikannya kalau begitu ha ha ha....." godaku semakin membuatnya frustasi.


"Sherinnnnnnnnnnnn....... kau bocah tengillll...." teriak kak Richie lagi.


"Ha ha ha......" kami semua tertawa mendengar tingkahnya.

__ADS_1


__ADS_2